NovelToon NovelToon
Takdir Kaisar Bintang

Takdir Kaisar Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Langit Azure, kekuatan bela diri dan kedalaman Qi menentukan segalanya. Ye Chen, seorang jenius dari keluarga cabang klan Ye, dikhianati dan "Akar Roh" miliknya dicuri oleh saudara sepupunya sendiri demi ambisi klan utama. Menjadi cacat dan dibuang ke pinggiran desa, nasibnya berubah ketika sebuah meteorit hitam jatuh di dekatnya. Meteorit tersebut menyimpan warisan dari "Kaisar Kekosongan" dari era kuno, memberikannya seni kultivasi terlarang yang tidak membutuhkan Akar Roh, melainkan menyerap energi bintang. Ye Chen kini harus merangkak dari bawah, bersembunyi dari musuh-musuh kuat, dan menapaki jalan kultivasi untuk membalas dendam serta mencari kebenaran di balik hancurnya para Dewa Kuno

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Jaring Bintang Penelan Langit

​Ruang batu di bawah tanah itu terasa seperti kuali peleburan. Suhu panas yang memancar dari lubang ventilasi magma mendidihkan udara, mengubah setiap tarikan napas menjadi siksaan bagi paru-paru biasa. Namun, bagi Lin Chen, ini adalah kawah kebangkitannya.

​Duduk bersila di atas ranjang batu, Lin Chen menutup matanya rapat-rapat. Pikirannya tenggelam ke dalam hamparan galaksi di lautan kesadarannya, tempat ribuan simbol kuno dari ajaran Jaring Bintang Penelan Langit melayang mengelilinginya.

​"Jaring ini bukanlah penghalang, melainkan penyaring," suara Lin Tian bergema, membimbing pikiran muridnya. "Gunakan sembilan Titik Bintang yang telah kau buka sebagai jangkar. Rentangkan energi di antara sembilan titik tersebut hingga membentuk sebuah jaring yang menyelimuti seluruh permukaan kulitmu. Biarkan Jaring Bintang itu menelan uap panas Api Bumi, menyaring racun belerangnya, dan memeras esensi apinya menjadi embun energi murni!"

​Lin Chen mengangguk dalam diam. Perlahan, kesembilan titik di lengan kanan, bahu, dan dadanya mulai berpendar memancarkan cahaya perak kebiruan. Dengan susah payah, ia memanipulasi benang-benang energi kosmis yang sangat halus dari setiap titik, merajutnya menyilang melintasi dadanya.

​Proses ini membutuhkan konsentrasi yang mengerikan. Satu kesalahan kecil, benang energi itu akan putus, dan panas murni dari urat Api Bumi akan membakar organ dalamnya menjadi abu. Keringat Lin Chen menguap bahkan sebelum sempat menetes dari dagunya.

​Setelah dua jam yang terasa seperti satu abad, sebuah jaring cahaya perak transparan akhirnya terbentuk tepat di bawah lapisan kulitnya.

​"Sekarang!" perintah Lin Tian.

​Lin Chen menarik napas dalam-dalam, menyedot udara penuh belerang dari lubang ventilasi secara langsung.

​WUUUSSSHHH!

​Gelombang panas merah menyala merasuk ke dalam tubuhnya bagai kawanan kuda liar yang mengamuk. Namun, sebelum hawa panas itu sempat merusak meridiannya, Jaring Bintang perak itu bereaksi. Jaring tersebut berdenyut, mencengkeram gelombang panas itu, dan memerasnya dengan kekuatan kosmis yang menindas.

​Racun belerang dan kotoran bumi dikeluarkan kembali melalui pori-pori Lin Chen dalam bentuk asap hitam pekat, sementara esensi murni Api Bumi yang telah disaring mengalir lurus ke tulang belakangnya—tepat menuju titik meridian Lingtai dan Mingmen di punggungnya.

​BZZZT... KRAAAK!

​Rasa sakit yang membakar seketika menjalar di sepanjang tulang belakangnya, seolah-olah tulang-tulangnya sedang diganti dengan besi cair. Lin Chen menggertakkan gigi hingga mengeluarkan suara derit yang tajam. Ia menahan teriakan di tenggorokannya, menggunakan rasa sakit itu sebagai martil untuk menempa kehendaknya.

​"Terus salurkan! Buka pintunya!" teriak Lin Tian, auranya memancarkan kegembiraan melihat bakat muridnya.

​BUM!

​Suara letupan teredam bergema dari dalam punggung Lin Chen. Titik cahaya kesepuluh menyala terang di tulang punggung bagian tengah. Tidak berhenti sampai di situ, sisa esensi murni Api Bumi terus mengalir, mendobrak titik kesebelas dan kedua belas sebelum akhirnya mereda.

​Lin Chen membuka matanya yang kini memancarkan kilatan cahaya perak yang tajam. Ia menghembuskan napas panjang, menyingkirkan sisa-sisa uap panas dari tubuhnya.

​Tiga titik dalam satu malam!

​"Luar biasa," puji Lin Tian, proyeksinya melayang puas. "Dengan Jaring Bintang, efisiensimu meningkat puluhan kali lipat dibandingkan saat kau menghancurkan ampas tempaan. Jika kau terus seperti ini, kau bisa menyelesaikan pembukaan tiga puluh enam titik—Siklus Surga Kecil pertama—dalam waktu kurang dari sebulan."

​Lin Chen mengepalkan tangannya. Kekuatan di dalam tubuhnya kini terasa begitu masif hingga ia merasa bisa menghancurkan Batu Pengukur Roh di alun-alun tempo hari hanya dengan satu jentikan jari. "Ini baru permulaan, Guru. Aku akan menguras esensi tempat ini sampai ke tetes terakhir."

​Waktu berlalu tanpa terasa di bawah tanah Puncak Pandai Besi.

​Satu bulan kemudian.

​Bagi para penatua sekte dan murid-murid di atas sana, Lin Chen adalah Penjaga Api teladan yang sangat penurut. Sejak ia bertugas, suhu di Tungku Utama Nomor Satu selalu stabil dan sempurna. Penatua Tie bahkan beberapa kali memberinya bonus batu roh karena tingkat kegagalan tempaan senjata sekte menurun drastis. Tidak ada satupun yang curiga bahwa stabilitas tungku tersebut terjadi karena kelebihan fluktuasi Api Bumi dihisap diam-diam oleh sang pelayan penjaga.

​Di malam ke-tiga puluh, Lin Chen duduk di posisi teratainya. Tiga puluh enam Titik Bintang kini menyala terang di dalam tubuhnya—membentang dari lengan kanan, dada, hingga menyusuri seluruh tulang punggungnya, membentuk pola rasi bintang purba yang menakjubkan.

​Kulitnya tidak lagi terlihat seperti kulit manusia biasa, melainkan memiliki rona halus seperti giok berharga, menutupi kepadatan otot yang setara dengan baja spiritual. Kekuatan fisiknya sekarang, jika diukur, bisa dengan mudah mencabik-cabik kultivator tahap awal Inti Emas,hanya dengan tangan kosong.

​Namun, malam ini, rutinitas kultivasinya terganggu.

​BLUUB... BLUUB... DUUUM!

​Suara gemuruh berat terdengar dari dasar magma di bawah lubang ventilasi kamarnya. Seluruh ruangan batu bergetar hebat. Retakan mulai bermunculan di dinding, dan suhu ruangan tiba-tiba melonjak gila-gilaan, menembus batas formasi pelindung ruangan.

​Lin Chen langsung membuka matanya, melesat mundur ke sudut ruangan. "Ada apa ini? Apakah gunung berapi di bawah ini akan meletus?"

​Lin Tian muncul di sebelahnya, matanya menyipit menembus kegelapan lubang ventilasi yang kini menyemburkan cahaya merah pekat. "Tidak... ini bukan letusan alami. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam urat Api Bumi. Sesuatu yang sangat tua dan... hidup."

​Sebelum Lin Chen sempat merespons, sebuah gelombang energi api yang sangat dahsyat menyembur keluar dari lubang tersebut. Energi ini seratus kali lebih murni dan mematikan dari Api Bumi biasa.

​Tanpa berpikir panjang, Lin Chen merentangkan Jaring Bintang Penelan Langit ke tingkat maksimal, mengubah tubuhnya menjadi pusaran gravitasi untuk menangkap energi liar tersebut agar tidak menghancurkan ruangan dan meledakkan seluruh Puncak Pandai Besi.

​TRAAAK!

​Jaring Bintang Lin Chen bergetar hebat, hampir robek oleh tekanan energi misterius itu. Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa seolah jiwanya ikut terbakar, Lin Chen menarik energi itu paksa.

​Tiba-tiba, dari dalam pusaran api yang ia tarik melalui lubang ventilasi, sebuah objek kecil terlempar keluar dan mendarat di atas ranjang batunya.

​Bersamaan dengan jatuhnya benda itu, gejolak magma di bawah tiba-tiba mereda secepat kemunculannya. Suhu kembali normal, menyisakan Lin Chen yang terengah-engah dan berkeringat deras.

​Ia menoleh ke arah ranjang batu. Di sana, tergeletak sebuah kristal seukuran ibu jari, berbentuk seperti kuncup bunga teratai yang terbuat dari api kaca berwarna merah darah. Benda itu memancarkan aura kuno yang membuat denyut nadi Lin Chen berdegup kencang.

​Mata Lin Tian membelalak, proyeksi transparannya bergetar karena emosi yang jarang ia tunjukkan.

​"Demi Langit Azure... Bocah, jaring -mu baru saja memancing keluar rahasia terbesar yang disembunyikan oleh Puncak Pandai Besi ini." Lin Tian menunjuk kristal tersebut. "Itu bukan sekadar permata spiritual. Itu adalah Teratai Api Inti Bumi, sebuah Benih Api Surgawi yang telah dikultivasikan oleh alam selama sepuluh ribu tahun!"

​Lin Chen menelan ludah. Ia ingat pernah membaca di perpustakaan keluarga Ye; Benih Api Surgawi adalah harta karun absolut yang diperebutkan oleh para Alkemis tingkat dewa dan Master Pandai Besi legendaris. Bahkan sekte tingkat tinggi akan memulai perang berdarah hanya untuk mendapatkan serpihannya.

​Bagaimana benda mistis ini bisa ada di sekte Bintang Dua yang kecil ini? Dan yang terpenting... apa yang akan terjadi jika ia menyerapnya ke dalam cangkang.

1
nanonano
kapan gelutnya nih
Arinto Ario Triharyanto
joss gandozzz 💪
Gege
mantabb...💪👍
Gege
hancurkan lawan, sita harta rampasan, pergi...💪🤣
Gege
biar nambah kosakatanya "dan tak lupa cincin ruang penyimpanan segera diamankan" lumayan buat genapin 10k kata Thor...🤣
Arinto Ario Triharyanto
mantaappp... ga usah malu-malu, yg pamer sok kuat sok keras, tenggelam kan saja, ga pake lama 😎
Arinto Ario Triharyanto
Yoi joss gandozzz💪
Arinto Ario Triharyanto
joosss Thor 💪👍
Arinto Ario Triharyanto
bagus 👍👍👍
Arinto Ario Triharyanto
lanjut ya Thor, jangan berhenti di tengah jalan 😎
Arinto Ario Triharyanto
bagus bagus, sekalian biji nya di cabut 🤭
Arinto Ario Triharyanto
cabut aje, ambil lagi
Arinto Ario Triharyanto
bantai... kagak usah basa-basi
Gege
mantap Thor... gass teroos 10k kata tiap update
Nanik S
Keren sekali Tor👍👍👍
Nanik S
Bijih Api Surgawi
Nanik S
Akhirnya naik menjadi penunggu Api
Nanik S
Lin Chen.... menarik sekali dengan kekuatan Fisiknya
Nanik S
Shiiiiiip
Nanik S
Masuk Sekte pedang awan walau sebagai murid Luar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!