NovelToon NovelToon
CAGE THE REBEL : MENJINAKKAN SANG PEWARIS IBLIS

CAGE THE REBEL : MENJINAKKAN SANG PEWARIS IBLIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.

Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. Sambel Terasi Cak Ji

Arsenio Yudhistira menatap potongan tahu goreng di ujung jemari Kiera seolah benda kuning kecokelatan itu adalah bom waktu yang siap meledakkan seluruh martabatnya sebagai keturunan Yudhistira.

Ego NPD-nya yang setinggi langit langsung mengirimkan sinyal darurat. *“Jangan makan, Arsen! Itu digoreng di minyak yang warnanya sudah mirip oli samping bajaj!”* teriak batinnya berang. Namun di sisi lain, cacing-cacing aristokrat di dalam perut Arsenio mendadak ikut berdemo setelah mencium aroma gurih yang luar biasa menggoda iman.

"Kiera, singkirkan benda berminyak itu dari hadapan saya," ucap Arsenio, mencoba mempertahankan suara baritonnya yang berwibawa meski matanya tidak bisa berbohong kalau ia sedang menelan ludah.

"Ih, beneran gak mau, Pak? Ya udah, buat saya aja. Hmm... nyam! Enak banget, tahu Cak Ji emang gak ada lawan!" Kiera dengan santai menarik kembali tangannya dan memasukkan tahu itu ke dalam mulutnya sendiri, mengunyahnya dengan ekspresi super dramatis seolah sedang memakan hidangan surga.

Arsenio mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa kesal dan lapar bercampur menjadi satu, menciptakan kombinasi emosi yang aneh. Ditambah lagi, penjual pecel lele alias Cak Ji sejak tadi menonton interaksi mereka sambil terus mengulek sambal dengan pandangan menilai yang sangat mengintimidasi harga diri Arsenio.

"Mas... jadi pesan gak? Itu jasnya bagus, sayang kalau cuma dipakai buat jagain lalat di tenda saya," celetuk Cak Ji tiba-tiba dengan logat daerah yang kental, membuat Kiera hampir tersedak nasi uduk karena menahan tawa.

Wajah Arsenio seketika menegang. Seorang CEO kelas kakap yang biasa memimpin rapat kerja sama multinasional kini disindir oleh seorang tukang pecel lele karena dianggap "pajangan tenda." Sumbu pendeknya langsung tersulut.

"Pesan," jawab Arsenio ketus, menaikkan dagunya setinggi mungkin untuk menunjukkan dominasi absolutnya. "Berikan saya menu yang... paling minimal risiko kumannya. Dan ingat, piringnya harus dicuci ulang dengan air mengalir."

"Halah, Mas, di sini airnya di dalam ember semua, tapi dijamin suci dan mensucikan! Ya udah, saya buatkan ayam goreng aja ya, biar pas sama setelan jasnya!" sahut Cak Ji asal-asalan, langsung melemparkan paha ayam ke dalam wajan panas yang memercikkan minyak ke mana-mana.

Arsenio refleks memundurkan tubuhnya sejauh tiga puluh sentimeter, takut jika cipratan minyak pinggir jalan itu menodai helai kain jas mahalnya. Kiera yang melihat tingkah paranoid bosnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

---

Sepuluh menit kemudian, sepiring ayam goreng lengkap dengan nasi uduk hangat dan sebongkah sambal terasi merah merona mendarat di depan Arsenio. Pria itu menatap hidangan tersebut dengan pandangan menyelidik, layaknya detektif yang sedang memeriksa barang bukti tindak kriminal.

"Kiera," panggil Arsenio dengan suara rendah. "Mana sendok dan garpunya?"

Kiera yang sudah hampir menghabiskan lelenya mendongak dengan pipi menggembung. "Pak Bos, di tempat begini mana ada sendok garpu stainless steel standar hotel. Tuh, adanya sendok plastik bebek di dalam stoples, atau... ya pakai tangan kayak saya begini."

Arsenio melirik stoples plastik berisi sendok bebek berwarna-warni di ujung meja. Kepalanya langsung pening membayangkan berapa ratus tangan yang sudah menyentuh stoples itu hari ini. Dengan berat hati, dan setelah menyemprotkan *hand sanitizer* untuk yang kesebelas kalinya malam ini hingga tangannya sedingin es, Arsenio memutuskan untuk menggunakan cara "primitif" menurut standarnya: makan pakai tangan.

Dengan gerakan yang sangat kaku, Arsenio mencubit sedikit daging ayam menggunakan ujung ibu jari dan jari telunjuknya, seolah-olah ia sedang memegang sampel laboratorium berbahaya. Ia mencocolnya sedikit—sangat sedikit—ke ujung sambal, lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Kiera memperhatikan setiap gerak-gerik bosnya dengan mata menyipit, siap-siap menertawakan kalau Arsenio mendadak muntah atau pingsan.

Namun, begitu daging ayam dan sambal itu menyentuh lidah Arsenio, waktu seolah berhenti berputar.

Mata hitam sang CEO perlahan membelalak. Rasa gurih yang meresap hingga ke serat daging ayam bumbu kuning, berpadu sempurna dengan pedasnya sambal terasi yang membakar rongga mulut namun memicu hormon endorfin secara brutal. Itu adalah sebuah ledakan rasa yang belum pernah ia temukan di restoran prancis mana pun yang menyajikan porsi seuprit dengan harga selangit.

"Gimana, Pak? Enak, kan?" tanya Kiera dengan senyuman miring penuh kemenangan.

Arsenio buru-buru mengendalikan ekspresi wajahnya kembali menjadi datar, meski tangannya kini bergerak jauh lebih cepat untuk mengambil suapan kedua dengan porsi yang lebih besar.

"Biasa saja. Masih jauh di bawah standar makanan koki pribadi saya," bohong Arsenio dengan tingkat gengsi yang masih bertahan di level tertinggi. Namun, kontradiksi terjadi ketika tangannya justru dengan sangat lahap mulai mencampur nasi uduk dan sambal terasi menggunakan jarinya sendiri, bahkan sampai melupakan fakta bahwa ia sedang duduk di atas kursi plastik merah yang tadi ia lap sampai tiga kali.

Kiera menepuk jidatnya pelan, menahan tawa kencang. *“Mulutnya bilang biasa aja, tapi itu nasi setengah piring udah amblas dalam waktu dua menit. Dasar tiran munafik!”* batin Kiera bersorak girang, merasa sukses meruntuhkan benteng pertahanan higienis sang bos besar.

---

Petaka sesungguhnya baru datang ketika suapan terakhir selesai. Sambal terasi Cak Ji yang terkenal juara ternyata memiliki efek samping "ranjau darurat" bagi perut-perut borjuis yang tidak terbiasa dengan cabai rawit pasar induk.

Arsenio mendadak menghentikan gerakannya. Wajah tampannya yang tadi mulai rileks kini kembali menegang sempurna. Warna kulitnya berubah dari putih bersih menjadi kemerahan, lalu perlahan memucat. Keringat sebesar biji jagung mulai bercucuran deras dari pelipisnya, bukan karena hawa panas tenda, melainkan karena rasa panas yang luar biasa mendadak membakar seluruh lambung dan tenggorokannya.

"K-Kiera..." panggil Arsenio, suaranya mendadak naik dua oktav dan bergetar hebat.

"Eh, kenapa, Pak? Bapak kesurupan reog?" Kiera panik melihat mata bosnya yang mulai berkaca-kaca menahan pedas yang terlambat diproses oleh saraf tubuhnya.

"Air... ambilkan air putih yang... yang tidak ada kuman!" perintah Arsenio dengan napas yang mulai memburu.

Kiera dengan sigap langsung menyodorkan satu gelas es teh manis berukuran jumbo yang sejak tadi disediakan. Tanpa memikirkan urusan higienis atau gengsi lagi, Arsenio langsung menyambar gelas besar itu dengan kedua tangannya dan meminumnya sampai tandas dalam sekali teguk, hingga bunyi *glug-glug-glug* menggema di dalam tenda.

"AHHH!" Arsenio mengempaskan gelas kosong itu ke meja, menjulurkan lidahnya yang terasa terbakar. "Sambal apa itu?! Itu bukan makanan manusia, itu racun pemusnah massal!" raung Arsenio dengan tingkat kepanikan seorang penderita NPD yang merasa fisiknya yang sempurna baru saja dirusak oleh pecel lele.

Cak Ji yang sedang membersihkan wajan hanya menoleh santai sambil terkekeh. "Namanya juga Sambal Setan, Mas. Kalau mau yang gak pedas, pesan bubur bayi aja di seberang jalan."

Arsenio mendelik tajam pada Cak Ji, namun rasa mulas yang tiba-tiba berputar di perut bawahnya membuat sang CEO tidak punya waktu lagi untuk berdebat demi harga diri. Pria itu langsung bangkit berdiri dengan panik, memegangi perutnya yang mendadak terasa melilit brutal.

"Kiera! Kunci mobil! Kita pulang sekarang juga sebelum saya meledak di tempat ini!" perintah Arsenio histeris, melupakan seluruh wibawa tiran agungnya demi menyelamatkan lambungnya dari kehancuran total.

Kiera yang melihat bos besarnya kini berjalan cepat setengah berlari menuju mobil sambil memegangi pantat dan perutnya langsung tertawa terpingkal-pingkal di belakang. Akhirnya, sang penguasa Yudhistira Tower berhasil ditumbangkan secara tragis oleh ulekan cabai rawit Cak Ji.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!