Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: DUA NISAN DALAM INGATAN LARAS
Di balik senyum penurut dan tatapan memuja yang selalu ditunjukkan Laras kepada Rendra, tersimpan sebuah riwayat kelam yang dipahat oleh air mata dan deretan kehilangan. Orang-orang di desa pengasingan itu hanya mengenal Laras sebagai seorang janda muda yang pendiam, seorang wanita yang hidup segan mati tak mau demi membesarkan putra semata wayangnya. Namun, sebagai narator yang mengintip ke relung terdalam jiwanya, penulis tahu bahwa jiwa Laras adalah sebuah rumah yang pernah roboh berkali-kali, hingga ia lupa bagaimana rasanya berdiri tegak tanpa bersandar pada orang lain.
Kisah kehancuran Laras dimulai tiga tahun silam. Saat itu, Laras adalah seorang istri dari seorang pemuda desa yang pekerja keras bernama Bayu. Bayu bukanlah pria berharta; ia hanya seorang buruh penambang pasir di bantaran sungai yang membelah desa. Namun, di mata Laras, Bayu adalah seluruh dunianya. Pernikahan mereka yang sederhana terasa begitu sempurna ketika tangis Satria kecil memecah kesunyian rumah petak mereka.
Namun, takdir rupanya enggan membiarkan Laras mengecap kebahagiaan terlalu lama. Tragedi itu datang menyergap seperti petir di siang bolong, tepat saat Satria baru saja merayakan ulang tahun pertamanya dan baru pandai memanggil kata "Bapak".
Sore itu, hujan turun dengan sangat deras. Debit air sungai tiba-tiba meluap membawa material lumpur dari hulu. Bayu, yang sedang berusaha menyelamatkan gerobak pasir peninggalan ayahnya, terpeleset dan terbawa arus deras yang mengamuk. Jasadnya baru ditemukan keesokan harinya, tersangkut di antara bebatuan dalam kondisi yang memilukan. Di usianya yang masih sangat muda, dengan bayi berusia satu tahun di dekapannya, langit Laras runtuh seketika.
Kehilangan Bayu membuat Laras nyaris kehilangan akal sehatnya. Ia sering ditemukan duduk bermalaman di depan pintu, menanti sosok suaminya pulang dengan pakaian basah kuyup. Di saat-saat paling gelap itulah, satu-satunya jangkar yang menahan Laras dari jurang kegilaan adalah ibunya, Mbok Darmi.
Laras adalah seorang anak yatim sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Ayahnya meninggal karena sakit paru-paru, meninggalkan Mbok Darmi untuk membesarkan Laras seorang diri. Karena itu, ikatan antara Laras dan ibunya sangatlah kuat. Setelah kematian Bayu, Mbok Darmi-lah yang mengambil alih kemudi keluarga kecil itu. Wanita tua yang punggungnya sudah membungkuk itu rela bangun sebelum fajar, membuat jajanan pasar dan menjajakannya keliling desa agar Laras bisa tetap menyusui dan merawat Satria kecil.
"Gusti Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya, Nduk," ucap Mbok Darmi suatu malam, sambil menyisir rambut Laras yang kusut masai. "Kamu masih punya Ibu. Selama Ibu masih bernapas, kamu dan Satria tidak akan kelaparan."
Kata-kata itu menjadi mantra yang membuat Laras kembali belajar menjejakkan kaki ke bumi. Selama dua tahun, ibu dan anak perempuan itu berjuang bersama. Laras mulai bangkit, menerima upah sebagai buruh cuci, sementara ibunya terus berjualan. Satria tumbuh dari bayi yang merangkak menjadi balita yang mulai pandai berlari. Namun, kemiskinan dan kelelahan adalah musuh yang bekerja secara diam-diam.
Tepat dua tahun setelah kematian Bayu, ketika Satria menginjak usia tiga tahun, tragedi kedua datang mengetuk pintu rumah mereka yang rapuh. Mbok Darmi tiba-tiba jatuh sakit. Tubuhnya yang renta sudah tidak mampu lagi menahan kelelahan bertahun-tahun. Penyakit misterius menggerogoti tubuhnya dengan sangat cepat. Ia mulai sering batuk darah dan tidak bisa lagi bangun dari tempat tidurnya. Laras, yang tidak memiliki uang untuk membawa ibunya ke rumah sakit di kota, hanya bisa merawatnya dengan ramuan daun-daunan dan doa yang diucapkan dengan derai air mata.
Hanya dalam waktu dua bulan sejak ia jatuh sakit, Mbok Darmi menghembuskan napas terakhirnya tepat di pangkuan Laras.
Kematian ibunya adalah pukulan pamungkas yang benar-benar mematikan sisa-sisa harapan dalam diri Laras. Jika kematian Bayu membuatnya kehilangan sayap, kematian ibunya membuatnya kehilangan tanah tempat ia berpijak. Di usianya yang masih terbilang muda, Laras resmi menjadi seorang janda sekaligus yatim piatu yang sebatang kara. Tidak ada sanak saudara yang mau mengulurkan tangan, karena mereka semua sama-sama tercekik oleh kemiskinan.
Setelah menguburkan ibunya di sebelah makam Bayu, Laras mengunci hatinya rapat-rapat. Selama setahun penuh, ia hidup seperti robot. Ia mencuci baju tetangga, memasak untuk Satria, dan tidur, tanpa pernah benar-benar "hidup". Ia dihantui oleh ketakutan yang luar biasa akan kehilangan. Ia merasa bahwa dirinya adalah pembawa sial, bahwa siapa pun yang ia cintai pada akhirnya akan pergi meninggalkannya dalam kesendirian yang menyiksa.
Latar belakang inilah yang menjelaskan mengapa kehadiran Rendra setahun kemudian menjadi sebuah kejatuhan yang fatal bagi Laras.
Ketika Rendra datang menumpang di rumah kerabatnya yang bersebelahan dengan rumah Laras, ia tidak datang sebagai seorang pria dengan masa lalu yang kelam. Di mata Laras yang haus akan perlindungan, Rendra datang sebagai juru selamat. Rendra adalah sosok laki-laki pertama yang memperlakukannya dengan lembut sejak kepergian Bayu. Rendra adalah orang pertama yang bahunya bisa ia sandari sejak kepergian ibunya.
Penulis melihat dengan jelas ironi yang sangat menyayat hati di balik hubungan mereka. Laras tidak mencintai Rendra karena harta atau rupa, ia mencintai Rendra karena keputusasaannya akan rasa aman. Setiap kali Rendra mengangkat Satria tinggi-tinggi ke udara, Laras tidak melihat seorang buronan hukum yang lari dari istri dan anak kandungnya; Laras melihat reinkarnasi dari kebahagiaannya yang pernah dirampas paksa oleh takdir.
Trauma kehilangan ganda—suami dan ibunya—membuat Laras menjadi buta dan tuli terhadap logika. Ia begitu takut menjadi sebatang kara lagi, sehingga ia rela menyerahkan seluruh hidupnya kepada Rendra. Ia menutup mata terhadap teka-teki asal-usul Rendra yang selalu dihindari oleh pria itu. Ia tidak peduli dari mana Rendra berasal, selama pria itu berjanji untuk tidak meninggalkannya seperti Bayu dan ibunya.
Namun, cinta yang lahir dari rahim keputusasaan adalah cinta yang paling rapuh. Laras tidak menyadari bahwa ia telah mengikatkan nasibnya pada sebuah perahu yang sudah bocor sejak awal. Ia mengira Tuhan akhirnya mengasihaninya dengan mengirimkan Rendra untuk menghapus air matanya. Laras tidak tahu bahwa Rendra bukanlah hadiah dari Tuhan, melainkan sebuah ujian baru—sebuah badai yang tertunda, yang ketika saatnya tiba, akan menghancurkan satu-satunya hal yang tersisa dalam hidupnya: keyakinannya bahwa ia akhirnya pantas untuk bahagia.