NovelToon NovelToon
DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:701
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

SINOPSIS

Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.

Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 RENCANA 2

Malam itu, kegelapan kota diselimuti oleh keheningan yang semu. Ruby sedang duduk bersila di atas kasurnya, menatap layar ponsel dengan dahi berkerut dalam. Jari-jarinya menari dengan kecepatan penuh, mengetik sebuah pesan penting.

“Gimana dengan rencana kempingnya? Kita akan kemping di mana, apa kamu sudah tau tempatnya?”

Satu menit. Tiga menit. Lima menit. Pesan itu hanya menyisakan tanda centang dua yang dingin, tanpa ada tanda-tanda kehidupan dari sang penerima. Ruby mulai mengetukkan kakinya ke lantai. Sentuhan kecemasan berubah menjadi kekesalan yang hakiki.

Di belahan tempat lain, tepatnya di sebuah apartemen yang aromanya dipenuhi oleh kelezatan tumis ayam mentega, sang target—Reo—sedang berada di dimensi yang berbeda. Reo sedang menyandarkan punggungnya di sofa empuk, matanya terpaku pada layar televisi. Di tangannya, sebuah garpu menancap pada potongan daging ayam yang dimasak dengan penuh cinta oleh Gian, teman sekamarnya. Gian sendiri duduk di sampingnya, mengunyah dengan nikmat sambil sesekali mengangguk menikmati alur film. Panggilan pesan masuk dari ponsel Reo yang bergetar di atas meja kaca sama sekali dianggap angin lalu.

“Ke mana sih ini anak? Kenapa pesanku tidak dibalas-balas?!” batin Ruby di kamarnya dengan kesal. Tanpa babibu lagi, Ruby langsung menekan tombol telepon.

BZZZZZZ! BZZZZZZ!

Suara getaran ponsel yang bergeser di atas meja kaca terdengar sangat nyaring, merusak adegan fantastis. Reo meringkuk kesal, wajahnya berkerut seolah baru saja menelan lemon masam. Makanan di mulutnya hampir saja tersedak. Dengan gerakan malas yang penuh drama, ia meraih ponselnya dan mendengus sangat keras.

“Siapa sih yang menelepon? Mengganggu saja! Orang lagi makan juga!” teriak Reo frustrasi, suaranya menggelegar di ruang tengah.

Gian, yang mulutnya masih penuh dengan nasi, menoleh dengan tatapan datar. “Yah, angkat aja kali. Siapa tahu penting. Jangan teriak-teriak di depan makanan, gak sopan,” pekik Gian.

Reo melirik layar ponselnya. Nama ‘Ruby’ berkedip-kedip di sana bagai lampu peringatan bahaya nuklir. “Ruby? Ngapain dia nelpon malam-malam begini?” batin Reo, mendadak firasatnya memburuk.

Dengan helaan napas berat, Reo menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinganya. Belum sempat ia mengucapkan kata 'Halo', suara di seberang sana sudah menyembur.

“Ada apa, Ruby? Malam-malam meneleponku. Apa kamu tidak tahu aku sedang makan?” potong Reo langsung, mencoba menggunakan taktik menyerang duluan agar tidak dipojokkan.

Namun, Ruby bukanlah lawan yang mudah diintimidasi. “BODOH!” pekik Ruby dari seberang telepon, membuat Reo refleks menjauhkan ponselnya dari telinga. “Apa kamu lupa kita harus membahas rencana kemping?! Apa kamu sudah lupa, hah? Jangan bilang kamu lupa ya, Reo!”

Deg. Jantung Reo rasanya mau copot. Butiran keringat dingin mendadak muncul di pelipisnya, meluncur bebas melewati pipinya meskipun AC apartemen sedang menyala dingin. Ia melirik Gian, lalu melirik langit-langit, otaknya berputar 360 derajat mencari cara untuk menyelamatkan harga dirinya. Malu dong, masa mengaku lupa.

“E-ehhh, enggak kok! Aku tidak lupa! Tentu saja aku ingat, mana mungkin aku lupa soal kemping kita,” sahut Reo dengan nada lemas, mencoba meyakinkan, padahal hatinya sedang menangis karena memang benar-benar lupa total.

Ruby di seberang sana menghembuskan napas, sedikit mereda. “Emm, baguslah kalau begitu. Soal tempat, apa kamu sudah mengaturnya, Reo? Kita kempingnya hari Jumat aja, jadi hari Minggu kita sudah pulang,” pekik Ruby menjelaskan dengan nada interogatif yang tegas.

Reo memutar otaknya lagi. Jumat sampai Minggu. Tempat? Ah, ia aku ingat sesuatu! “Emm... soal hari sudah kamu tentukan ya. Kalau soal tempat, nanti coba aku diskusikan sama Arkana, deh. Kebetulan ayah dia punya vila dekat dengan area air terjun kalau gak salah,” sahut Reo, melempar umpan lambung yang untungnya terdengar sangat meyakinkan.

Di sampingnya, Gian cuman mendengarkan percakapan sepihak itu sambil membersihkan sisa makanan di piringnya, sama sekali tidak mempedulikan urusan orang lain.

“Kayak-nya bagus kalau kita kemping dekat air terjun itu! Apa kamu sudah mengaturnya dengan Arkana?” tanya Ruby, terdengar mulai tertarik dan antusias.

Reo tersenyum kemenangan, merasa berhasil melewati lubang jarum. “Soal itu... Arkana tadi sudah chat aku kok. Jadi, dia yang bakal ngatur tempatnya di mana. Jadi tenang aja, aman bos! Oh ya, coba kamu bikin grup di WhatsApp sekarang, Ruby. Nanti kumasukin nomor Arkana,” ujar Reo sambil dengan santainya menyantap kembali potongan ayamnya yang sempat tertunda.

“Tunggu sebentar, aku buat dulu,” jawab Ruby cepat.

Hening beberapa saat di telepon, hanya terdengar suara ketukan jemari Ruby yang lincah. Dalam waktu singkat, sebuah grup beranggotakan lima orang berhasil tercipta.

“Sudah kubuat grupnya,” ujar Ruby kembali di telepon.

“Okee Ruby, aku matiin ya teleponnya. Kita bahas di grup aja biar semuanya jelas,” jawab Reo, buru-buru mematikan sambungan sebelum Ruby menanyakan detail yang tidak bisa ia jawab. Klik. Telepon terputus.

Reo mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Namun, dasar Reo si otak jail, jemarinya langsung bergerak di layar ponsel. Tanpa meminta izin, tanpa pemberitahuan, dan dengan senyuman licik di wajahnya, Reo menambahkan nomor Gian ke dalam grup rencana kemping itu. “Selamat bergabung di penderitaan, sahabatku,” kekeh Reo dalam hati. Tak lupa juga dia menambahkan nomor Arkana juga.

Sementara itu, di tempat-tempat yang berbeda, ponsel milik anggota yang lain mulai berdenting serentak.

Sebuah pesan pertama muncul di grup baru berjudul "RENCANA KEMPING".

Ruby: “Malam semua, apa kalian sudah tidur?”

Tak butuh waktu lama, balasan langsung masuk.

Nana: “Belum, aku masih menunggu grup rencana ini dibuat kek dari tadi ruby!”

Ruby: "Maaf semua aku lupa untuk membuat grup," jawab Ruby dengan setiker menyebalkan.

Di kamarnya, Gretta yang sedang memakai masker wajah melihat layar ponselnya berkedip. “Wahh, ternyata sudah dibuat,” batin Gretta. Bibirnya melengkung membentuk senyuman manis. “Emm, kayaknya sudah mulai pembahasan nih. Gak sabar,” gumamnya seraya mengetik balasan.

Gretta: “Malam juga Ruby! Wah, asyik udah ada grupnya.”

Zordan: “Hayyy semua! Gimana nih, di mana tempat kempingnya? Jangan bilang di halaman belakang rumah Reo ya?”

Sebelum obrolan makin melantur, sebuah akun dengan nama Arkana muncul.

Arkana: “Tenang saja, kita bakal kemping di villa milik ayahku. Jadi tenang soal itu, biar aku yang atur semuanya. Akses ke air terjun juga dekat dari sana.”

Nana: “Wah, kayaknya asyik nih!”

Kembali ke apartemen.

Di saat grup chat sedang ramai bagai pasar malam, Gian sama sekali tidak mempedulikan ponselnya. Baginya, urusan perut dan kebersihan adalah hal yang penting. Setelah menghabiskan makanannya, Gian berdiri dan mulai membereskan piring-piring kotor di meja, termasuk sisa-sisa cucian dapur yang menumpuk.

Sementara itu, Reo terus saja melihat ke arah ponselnya, terkekeh-kekeh membaca chat dari Zordan dan Nana. Ia benar-benar mengabaikan keberadaan Gian yang mulai memasang muka bete. Gian menatap Reo dengan pandangan menusuk, kesal karena temannya itu sama sekali tidak punya inisiatif untuk membantu membersihkan piring kotor bekas makannya sendiri.

Melihat tidak ada respons, Gian berbalik dengan jengkel dan berniat masuk ke kamarnya, namun langkahnya terhenti. Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun.

“REOOO! Kau gak bereskan piringmu?!” pekik Gian dengan suara menggelegar, menunjuk piring kotor Reo yang masih tergeletak di atas meja.

Reo tersentak, namun dengan akting kelas atas yang patut diacungi jempol, ia langsung memegang perutnya dan memasang wajah meringis kesakitan. “A-aduh... tolong ya sekalian, Gian. Aduh, perutku tiba-tiba sakit banget nih... kayaknya mau mules. Aku ke kamar mandi dulu ya!” ujar Reo sambil setengah berlari masuk ke kamarnya sendiri dan BRAAAK! Pintu ditutup dengan cepat, lalu terdengar bunyi kunci diputar.

“Dasar kamuuu bajingan tengik!!” tunjuk Gian pada pintu kamar Reo dengan napas memburu.

Gian menghentakkan kakinya kesal. ia akhirnya terpaksa melangkah kembali ke meja untuk membereskan piring Reo. Namun, tepat saat tangannya hendak meraih piring tersebut, perhatiannya teralih.

Ponsel Gian yang biasanya sunyi senyap, dingin, dan garing seperti rumah tua yang tak berpenghuni, tiba-tiba bergetar tanpa henti.

Bzzzt! Bzzzt! Bzzzt! Bzzzt!

Bunyi notifikasi masuk bertubi-tubi bagai rentetan tembakan senapan mesin. Gian mengernyitkan alisnya heran. “Siapa sih yang mengirim pesan sebanyak ini? Gak mungkin operator,” batin Gian bingung.

Ia meletakkan piring kotor itu kembali, lalu meraih ponselnya. Begitu layar menyala, matanya membelalak mendapati dirinya telah diseret ke dalam sebuah lingkaran setan. Di bagian atas layar, tertera sebuah nama grup baru yang sama sekali tidak pernah ia daftarkan: "RENCANA KEMPING".

Gian menatap layar itu dengan pandangan tidak percaya, membaca satu per satu pesan dari Ruby, Nana, Zordan, dan Arkana yang terus berjalan naik dengan cepat. Ia mengerjapkan matanya, lalu perlahan menoleh ke arah kamar Reo dengan aura membunuh yang semakin pekat.

"REOOO!!! APA-APAAN INI!!!" kenapa kamu masukin aku ke grup tanpa bilang, pekik Gian kesal.

1
Miska
semangat terus author, ceritamu keren👍
Nora
ceritanya bagus bnget aku suka
Nora
Ceritanya bagus dan menyentuh hati tapi adegan pertama sungguh kejam , semngat terus author aku menunggu kelanjutannya.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!