Bagi dunia luar, pernikahan Dr. Emmeline Valerio dan Edward Snowden adalah simbol kesempurnaan dinasti papan atas di Los Angeles.
Namun, di balik dinding mansion Snowden yang megah, pernikahan itu tidak lebih dari sebuah Janji memuakkan.
Puncaknya, harga diri Emmeline sebagai seorang wanita diinjak-injak ketika dia mendapati Edward membawa wanita selingkuhannya ke atas ranjang mereka.
Emmeline tidak menangis. Dia tidak mengemis. Sebaliknya, api dendam yang dingin menyala di dadanya. Dia memilih membalas dendam dengan menyerahkan tubuhnya pada masa lalunya: Kingdom Kyle Stone.
Kini, di antara ego suaminya dan gairah protektif sang mantan agen rahasia, Emmeline memilih untuk berdansa di dalam neraka yang dia ciptakan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Ruang makan utama Kastel Stone malam itu dipenuhi oleh denting perak kaku di atas piring porselen murni lansiran Meissen.
Di bawah pendar cahaya lampu gantung kristal yang megah, atmosfer terasa begitu dingin, meskipun hidangan domba panggang dan anggur merah terbaik dari Bordeaux tersaji melimpah.
Countess Stone berkali-kali memotong pembicaraan hanya untuk melemparkan pujian kepada Lady Genevieve. Gadis kaku itu menanggapi setiap pujian dengan senyuman tersipu, sesekali melempar tatapan mata penuh damba ke arah tempat duduk Kyle.
Namun, di sepanjang jamuan makan, sang Alpha tertinggi Unit Wraith itu sama sekali tidak melirik Genevieve bahkan seujung kuku pun.
Fokus Kyle terkunci mutlak pada Emmeline; jemari besarnya di bawah meja terus menggenggam tangan istrinya, sementara tangan kirinya berulang kali memastikan piring Emmeline terisi dengan potongan daging terbaik dan sayuran segar.
Begitu jamuan makan malam formal yang melelahkan itu selesai, Kyle langsung menuntun Emmeline menjauh dari kerumunan keluarga besar.
Mereka berjalan menyusuri lorong panjang di sayap barat kastel yang sunyi, di mana dinding-dindingnya dihiasi oleh jajaran baju zirah antik dan jendela kaca patri yang memantulkan sinar rembulan Chicago.
Emmeline menghentikan langkah kakinya tepat di depan sebuah jendela besar yang menghadap langsung ke arah taman labirin kastel yang berkabut.
Dia melepaskan genggaman tangan Kyle, lalu berbalik, menatap langsung ke dalam manik mata kelam suaminya. Ekspresinya yang tenang kini berganti dengan tatapan menuntut yang tajam, namun tetap memancarkan keanggunan seorang Valerio.
"K..." Emmeline melipat kedua tangannya di depan dada, suaranya terdengar jernih dan bergetar rendah di dalam keheningan lorong.
"Sepertinya ibumu sama sekali tidak menyukaiku. Siapa perempuan kaku yang bernama Genevieve itu, K? Aku ingin mendengar kebenarannya langsung dari mulutmu, bukan dari desas-desus pelayan kastel ini."
Kyle Stone terdiam sejenak. Rahang kokoh pria setinggi 190 sentimeter itu mengeras, guratan otot di lehernya menegang menahan gejolak emosi yang tertahan sejak di meja makan tadi.
Dia melangkah maju satu kali, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma maskulin cedarwood miliknya kembali mengurung tubuh ramping Emmeline.
Kyle menghela napas berat, suara baritonnya terdengar begitu rendah saat dia mulai berbicara. "Dia adalah wanita yang sejak tiga tahun lalu dijodohkan oleh ibuku denganku, Emme. Istri dari mendiang paman Genevieve adalah sahabat dekat ibuku. Mereka ingin menyatukan dua garis darah bangsawan untuk memperkuat pengaruh bisnis di pantai timur."
Kyle mengulurkan kedua tangan kekarnya yang dipenuhi jaringan parut taktis, menangkup wajah lembut Emmeline dengan kelembutan yang luar biasa protektif, seolah takut jika wanita di hadapannya ini akan retak jika dia menekan terlalu keras.
"Tapi aku bersumpah demi nyawaku, Sayang... aku tidak pernah mau saat diminta untuk bertunangan dengannya. Jangankan menyentuhnya, melihat wajahnya saja aku tidak sudi," tatapan mata Kyle mendadak berubah menjadi sangat intens, dalam, dan dipenuhi oleh binar pemujaan yang mutlak.
"Aku menolak titah ibuku mentah-mentah dan memilih pergi untuk memimpin Unit Wraith. Karena apa? Karena sejak enam tahun lalu, sejak malam pertama kita, hatiku hanya terkunci untukmu. Hanya ada nama Emmeline di dalam setiap detak jantungku."
Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan berapi-api dari sang panglima perang, benteng pertahanan Emmeline melunak. Namun, sebelum dia sempat berbicara, Kyle tiba-tiba menundukkan kepalanya, menyandarkan dahinya di dahi Emmeline, membiarkan napas mereka yang hangat saling bertukar di udara malam.
"Maafkan aku, Baby... Maafkan aku karena harus membawamu ke dalam situasi yang tidak nyaman ini setelah seminggu penuh kebahagiaan kita di pulau pribadi," bisik Kyle dengan nada suara yang teramat romantis, sarat akan penyesalan yang tulus dari seorang suami.
"Mungkin... dengan keberadaan kita di sini selama sebulan, melihat bagaimana kau merawatku, dan melihat bagaimana kau begitu bersinar sebagai seorang dokter, ibuku perlahan akan membuka hatinya dan menerimamu sebagai menantu sah di kastel ini."
Kyle menjauhkan wajahnya sedikit, lalu tangan besarnya bergerak turun, menyusup ke balik jubah beludru yang dikenakan Emmeline untuk mendarat tepat di atas perut ratanya. Seperti sebuah ritual wajib, jemari kasarnya mulai mengelus perut Emmeline dengan gerakan sirkular yang sangat manja dan penuh kasih sayang.
"Kalupun setelah sebulan di sini ibuku tetap keras kepala dan tidak mau menerimamu..." Kyle menatap mata Emmeline dengan tatapan seorang pria dewasa yang memiliki ketegasan mutlak atas takdirnya sendiri.
"Kita bisa langsung mengangkat koper kita dan meninggalkan kastel ini detik itu juga. Aku tidak peduli dengan gelar Lord atau warisan istana ini. Aku sudah besar, Emme. Aku pria mandiri yang memiliki pilihan hidupku sendiri."
Kyle memberikan kecupan lembut di pelipis Emmeline, memberikan sebuah nasihat yang begitu matang dan dewasa bagi pernikahan mereka.
"Orang tua memang harus dihormati, tetapi mereka tidak berhak mendikte dengan siapa kita harus menghabiskan sisa hidup kita. Semasih pilihan yang kuambil adalah pilihan yang baik—yaitu menjaga wanita yang kucintai dan membesarkan anak-anak kita di dalam perutmu ini—kenapa aku harus mendengarkan pendapat kolot orang tuaku? Kau adalah duniaku sekarang, Mrs. Stone. Jika dunia ini tidak menerimamu, maka aku akan membuat duniaku sendiri bersamamu di LA."
Emmeline tertegun, dadanya bergemuruh hebat oleh rasa haru yang meluap-luap.
Kata-kata Kyle bukan sekadar bualan romantis konyol; pria ini sedang menegaskan posisinya sebagai kepala keluarga yang siap menjadi perisai hidup bagi dirinya. Taring angkuh Dinasti Valerio yang sempat mencuat di meja makan tadi kini melunak sepenuhnya, berganti dengan senyuman manis yang begitu tulus.
Emmeline melingkarkan lengan rampingnya di leher kokoh Kyle, menarik tubuh masif suaminya agar semakin menempel erat tanpa jarak pada tubuhnya.
"Aku memegang janjimu, Kyle Stone," bisik Emmeline tepat di depan bibir ranum suaminya, matanya berkilat penuh cinta. "Satu bulan. Kita akan memberikan waktu satu bulan untuk ibumu. Setelah itu, bawa aku pulang ke rumah kita di Los Angeles."
"Dengan senang hati, Ratu-ku," sahut Kyle posesif.
Dan di bawah kesunyian lorong kastel yang megah itu, Kyle langsung membekap bibir Emmeline dalam sebuah ciuman yang lambat, dalam, dan dipenuhi gairah kepemilikan yang absolut.
Ciuman malam itu terasa begitu manis, seolah-olah Kyle sedang menyalurkan seluruh kekuatannya agar Emmeline tahu bahwa tidak ada satu pun wanita di dunia ini—termasuk pilihan ibunya—yang bisa menggeser posisinya di atas takhta hati sang Alpha tertinggi.
Tangan besar Kyle terus mengelus perut Emmeline di sepanjang ciuman mereka, berjanji untuk selalu menjaga keluarga kecilnya dari dinginnya dunia luar.