Di tengah kota mewah Seoul berdiri sebuah komplek elite bernama Royal Family Residence tempat tinggal empat keluarga sultan paling berpengaruh di Asia. Rumah mereka berdampingan, bisnis mereka mendunia, dan anak-anak mereka terkenal di sekolah elit Aexdrem High School serta Universitas Aexdrem.
Walaupun terlihat sempurna dari luar, isi rumah mereka justru penuh keributan, lawakan receh, drama keluarga, dan perang mulut tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Suasana di kantin masih ramai, namun perlahan mulai sedikit lengang karena bel masuk sebentar lagi akan berbunyi. Gualin dan Renjun yang dari tadi duduk tenang sambil saling menatap penuh kasih sayang, kini perlahan berdiri dari tempat duduknya. Gualin merapikan sedikit seragamnya, lalu menatap ke arah teman-temannya yang masih asyik mengobrol di meja yang sama.
"Eh, Mark, Jeno, Nana, Haechan... kita duluan ya," ucap Gualin lembut namun tegas, suaranya tenang seperti biasa sambil menoleh ke arah mereka semua.
Renjun yang berdiri di sampingnya pun mengangguk sambil tersenyum sopan, wajahnya masih sedikit merona karena momen manis tadi. "Iya nih, kita harus pergi duluan. Ada tugas kelompok dari Pak Sapri yang harus segera diselesaikan dan dikumpulin hari ini juga. Kalau nanti ditunda, takutnya nggak keburu. Maaf ya nggak bisa nemenin kalian sampai bel bunyi."
Jeno yang sedang mengunyah makanannya dengan lahap langsung menelan makanannya, lalu menoleh sambil tersenyum santai.
"Oh, iya, nggak apa-apa kok!," jawab Jeno riang, lalu melambaikan tangan.
Nana pun ikut tersenyum ramah ke arah kakaknya dan Gualin. "Iya Kak, Gualin... semangat ngerjain tugasnya."
Mark hanya mengangguk singkat sambil memainkan sendoknya pelan, wajahnya tetap datar dan dingin seperti biasa. "Oh, iya, nggak apa-apa kok!"
Haechan yang duduk di sebelah Mark pun ikut tersenyum manis, meski hatinya masih terasa perih karena dari tadi dicuekin habis-habisan oleh cowok di sampingnya itu. "Hati-hati ya Kak Renjun, Gualin. Semangat tugasnya!"
Setelah berpamitan dan saling mengangguk, Gualin dan Renjun pun berjalan beriringan meninggalkan kantin, menyisakan empat orang saja di meja itu: Mark, Haechan, Jeno, dan Nana.
Suasana kembali terasa hangat, Jeno kembali asyik mengobrol dan bercanda dengan kekasihnya, sesekali menyodorkan makanan ke mulut Nana dengan penuh perhatian. Di sisi lain, Mark duduk diam, matanya sesekali melirik ke arah Nana. Setiap kali Nana tersenyum mendengar candaan Jeno, setiap kali Nana tertawa kecil, atau setiap kali Nana berbicara dengan nada lembut... pandangan mata Mark berubah. Ada kilatan kekaguman yang tertahan, ada rasa ingin memiliki yang menggebu-gebu, dan ada rasa iri yang mendalam melihat adiknya bisa sebebas itu bersamanya.
Dan lagi-lagi, semua tatapan diam, semua perubahan ekspresi kecil itu, tak luput dari pandangan mata Haechan. Cewek itu diam-diam mengamati Mark dari ujung mata, hatinya makin terasa sakit dan sesak. "Dia masih aja ngeliatin Nana... dia masih aja nahan rasa itu di dalam hatinya. Padahal Nana udah jadi milik orang lain, padahal Nana udah resmi pacaran sama adiknya sendiri. Kenapa Kak Mark nggak pernah bisa liat aku sih? Kenapa matanya cuma bisa liat Nana aja?" batin Haechan sedih.
Tiba-tiba Jeno yang dari tadi ceria dan santai, menghentikan obrolannya sejenak dengan Nana, lalu menoleh penuh semangat ke arah abangnya yang duduk di seberang meja. Jeno memang polos, dia sama sekali tidak menyadari apa yang ada di dalam hati dan pikiran abangnya sendiri. Dia menatap Mark dengan tatapan serius namun penuh kekeluargaan.
"Bang Mark... bang," panggil Jeno sambil menyenggol pelan lengan abangnya itu. "Bang, gue sebenernya mau ngomong sesuatu nih dari tadi, tapi ragu. Tapi karena ini abang gue sendiri, gue beraniin deh ngasih saran. Bang... lo nggak kasian apa sih sama Haechan?"
Pertanyaan itu membuat Mark sedikit terkejut, dia mengerutkan keningnya menatap bingung ke arah adiknya. "Maksud lo apaan sih, Jen? Kok tiba-tiba bahas dia?"
Jeno menghela napas panjang, lalu menunjuk ke arah Haechan yang duduk diam di sebelah Mark dengan tatapan tulus. "Maksud gue gini lho Bang... lo liat deh Haechan. Dia udah berjuang mati-matian banget lho buat lo. Dari pagi-pagi udah nungguin lo, udah mau berangkat bareng lo padahal lo sempat nolak, dia udah sabar banget ngadepin sifat lo yang dingin, dia selalu ada di samping lo terus-terusan, dia perhatian sama lo, dia inget hal-hal kecil tentang lo... pokoknya dia berjuang keras banget deh buat dapetin perhatian lo. Terus lo malah gini Bang? Malah ngecuekin dia, malah dingin banget, malah kayak nggak anggap dia ada. Lo nggak kasian apa liat dia sabar terus kayak gitu? Hati orang kan ada perasaannya Bang, nanti dia capek lho kalau terus-terusan dicuekin. Padahal dia cewek baik banget lho, sayang banget kalau lo sia-siain perjuangan dia."
Jeno bicara panjang lebar dengan nada sungguh-sungguh, dia benar-benar khawatir dan ingin abangnya bahagia, sama seperti dirinya. Di sampingnya, Nana hanya diam dan mendengarkan sambil sesekali mengangguk setuju, dia pun juga merasa Haechan memang berhati tulus pada Mark.
Mendengar ucapan polos namun menyentuh itu, wajah Mark sedikit berubah. Dia merasa tidak nyaman, merasa tersindir, dan tentu saja dia tidak mau membahas hal ini lebih jauh. Dia tidak ingin membahas perasaannya, tidak ingin membahas Haechan, apalagi sekarang ada Nana di situ. Mark dengan cepat mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan, mencari alasan agar topik ini berhenti dan Jeno pergi dari situ.
Mark menegakkan badannya, menatap Jeno dengan tatapan sedikit lebih serius, seolah teringat sesuatu yang penting. Dia langsung memotong ucapan adiknya itu.
"Udah udah, jangan banyak ngasih saran deh urusan hati gue. Gue tau apa yang gue lakuin, gue tau batasan gue. Lagian lo ngomong panjang lebar gitu, lo lupa ya ada urusan penting?" tanya Mark dengan nada sedikit tinggi, berusaha mengalihkan perhatian.
Jeno mengerutkan dahinya bingung. "Urusan apaan Bang? Gue nggak inget ada urusan lain selain makan bareng ini."
Mark langsung menjawab cepat, matanya berkilat seolah baru teringat sesuatu yang mendesak. "Lo lupa ya? Hari ini kan habis istirahat ini ada latihan basket buat persiapan pertandingan antar sekolah minggu depan. Gue Kapten, lo Wakil Kapten. Kita berdua harus siap, harus pastiin semuanya lengkap. Bola basket di ruang peralatan belum diambil sama sekali lho, disuruh sama Pak Bambam tadi pagi harus udah ada di lapangan pas bel masuk nanti. Nah lho, kalau lo diem aja ngobrol terus di sini, nanti siapa yang ambil? Pak Guru marah lho kalau kita telat persiapannya."
Mata Jeno langsung terbelalak kaget, dia sampai menepuk jidatnya sendiri. "YA AMPUN! IYA BANG! Gue lupa parah sumpah! Astaga, bisa gue dimarahin Pak Bambam kalau gitu. Iya iya bener juga sih, harus diambil sekarang biar aman."
Mark mengangguk mantap, lalu menyuruh. "Nah, iya kan. Makanya sekarang lo langsung ke ruang peralatan, ambil bola basketnya yang baru sama yang lama, bawa semua ke lapangan. Cepetan sana, nanti keburu bel bunyi. Di sini biar gue aja sama yang lain, lo pergi dulu aja."
Jeno langsung bangkit berdiri dengan semangat, dia menoleh ke arah Nana dengan wajah sedikit bersalah. "Sayang... maaf ya aku harus pergi sebentar dulu. Ada tugas penting dari abang dan Pak Bambam, harus ambil bola basket dulu ke ruang alat. Nanti aku balik lagi kok, nanti pas masuk kelas kita ketemu lagi ya? Kamu di sini aja ya sama Bang Mark sama Haechan, jangan kemana-mana, nanti aku nyusul balik lagi ke kantin?"
Nana tersenyum pengertian, dia mengangguk lembut. "Iya nggak apa-apa kok, nono. Aku ngerti kamu kan Wakil Kapten, pasti ada tanggung jawabnya juga. Sana pergi aja, hati-hati jangan lari nanti jatuh. Aku tunggu aja di sini."
Jeno tersenyum lega, lalu dengan semangat dia menepuk bahu abangnya sekali lagi. "Siap Kapten! Gue jalan duluan ya Bang! nitip Nana seru Jeno riang, lalu segera berlari kecil meninggalkan meja itu menuju keluar kantin, bergegas ke ruang peralatan olahraga.
Setelah kepergian Jeno, suasana di meja itu menjadi sedikit hening namun berbeda dari sebelumnya. Sebelumnya Haechan sempat minta izin terlebih dahulu, jadi sekarang hanya ada Mark dan Nana yang tersisa duduk berhadapan.
"Eh sebentar, Mark... aku ijin ke kamar mandi dulu ya, mau cuci muka sebentar, gerah banget nih," ucap Haechan pelan sambil berdiri dari kursinya.
Mark hanya melirik sekilas dan menjawab singkat, "Hm."
Haechan pun berjalan pergi menuju kamar mandi, namun hatinya gelisah. Dia punya firasat tidak enak, dia tidak percaya begitu saja meninggalkan Mark berdua saja dengan Nana. Di perjalanan menuju kamar mandi, Haechan memutuskan untuk tidak masuk ke dalam, melainkan bersembunyi sedikit di balik tiang penyangga yang tidak jauh dari meja mereka, tempat dia masih bisa melihat dan mendengar apa yang dilakukan dan diucapkan Mark.
Begitu melihat Jeno dan Haechan sudah tidak ada di dekat situ, ekspresi wajah Mark perlahan berubah drastis. Kekakuan dan jarak yang dia buat perlahan hilang, diganti dengan sikap yang jauh lebih tenang, jauh lebih halus, dan jauh lebih dekat. Mark menggeser sedikit kursinya mendekat ke arah Nana, menatap cewek itu dengan pandangan yang jauh lebih lembut dari biasanya.
"Nana..." panggil Mark pelan namun jelas, nadanya jauh berbeda dari saat dia bicara pada orang lain.
Nana sedikit terkejut melihat perubahan sikap abang dari kekasihnya itu, dia pun menjawab dengan sopan dan ramah. "Iya, Bang Mark? Ada apa ya?"
Mark tersenyum tipis, senyum yang jarang dia perlihatkan pada orang lain. Dia menunjuk sisa makanan dan minuman di depan Nana. "mau nambah minum atu makan gak? Bilang aja mau apa, Abang yang ambilin atau beliin. Jangan sungkan sama Abang ya, kan kita udah kayak saudara sendiri."
Nana menggeleng sopan sambil tersenyum ramah namun menjaga jarak. "Nggak usah repot-repot Bang Mark, makasih banyak ya. Aku udah kenyang ko."
Mark mengangguk pelan, tapi dia tidak berhenti di situ. Dia mulai melancarkan rencananya, berusaha memanasi hati Nana sedikit demi sedikit dengan cara halus, mencoba menanamkan keraguan di benak cewek itu tentang Jeno.
"Na Abang mau nanya nih, boleh ya? Sebagai abangnya, Abang sebenernya tau banget sifat asli adik Abang itu. Kamu nggak risih apa sih sama sikap dia yang begitu ke kamu?" tanya Mark dengan nada seolah-olah sangat khawatir dan peduli.
Nana mengerutkan keningnya sedikit bingung. "Maksud Bang Mark gimana ya? Sikap yang mana?"
Mark mendekatkan wajahnya sedikit lagi, suaranya dibuat lebih pelan seolah bercerita rahasia. "kamu kan tau sendiri sifat Jeno itu gimana? Dia itu lho Na, sifatnya terlalu heboh, terlalu ceria, terlalu berisik, kadang-kadang terlalu memaksa, terlalu manja, terlalu banyak maunya, dan apa-apa harus dia yang menang. Dulu aja kan kamu sering banget kesel sama dia, sering banget ngeluh kalau dia gangguin kamu terus. Nah sekarang kan udah pacaran... dia makin jadi kan? Apa-apa harus ikut, apa-apa harus dia yang atur, kamu dilarang ini dilarang itu, kamu disuruh ini disuruh itu. Kamu nggak risih apa? Kamu nggak capek apa? Kamu nggak merasa terbebani apa punya cowok yang kelakuannya begitu? Yang berlebihan banget segala halnya?"
Mark berusaha mencari-cari celah kelemahan Jeno, berusaha menggambarkan Jeno sebagai cowok yang menyebalkan, berisik, dan mengganggu, supaya Nana merasa tidak nyaman dan mulai membandingkan dengan dirinya yang tenang, dewasa, dan sopan.
"Kakak lihat lho... pas dia pegang tangan kamu... dia itu kasar lho, sembarangan, nggak ada sopan santunnya sama sekali. Dia kan emang anak manja, kebiasaan dikasih menang terus, jadi kalau sama kamu pun dia sembarangan aja. Padahal kamu kan cewek lembut, cewek halus, pasti butuh cowok yang tenang, yang sabar, yang ngerti kamu, yang bisa jagain kamu dengan cara elegan, nggak heboh sana-sini kayak anak kecil. Kamu nggak mikir gitu Nana? Apa nanti kamu bakal bahagia terus sama dia yang kelakuannya begini, begitu, gitu lho?"
Mark menatap Nana tajam namun lembut, berharap kata-katanya masuk ke hati cewek itu. Tapi Mark salah besar. Nana bukan cewek yang mudah terhasut atau mudah termakan omongan orang lain, apalagi soal perasaan dan orang yang dia cintai.
Nana tetap tersenyum sopan, matanya menatap Mark dengan pandangan tenang dan tegas. Dia paham betul sifat kekasihnya, dan dia justru menyayangi semua sisi Jeno.
"Kak Mark... makasih ya perhatian dan kekhawatirannya sama aku. Tapi aku tau kok sifat Jeno gimana, jauh lebih dalam dan jauh lebih baik dari apa yang Kakak lihat atau pikirin," jawab Nana lembut namun pasti. "Memang sih Jeno itu heboh, memang dia ceria banget, memang dia kadang manja dan banyak tingkah. Tapi Kak Mark harus tau... di balik semua kelakuan dia yang heboh itu, dia punya hati yang paling tulus, paling baik, dan paling sayang sama aku. Dulu emang aku sering kesel, sering marah, tapi justru dari situ aku kenal dia, dari situ aku tau kalau perhatian dia itu tulus."