Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Kesabaran
Hutang balas budi? Alana nyaris saja tertawa pahit memikirkannya di tengah sisa napasnya yang memburu.
Tiga tahun lalu.
Mengingat garis waktu itu selalu berhasil mendatangkan rasa perih yang teramat menghujam di dalam dadanya.
Saat kedua orang tuanya meninggal dunia seketika dalam kecelakaan tragis itu, dia memang sempat berpikir bahwa dunia belum sepenuhnya kiamat karena keluarganya masih ada di sisinya.
Omnya datang dengan wajah berderai air mata. Tantenya memeluknya erat, membisikkan kata-kata penenang yang seolah-olah tulus.
Sepupunya datang bergiliran, menepuk bahunya, menyatakan bahwa Alana tidak akan pernah dibiarkan sendirian menghadapi kerasnya dunia.
Saat itu Alana percaya. Sangat percaya dengan kepolosan anak remaja yang baru saja kehilangan seluruh dunianya.
Namun, perlahan tapi pasti, senyuman manis itu berubah menjadi seringai keserakahan yang mengerikan.
Satu per satu, aset peninggalan orang tuanya mulai digerogoti. Rumah keluarga yang kokoh dan penuh dengan memori masa kecilnya berpindah tangan kepemilikan atas nama omnya dengan dalih pengamanan aset anak di bawah umur.
Restoran keluarga yang dulu menjadi sumber kejayaan dan selalu ramai pengunjung mulai dikelola secara serampangan oleh omnya hingga terlilit hutang.
Uang asuransi jiwa milik kedua orang tuanya yang bernilai besar juga ikut dikuasai penuh oleh mereka tanpa menyisakan satu persen pun untuk biaya pendidikannya.
Awalnya Alana tidak curiga sedikit pun. Dia masih terlalu berduka, terlalu muda, dan terlalu polos untuk memahami arti kelicikan dari orang-orang yang ia sebut sebagai keluarga.
Sampai akhirnya dia sadar ketika semuanya sudah terlambat. Uang asuransi itu dinyatakan habis secara misterius, rumah masa kecilnya dijual paksa ke pihak lain untuk menutupi hutang judi sang om, restoran keluarga bangkrut total dan ditutup paksa.
Dan dirinya sendiri? Diusir dari rumah yang sejak kecil dia tempati, didepak ke jalanan dengan tuduhan kejam bahwa kehadiran dirinya hanya akan menjadi beban finansial yang memberatkan keluarga omnya yang sedang kesusahan.
Saat itu usianya baru tujuh belas tahun. Tujuh belas tahun, usia di mana dia harus dipaksa dewasa dalam satu malam, belajar cara mencari sesuap nasi dan menahan dinginnya angin malam sendirian.
Kalau bukan karena kebaikan hati Naira dan keluarganya, Alana tahu mungkin dirinya sudah menjadi angka statistik gelandangan di sudut kota.
Orang tua Naira mengizinkannya tinggal di kontrakan murah ini tanpa menuntut uang jaminan yang memberatkan, sedangkan orang tua Damar memberinya pinjaman modal awal untuk membeli gerobak dan peralatan jualan ayam geprek.
Tanpa bantuan tulus dari mereka, tidak akan ada sosok Alana yang bisa kuliah dan mandiri seperti sekarang.
Namun ironisnya, orang yang benar-benar menyelamatkannya dari kehancuran tidak pernah sekali pun meminta balas budi atau mengungkit kebaikan mereka.
Sedangkan orang yang telah menghancurkan hidupnya, merampok seluruh warisannya, justru terus-menerus datang menagih balas budi seolah-olah mereka adalah dewa penolong yang paling suci.
Air mata tipis mulai menggenang di pelupuk mata Alana, membasahi pipinya yang pucat. Bukan karena dia merasa sedih karena kehilangan uangnya, melainkan karena rasa lelah yang teramat sangat. Jiwanya terasa letih menghadapi lingkaran setan penindasan ini.
"Tolong, om," suaranya bergetar hebat, nyaris kehilangan dayanya di depan pintu kontrakan. "Jangan ambil semuanya... aku mohon. Sisakan sedikit saja untuk modal belanja daging ayam nanti sore, kalau tidak jualan aku tidak punya uang lagi."
Hendra sepenuhnya mengabaikan permohonan pilu keponakannya. Laki-laki itu dengan cepat membuka tas kain kecil tersebut, mengeluarkan seikat lembaran uang hasil keringat Alana semalaman, lalu memasukkan seluruh uang itu ke dalam saku jaketnya tanpa menyisakan satu lembar pun, bahkan untuk sekadar uang receh logam.
"Om!" Alana berteriak, mencoba menahan langkah kaki pamannya.
"Om pinjam dulu uang ini, nanti kalau ada rezeki pasti dikembalikan," ucap Hendra dengan nada suara yang bahkan tidak terdengar meyakinkan bagi dirinya sendiri.
Beberapa detik kemudian laki-laki paruh baya itu berbalik dan pergi begitu saja, melangkah cepat meninggalkan koridor kontrakan yang sepi tanpa memedulikan penderitaan yang ia tinggalkan di belakangnya.
Meninggalkan Alana yang berdiri mematung sendirian di depan pintu yang terbuka lebar, menatap kosong ke arah koridor yang kini kembali sunyi, hening, dan terasa teramat kosong.
Perlahan-lahan, kekuatan di kaki gadis itu seolah lenyap. Alana menurunkan tubuhnya ke lantai semen yang dingin, duduk bersandar pada kusen pintu yang lapuk, memandangi tas kain kosong yang kini tergeletak tak berdaya di tangannya.
Uang untuk membayar sewa kontrakan minggu ini... hilang.
Uang untuk belanja kebutuhan makan sehari-hari... hilang.
Modal untuk membeli bahan jualan beberapa hari ke depan... semuanya ikut hilang dalam sekejap mata.
Dan yang paling menyakitkan dari semua ini bukanlah nominal uangnya yang raib, melainkan kenyataan pahit bahwa setelah tiga tahun berlalu, setelah dia berusaha merangkak dari titik terendah hidupnya, mereka masih belum juga berhenti untuk mengganggu dan mengisap sisa-sisa kedamaian hidupnya.
Satu tetes air mata jatuh membasahi lantai semen, lalu satu tetes lagi menyusul di tempat yang sama.
Namun, tangisan itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja, karena Alana dengan cepat-cepat mengusap wajahnya secara kasar dengan punggung tangannya, menghapus seluruh jejak kelemahan dari wajahnya.
"Tidak," dia menggelengkan kepalanya pelan dengan tatapan mata yang mendadak berubah menajam. "Gue nggak boleh nangis lagi untuk orang seperti mereka."
Sudah terlalu banyak air mata yang dia keluarkan dengan sia-sia selama tiga tahun terakhir ini dan tidak ada satu pun dari air mata itu yang bisa mengubah takdirnya menjadi lebih baik.
Menangis tidak akan pernah bisa mengembalikan uangnya yang dicuri, menangis juga tidak akan pernah membuat jalannya hidup menjadi satu senti lebih mudah untuk dijalani.
Dengan napas yang masih bergetar namun sarat akan keteguhan baru, Alana memaksa tubuhnya bangkit berdiri tegak kembali.
Dia melangkah mendekat, menatap pantulan dirinya di kaca kecil yang tergantung di dekat pintu kontrakannya.
Wajahnya di dalam cermin tampak teramat pucat karena kurang tidur, sepasang matanya tampak sembab dan kemerahan akibat sisa tangisan singkat tadi, namun masih ada satu hal yang belum hilang dari dalam dirinya.
Semangat hidupnya yang membara kuat, menolak untuk dipadamkan oleh badai apa pun.
"Mereka boleh ambil seluruh uang gue hari ini," Alana mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih, menyalurkan seluruh rasa sesak menjadi sebuah tekad yang bulat. "Tapi mereka nggak akan pernah bisa merampas atau menghancurkan hidup gue untuk kedua kalinya."
Kalimat itu terdengar sederhana, diucapkan di dalam keheningan kamar kontrakan yang sempit, namun itulah satu-satunya alasan mengapa dia masih bisa bertahan hidup dan berdiri tegak sampai detik ini.
Karena setiap kali hidup menjatuhkannya ke titik terendah, setiap kali manusia lain menginjak harga dirinya, dia selalu memilih untuk bangun lagi, menolak untuk tetap berada di bawah lantai.
Meski jalannya harus tertatih, meski sekujur tubuhnya dipenuhi luka batin yang mendalam, dan meski dia harus melakukannya seorang diri sebatang kara tanpa pelindung apa pun.
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama memilih untuk mengalah dan diam demi menghindari keributan dengan saudara mendiang ayahnya... Alana mulai berpikir secara rasional dengan kepala dingin.
Sampai kapan dia harus terus membiarkan keluarga pamannya datang dan memperlakukannya seperti ini? Sampai kapan dia harus terus diam menerima penindasan atas nama balas budi yang semu dan palsu itu?
Karena mungkin, batas kesabarannya kini telah benar-benar mencapai titik akhir. Sudah waktunya dia berhenti menjadi korban yang lemah dan mulai memasang benteng pertahanan yang sesungguhnya untuk melindungi sisa hidupnya yang berharga.
Waktu untuk berkompromi telah selesai, dan Alana bersumpah ini adalah terakhir kalinya Hendra bisa melangkah keluar dari pintunya dengan senyuman kemenangan.