Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Rindangnya Pohon Kiara
Gisella melangkah memasuki rumahnya dengan perasaan yang masih membumbung di awan. Namun, pemandangan di ruang tamu seketika menariknya kembali ke bumi. Di atas kursi kayu panjang, Sisil sudah duduk dengan tangan bersedekap dan kaki yang bergoyang-goyang tidak sabar. Di depannya, ada segelas teh obeng yang sudah tinggal es batunya saja tanda bahwa ia sudah menunggu cukup lama.
Begitu pintu berderit, Sisil langsung melompat berdiri. "Gisella! Akhirnya lo pulang! Gue udah hampir lapor polisi, atau minimal lapor ke akun gosip kantor!"
Gisel hanya bisa meringis kaku. "Ssst! Pelan-pelan, Sil. Ibu lagi tidur di dalam."
"Nggak bisa pelan-pelan! Semalam lo hilang, Pak Arsel hilang, dan gue terjebak sama karyawan-karyawan yang sibuk nanya 'Mana si 10 jam?'. Lo kemana aja semalaman? Dan kenapa lo pulang pake baju semalam yang kelihatan... agak berantakan?" mata Sisil menyelidiki setiap inci penampilan Gisel.
Gisel menarik napas panjang. Ia tahu tidak bisa berbohong pada sahabatnya yang satu ini. "Ikut gue sekarang. Kita bicara di taman depan gang saja. Di sini nggak aman."
Taman kecil di dekat rumah Gisel sedang sepi. Hanya ada beberapa anak kecil yang bermain ayunan di kejauhan. Mereka duduk di sebuah bangku kayu di bawah pohon Kiara yang rindang. Angin sepoi-sepoi berusaha mendinginkan suasana hati Gisel yang masih terasa panas.
"Oke, tumpahin semuanya. Sekarang," tuntut Sisil.
Gisel menunduk, memainkan jemarinya. "Sil... semalam itu kacau banget. Pak Arsel... dia dijebak."
"Dijebak? Maksud lo si Siska genit itu beneran beraksi?"
Gisel mengangguk. "Dia naruh sesuatu di minuman Pak Arsel. Semacam obat... obat perangsang. Pas gue nemuin dia di toilet, dia udah nggak sadar. Dia kepanasan hebat. Gue pikir dia demam kumat, jadi gue bawa dia ke kamar hotelnya buat istirahat."
Sisil menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak. "Jangan bilang..."
"Iya, Sil," suara Gisel mengecil. "Di kamar itu... semuanya terjadi. Gue awalnya nolak, tapi dia dalam pengaruh obat itu, dan jujur... gue juga nggak bisa nahan perasaan gue lagi. Akhirnya kami... kami melakukan itu."
Sisil mematung selama beberapa detik. Keheningan menyelimuti mereka sebelum akhirnya Sisil mengembuskan napas panjang. "Gila. Ini beneran kayak plot novel yang lo tulis, Sel. Terus pagi ini gimana? Dia ninggalin lo atau pura-pura nggak inget?"
Gisel tersenyum tipis, teringat momen di mobil tadi. "Enggak. Dia justru bangun duluan. Dia minta maaf banget karena kejadian itu di bawah pengaruh obat. Tapi yang bikin gue kaget... dia bilang kalau dia sayang sama gue. Bukan karena kejadian semalam, tapi emang udah lama."
"Serius?! Si Es Batu itu bilang sayang?!" Sisil heboh sendiri, hampir jatuh dari bangku.
"Iya. Dia bilang dia jatuh cinta sama sifat ceriwis gue. Dia juga janji bakal tanggung jawab dan bakal nyari tahu siapa yang udah ngeracunin dia semalam. Dia bahkan nyuruh gue panggil 'Mas' kalau lagi berdua," Gisel merona saat menceritakan bagian itu.
Sisil menyenggol bahu Gisel dengan nakal. "Ciee, yang udah jadi 'Ibu Bos' beneran! Tapi Sel, gue mau tanya satu hal yang serius."
Wajah Sisil berubah menjadi sangat protektif. "Gimana perasaan lo sekarang? Maksud gue, kejadian semalam itu kan bukan rencana lo. Lo ngerasa... dimanfaatin nggak?"
Gisel menatap ke arah langit biru di sela-sela daun Kiara. "Awalnya gue syok, Sil. Gue ngerasa harga diri gue hilang. Tapi pas denger penjelasan dia tadi, gue ngerasa lega. Gue juga udah jujur kalau gue cinta sama dia. Rasanya... beban gue sedikit terangkat."
Namun, senyum Gisel perlahan memudar saat teringat satu hal yang masih mengganjal. "Tapi ada satu masalah besar, Sil. Tante Widya. Kalau dia tahu kejadian ini, dia pasti seneng banget karena misinya berhasil. Tapi gue ngerasa jahat karena Pak Arsel nggak tahu kalau awalnya gue deketin dia karena kontrak itu."
Sisil terdiam, raut wajahnya ikut serius. "Itu dia masalahnya. Sekarang status lo bukan lagi 'sekretaris penggoda' bayaran, tapi beneran pacar dia. Kalau suatu saat dia tahu lo dibayar nyokapnya buat godain dia... itu bakal jadi ledakan yang lebih parah dari obat semalam, Sel."
"Gue takut, Sil. Gue takut kehilangan dia sekarang karena kebohongan ini," bisik Gisel parau.
Sisil meraih tangan sahabatnya dan meremasnya kuat. "Dengerin gue. Untuk sekarang, jalanin dulu. Pak Arsel lagi di pihak lo. Dia bakal beresin si Siska. Soal Tante Widya, jangan cerita apa-apa dulu sebelum momennya pas. Lo harus buktiin ke Arsel kalau cinta lo sekarang itu murni, bukan karena uang 100 miliar itu."
Gisel mengangguk pelan, mencoba menguatkan hatinya. Di taman yang tenang itu, ia menyadari bahwa hidupnya baru saja berputar 180 derajat. Ia telah menyerahkan segalanya pada Arselan Dirgantara, dan kini ia harus bersiap menghadapi badai yang mungkin akan datang dari orang yang justru membayar jasanya.
"Makasih ya, Sil. Cuma lo yang bisa gue ajak bicara kayak gini," ucap Gisel tulus.
"Santai aja, Sel. Tapi inget ya, kalau nanti lo beneran nikah sama dia dan jadi nyonya besar, gue tetep dapet jatah makan gratis di restoran mewah, oke?" canda Sisil yang berhasil membuat Gisel tertawa lagi.
Malam itu, Gisel tidur dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi ada kebahagiaan karena cintanya berbalas, namun di sisi lain, ada rahasia besar yang tersimpan di bawah bantalnya rahasia yang bisa menghancurkan segalanya dalam sekejap.
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
makacih udah update 🙏