NovelToon NovelToon
MUSUH BEBUYUTAN PALING SAYANG

MUSUH BEBUYUTAN PALING SAYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Enemy to Lovers / Teen / Komedi
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Arkan sama Salsa itu kayak kucing sama anjing di SMA Garuda. Tiap kali ketemu di koridor, pasti ada aja yang diributin, mulai dari nilai ulangan sampe jatah parkir. Salsa yang ambis banget pengen dapet rangking satu ngerasa keganggu sama Arkan yang keliatannya santai tapi pinter banget. Kenapa sih nih cowok kudu ada di sekolah ini? batin Salsa kesel tiap liat muka tengil Arkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FREKUENSI CINTA PERTAMA

  Salsa Kirana terbangun sebelum alarm di ponselnya sempat berteriak nyaring. Sinar matahari yang menyelinap lewat celah gorden kamarnya pagi ini terasa jauh lebih hangat, seolah-olah semesta sedang ikut merayakan suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga. Dia berbaring menatap langit-langit kamar selama beberapa menit, memutar kembali memori kejadian kemarin sore di laboratorium fisika. Ucapan Arkan, tatapan matanya, hingga perasaan hangat saat jemari mereka bertautan, semuanya masih terasa begitu nyata. Salsa menyentuh bibirnya sendiri, lalu segera menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang mendadak panas. Dia tidak pernah menyangka bahwa menyandang status sebagai pacar dari musuh bebuyutannya sendiri akan memberikan efek sedahsyat ini pada sistem sarafnya.

  Setelah bergelut dengan rasa malu yang datang tiba-tiba, Salsa segera bangkit dan bersiap. Hari ini bukan sekadar hari sekolah biasa. Ini adalah hari pertama mereka masuk ke SMA Garuda dengan status baru. Ada rasa gugup yang menyelip di antara rasa senangnya. Bagaimana reaksi teman-temannya? Bagaimana jika Pak Baskoro, guru fisika mereka yang killer itu, curiga karena mereka mendadak terlalu kompak? Salsa menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran-pikiran negatif itu. Dia memilih untuk fokus pada penampilannya. Untuk pertama kalinya, Salsa menghabiskan waktu ekstra untuk menyisir rambutnya agar terlihat lebih jatuh dan berkilau, bahkan dia memakai sedikit lip tint agar wajahnya tidak terlihat terlalu pucat.

  Tepat pukul enam kurang sepuluh menit, sebuah pesan masuk di ponselnya. Dari Arkan.

  "Gue sudah di depan, Sayang. Jangan lari-lari turunnya, nanti jatuh. Gue nggak mau liat lutut pacar gue lecet."

  Salsa hampir menjatuhkan ponselnya saat membaca kata sayang yang dituliskan Arkan dengan begitu santai. Cowok itu benar-benar tidak punya filter kalau soal membuat jantung orang lain berolahraga tanpa henti. Dengan terburu-buru namun tetap berusaha anggun, Salsa menyambar tas dan kotak bekalnya, lalu berpamitan pada ibunya yang hanya bisa tersenyum penuh arti melihat tingkah laku anak perempuannya yang mendadak jadi sangat rajin bersolek.

  Di depan pagar, Arkan sudah menunggu dengan motor sport hitamnya yang legendaris. Pagi ini dia terlihat sangat rapi, meskipun kancing teratas seragamnya tetap dibiarkan terbuka, memperlihatkan kaos hitam di dalamnya. Begitu melihat Salsa keluar, Arkan segera melepas kacamata hitamnya dan memberikan senyum kemenangan yang paling mematikan.

  "Pagi, Tuan Putri paling ambisius se-SMA Garuda," sapa Arkan sambil menyerahkan helm putih milik Salsa.

  Salsa menerima helm itu sambil mengerucutkan bibirnya. "Pagi juga, cowok paling tengil yang sayangnya sekarang jadi pacar gue."

  Arkan tertawa renyah, sebuah suara yang sekarang menjadi musik favorit di telinga Salsa. Dia membantu Salsa mengaitkan tali helmnya, sebuah gestur kecil yang membuat jarak di antara mereka terkikis. Salsa bisa mencium aroma parfum Arkan yang segar, perpaduan antara citrus dan kayu-kayuan yang sangat maskulin. Setelah memastikan helm terpasang dengan benar, Arkan menepuk pelan puncak kepala Salsa.

  "Ayo naik. Kita harus sampai sebelum bel bunyi, gue nggak mau lo kena poin gara-gara telat gara-gara nungguin gue dandan," goda Arkan.

  "Idih, yang dandan kan lo! Gue mah emang udah cantik dari lahir," balas Salsa sambil naik ke boncengan motor Arkan.

  "Iya deh, yang cantik mah bebas. Pegangan yang erat ya, Sa. Gue mau ngebut dikit supaya lo punya alasan buat meluk gue lebih kencang," bisik Arkan tepat di samping telinga Salsa, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

  Motor sport itu meluncur membelah jalanan pagi yang masih cukup lengang. Salsa tidak lagi merasa ragu untuk melingkarkan tangannya di pinggang Arkan. Dia menyandarkan pipinya di punggung Arkan, merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya. Ada rasa aman yang luar biasa setiap kali dia berada di dekat cowok ini. Musuh yang selama dua tahun ini selalu dia debat habis-habisan, ternyata adalah pelabuhan yang paling nyaman untuk hatinya.

  Sesampainya di parkiran sekolah, suasana sudah mulai ramai. Begitu Arkan mematikan mesin motornya dan Salsa turun, mata-mata penasaran mulai tertuju pada mereka. Arkan tidak tampak terganggu sama sekali. Dengan santai, dia mengambil tas Salsa dari pundak gadis itu dan menyampirkannya di pundaknya sendiri. Tangan kirinya kemudian meraih jemari Salsa, menggenggamnya dengan erat di depan mata semua orang yang ada di sana.

  "Kan, malu dilihatin orang," bisik Salsa sambil mencoba menarik tangannya pelan, namun Arkan justru semakin mempererat genggamannya.

  "Biarin aja. Biar mereka semua tahu kalau Salsa Kirana sudah ada yang punya. Jadi nggak akan ada lagi cowok yang berani kirim-kirim pesan sok nanya tugas padahal mau modus," jawab Arkan dengan nada protektif yang membuat Salsa diam-diam merasa senang.

  Mereka berjalan menyusuri koridor menuju kelas XI IPA 1. Bisikan-bisikan mulai terdengar di sepanjang jalan. Beberapa siswa berhenti melakukan aktivitas mereka hanya untuk melihat pemandangan langka tersebut: si juara satu dan si juara dua yang biasanya saling lempar tatapan tajam, kini berjalan sambil berpegangan tangan dengan senyum yang terus mengembang.

  Di depan kelas, Dira sudah berdiri dengan tangan bersedekap, menanti mereka seperti hakim yang siap menjatuhkan vonis. Begitu melihat genggaman tangan itu, Dira langsung memekik tertahan.

  "Gila! Gila! Jadi gosip di grup angkatan semalam itu beneran? Kalian berdua beneran jadian?" tanya Dira dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya.

  Arkan mengangkat tangan mereka yang bertautan tinggi-tinggi. "Kelihatannya gimana, Dir? Masa iya gue pegangan tangan sama musuh?"

  "Wah, parah sih. Sa, lo beneran berkhianat ya? Katanya mau fokus olimpiade, katanya nggak mau pacaran dulu sampe masuk PTN impian, eh sekarang malah kecantol sama si Arkananta," goda Dira sambil menyenggol bahu Salsa.

  Salsa hanya bisa menunduk malu, wajahnya sudah semerah tomat matang. "Dira, berisik ah. Masuk kelas yuk!"

  Arkan melepaskan genggaman tangannya dengan enggan setelah mereka sampai di ambang pintu kelas. "Gue ke kelas dulu ya, Sa. Nanti istirahat gue jemput. Jangan kangen dulu sebelum jam sepuluh."

  "Siapa juga yang mau kangen!" bantah Salsa, meski hatinya berkata sebaliknya.

  Arkan mengedipkan sebelah matanya ke arah Dira, lalu berlalu menuju kelasnya sendiri di ujung koridor. Begitu Arkan menghilang, Dira langsung menyeret Salsa ke bangku mereka. Kelas yang tadinya agak gaduh mendadak hening sejenak karena semua orang ingin mendengar klarifikasi langsung dari sang tokoh utama.

  "Oke, Salsa Kirana. Ceritain semuanya. Dari A sampai Z. Jangan ada yang dikurang-kurangin!" tuntut Dira sambil mengeluarkan ponselnya, siap mencatat setiap detail.

  Salsa menghela napas, mencoba menenangkan dirinya. "Nggak ada yang perlu diceritain secara detail, Dir. Intinya... ya gitu. Ternyata Arkan nggak seburuk yang gue pikirkan selama ini. Dia ternyata perhatian, pinter dengan caranya sendiri, dan... ya, dia bikin gue ngerasa dihargai."

  "Ciee, yang bahasanya udah mulai puitis," goda teman sekelas lainnya, membuat Salsa semakin salah tingkah.

  Pelajaran jam pertama dimulai, namun fokus Salsa tidak sepenuhnya ada pada buku teks di depannya. Pikirannya melayang-layang. Dia teringat bagaimana Arkan selalu sengaja membuat kesalahan kecil saat mereka belajar bersama hanya agar Salsa mau menjelaskannya kembali dengan nada galak. Ternyata itu semua adalah cara Arkan untuk menghabiskan waktu lebih lama dengannya. Selama ini dia menganggap Arkan adalah gangguan, namun sekarang dia sadar bahwa Arkan adalah pelengkap dari hidupnya yang terlalu kaku.

  Saat jam istirahat tiba, pintu kelas Salsa langsung terbuka lebar. Sosok Arkan muncul dengan gaya santainya, membawa dua botol minuman dingin. Dia tidak perlu menunggu lama karena Salsa sudah bersiap-siap. Teman-teman sekelas mereka bersiul-siul menggoda saat Salsa berjalan mendekati Arkan.

  "Lama banget sih, Sa. Gue udah haus nungguin pacar gue keluar," keluh Arkan manja, sebuah sisi yang hanya ditunjukkannya pada Salsa.

  "Cuma nunggu lima menit, Arkan. Jangan lebay," balas Salsa, namun tetap menerima minuman yang diberikan Arkan.

  Mereka memutuskan untuk duduk di bangku taman dekat laboratorium fisika, tempat yang menjadi saksi bisu awal mula kedekatan mereka. Suasana di sana lebih tenang dibandingkan kantin yang riuh.

  "Sa, soal proyek piezoelektrik kita, laporannya sudah gue susun drafnya semalam," ujar Arkan tiba-tiba, beralih ke mode serius.

  Salsa terkejut. "Hah? Lo serius? Biasanya kan gue yang selalu mulai duluan kalau soal administrasi kayak gitu."

  Arkan mengeluarkan sebuah tablet dari tasnya dan menunjukkan beberapa halaman draf laporan yang tertata rapi. "Gue nggak mau lo terlalu capek. Gue tahu lo lagi pusing persiapan olimpiade matematika bulan depan. Jadi, biar bagian ngetik dan susun data ini gue yang handle. Lo tinggal review dan benerin kalau ada yang salah."

  Salsa menatap layar tablet itu, lalu beralih menatap Arkan. Ada rasa haru yang menjalar di hatinya. Arkan yang selama ini dicap malas oleh guru-guru ternyata bisa bersikap sangat bertanggung jawab dan pengertian jika menyangkut kepentingan Salsa.

  "Makasih ya, Kan. Gue nggak nyangka lo bakal sepeduli ini sama beban gue," ucap Salsa tulus.

  Arkan menggenggam tangan Salsa yang bebas. "Sa, denger ya. Kita ini partner. Bukan cuma partner di proyek sekolah, tapi juga partner dalam hal lain. Gue nggak mau hubungan kita malah bikin nilai lo turun atau bikin lo stres. Gue mau jadi orang yang ngeringin beban lo, bukan malah nambahin."

  Salsa tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca. "Pantesan lo dapet peringkat dua terus ya, ternyata lo pinter banget kalau mau usaha."

  "Yah, kalau gue jadi peringkat satu, nanti lo nggak punya alasan buat benci gue lagi dong?" canda Arkan sambil tertawa. "Tapi mulai sekarang, gue bakal berusaha lebih keras. Biar kita bisa masuk universitas yang sama nanti. Gue nggak mau kehilangan saingan sekaligus pacar kayak lo."

  Percakapan mereka terhenti saat bel masuk berbunyi. Arkan mengantarkan Salsa kembali ke kelasnya. Sebelum benar-benar pergi, Arkan sempat berbisik, "Nanti pulang bareng gue lagi ya. Gue mau ajak lo ke suatu tempat."

  "Ke mana?" tanya Salsa penasaran.

  "Rahasia. Pokoknya lo pasti suka," jawab Arkan misterius sebelum berlari kecil menuju kelasnya.

  Sepanjang sisa jam pelajaran, Salsa tidak bisa berhenti memikirkan tentang kejutan yang disiapkan Arkan. Dia bahkan sempat ditegur oleh guru bahasa Inggris karena melamun saat diminta membaca teks di depan kelas. Wajahnya memerah karena malu, namun di dalam hati dia merasa sangat bahagia.

  Saat bel pulang berbunyi, Salsa segera membereskan buku-bukunya. Dira yang melihat ketergesaan sahabatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.

  "Dunia serasa milik berdua ya, Sa. Yang lain mah ngontrak," sindir Dira halus.

  Salsa hanya tertawa sambil melambaikan tangan pada Dira. Di gerbang sekolah, motor Arkan sudah siap. Kali ini Arkan tidak langsung mengajak Salsa pulang ke rumah. Dia membawa Salsa menuju sebuah bukit kecil di pinggiran kota yang terkenal dengan pemandangan sunset-nya yang indah.

  Mereka duduk di atas kap sebuah mobil tua yang terparkir di sana-ternyata itu mobil milik kakak Arkan yang sengaja dipinjam untuk sore ini. Mereka melihat matahari yang perlahan mulai tenggelam, mengubah warna langit menjadi jingga keunguan yang menakjubkan.

  "Kenapa ajak gue ke sini?" tanya Salsa pelan, menikmati semilir angin sore.

  Arkan menatap lurus ke depan, ke arah cakrawala. "Gue sering ke sini kalau lagi suntuk. Tempat ini tenang. Dan sekarang, gue mau bagi ketenangan ini sama lo. Gue mau lo tahu kalau di luar persaingan nilai, di luar urusan parkiran, dan di luar semua kebisingan sekolah, ada sisi lain dari gue yang cuma mau hidup tenang bareng lo."

  Salsa menyandarkan kepalanya di bahu Arkan. "Gue juga ngerasa tenang di sini, Kan. Makasih ya udah bawa gue ke sini."

  Arkan merangkul bahu Salsa, menariknya agar lebih dekat. "Sa, janji ya sama gue. Apapun yang terjadi nanti, kalau kita berantem atau kalau kita beda pendapat soal rumus fisika lagi, jangan pernah pergi. Kita hadapi semuanya bareng-bareng."

  Salsa mendongak, menatap mata tajam Arkan yang kini terlihat sangat lembut. "Gue janji. Lagian, siapa juga yang kuat lama-lama berantem sama cowok setengil lo? Ujung-ujungnya pasti gue kangen juga."

  Arkan tertawa dan mengecup puncak kepala Salsa dengan sayang. Di atas bukit itu, di bawah langit yang mulai menggelap, mereka menyadari bahwa frekuensi hati mereka kini benar-benar telah menyatu. Tidak ada lagi hambatan, tidak ada lagi gangguan. Yang ada hanyalah getaran cinta yang semakin kuat, sekuat energi yang mereka hasilkan dari proyek piezoelektrik mereka.

  Malam itu, Salsa pulang dengan perasaan yang sangat penuh. Dia menyadari bahwa jatuh cinta pada musuh bebuyutan adalah hal paling tidak terduga, namun sekaligus paling indah yang pernah terjadi dalam hidupnya. Dia membuka buku fisikanya lagi, namun kali ini dia tidak hanya melihat angka dan rumus. Di sela-sela halaman itu, dia menuliskan satu kalimat kecil dengan tinta emas: "Terima kasih sudah menjadi getaran di hati gue, Arkan."

  Salsa menutup bukunya dengan senyum lebar. Dia tahu, esok hari akan ada tantangan baru, ulangan baru, dan mungkin perdebatan baru di sekolah. Namun satu hal yang pasti, dia tidak akan lagi menghadapinya sendirian. Ada Arkan yang akan selalu menunggunya di parkiran, siap melindunginya, dan siap menjadi alasan bagi Salsa untuk terus tersenyum setiap harinya di SMA Garuda.

  Lampu kamar Salsa padam, namun cahaya di hatinya sedang bersinar lebih terang dari biasanya. Malam itu, dia bermimpi tentang masa depan, sebuah masa depan di mana dia dan Arkan tidak lagi memperebutkan peringkat satu, melainkan bekerja sama untuk menjadi nomor satu dalam hidup masing-masing. Dan bagi Salsa, itu adalah pencapaian yang jauh lebih berharga daripada nilai seratus di rapor manapun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!