NovelToon NovelToon
Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Hz. ceria

Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.

ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.

Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.

tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Investigasi Kael

Hujan deras masih mengguyur atap kaca perpustakaan pribadi Istana Kristal, menciptakan irama monoton yang menenangkan. Di dalam ruangan yang hangat dan beraroma kertas tua serta lilin beeswax, Floren duduk di balik meja mahoni raksasa. Tumpukan dokumen arsip kuno berserakan di hadapannya, debu tipis menempel pada ujung jarinya.

Di seberang meja, Kaelia berdiri dengan tangan disilangkan di dada. Posturnya kaku, wajahnya datar seperti topeng batu. Dia tidak suka dipanggil ke sini untuk urusan "administratif". Baginya, waktu adalah pedang yang harus diasah, bukan dibuang untuk membaca sejarah.

"Kau memanggilku ke sini hanya untuk melihatmu membaca?" tanya Kaelia, suaranya datar dan sedikit tajam. "Aku punya laporan patroli perbatasan selatan yang perlu diperiksa. Valerius mungkin mengirim mata-mata."

"Duduk, Kaelia," perintah Floren tanpa mengangkat kepala dari berkas usang di tangannya. Suaranya tenang, namun memiliki berat otoritas yang tak terbantahkan. "Ini lebih penting daripada patroli malam ini. Ini tentang keamanan istana kita sendiri."

Kaelia mendengus pelan, tapi dia menarik kursi kayu berlengan tinggi dan duduk dengan gerakan kasar. Kursi itu berdecit protes. "Apa yang kau cari? Rahasia dapur kerajaan?"

Floren akhirnya menoleh. Matanya yang abu-abu menatap Kaelia lurus-lurus. Dia melemparkan sebuah berkas tipis berwarna cokelat pudar ke atas meja, tepat di depan Kaelia. Berkas itu terlihat rapuh, stempel kerajaan Zenthoria di sudutnya sudah hampir hapus dimakan waktu.

"Siapa Kael?" tanya Floren langsung. Pertanyaan itu sederhana, tapi nadanya tajam seperti pisau bedah.

Kaelia tidak bereaksi segera. Dia menatap berkas itu, lalu kembali menatap Floren. Ekspresinya tetap kosong, tapi ada ketegangan halus di rahangnya.

"Dia salah satu dari dua puluh pria yang dikirim Ratu Zenthoria sebagai 'hadiah diplomasi'," jawab Kaelia standar, suaranya datar. "Seorang penyair. Seorang musisi. Terampil dalam seni percakapan. Tidak berbahaya secara fisik."

"Tidak berbahaya?" Floren mengangkat alis, skeptis. Dia mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja. "Penyair yang bisa membaca peta militer dalam sekilas pandang saat kita berjalan di taman minggu lalu? Musisi yang tahu cara meracuni anggur tanpa meninggalkan rasa atau aroma? Aku melihat caramu mengawasinya, Kaelia. Kau tidak menganggapnya sebagai hadiah manis. Kau menganggapnya sebagai ancaman laten."

Kaelia menyipitkan mata. "Saya hanya melakukan tugas saya. Melindungi Ratu dari segala potensi bahaya, termasuk yang terselubung dalam keindahan."

"Aku tidak membutuhkan perlindungan dari bayangan jika aku tidak tahu bentuk aslinya," kata Floren tegas. Dia membuka berkas itu. Halamanya hampir kosong. Hanya ada beberapa baris teks singkat.

Nama: Kael.

Asal: Tidak Diketahui.

Usia: Estimasi 24 tahun.

Keterampilan Tercatat: Seni, Musik, Diplomasi, Etiket.

Latar Belakang Keluarga: Tidak Ada Catatan.

"Ini terlalu bersih," gumam Floren, suaranya rendah. "Setiap orang memiliki masa lalu, Kaelia. Setiap orang memiliki jejak. Kelahiran di rumah sakit atau bidan desa, catatan sekolah, keluarga, teman, kesalahan kecil di masa remaja. Tapi Kael? Dia muncul begitu saja dari kabut. Tidak ada catatan kelahiran di arsip sipil Zenthoria. Tidak ada catatan pendaftaran di akademi seni mana pun. Tidak ada saksi yang mengenalnya sebelum tiga tahun lalu."

Floren mencondongkan tubuh ke depan, menatap Kaelia intens. "Siapa dia sebenarnya? Dan kenapa kau, Jenderal yang paling skeptis terhadap semua pria di harem ini—yang bahkan mencurigai Julian karena ambisinya dan Arsen karena gelarnya—tiba-tiba menghabiskan waktu berjam-jam bersamanya di taman kemarin sore? Bukan untuk interogasi. Tapi untuk... mendengarkan?"

Kaelia mengeratkan rahangnya. Otot-otot lehernya menegang di bawah kerah armornya. Dia benci pertanyaan ini. Dia benci fakta bahwa Floren selalu melihat lebih jauh daripada yang orang lain inginkan.

"Dia... rumit," jawab Kaelia akhirnya, suaranya lebih rendah, hampir seperti geraman.

"Rumit bukan jawaban militer, Jenderal," desak Floren. "Apakah dia mata-mata aktif Zenthoria? Apakah dia pembunuh bayaran yang ditanamkan? Atau apakah dia sesuatu yang lebih buruk: seorang manipulator emosional?"

Kaelia menghela napas panjang, suara yang jarang keluar dari dadanya. Dia berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap hujan, membelakangi Floren. Punggungnya kaku, menunjukkan konflik batin.

"Dia tidak ingat siapa dirinya," kata Kaelia pelan. Kata-kata itu jatuh ke dalam keheningan ruangan seperti batu ke dalam sumur dalam.

Floren terdiam, matanya melebar sedikit. "Apa?"

"Kael menderita amnesia retrograde parsial," lanjut Kaelia, masih menatap hujan di luar. Suaranya kehilangan nada militernya, digantikan oleh kelelahan yang manusiawi. "Dia ditemukan tiga tahun lalu di perbatasan utara Zenthoria, terluka parah, hampir mati karena hipotermia. Tidak ada identitas. Tidak ada dokumen. Ratu Zenthoria mengambilnya, menyembuhkannya, memberinya nama 'Kael', dan melatihnya. Dia diajari seni, musik, dan cara menjadi 'pria ideal' menurut standar Zenthoria. Dia adalah alat. Boneka cantik yang dirancang untuk dimainkan sesuai keinginan tuannya."

Floren merasakan dingin merambat di tulang belakangnya, meski ruangan itu hangat. "Dan kau tahu ini karena..."

"Karena aku menelitinya sebelum dia dikirim ke sini," potong Kaelia, menoleh sedikit. Profil wajahnya terlihat keras di cahaya redup. "Aku tahu Zenthoria tidak pernah mengirim hadiah tanpa racun di dalamnya. Kael adalah racun itu. Tapi bukan racun fisik yang membunuh tubuh. Dia adalah racun psikologis. Dia dirancang untuk membuat wanita jatuh cinta padanya, untuk memanipulasi emosi, untuk mendapatkan rahasia melalui kelembutan dan empati palsu."

Floren menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Dan apakah dia berhasil? Apakah dia memanipulasimu?"

Kaelia diam sejenak. Jujurannya sulit keluar, seperti memuntahkan kaca pecah. "Dia... berbeda. Saat dia bermain musik, atau saat dia berbicara tentang bintang-bintang dengan tatapan kosong itu, dia terlihat tulus. Ada kesedihan di dalamnya yang nyata. Tapi aku tidak bisa mempercayai ketulusan itu. Karena aku tidak tahu siapa pria di balik topeng itu. Apakah dia korban yang trauma? Atau apakah dia aktor terbaik yang pernah diciptakan Zenthoria, yang bahkan percaya pada kebohongannya sendiri?"

Floren berdiri, berjalan mengelilingi meja hingga berdiri di samping Kaelia. Dia menatap profil wajah jenderalnya. Dia melihat keretakan di topeng besi Kaelia.

"Kau curiga padanya," kata Floren lembut. "Tapi kau juga tertarik. Kau melihat cerminan kesepianmu sendiri dalam dirinya."

Kaelia menatap Floren tajam, matanya berkilat marah. "Jangan menyimpulkan hal-hal yang tidak kau ketahui, Yang Mulia. Perasaanku tidak relevan. Yang relevan adalah ancamannya."

"Aku mengenalimu, Kaelia," kata Floren, suaranya tegas namun penuh empati. "Kau tidak akan menghabiskan waktu berjam-jam dengan seseorang yang hanya kau anggap sebagai ancaman murni. Kau sedang mencoba memecahkan teka-teki itu. Kau ingin tahu apakah ada manusia nyata di dalam diri Kael, atau hanya cangkang kosong yang diisi oleh propaganda Zenthoria."

Kaelia tidak membantah. Dia menunduk, tinjunya mengepal di sisi tubuhnya, kuku-kukunya menekan telapak tangan. "Dia berbahaya, Floren. Jika dia mendapat kepercayaanmu, jika dia masuk ke dalam pertahanannmu... dia bisa menghancurkanmu dari dalam. Jangan biarkan pesonanya menipumu. Jangan biarkan kesedihannya membuatmu lemah."

Floren tersenyum tipis, senyum yang misterius dan penuh tekad. "Tenang, Jenderal. Aku tidak mudah tertipu oleh air mata atau lagu sedih. Tapi... aku penasaran."

Dia kembali ke mejanya, menutup berkas cokelat itu dengan keras. Suara debumannya bergema di ruangan.

"Awasi dia," perintah Floren. "Tapi jangan hanya mengawasinya sebagai musuh potensial. Pelajari dia. Cari tahu apa yang dia inginkan. Semua orang menginginkan sesuatu, Kaelia. Bahkan boneka pun punya tali yang bisa ditarik. Temukan talinya."

Kaelia mengangguk kaku, topeng dinginnya kembali terkunci rapat di wajahnya. "Seperti perintah Anda, Yang Mulia."

Dia berbalik untuk pergi, tangannya sudah mencapai gagang pintu. Tapi dia berhenti, tidak menoleh.

"Floren," panggilnya, menggunakan nama depan Ratu itu untuk pertama kalinya dalam pertemuan serius ini. Suaranya serius, hampir peringatan. "Hati-hati. Kael bukan seperti Arsen yang polos dan mudah dibaca, atau Julian yang transparan dalam logikanya. Kael adalah cermin. Dia akan memantulkan apa yang ingin kau lihat. Pastikan kau melihat realitas, bukan ilusi yang ingin kamu percayai."

Pintu tertutup. Floren tinggal sendirian di perpustakaan yang hening, hanya suara hujan yang menemaninya.

Dia menatap berkas cokelat itu lagi. Nama Kael tertulis di sana, sederhana dan menakutkan.

Floren menyentuh dahinya, memikirkan pertemuan singkat mereka sebelumnya. Kael memang charming. Terlalu sempurna. Terlalu halus. Tapi di balik mata indah dan melankolis itu, Floren merasakan kehampaan yang mendalam. Sebuah kesepian yang mirip dengan miliknya sendiri di puncak takhta ini.

"Siapa kamu sebenarnya?" bisik Floren pada udara kosong. "Korban atau algojo?"

Di luar, guntur menggelegar, seolah menjawab dengan misteri yang lebih besar. Permainan catur telah dimulai, dan bidak yang paling berbahaya, yang paling tidak diketahui, baru saja masuk ke papan. Dan Floren menyadari bahwa untuk mengalahkan Zenthoria, dia mungkin harus memahami pria yang dikirim oleh musuhnya terlebih dahulu.

1
Musim
Menarik dan menginspirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!