NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Sore itu, langit berwarna jingga kemerahan, memancarkan cahaya lembut yang masuk lewat jendela ruang tamu. Ani masih duduk di sofa, ditemani oleh Ibu Siti yang sejak tadi tak beranjak dari sisinya. Wanita tua itu sesekali mengelus punggung tangan Ani, berusaha menyalurkan kekuatan yang ia miliki, meski di matanya masih tampak jelas rasa sedih dan malu atas kelakuan anak kandungnya sendiri.

Setelah tangisnya mereda, keheningan yang menyelimuti mereka bukan lagi keheningan yang menakutkan dan penuh kesepian seperti tadi, melainkan keheningan yang terasa meneduhkan. Ani merasa sedikit lebih lega setelah mengeluarkan semuanya, setelah berbagi beban berat yang hampir meremukkan bahunya sendirian.

"Bu," panggil Ani pelan, memecah keheningan itu. Suaranya sudah jauh lebih stabil, meski masih terdengar lemah. "Ani berterima kasih sekali. Sungguh, Ani tak menyangka Ibu akan bersikap sebaik ini sama Ani. Ani kira... setelah semua ini terjadi, Ibu akan membela Mas Dimas, atau menyalahkan Ani karena rumah tangga kami hancur."

Ibu Siti menggeleng pelan, lalu tersenyum sendu sambil mengusap pipi Ani. Wajah keriputnya terlihat tulus dan penuh kasih sayang.

"walaupun dimas salah, ibu gak akan membela dia , nak ? Justru Ibu yang malu luar biasa. Ibu yang gagal mendidik Dimas menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan tahu diri. Kamu ini seperti anak perempuan sendiri bagi Ibu. Selama lima tahun ini, kamu tak pernah kurang sedikit pun melayani kami. Kalau Ibu sampai menyalahkanmu, berarti Ibu sudah tidak punya hati nurani," jawab Ibu Siti dengan suara bergetar. "Dimas yang bodoh, dia tidak sadar apa yang dia miliki. Dia melepaskan permata berharga demi kaca yang berkilau sesaat saja. Suatu hari nanti, dia pasti akan menyesal, tapi saat itu mungkin sudah terlambat."

Ani menunduk, menatap jemarinya sendiri. Pikiran tentang penyesalan Dimas sama sekali tidak lagi menjadi keinginannya. Yang ia inginkan sekarang hanyalah kedamaian, kebebasan dari rasa sakit, dan cara untuk bangkit kembali.

"Ibu," ucap Ani lagi, seolah memberanikan diri untuk mengutarakan keputusan yang sudah ia simpan di benak sejak kepergian Dimas. "Ani berniat untuk pindah dari rumah ini."

Ibu Siti terkejut, matanya membulat menatap Ani. "Pindah? Ke mana, Nak? Rumah ini kan... dulu dibangun atas kerja keras kalian berdua, dan Dimas sendiri sudah bilang rumah ini menjadi hakmu. Kenapa harus pergi?"

Ani menghela napas panjang, lalu menatap sekeliling ruangan itu. Di setiap sudut, di setiap perabot yang ada, tersimpan jejak kenangan - kenangan yang dulu indah, namun kini berubah menjadi siksaan batin. Di sofa ini mereka sering duduk bersama menonton televisi. Di meja makan itu mereka berbagi cerita setiap pagi dan malam. Di kamar tidur itu... di sanalah segala kebohongan itu bersarang.

"Bu, setiap sudut rumah ini mengingatkan Ani sama Mas Dimas. Setiap benda, setiap tempat, semuanya penuh kenangan. Kalau Ani tetap tinggal di sini, rasanya Ani tidak akan pernah bisa melupakan dan melangkah maju. Ani akan terus teringat rasa sakit ini setiap hari. Ani butuh tempat baru, suasana baru, supaya Ani bisa menyembuhkan luka ini dengan tenang," jelas Ani jujur. "Lagipula, Ani tidak mau menerima apa pun dari Mas Dimas. Rumah ini, uang yang dia tawarkan... semuanya Ani tolak. Ani ingin berdiri di atas kaki sendiri, Bu. Ani ingin membuktikan bahwa Ani bisa hidup bahagia tanpa dia."

Air mata kembali menetes di pipi Ibu Siti, kali ini karena rasa kagum yang mendalam. Ia sadar, menantunya ini bukan sekadar wanita biasa. Di tengah kejatuhan dan kehancuran yang begitu besar, ia masih memiliki harga diri dan kekuatan hati yang luar biasa.

"Kamu hebat sekali, Nak... Lebih hebat dari yang Ibu bayangkan," ucap Ibu Siti sambil mengangguk pelan, menyetujui keputusan itu. "Kalau itu yang membuat hatimu tenang, Ibu dukung sepenuhnya. Lakukan apa yang menurutmu terbaik buat dirimu sendiri. Jangan pikirkan Ibu atau siapa pun. Kamu berhak bahagia."

Ia lalu merogoh saku kain kebaya yang ia pakai, mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil, dan menyodorkannya ke tangan Ani.

"Ini apa, Bu?" tanya Ani bingung, menatap bungkusan itu.

"Buka saja," jawab Ibu Siti lembut.

Ani membuka ikatan kain itu, dan matanya terbelalak kaget. Di dalamnya terdapat sepasang anting emas tua dan sebuah kalung sederhana namun tampak berharga.

"Ini... barang berharga Ibu, Bu. Ani tidak boleh mengambilnya," tolak Ani, berniat mengembalikannya.

Namun Ibu Siti menahan tangan Ani, menutup kembali genggaman tangan menantunya itu.

"Dengar Ibu, Nak. Simpan saja. Ini bukan pemberian dari Dimas, bukan pemberian dari keluarga, tapi ini milikmu. Ini warisan dari almarhumah nenek Dimas, dulu dia titipkan buat menantu kesayangannya. Ibu simpan sampai sekarang, dan ternyata memang ditakdirkan buatmu. Anggap saja bekal sedikit buat kamu memulai hidup baru. Jangan ditolak ya, kalau kamu menolak, berarti kamu tidak menganggap Ibu ibumu sendiri."

Kalimat itu membuat hati Ani luluh seketika. Ia kembali menangis, namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa haru yang mendalam. Di saat ia merasa dunia runtuh dan orang yang paling ia cintai meninggalkannya, ia justru mendapatkan kasih sayang yang tulus dari wanita yang bahkan tidak melahirkannya. Ani kembali memeluk Ibu Siti erat, menumpahkan segala rasa syukur di dada.

"Terima kasih, Bu... Terima kasih banyak..." isak Ani.

Saat senja mulai berganti menjadi malam, Ibu Siti berpamitan pulang. Sebelum pergi, ia berjanji akan tetap menjalin hubungan dengan Ani, menganggapnya tetap sebagai anak kandungnya sendiri, meski status hubungan itu sudah berubah.

Setelah kepergian ibu mertuanya, Ani sendirian kembali di dalam rumah itu. Namun, perasaannya kini berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi rasa hampa yang menyesakkan, tidak ada lagi rasa takut menghadapi masa depan. Ia berjalan menuju kamar tidur, lalu membuka lemari pakaiannya. Ia mulai mengeluarkan satu per satu bajunya, melipatnya dengan rapi dan memasukkannya ke dalam koper besar. Ia tidak membawa barang-barang pemberian Dimas, tidak membawa barang yang mengingatkannya pada laki-laki itu. Ia hanya membawa miliknya sendiri, serta barang pemberian Ibu Siti yang akan ia simpan sebagai kenangan manis yang berharga.

Setelah selesai berkemas, Ani duduk sejenak di tepi tempat tidur, menatap sekeliling kamar itu untuk terakhir kalinya. Ia menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, seolah melepaskan segala rasa sakit, kekecewaan, cinta, dan kenangan buruk yang ada di tempat itu.

"Selamat tinggal, masa lalu..." bisiknya pelan.

Malam itu juga, dengan koper besar di tangan dan tekad yang mulai tumbuh kembali di dadanya, Ani melangkah keluar dari rumah itu. Ia menutup pintu pagar rapat-rapat, menutup bab kehidupan yang penuh kepalsuan itu selamanya. Di depan matanya terbentang jalan yang masih panjang, mungkin masih berat dan berliku, tapi untuk pertama kalinya setelah hari yang penuh badai itu, Ani tersenyum kecil.

Ia bebas. Ia utuh. Dan ia siap membangun bahagianya sendiri, dengan kekuatannya sendiri.

Bersambung,,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!