ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.4: Kilas Balik - Menara Kaca Bisu dan Runtuhnya Kolosus Absolut
Perubahan Hutan Embun Darah sungguh menakjubkan. Kabut merah yang menyesakkan dan berbau anyir darah telah lenyap tak berbekas, tersapu bersih oleh pendaran aura hijau berlapis cahaya putih suci milik Ajil.
Daun-daun yang sebelumnya berwarna merah mematikan kini memancarkan kilau keemasan layaknya helaian emas murni yang tertiup angin musim semi. Rintik embun yang jatuh tak lagi menyerupai darah, melainkan air suci yang menyebarkan aroma bunga kehidupan, menenangkan saraf dan memulihkan stamina siapa pun yang menghirupnya.
Namun, kontras dengan keindahan hutan yang baru saja lahir kembali itu, sang Algojo Dimensi justru telah kembali ke wujud aslinya yang paling kelam.
Ajil berjalan di depan. Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya menyerap seluruh pantulan cahaya keemasan dari hutan tersebut, menciptakan sebuah siluet hitam yang memancarkan isolasi mutlak. Wajahnya telah membeku sempurna. Rahangnya mengeras sekuat baja, dan sepasang mata hitamnya kembali menyorotkan kekosongan tanpa dasar. Sisi rapuh, air mata, dan kehangatan yang sempat meledak beberapa menit lalu telah dikunci kembali ke dalam peti mati di dasar jiwanya, digembok rapat dengan rantai keputusasaan.
Erina berjalan dua langkah di belakang Ajil. Tangan sang High Elf itu masih sedikit gemetar. Ia terus memandangi punggung lebar pria berjaket hitam tersebut. Ingatan tentang air mata Ajil dan raut wajahnya yang hancur karena ilusi masa lalunya masih tercetak sangat jelas di benak Erina. Ujung telunjuk Erina—yang hampir saja menyentuh pipi Ajil—terasa hangat.
Erina mempercepat langkahnya, menyejajarkan posisinya dengan Ajil. Ia ingin berbicara. Ia ingin mengatakan bahwa ia melihat semuanya, bahwa ia mengerti, dan bahwa Ajil tidak perlu lagi memikul neraka itu sendirian.
"Ajil..." panggil Erina, suaranya mengalun sangat merdu dan dipenuhi kelembutan yang nyaris memohon. "Apa yang kau lihat di dalam kabut tadi... kau tidak harus menyimpannya sen—"
Langkah Ajil terhenti mendadak. Udara di sekitarnya seketika anjlok ke titik beku.
Pria itu menolehkan kepalanya perlahan, menatap mata zamrud Erina dengan tatapan yang begitu dingin, tajam, dan mematikan, hingga sang peri abadi itu tanpa sadar menahan napasnya. Tidak ada amarah yang meledak-ledak di mata Ajil, yang ada hanyalah peringatan absolut yang tak bisa diganggu gugat.
"Apa yang kau lihat di dalam kabut tadi adalah sebuah ilusi," desis Ajil datar, suaranya sangat pelan namun memiliki resonansi yang menggetarkan tulang. "Dan apa yang hancur bersamanya, biarlah tetap hancur. Jangan pernah mengungkit hal itu lagi, Erina. Jangan pernah mencoba menggali kuburan yang telah kututup."
Erina menelan ludah. Hatinya mencelos, namun ia juga memahami bahwa luka pria ini belum siap untuk disentuh oleh tangan mana pun di dunia ini. Ia menundukkan wajah pualamnya sedikit, mengangguk pelan. "Aku mengerti, Ajil. Maafkan aku."
Ajil membuang muka, kembali melangkah maju. Rino dan Richard yang berada di belakang mereka pura-pura tidak mendengar percakapan itu. Kedua elit Kelas A+ itu mencengkeram senjata mereka erat-erat, sangat bersyukur bahwa pemimpin mereka telah kembali sadar, meskipun aura kedinginannya terasa lebih mencekam dari sebelumnya.
Beberapa kilometer perjalanan melintasi hutan emas, sistem Ajil berdenting pelan memberikan notifikasi yang memecah keheningan.
[SISTEM: Zona Aman Sementara Terdeteksi. Pemulihan Stamina Mental disarankan sebelum menghadapi Penjaga Gerbang Asli.]
Ajil berhenti di dekat sebuah mata air kecil yang memancarkan cahaya kebiruan. Ia tahu, memaksakan diri setelah serangan mental tingkat SSS adalah tindakan bodoh. Otak manusianya membutuhkan kalori nyata untuk memperbaiki sinapsis yang rusak akibat manipulasi ilusi Erika.
"Kita istirahat sepuluh menit," perintah Ajil.
Rino dan Richard segera menyarungkan senjata mereka, duduk bersila di atas akar pohon emas. Ajil membuka Cincin Ruang Tak Terbatasnya. Ia tidak mengeluarkan dendeng liat seperti biasanya. Kali ini, ia membutuhkan sesuatu yang manis dan berkalori tinggi.
Ia mengeluarkan beberapa potong Roti Madu Inti Bumi—roti yang dipanggang menggunakan panas batu magma, diolesi dengan madu lebah roh raksasa yang sangat kental dan berwarna keemasan. Sebagai pendampingnya, ia mengeluarkan sebuah tabung bambu sihir berisi Susu Domba Salju yang sangat dingin.
Ajil menggigit roti tersebut. Teksturnya renyah di luar namun sangat lembut dan berserat di dalam. Rasa manis madu yang kaya akan mana langsung meledak di lidahnya, berpadu dengan sensasi gurih gandum bakar. Ia meneguk susu dingin itu, membiarkan cairan kental bernutrisi tinggi itu membasuh kerongkongannya, mendinginkan hawa panas yang sempat tertinggal di dadanya.
Erina duduk di dekatnya, memakan bagiannya dengan anggun. Rino dan Richard makan dengan lahap, sangat berterima kasih atas asupan gizi yang luar biasa mahal ini. Di dunia petualang, logistik adalah kunci, dan memiliki pemimpin dengan Cincin Ruang Tak Terbatas berarti mereka tidak akan pernah kekurangan pasokan terbaik.
Hanya berselang sepuluh menit, Ajil bangkit berdiri, menyapu remah-remah roti dari sarung tangannya.
"Waktunya habis," ucap Ajil. "Ayo."
Mereka kembali berjalan, dan tak lama kemudian, hutan emas itu mulai menipis, membuka jalan menuju sebuah hamparan pelataran luas yang terbuat dari susunan ubin pualam putih dan hitam yang membentuk pola papan catur raksasa.
Di tengah pelataran itu, berdirilah bangunan yang menentang seluruh hukum fisika dan arsitektur Planet Ridokan.
Itulah Menara Ilusi.
Bangunan itu tidak terbuat dari batu bata atau kayu, melainkan dari susunan prisma kaca dan kristal raksasa yang terus berputar dan melayang tanpa penyangga. Menara itu membengkok ke atas secara tidak logis, menembus awan dengan bentuk menyerupai spiral DNA raksasa. Air terjun kecil mengalir dari puncak menara, namun alih-alih jatuh ke tanah, air itu mengalir ke atas, menentang gravitasi, dan menghilang ke udara kosong. Pintu masuk menara itu hanyalah sebuah cermin raksasa yang memantulkan bayangan pelataran kosong.
[SISTEM: Mendekati Pusat Anomali: Menara Ilusi.]
[Peringatan! Deteksi Entitas Kuno Terkunci. Aktivasi Sistem Pertahanan Menara dimulai.]
Begitu ujung sepatu bot Ajil menyentuh ubin pualam pelataran tersebut, seluruh area berguncang hebat. Gempa bumi buatan berskala masif meretakkan pola papan catur di bawah kaki mereka.
KRAAAK! GRRRUUUMM!
Ubin-ubin pualam putih dan hitam itu tercabut dari tanah, melayang ke udara seolah ditarik oleh magnet raksasa. Ribuan ton batu marmer dan material kristal dari pelataran itu saling bertabrakan, menyusun diri di tengah-tengah jalan menuju cermin pintu masuk. Cahaya emas menyilaukan memancar dari inti susunan batu tersebut, merajut rune sihir kuno yang mengikat bebatuan itu menjadi sebuah wujud kehidupan sintetis yang mengerikan.
Dalam hitungan detik, sesosok makhluk raksasa setinggi dua puluh meter berdiri di hadapan mereka. Makhluk itu menyerupai seorang ksatria kolosal yang terbuat dari pualam putih berurat emas. Ia tidak memiliki wajah, hanya sebuah helm datar dengan satu garis cahaya biru menyala di bagian matanya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah pilar kuil utuh sebagai tongkat pemukul, dan di tangan kirinya, sebuah perisai raksasa yang memantulkan cahaya layaknya cermin sempurna.
Inilah 'Penjaga Gerbang Asli' yang dibicarakan Erika.
[Nama: Aegis Penjaga Dimensi (Kolosus Kuno)]
[Level: 130]
[Kelas: SS (Penjaga Gerbang Absolut)]
[Karakteristik: Refleksi Sihir 100%, Ketahanan Fisik Ekstrem. Kebal terhadap serangan mental dan racun.]
"Dewa-dewa Ridokan!" seru Richard, tombak esnya secara otomatis muncul di genggamannya. Keringat dingin mengucur di dahinya. "Itu adalah Kolosus Kuno! Monster Construct buatan dewa yang tidak memiliki rasa sakit, tidak bisa kelelahan, dan... sistemnya menunjukkan Refleksi Sihir 100%!"
Rino menarik pedang raksasanya (Broadsword), api merah menyala berkobar menyelimuti bilah pedang tersebut. Zirah Heavy Plate merahnya berderit saat ia memasang kuda-kuda. "Biar aku yang mengujinya, Tuan Ajil! Jika sihir memantul, maka aku akan menghancurkannya dengan tebasan fisik berlapis mana api! Richard, lindungi aku!"
"Jangan, Rino!" peringat Erina tajam, namun peringatannya terlambat.
Darah pahlawan di dalam tubuh Rino mendidih. Ia ingin membuktikan nilainya di depan Ajil. Raksasa merah itu melompat tinggi ke udara dengan kekuatan penuh, mengayunkan pedangnya yang berkobar membentuk busur bulan sabit api.
"Tebasan Api Melingkar!" raung Rino.
Di bawah, Richard merapalkan sihir pendukung tingkat tinggi. "Tombak Es Penembus!" Tiga pilar es raksasa melesat dengan kecepatan peluru, mengiringi serangan Rino, mengincar lutut sang Kolosus agar keseimbangannya hancur.
Kolosus Kuno itu tidak menghindar. Ia bahkan tidak mengangkat pilar pemukulnya. Ia hanya memutar perisai cermin raksasanya ke depan, menyambut kedua serangan dahsyat dari mantan petualang Kelas A+ tersebut.
TRANGGG!! VZUUUSSSHH!
Sebuah fenomena mengerikan terjadi. Begitu pedang api Rino dan tombak es Richard menyentuh permukaan perisai cermin tersebut, tidak ada ledakan yang terjadi di tubuh golem itu. Sebaliknya, perisai itu menyerap 100% energi magis dan gaya kinetik dari serangan mereka, menggandakan kekuatannya, lalu memantulkannya kembali secara instan!
Gelombang api merah yang seratus kali lebih panas dari tebasan Rino, bercampur dengan pilar es yang seratus kali lebih tajam, meledak membalik ke arah mereka berdua.
"T-Tidaak!" Rino membelalakkan matanya di udara, tak bisa menghindar dari pantulan serangannya sendiri yang kini berpotensi membunuhnya.
WUSSSHHH!
Ajil menghilang dari posisinya. Kecepatan God-Tier miliknya merobek ruang. Dalam seperseribu detik, ia muncul di depan Rino dan Richard yang terpental, merentangkan kedua tangannya.
BUMMM!!
Ajil menerima ledakan pantulan api dan es itu secara langsung dengan tubuhnya. Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya berdesis keras, menetralkan hawa panas dan dingin ekstrem itu sepenuhnya, melindunginya dan dua bawahannya dari kematian konyol. Asap mengepul dari jaket panjang Ajil.
Rino dan Richard jatuh bergulingan ke lantai pelataran, napas mereka tersengal.
"Bodoh," desis Ajil datar, sama sekali tidak terluka, namun nadanya sarat akan peringatan keras. Ia tidak menoleh ke arah Rino. "Refleksi sihir 100% berarti monster ini adalah cermin murni. Segala bentuk mana elemental, baik api, es, maupun angin, akan dikembalikan kepada kalian bersama gaya kinetiknya. Mundur. Kalian hanya akan bunuh diri."
Erina, yang tadinya bersiap menembakkan panah angin suci, perlahan menurunkan busurnya. "Ajil benar. Jika sihir dikembalikan, satu-satunya cara mengalahkannya adalah dengan daya hancur fisik murni yang melampaui batas ketahanan pualamnya. Tapi batu pualam itu dilapisi rune pengeras tingkat dewa. Senjata baja biasa akan patah saat menyentuhnya!"
Sang Kolosus Kuno, setelah memantulkan serangan, kini mulai bergerak ofensif. Ia mengangkat pilar kuil di tangan kanannya tinggi-tinggi, lalu menghantamkannya lurus ke arah Ajil dengan kekuatan yang cukup untuk meratakan sebuah kastel.
Bayangan pilar raksasa itu menutupi tubuh Ajil.
Ajil mendongak. Tidak ada keraguan di matanya. Ia merentangkan tangan kanannya ke samping, membuka pusaran dimensi.
VZZZMMMM! Pedang Petir Hijau Abadi muncul di genggamannya. Badai petir hijau dan ungu seketika meledak, menandakan bahwa segel pertama dan kedua pedang itu aktif.
Namun, Ajil melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. Ia menutup matanya sesaat, memutuskan aliran mana elemental dari dalam jiwanya ke pedang tersebut. Petir ungu dan hijau yang meliuk-liuk di bilah pedang zamrud itu perlahan padam. Pendaran cahayanya mati.
Pedang God-Tier itu kini hanya terlihat seperti sebilah pedang besar transparan yang sangat berat, kehilangan seluruh atribut magisnya. Ajil sengaja mematikan sihirnya agar perisai sang Kolosus tidak memiliki energi sihir untuk dipantulkan. Ia akan mengandalkan ketajaman absolut, berat pedang yang tak terhingga, dan kekuatan otot God-Tier-nya secara mentah!
BLAMMMM!!!
Pilar kuil raksasa milik Kolosus menghantam tempat Ajil berdiri. Debu pualam dan pecahan ubin meledak ke udara.
Namun, pilar itu tertahan.
Di bawah ujung pilar raksasa seberat puluhan ton itu, Ajil berdiri tegak. Ia menahan hantaman mematikan itu hanya dengan menyilangkan bilah pedang zamrudnya di atas kepala. Urat-urat di lengan, leher, dan dahi Ajil menonjol mengerikan, namun kakinya yang terbungkus sepatu bot tempur tidak bergeser atau bertekuk satu milimeter pun. Tanah di sekitarnya melesak dalam, tapi pria itu tetap kokoh bagai pilar penopang langit.
Mata biru Kolosus itu berkedip, mesin kunonya seolah bingung mengapa manusia sekecil ini tidak hancur menjadi debu daging.
"Giliran saya," ucap Ajil, suaranya sangat pelan namun berat.
Ajil memutar pergelangannya dengan kekuatan brutal, menangkis pilar itu hingga terlempar ke samping. Ia menghentakkan kakinya. Tanpa sihir kecepatan atau levitasi, Ajil murni menggunakan tenaga otot kakinya untuk melompat setinggi dua puluh meter ke udara, sejajar dengan dada sang Kolosus.
Ajil menarik pedang zamrudnya ke belakang, mengerahkan seluruh kekuatan rotasi pinggul dan bahunya yang dilatih selama bertahun-tahun mengangkat material berat di Bumi. Ini bukan ilmu pedang ksatria; ini adalah ayunan seorang algojo jalanan.
TRAAAANGG!!!
Bilah transparan itu menghantam perisai cermin sang Kolosus. Karena tidak ada energi sihir yang menyertai ayunan Ajil, perisai itu tidak bisa memantulkan apapun selain gaya kinetik mentah. Dan gaya kinetik Ajil melampaui batas toleransi logam sihir mana pun.
Perisai cermin yang diklaim absolut itu retak. Suara kaca pecah yang sangat nyaring memekakkan telinga. Kolosus Kuno setinggi dua puluh meter itu terhuyung mundur dua langkah, menyebabkan gempa lokal.
Namun, rune emas di tubuh Kolosus itu menyala terang. Dalam hitungan detik, pecahan perisainya kembali menyatu, beregenerasi menjadi utuh sempurna. Monster Construct itu memutar tubuhnya, mengayunkan pilar kuilnya secara horizontal untuk memukul telak Ajil yang masih berada di udara.
WUSSSHH!
Ajil menjejakkan kakinya di atas bilah pilar yang sedang melaju kencang ke arahnya, menggunakannya sebagai pijakan pijakan, lalu berlari di sepanjang pilar raksasa itu menuju lengan sang Kolosus. Gerakannya sangat akrobatik, mengandalkan insting bertahan hidup yang sangat tinggi.
Setibanya di sendi siku Kolosus, Ajil menusukkan pedangnya sekuat tenaga.
CRAAAAK!
Bilah zamrud itu menembus pualam tebal, menghancurkan sendi lengan kanan monster itu. Lengan raksasa beserta pilar pemukulnya jatuh berdebum ke tanah, putus sepenuhnya.
"Luar biasa..." bisik Erina takjub dari bawah, matanya tak bisa berkedip melihat tarian brutal tanpa sihir itu. "Dia mematikan sumber sihirnya sendiri agar tidak terbunuh oleh pantulan, dan murni menghancurkan golem Level 130 menggunakan kekuatan otot! Manusia macam apa dia ini?!"
Di atas tubuh sang Kolosus, Ajil berdiri di atas bahu raksasa itu. Kolosus yang kehilangan satu lengannya mencoba memukul Ajil menggunakan sisa perisainya dari arah kiri.
Ajil melompat menghindar ke udara. Ia melihat sebuah kristal biru menyala berdetak di balik celah pualam di bagian dada Kolosus itu. Itu adalah intinya. Namun inti itu dilindungi oleh lempengan batu pualam yang sangat tebal dan dijaga oleh gaya gravitasi absolut yang menolak segala benda asing yang mendekat.
Saat melayang turun ke arah dada sang monster, Ajil menyadari bahwa pukulan fisik biasa tidak akan bisa menembus gaya tolak gravitasi penutup inti tersebut. Ia harus menggunakan skill pasif God-Tier miliknya, tetapi ia harus melakukannya sedemikian rupa sehingga sihirnya tidak terdeteksi oleh cermin pemantul hingga saat terakhir.
Ajil menggenggam pedangnya dengan satu tangan, sementara tangan kanannya yang bebas ditarik lurus ke belakang, mengepal dengan sangat erat.
Sang Kolosus mendongak, matanya menyorotkan cahaya biru, menembakkan laser murni yang tidak bisa dihindari.
Ajil tidak menghindar. Ia membiarkan laser itu menghantam dadanya. Setelan Malam Abadi berdesis keras, menahan daya hancur laser tersebut. Memanfaatkan momentum tolakan dari hantaman laser, Ajil menukik tajam lurus ke arah dada sang Kolosus.
"Perisai terkuat di dunia ini bukanlah yang mampu memantulkan ribuan sihir mematikan," geram Ajil, suaranya menggelegar mengalahkan suara angin yang menderu, memancarkan keputusasaan dan tekad seorang ayah yang tak terkalahkan.
Ajil membidik lempengan pualam pelindung inti itu. Ia tidak memercikkan petir ungu dari awal. Ia murni menggunakan gaya jatuh dan berat tubuhnya.
"Melainkan hati yang tak pernah gentar untuk melangkah maju, meski tubuhnya dihancurkan berkali-kali! Baja fana dari dewa-dewamu ini... tidak akan pernah mampu menahan kerinduanku untuk pulang!"
Tepat di seperseribu milidetik sebelum kepalan tangannya yang kosong menghantam lempengan pualam dada sang Kolosus... Ajil memfokuskan Aura Gravitasi Jiwa-nya bukan keluar, melainkan ke dalam kepalan tangannya sendiri. Ia melipatgandakan massa dan berat kepalan tangannya hingga menyamai berat sebuah gunung, tanpa memancarkan energi magis sedikit pun ke udara. Di saat yang sama, setitik Tinju Petir Ungu dinyalakan tepat saat kulit sarung tangannya bersentuhan dengan batu pualam.
KRAAAAAKK!!! BOOOOOOOMMMMM!!!!!!
Pukulan jarak nol sentimeter. Konsep "One-Inch Punch" yang dipadukan dengan gravitasi ekstrim dan petir ungu God-Tier.
Karena sihirnya menyala saat sudah menempel, sistem refleksi Kolosus tidak memiliki ruang maupun waktu untuk memantulkannya.
Lempengan pualam sekeras berlian itu meledak ke dalam. Kepalan tangan Ajil menembus dada sang Kolosus hingga sebatas siku. Jari-jari Ajil mencengkeram kristal biru raksasa yang menjadi inti kehidupan monster Construct tersebut, lalu meremukkannya menjadi bubuk bersinar di dalam genggamannya.
VZZZT... CLANK...
Cahaya biru di mata sang Kolosus Kuno langsung padam. Seluruh rune emas di tubuhnya kehilangan pendarannya. Tubuh pualam raksasa setinggi dua puluh meter itu mendadak kehilangan gaya penahannya, runtuh berkeping-keping layaknya menara mainan yang disapu tangan anak kecil.
Ajil mendarat dengan mulus di atas ubin pualam, diiringi oleh hujan reruntuhan batu pualam yang jatuh berdebum di sekelilingnya. Debu putih mengepul tebal ke udara, menutupi pelataran menara.
[SISTEM: Berhasil menghancurkan Aegis Penjaga Dimensi (Kolosus Kuno Lv.130).]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 105.]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 108.]
[Menyerap drop material: 1x Inti Golem Kuno (Hancur/Debu), Lempengan Pualam Dewa. Disimpan.]
Ajil berdiri di tengah kepulan debu. Ia mengibaskan tangannya, membuang sisa bubuk kristal inti golem. Pertarungan ini memaksanya untuk memutar otak dan membuktikan bahwa ia bukan sekadar monster yang mengandalkan petir overpower membabi buta.
Rino, Richard, dan Erina berlari menghampirinya. Wajah mereka dipenuhi campuran rasa lega dan pemujaan mutlak. Pria ini menaklukkan penjaga Level 130 tanpa menggunakan pedang sihirnya sama sekali!
"K-Kau berhasil, Ajil..." bisik Erina, menatap wajah pria itu yang dipenuhi debu namun tetap setampan dewa perang. "Pintu menara ilusi sudah terbuka."
Ajil menoleh ke arah cermin raksasa yang menjadi pintu masuk menara. Permukaan cermin itu kini beriak seperti air, menandakan bahwa portal menuju ke dalam telah bisa dilewati.
Namun, sebelum Ajil melangkah maju, sudut mata kelamnya menangkap sesuatu yang ganjil.
Di tengah kepulan debu sisa hancurnya tubuh Kolosus, fluktuasi mana yang sangat samar dan tersembunyi—berbeda dari mana Rino, Richard, maupun Erina—melintasi pelataran. Sesosok siluet transparan berbalut debu cokelat melesat dengan kecepatan tinggi, menyelinap masuk menembus cermin portal menara sebelum kelompok Ajil sempat bereaksi.
Erina membelalakkan matanya. "Ada penyusup! Jubah tembus pandang... itu artefak Jubah Bayangan Pasir!"
Rino menggertakkan giginya dengan murka. "Hanya satu orang pengecut di Valeria yang memiliki artefak itu! Boros! Panglima Crimson Lion! Tikus botak itu pasti membuntuti kita sejak awal, bersembunyi saat kita bertarung melawan Kolosus, dan kini dia menyusup masuk untuk mencuri Prasasti Dimensi!"
Richard mencengkeram tombaknya. "Tuan Ajil! Kita harus mengejarnya! Jika dia sampai ke puncak menara lebih dulu dan mengambil prasasti itu, dia akan memiliki kekuatan yang sangat mengerikan!"
Ajil tidak panik. Ia tidak berteriak, tidak pula berlari tergesa-gesa mengejar penyusup itu. Wajahnya yang dingin dan datar memancarkan sebuah aura dominasi yang mengerikan. Ia menyapukan debu pualam dari bahu Malam Abadi-nya dengan gerakan perlahan.
"Biarkan saja tikus itu berlari lebih dulu," ucap Ajil datar, suaranya sangat tenang, namun sarat akan janji kematian. Mata hitamnya menatap pantulan dirinya di cermin portal tersebut.
"Biarkan dia masuk dan memicu semua jebakan maut yang dipasang penyihir itu di dalam menara. Jika dia mati, kita hemat tenaga. Jika dia berhasil mengambil prasastinya... aku hanya perlu mengoyak dadanya dan mengambil batu itu dari genggamannya."
Sang Algojo Dimensi melangkah pelan menuju cermin raksasa yang beriak. Di belakangnya, Erina, Rino, dan Richard mengikuti dengan dada yang bergemuruh. Intrik pengkhianatan Boros tidak membuat Ajil merasa terancam; hal itu justru menandai bahwa sebentar lagi, sebuah eksekusi brutal akan dilakukan di dalam Menara Kaca Bisu.