NovelToon NovelToon
Misi Terlarang Sang Mayor

Misi Terlarang Sang Mayor

Status: tamat
Genre:Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan di Leviathan

​Gelombang Samudra Pasifik menghantam lambung kapal selam siluman Ghost-Ray yang membawa Unit Phoenix menuju koordinat 'Leviathan'. Di dalam ruang pengarahan yang sempit, cahaya biru dari hologram memantul di wajah Elara dan Zian yang tampak kaku. Di depan mereka, sebuah struktur raksasa sepanjang lima ratus meter melayang di atas peta digital—sebuah kota terapung yang dijaga oleh armada perusak dan sistem pertahanan udara berlapis.

​"Leviathan bukan sekadar kapal induk," suara Kael terdengar melalui speaker. "Dia memiliki sistem radar kuantum. Jika kita mendekat dalam radius lima mil, mereka akan mendeteksi tanda panas kita dan mengirimkan torpedo sebelum kita sempat mengucapkan selamat tinggal."

​Zian menatap peta itu dengan saksama. "Maka kita tidak akan mendekat lewat air. Kita akan menggunakan peluncuran tabung torpedo untuk menembakkan diri kita sendiri ke arah lambung bawah kapal mereka."

​Elara menoleh ke arah Zian. "Kau ingin kita menjadi torpedo manusia?"

​"Ini satu-satunya cara untuk menembus sensor sonar mereka," jawab Zian. "Kita akan menggunakan kapsul infiltrasi tekanan tinggi. Begitu kita menabrak lambung bawah 'Leviathan', kita akan menggunakan pemotong termit untuk masuk ke sistem pembuangan air mereka."

​Elara memeriksa pistol bawah airnya dan memastikan pisau taktisnya terpasang sempurna. "Gila, tapi aku suka idenya. Kael, bagaimana dengan penyebaran antibodinya?"

​"Kalian harus mencapai menara komando di dek paling atas. Di sana ada antena transmisi global yang terhubung dengan satelit aerosol. Begitu disk data dari ibumu dimasukkan ke server utama, satelit akan melepaskan penawar ke atmosfer dalam hitungan menit," jelas Kael. "Tapi ingat, Dr. Vektor sudah memperkuat penjagaan. Seluruh kru kapal itu adalah subjek Chimera V-2 yang sudah sempurna."

​WUUUUUUSSSHHHH!

​Dua kapsul baja melesat dari tabung torpedo Ghost-Ray. Di dalamnya, Elara dan Zian merasakan guncangan hebat saat kapsul itu membelah air dengan kecepatan luar biasa. Kegelapan laut dalam seolah menelan mereka, hingga tiba-tiba sebuah dinding baja raksasa muncul di depan mata.

​BRAAAKKK!

​Magnet kuat di moncong kapsul mengunci mereka pada lambung bawah 'Leviathan'. Elara segera keluar, mengenakan masker selam khusus, dan mulai bekerja dengan pemotong termit. Api biru menyala di bawah air, membelah baja tebal kapal induk tersebut.

​Begitu lubang tercipta, mereka menyelinap masuk ke dalam ruang mesin yang bising. Suhu di sana sangat panas, dipenuhi uap dari reaktor nuklir kapal. Elara segera berganti pakaian ke setelan tempur ringannya—setelan hitam yang menonjolkan siluet tubuhnya namun memberikan perlindungan balistik maksimal.

​"Kita di dalam," bisik Elara.

​Mereka bergerak seperti bayangan melewati pipa-pipa raksasa. Namun, keberadaan mereka tidak tetap rahasia lama. Di ruang kendali mesin, sekelompok prajurit Chimera V-2 sedang berjaga. Berbeda dengan prajurit di Himalaya, mereka ini memiliki mata merah yang bersinar lebih terang dan gerakan yang jauh lebih terkendali—lebih cerdas, lebih mematikan.

​"Zian, jam dua!" teriak Elara.

​Seorang prajurit Chimera menerjang dari atas pipa dengan kecepatan yang mustahil bagi manusia biasa. Elara melakukan salto ke belakang, melepaskan tembakan beruntun ke arah sendi-sendi zirah musuh. Zian menggunakan perisai elektromagnetik kecil untuk menahan hantaman gada listrik lawan.

​"Mereka jauh lebih cepat!" geram Zian sambil menghantamkan sikunya ke leher lawan.

​Pertarungan pecah di ruang mesin. Suara dentingan logam dan tembakan tenggelam oleh raungan mesin reaktor. Elara menggunakan kelincahannya, berlari di dinding dan melakukan tendangan berputar yang menjatuhkan dua musuh sekaligus. Dia kemudian mencabut dua granat EMP dan melemparkannya ke pusat kontrol listrik ruangan.

​BZZZZTTT!

​Lampu padam seketika, memberikan keunggulan bagi Elara dan Zian yang memiliki sensor penglihatan malam pada helm mereka. Dalam kegelapan, mereka menyapu bersih sisa penjaga dan bergegas menuju lift utama yang menuju ke menara komando.

​Saat mereka mencapai dek atas, pemandangan di luar sangat mengerikan. Langit Pasifik yang biasanya biru kini tampak kelabu karena awan buatan yang dilepaskan oleh 'Leviathan'. Di kejauhan, melalui monitor, mereka melihat kerusuhan massal di kota-kota besar di mana warga yang bermutasi mulai menyerang siapa saja yang masih manusia.

​"Waktu kita tinggal dua puluh menit sebelum proses mutasi di daratan menjadi permanen!" teriak Kael melalui komunikator.

​Mereka berlari menembus koridor mewah yang menuju ke ruang pribadi Dr. Vektor. Di sana, mereka dihadang oleh pintu kaca antipeluru yang luas. Di balik kaca itu, Dr. Vektor berdiri membelakangi mereka, menatap layar yang menampilkan grafik keberhasilan virus Chimera.

​"Masuklah, anak-anakku yang tersesat," suara Vektor bergema, tenang dan penuh wibawa.

​Pintu terbuka. Elara dan Zian masuk dengan senjata siaga. Dr. Vektor berbalik. Dia tidak terlihat seperti ilmuwan gila; dia tampak seperti pria atletis di usia empat puluhan dengan aura yang sangat kuat.

​"Zian Arkana, putra dari asisten terbaikku. Dan Elara Vanya, sang Mayor yang menolak untuk menyerah," Vektor tersenyum. "Kalian membawa penawar itu, bukan? Sangat heroik. Tapi tahukah kalian bahwa evolusi tidak bisa dihentikan oleh sekadar disk data?"

​Vektor melepaskan jas labnya, memperlihatkan tubuh yang dipenuhi oleh sirkuit neural yang menyatu dengan kulitnya. "Aku adalah puncak dari Proyek Chimera. Aku adalah tuhan yang diciptakan oleh sains."

​Tanpa peringatan, Vektor bergerak. Dia tidak berlari; dia seolah-olah berteleportasi. Dalam sekejap, dia sudah berada di depan Zian dan menghantamnya hingga terlempar menembus dinding baja.

​"ZIAN!" Elara melepaskan tembakan, namun Vektor menangkap peluru itu dengan gerakan tangan yang terlalu cepat untuk dilihat mata manusia biasa.

​Vektor kemudian mencengkeram leher Elara. "Kau cantik, Mayor. DNA-mu sangat kuat. Sayang sekali jika harus dihancurkan."

​Elara tersenyum di tengah cekikan itu. Dia menarik pelatuk kecil di pergelangan tangannya. Sebuah pisau tersembunyi keluar dan menusuk lengan Vektor. Vektor mengerang, melepaskan cengkeramannya.

​"Zian! Ke konsol server! Aku akan menahannya!" Elara berteriak sambil melakukan kuncian pada lengan Vektor.

​Zian bangkit dengan susah payah, darah mengalir dari pelipisnya. Dia berlari menuju konsol server utama di tengah ruangan. Jari-jarinya yang gemetar mulai memasukkan disk data antibodi.

​"Jangan berani-berani!" Vektor mengibaskan Elara seperti mainan dan menerjang ke arah Zian.

​Namun, Elara tidak membiarkannya. Dia melemparkan dirinya ke punggung Vektor, menghujamkan pisau taktisnya berkali-kali ke sambungan neural di leher pria itu. Vektor berteriak dalam kemarahan, energi biru mulai keluar dari luka-lukanya.

​"PROSES UNGGAH: 70%..." suara komputer bergema.

​"Hentikan ini, Vektor! Ini sudah berakhir!" teriak Zian sambil terus mengetik kode dekripsi.

​Vektor berhasil membanting Elara ke lantai dan menginjak bahunya hingga terdengar suara retakan tulang. Elara menjerit kesakitan, namun dia tetap memegang kaki Vektor, memberikan waktu bagi Zian.

​"PROSES UNGGAH: 95%..."

​Vektor mengangkat tangannya, bersiap untuk menghantamkan pukulan mematikan ke kepala Zian. "TIDAK AKAN!"

​KLIK.

​"PROSES UNGGAH SELESAI. MEMULAI PENYEBARAN GLOBAL."

​Tiba-tiba, antena raksasa di atas 'Leviathan' bergetar. Gelombang energi berwarna putih kebiruan memancar ke langit, menembus awan kelabu dan menyebar ke seluruh cakrawala. Di layar monitor, terlihat orang-orang yang bermutasi di kota-kota besar mulai jatuh pingsan saat kabut antibodi turun ke jalanan. Warna kulit mereka kembali normal, dan mata merah mereka meredup.

​Vektor jatuh berlutut, tubuhnya mulai kejang karena sistem neuralnya terhubung dengan server yang baru saja dibersihkan oleh antibodi tersebut. "Apa... apa yang kau lakukan...?"

​"Aku baru saja mematikan tuhanmu, Vektor," kata Zian dingin. Dia mendekati Elara dan membantunya berdiri. Bahu Elara terkulai, namun matanya tetap tajam menatap musuhnya yang hancur.

​Kapal induk 'Leviathan' mulai bergetar hebat. Kael berteriak di radio, "Zian! Elara! Reaktor kapal ini disetel untuk meledak oleh Vektor sebagai protokol kegagalan! Kalian punya waktu tiga menit untuk mencapai dek penerbangan!"

​Vektor tertawa lemah di lantai. "Kita semua... akan mati bersama di sini..."

​Zian menatap Elara. "Bisa kau lari?"

​Elara mengangguk, menahan rasa sakit di bahunya. "Jika itu berarti menjauh dari pria ini, aku bisa lari marathon."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!