NovelToon NovelToon
Negosiasi Di Ranjang Musuh

Negosiasi Di Ranjang Musuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

​Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
​Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
​Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
​Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
​Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 : Reruntuhan Ibiza

"Kita hampir sampai, Rafael. Tahan sebentar lagi," bisik Alicia, suaranya parau namun penuh tekad.

Langkah kaki Alicia Valero bergema di lorong sunyi kantor Kejaksaan Agung Madrid. Rambutnya berantakan, noda darah kering menghiasi pipinya, dan napasnya masih tersengal akibat pelarian maut yang baru saja mereka lewati. Di sampingnya, Rafael Montenegro berjalan tertatih, tangan kirinya menekan luka di perut yang kembali merembeskan darah segar ke kemeja hitamnya.

"Aku tidak akan mati sebelum melihat ayahku memakai borgol, Alicia," jawab Rafael dengan seringai kesakitan yang dipaksakan.

Di ujung lorong, pintu kayu ek besar terbuka. Jaksa Agung Delgado berdiri di sana, menatap mereka dengan ekspresi yang sulit dibaca. Pria itu adalah kawan lama keluarga Montenegro, namun Rafael telah menjamin bahwa Delgado adalah pria berintegritas yang tidak bisa dibeli.

"Masuklah. Cepat!" perintah Delgado sambil melirik ke arah lorong yang sepi.

Begitu pintu tertutup, Alicia segera meletakkan tas kulit berisi bukti-bukti itu di atas meja besar. "Ini semuanya, Jaksa. Laporan asli kecelakaan lima belas tahun lalu, catatan pembayaran Hector kepada mekanik yang merusak rem mobil ibuku, dan transaksi gelap untuk membungkam saksi kunci. Ini cukup untuk menghukum Hector seumur hidup."

Delgado mengambil dokumen-dokumen itu dengan tangan yang gemetar. Ia membacanya perlahan, sementara Alicia dan Rafael menunggu dengan napas tertahan. Inilah saatnya. Inilah akhir dari pengejaran mereka.

Namun, Delgado tiba-tiba berhenti membaca. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan menyalakan pemantik api di atas mejanya.

"Apa yang kau lakukan?!" teriak Rafael.

Delgado menatap mereka dengan tatapan dingin yang mematikan. "Maafkan aku, Rafael. Ayahmu... dia selalu selangkah lebih maju. Dia tidak hanya memegang rahasia negaramu, dia memegang nyawa keluargaku. Bukti-bukti ini? Ini hanyalah kertas sampah yang akan terbakar."

Satu lembar dokumen penting mulai dijilat api.

"TIDAK!" Alicia menerjang maju, mencoba menyelamatkan dokumen itu, namun dua orang penjaga bersenjata tiba-tiba muncul dari balik tirai dan menodongkan laras senapan ke arah mereka.

"Duduklah, Nyonya Valero," ujar Delgado pelan. "Keadilan di kota ini punya harga, dan keluarga Montenegro sudah membayarnya lunas sepuluh tahun yang lalu."

Dunia Alicia seolah runtuh. Harapannya, dendamnya, dan semua darah yang tertumpah di jalanan Madrid tadi pagi terasa sia-sia. Ia menatap Rafael, mengharapkan keajaiban, namun Rafael hanya bisa menatap Delgado dengan kemarahan yang membakar.

"Kau pikir kau bisa menghapus kebenaran hanya dengan membakar kertas?" desis Rafael.

"Kertas adalah satu-satunya bukti hukum yang kalian punya, Rafael. Tanpa ini, kalian hanyalah dua orang yang sedang berdelusi," balas Delgado sinis.

Alicia merasakan ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah ide gila muncul di benaknya. Ia melirik Rafael, memberikan isyarat mata yang hanya dipahami oleh mereka berdua setelah berbulan-bulan bekerja sama dalam ketegangan.

"Kau benar, Delgado," suara Alicia tiba-tiba melunak, ia mulai terisak dengan sangat emosional. "Keadilan memang bisa dibeli. Ibuku mati sia-sia, dan kami hampir mati tadi pagi hanya untuk menemukan bahwa pelindung hukum adalah kaki tangan pembunuh."

Alicia perlahan mengeluarkan ponselnya, seolah-olah ingin menghubungi pengacaranya. "Boleh aku menelepon ayahku untuk terakhir kalinya? Aku ingin dia tahu bahwa aku gagal."

Delgado mengangguk sombong. "Silakan. Katakan pada ayah tercintamu bahwa putri satu-satunya telah menjalani hidup yang gagal."

Namun, Alicia tidak menelepon ayahnya. Dengan jemari yang bergerak secepat kilat, ia mengaktifkan fitur Live Streaming di akun media sosialnya yang memiliki jutaan pengikut—hasil dari kampanye besar Solera dan drama donasi sebelumnya.

"Dunia... lihatlah pria ini," suara Alicia tiba-tiba berubah menjadi keras dan jernih. Ia mengarahkan kamera ponselnya tepat ke wajah Delgado yang sedang memegang dokumen terbakar dan para penjaga bersenjata.

"Apa yang kau lakukan?!" teriak Delgado, panik.

"Lihatlah Jaksa Agung kalian sedang membakar bukti pembunuhan ibuku!" teriak Alicia ke arah kamera. "Rafael Montenegro sedang terluka parah di sampingku, dan pria ini bekerja untuk Hector Montenegro! Jika aku mati malam ini, biarkan video ini menjadi saksi atas busuknya sistem hukum negara ini!"

Jumlah penonton melonjak drastis. Ribuan menjadi puluhan ribu, lalu ratusan ribu. Komentar-komentar penuh kemarahan membanjiri layar.

"Matikan ponsel itu! Ambil dari tangannya!" raung Delgado kepada penjaga.

Rafael, meskipun terluka, menerjang penjaga terdekat, memberikan waktu bagi Alicia untuk terus bicara. "Hector Montenegro merusak rem mobil ibuku! Dia membunuh Maria Valero! Dan sekarang dia mengirim anak buahnya untuk membungkam kami! Bagikan video ini! Jangan biarkan mereka menang!"

Penjaga kedua memukul kepala Rafael dengan gagang senjata, membuatnya tersungkur. Namun Alicia tetap berdiri tegak, air mata mengalir di pipinya, memberikan pidato paling emosional yang pernah didengar publik Spanyol.

"Kalian bisa membakar kertasnya, tapi kalian tidak bisa membakar mata jutaan orang yang menonton ini sekarang!" jerit Alicia saat ponselnya akhirnya dirampas secara paksa oleh Delgado.

Namun, sudah terlambat. Video itu sudah tersebar secara global. Tagar #JusticeForAlicia dan #ArrestHectorMontenegro mulai menjadi tren nomor satu di dunia.

Namun, di tengah kekacauan di kantor jaksa, tiba-tiba suara notifikasi ponsel terdengar serentak dari saku Delgado, para penjaga, dan bahkan ponsel Rafael yang tergeletak di lantai.

Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Delgado melihat layar ponselnya dan wajahnya memucat, jauh lebih pucat daripada saat video Alicia viral tadi.

"Ini... tidak mungkin," gumam Delgado.

Rafael meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Ia melihat sebuah pesan berantai yang menyebar ke seluruh media massa internasional.

Santiago Valero, dari bangsal rumah sakit penjara, telah mengirimkan "hadiah" terakhirnya. Ia telah meretas peladen rahasia proyek pribadi Rafael dan Alicia—Proyek Ibiza.

"Project Ibiza bocor..." bisik Rafael, matanya membelalak tak percaya.

Proyek Ibiza bukan hanya tentang hotel mewah. Itu adalah proyek rahasia yang melibatkan pemindahan paksa ratusan keluarga nelayan lokal dengan cara-cara yang manipulatif di bawah meja, sebuah strategi kotor yang sebenarnya dirancang oleh Santiago saat ia masih menjadi CEO, namun kini dokumennya tertulis atas nama Alicia dan Rafael.

"Lihat ini, Alicia," Rafael menyerahkan ponselnya.

Dokumen-dokumen yang bocor itu menunjukkan bahwa Solera dan Montenegro Group telah menyuap pejabat lingkungan untuk menutupi kerusakan ekosistem laut yang fatal demi membangun resor mereka. Bahkan, ada rekaman suara Santiago (yang telah diedit sedemikian rupa agar terdengar seperti suara Rafael) yang sedang memerintahkan pengusiran paksa penduduk dengan kekerasan.

"Santiago menjebak kita," Alicia menutup mulutnya dengan tangan. "Dia menyimpan dokumen kotor ini untuk menghancurkan kita jika dia jatuh."

Opini publik yang tadinya memihak Alicia sebagai korban, tiba-tiba berputar seratus delapan puluh derajat.

"Mereka mengeluh soal pembunuhan ibu mereka, padahal mereka sendiri sedang menghancurkan ratusan keluarga di Ibiza!"

"Alicia dan Rafael tidak lebih baik dari Hector! Mereka semua monster korporat!"

"Strategi Santiago sangat cerdik," Delgado tertawa, kali ini tawa yang penuh kemenangan jahat. "Video viralmu tadi akan segera tenggelam oleh skandal Ibiza ini, Alicia. Publik lebih peduli pada nasib nelayan miskin yang tertindas daripada sejarah kematian ibumu."

Runtuhnya Kepercayaan di Tengah Badai

"Rafael... katakan padaku itu tidak benar," Alicia menatap Rafael dengan tatapan hancur. "Kau bilang Proyek Ibiza bersih. Kau bilang kita melakukan semuanya sesuai prosedur!"

Rafael menunduk, tidak berani menatap mata Alicia. "Santiago yang menangani bagian lapangan saat itu, Alicia. Aku tahu ada beberapa kompromi yang dilakukan, tapi aku tidak menyangka dia mendokumentasikannya sebagai perintah dariku. Aku... aku mencoba memperbaikinya secara diam-diam."

"Kau membohongiku lagi?" suara Alicia pecah, kali ini lebih menyakitkan daripada pengkhianatan Delgado. "Di saat aku mempertaruhkan nyawaku untuk berdiri di sampingmu melawan ayahmu, kau ternyata menyembunyikan bangkai di dalam rumah kita sendiri?"

"Alicia, dengarkan aku—"

"Jangan sentuh aku!" Alicia mundur, air mata kekecewaan yang murni mengalir deras. "Kalian semua sama saja. Hector, Santiago, dan kau, Rafael. Kalian hanya melihat manusia sebagai angka di laporan keuangan. Aku pikir kau berbeda... aku pikir kau benar-benar mencintaiku."

"Aku mencintaimu, Alicia! Itulah sebabnya aku mencoba menutupi skandal Ibiza agar kau tidak perlu menanggung dosanya!" Rafael berteriak, air mata mulai mengalir dari matanya yang biasanya keras. "Aku ingin memberikanmu dunia yang bersih, meskipun tanganku sendiri harus kotor!"

"Dunia yang dibangun di atas kebohongan bukan dunia yang aku inginkan!" Alicia merampas tasnya, mengabaikan para penjaga yang kini tampak bingung karena situasi yang berubah cepat.

Delgado hanya menonton drama itu dengan senyum puas. "Silakan pergi, Nyonya Valero. Tapi ingat, di luar sana bukan lagi pahlawan yang menunggu Anda. Melainkan massa yang marah yang siap menggantung Anda atas apa yang terjadi di Ibiza."

...****************...

Alicia dan Rafael keluar dari gedung kejaksaan, namun kali ini tidak ada mobil lapis baja yang menunggu dengan aman. Mereka disambut oleh kerumunan wartawan dan massa yang sudah berkumpul karena skandal Ibiza yang baru saja meledak di internet.

"ALICIA! APA BENAR KAU MENYUAP PEJABAT IBIZA?!"

"RAFAEL! BERAPA BANYAK KELUARGA YANG KAU USIR?!"

Kilatan kamera terasa seperti tembakan senjata bagi Alicia. Ia merasa telanjang di depan dunia. Rafael mencoba melindunginya dengan tubuhnya yang masih terluka, namun Alicia menepis tangannya berkali-kali.

"Jangan lindungi aku," bisik Alicia dengan nada dingin yang mematikan. "Lindungi dirimu sendiri, Rafael. Karena mulai hari ini, tidak ada lagi Alicia Valero di sisimu."

Mereka terpaksa berlari menembus hujan deras menuju taksi yang lewat secara kebetulan. Di dalam mobil yang sempit, suasana terasa lebih menyesakkan daripada di dalam terowongan maut tadi pagi.

Alicia menatap ke luar jendela, melihat poster-poster Solera yang mulai dicoret-coret oleh orang-orang di jalanan. Kesuksesan yang ia bangun, mimpi Cielo Alto, semuanya terasa seperti abu yang tertiup angin.

"Kita bisa memperbaikinya, Alicia," Rafael mencoba meraih tangannya lagi. "Kita akan akui kesalahan di Ibiza, kita akan ganti rugi, kita bisa—"

"Tidak ada kata 'kita' lagi, Rafael," Alicia menoleh, menatap Rafael dengan mata yang sudah mati. "Kau telah menghancurkan satu-satunya hal yang membuatku bertahan hidup—kepercayaanku padamu. Pergi ke rumah sakit, obati lukamu. Dan jangan pernah temui aku lagi kecuali di ruang pengadilan."

Rafael terdiam, hatinya terasa lebih hancur daripada perutnya yang tertembak. Ia melihat Alicia, ratu yang ia ciptakan, kini telah menjadi wanita yang paling ia takuti—wanita yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dicintai, sehingga tidak memiliki apa pun untuk dirugikan.

Di kejauhan, sirine polisi mendekat. Kali ini, bukan untuk menangkap Hector, melainkan membawa surat perintah pemeriksaan untuk Rafael dan Alicia terkait skandal Ibiza.

Santiago, dari ranjang rumah sakitnya, tertawa hingga sesak napas saat melihat berita itu di televisi kecil. "Jika aku harus terbakar, aku akan memastikan seluruh Madrid ikut terbakar bersamaku. Selamat menikmati nerakamu, Alicia."

1
YukiLuffy
💪
🦊 Ara Aurora 🦊
Kk mampir yuk 😁
🦊 Ara Aurora 🦊
Alicia kasihnya 😢😢
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus ya thor💪
Nadinta
oh my god, Alicia. Perempuan mahallll
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
cerita bagus gini yg nge like kok cm sdkt ya. minim typo, aq suka. semangat thor 💪💪💪
chrisytells: Makasih, kakak🙏
Harapan aku, makin banyak lagi yg baca karya aku🤗
Kalau boleh aku minta bantu promosi juga, wkwk 🤭😄
Rajin² tinggalkan komentar ya, kak😍
total 1 replies
BiruLotus
lanjut thor
d_midah
Rafael, pilis jangan jadi pria jahat😭
d_midah
jangan gitu dong Rel🥲
Tulisan_nic
Pembalasan yang elegan sekali Alicia,aku suka tipe wanita sepertimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!