NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Akademi Sihir / Dunia Masa Depan / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Watashi Monarch

Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing

Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.

Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.

Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.

Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.

Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Kunjungan Instruktur

Alexia sebenarnya tidak ingin memaksa jika Aurora tidak ingin menunjukkannya, tapi ekspresi sedih di wajahnya membuat Alexia menahan pintu kamarnya dengan kaki.

"Tunggu sebentar, kakak. Jangan ditutup dulu!"

Aurora sontak berhenti dan memandangnya.

"Bisakah kakak menunjukkannya padaku sekali saja?"

"Aku tidak bisa, Alexia." Aurora menunduk dan berusaha menutup pintunya. "Kumohon, jangan memaksaku lagi."

Alexia langsung meraih tangannya dan berkata,

"Hanya kali ini saja, biarkan aku melihat Aura-mu, kakak."

Melihatnya memohon seperti itu membuat Aurora tidak tega. Apalagi, ini pertama kalinya ia melihat Alexia yang biasanya pendiam dan penurut sekarang memaksanya.

'Kenapa dia tidak mau mengerti keadaanku ...?!' pikirnya.

Aurora ingin menolak, tapi ia tidak bisa mengatakan tidak pada Alexia. Itu sudah menjadi kepribadiannya dari dulu.

Dengan kata lain, Alexia adalah kelemahannya.

Dan dengan berat hati, Aurora pun menyetujuinya.

"Baiklah," katanya sambil membuka pintu dan menghela nafas panjang. "Aku akan menunjukkannya padamu, tapi jangan kecewa jika nanti ini tidak sesuai ekspektasimu."

Alexia tersenyum tipis dan mengangguk ringan.

"Ya, aku tidak akan kecewa. Terima kasih, kakak."

Setelah menyetujui permintaannya, Aurora berbalik dan masuk ke dalam kamar. Alexia mengikuti dari belakang setelah menutup pintu untuk mencegah orang lain tahu.

Aurora berjalan menuju lemari dan mengambil pedang yang ia sembunyikan di sana. Setelah itu dia berdiri di tengah ruangan, sedangkan Alexia duduk di tepi kasur sambil memperhatikannya dengan tatapan yang tajam.

"K-kalau begitu, aku akan mulai." ucapnya dengan gugup.

Setelah mengatakan itu, Aurora menghunuskan pedang dan berkonsentrasi. Dia baru saja membangkitkan Aura, jadi pengendaliannya masih sangat buruk dan tak stabil.

Namun tidak butuh waktu lama, Aura keemasan muncul di sekitar tubuhnya. Alexia tampak tidak terkejut, karena dia sudah pernah melihat warna seperti itu sebelumnya.

'Warnanya sama seperti yang dikatakan Siria.' pikir Alexia dan mengalihkan pandangannya pada punggung tangan Aurora. 'Tapi apakah lambang itu benar-benar muncul ...!'

Di punggung tangannya, lambang sepasang sayap putih benar-benar muncul seperti yang sudah dikatakan Siria.

Alexia pun mengerutkan alisnya dan berpikir,

'Jadi dia benar-benar pewaris Sky Sword selanjutnya ...'

Mita mengatakan bahwa organisasi yang ia ikuti sedang mencari pewaris Sky Sword. Mereka ingin menculik dan menggunakan kekuatannya demi kepentingan kelompok.

Alexia tidak mungkin tinggal diam setelah tahu hal itu.

"J-jadi, bagaimana? Apa kamu kecewa?" tanya Aurora.

Alexia menggelengkan kepalanya dan berkata,

"Tentu saja tidak. Meskipun warnanya sedikit samar, tapi itu adalah warna emas yang sangat indah. Kenapa kakak berusaha menyembunyikannya dariku? Apa kakak malu?"

"A-aku... aku hanya ..."

Aurora bingung harus memberikan jawaban seperti apa.

Lambang sepasang sayap perlahan menghilang saat dia tidak menggunakan Aura. Dan jika melihat dari sikapnya, sepertinya Aurora masih tidak tahu tentang hal tersebut.

"Jika kakak rajin berlatih menggunakan Aura, warnanya mungkin akan menjadi semakin cerah lagi." kata Alexia.

"Benarkah?"

Aurora yang murung pun kembali ceria.

"Kamu tahu darimana?" tanyanya, penasaran.

Alexia tersenyum dan menjawab, "Hanya firasat saja."

Setelah mendengar jawabannya, Aurora merengut kesal dan memukul Alexia sedikit keras sambil berkata, "Kamu menipuku! Aku pikir kamu tahu sesuatu tentang Auraku!"

"K-kakak, hentikan."

Aurora mendorongnya hingga Alexia berbaring di kasur, dan kali ini dia tidak memukulnya tetapi menggelitiknya.

"Aku tidak akan berhenti sebelum kamu meminta maaf!"

Canda dan tawa memenuhi ruangan.

Mereka bersenda gurau seperti kakak dan adik kandung yang sebenarnya. Alexia sendiri bahkan tidak menyadari, bahwa dia sekarang tersenyum sangat bahagia. Emosi yang telah lama hilang dari dirinya kini perlahan kembali.

Itulah saat di mana Alexia merasakan kehangatan yang sesungguhnya, yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

"K-kakak, b-berhenti. A-aku... aku tidak kuat lagi."

Wajahnya yang merah dan sangat menggoda membuat Aurora terpesona. Bajunya compang-camping dan nafas yang sedikit terengah-engah membuat Aurora jatuh hati.

'Mana mungkin ada orang yang bisa tahan dan berhenti jika mereka melihat ekspresimu ini, Alexia.' batin Aurora.

Saat mereka sedang bercanda, pintu tiba-tiba diketuk.

Tok tok tok

Aurora sontak berhenti dan mengalihkan pandangannya ke pintu. Mereka saling bertukar tatapan mata sebelum Aurora bangun dan merapikan bajunya yang berantakan.

"Apa dia pelayanmu yang pendiam itu?" tanya Aurora.

"Siapa? Apa maksud kakak itu Siria?"

Alexia menoleh ke pintu dengan alis yang berkerut dan melanjutkan, "Aku tidak tahu siapa, tapi itu bukan Siria."

"Kalau bukan dia, lalu siapa?" tanya Aurora, penasaran.

Orang yang mengetuk tidak menyebutkan namanya, jadi bisa dipastikan kalau dia bukan pelayan. Aurora awalnya pikir itu adalah Siria, tapi ternyata Alexia membantahnya.

Tak lama, pintu kamarnya diketuk untuk kedua kalinya.

Tok tok tok

Tapi kali ini, orang yang mengetuk pintu berbicara.

"Ini saya, nona Aurora." sahut orang yang berada di luar.

"Suara ini ...! Instruktur Dio?"

Setelah mendengar hal itu, Alexia mengerutkan alisnya.

"Kenapa dia datang ke sini?" gumamnya, merasa curiga.

Alexia melihat kalau Aurora tampak terkejut dan bingung, itu artinya instruktur Dio datang dengan sendirinya. Tak hanya itu, tapi Alexia dapat merasakan hal buruk darinya.

Seakan-akan dia sedang merencanakan sesuatu.

Saat sedang melamun, Alexia tiba-tiba mendengar suara langkah kaki Aurora yang berjalan ke arah pintu kamar.

Alexia pun beranjak bangun dan melihat sekelilingnya.

'Dia masih belum boleh tahu kalau aku sudah pulih dari racun itu. Rencana yang aku buat bisa berantakan kalau dia melihatku.' batin Alexia dan menoleh ke arah lemari pakaian yang terbuka. 'Lemari itu sepertinya tidak buruk.'

Tanpa basa-basi, Alexia pun masuk ke dalam lemari dan bersembunyi. Untungnya masih ada sedikit ruang, jadi ia tidak perlu berdesakan dengan baju dan barang lainnya.

Aurora membuka pintu kamar dan melihat instruktur Dio.

"Selamat siang, nona Aurora." sapanya dengan sopan.

"Ya, selamat siang juga, instruktur Dio." balas Aurora.

"Ada perlu apa anda datang ke sini?" lanjutnya, bertanya.

Instruktur Dio tidak segera memberikan sebuah jawaban, tapi sebuah pertanyaan yang membuat Aurora bingung.

"Apa anda sekarang sedang sibuk?" tanya instruktur Dio.

Aurora terdiam sesaat dan menggelengkan kepalanya.

"Tidak terlalu. Aku hanya sedang berbicara dengan ...!?"

Saat dia menoleh ke belakang, Alexia sudah tidak ada di kamarnya. Aurora pun mengerutkan keningnya, bingung.

'Alexia pergi ke mana? Padahal tadi dia ada di sana ...?'

"Anda berbicara dengan siapa?"

Instruktur Dio juga bisa melihat jika tidak ada siapapun di dalam kamar. Hanya ada Aurora dan boneka-boneka lucu yang selama ini selalu menemaninya dalam kesendirian.

'Apa tadi ada orang di kamarnya?' pikir Instruktur Dio.

Aurora berbalik dan menggelengkan kepalanya lagi.

"Tidak, tidak ada. Jadi, anda ada perlu apa dengan saya?"

Instruktur Dio berdeham dan berkata,

"Sebelum itu, saya ingin mengucapkan selamat kepada anda karena berhasil membangkitkan Aura. Dengan ini, anda resmi menjadi pengguna Aura tingkat 4." instruktur Dio memberikan selamat dengan sanjungan dan pujian.

"Dan anda adalah pengguna Aura termuda." lanjutnya.

Ucapannya tidak salah, karena rata-rata orang yang telah membangkitkan Aura di umur 20 tahun. Apalagi, mereka masih harus mengikuti upacara kedewasaan setelahnya.

Tentu saja itu sebuah prestasi yang sangat luar biasa.

Aurora yang malu pun membalas, "Y-ya, terima kasih."

Melihatnya luluh pada pujian, instruktur Dio menyeringai.

"Dan tujuan saya datang ke sini adalah untuk mengajari anda mengenai cara mengendalikan Aura. Apakah anda berkenan untuk berlatih dengan saya?" tanya instruktur.

Jawaban seperti apa yang akan diberikan oleh Aurora?

1
PORREN46R
spirit seperti roh gitu kan kak?
Cheonma: Sebenarnya sama aja sih,
total 1 replies
anggita
ikut ng👍like, iklan saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!