NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#25

...Tiga puluh hari. ...

...Tujuh ratus dua puluh jam. ...

...Empat puluh tiga ribu dua ratus menit....

Bagi Navarro Von-riccardo, angka-angka itu bukan sekadar perhitungan waktu matematis.

Angka-angka itu adalah rentetan siksaan lambat yang menggerogoti kewarasannya detik demi detik.

Sejak helikopter hitam berlambang hantu itu menelan tubuh Issabelle dan menghilang di balik awan pagi buta Chicago sebulan yang lalu, dunia Navarro seakan kehilangan poros gravitasinya.

Tidak ada pesan teks.

Tidak ada panggilan telepon ke nomor satelit terenkripsi yang sudah ia persiapkan siang dan malam.

Tidak ada sinyal intelijen, apalagi sekadar jejak digital dari benua Eropa.

Issabelle von Reichenbach, sang mawar es dari klan Dark Dubois, benar-benar menguap dari muka bumi seolah-olah ia tidak pernah menjejakkan kakinya di Chicago.

Navarro duduk bersandar pada dinding beton kasar di area rooftop Oakridge High School yang disinari terik matahari siang musim semi.

Angin bertiup cukup kencang, mengacak-acak rambut hitamnya yang mulai memanjang tak terurus.

Sepasang mata gelapnya yang biasanya memancarkan kilatan arogansi dan dominasi, kini tampak meredup, dilapisi oleh kabut kekecewaan yang teramat pekat.

Apa percintaan malam itu benar-benar tidak ada artinya lagi untuknya?

Pertanyaan beracun itu terus berputar-putar di dalam kepala Navarro layaknya kaset rusak, menyiksa harga diri dan insting kepemilikannya.

Ia teringat akan panasnya penyatuan mereka di atas ranjang penthouse-nya.

Ia teringat bagaimana suara lenguhan Issabelle memanggil namanya, bagaimana gadis itu mencengkeram bahunya dengan kuku-kukunya, dan bagaimana air mata murni itu menetes saat ia merebut keperawanan sang pewaris Dubois.

Bagi Navarro, malam itu adalah sebuah sumpah darah.

Sebuah ikatan fisik yang mengukuhkan bahwa gadis itu adalah miliknya mutlak.

Namun, realitas kebisuan selama sebulan ini seakan menampar keras wajahnya.

Aku akan melupakanmu setelah aku naik ke helikopter ini, Brengsek!

Gema teriakan terakhir Issabelle di atas helipad saat angin subuh menerjang mereka berdua kembali terngiang di telinga Navarro.

Saat itu, Navarro mengira itu hanyalah benteng pertahanan terakhir dari ego seorang gadis yang gengsi untuk mengakui perasaannya.

Ia membalas teriakan itu dengan keyakinan penuh bahwa Issabelle tidak akan pernah bisa melupakannya.

Namun sekarang... dengan keheningan yang mencekik ini, Navarro mulai meragukan segalanya.

Bagaimana jika gadis itu benar-benar menganggap malam penyatuan mereka hanya sebagai sebuah kesalahan?

Sebuah transaksi murahan untuk mengakhiri kontrak perlindungan?

Rasa sakit dari pemikiran itu membuat rahang Navarro mengeras hingga bergemertak.

Jantungnya berdenyut nyeri.

Ia merasa seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang meremas organ vitalnya setiap kali ia mengingat wangi mawar es yang kini hanya tersisa di benaknya.

"Ayolah, Sayang... beri aku sedikit saja, ya? Kita sudah tidak backstreet lagi, untuk apa kau terus menutupi wajahmu seperti itu?"

Suara rengekan maskulin yang menyebalkan dari arah kiri memecah lamunan suram Navarro.

Di sudut lain rooftop yang teduh di bawah bayangan tangki air, Skylar sedang bertingkah sangat konyol.

Pria itu kini sedang memeluk posesif pinggang seorang gadis berambut cokelat—Claire Wadde’.

Ya, Claire. kakak tiri Issabelle.

Sebulan terakhir ini telah membawa perubahan radikal dalam dinamika kelompok mereka.

Skylar, yang sudah muak menjalani hubungan sembunyi-sembunyi alias backstreet dengan Claire, dan terpaksa Jujur Pada public tepat setelah Adegan di parkiran sebulan lalu.

Dan siang ini, Skylar bertingkah layaknya remaja kelebihan hormon.

Ia terus mendesak dan merengek meminta Make-out Fest—ciuman intim dari Claire di tempat terbuka.

Skylar sengaja menempelkan wajahnya ke ceruk leher Claire, mencari perhatian penuh dari kekasihnya yang sedari tadi mencoba mendorong wajah pria itu dengan buku catatannya karena merasa sangat malu.

"Skylar, hentikan! Ini masih di lingkungan sekolah, bodoh!" desis Claire dengan wajah memerah padam, berusaha melepaskan pelukan Skylar meski ujung bibirnya sedikit menahan senyum.

"Peduli setan dengan sekolah. Aku bosan menyelinap ke jendela kamarmu setiap malam. Sekarang aku ingin memamerkan pada dunia bahwa kau milikku," balas Skylar tanpa rasa bersalah, kembali mencoba mencuri ciuman dari bibir Claire.

Namun, fokus Navarro sama sekali tidak berada pada drama percintaan sahabatnya itu.

Matanya memang menatap ke arah Skylar dan Claire, namun pandangannya tembus melewati mereka.

Otaknya hanya bisa memproses satu nama.

Issa... Issa... Mine.

Keberadaan Claire di sana justru semakin memperparah lukanya.

Melihat wajah Claire selalu memicu rentetan memori tentang Issabelle.

Gadis Jerman itu pernah tinggal serumah dengan Claire, berbagi udara yang sama, berjalan di koridor yang sama.

Namun kini, Claire bisa tertawa di pelukan Skylar, sementara mawar esnya menghilang di balik dinding tebal benua Eropa.

Navarro mengalihkan pandangannya, mencoba mencari Pandangan lain.

Matanya jatuh pada George yang duduk bersila di atas meja beton tak jauh darinya.

George sedang menunduk, sibuk mengetik sesuatu di layar ponselnya.

Namun yang membuat darah Navarro mendidih adalah ekspresi di wajah George.

Pria itu tersenyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya, memperlihatkan deretan giginya dengan tatapan sayu yang terlihat seperti orang gila yang sedang dimabuk asmara.

Sialan, maki Navarro dalam hati.

Pemandangan itu bagaikan cermin ironi yang mengejeknya. Ia teringat ucapan Skylar sebulan yang lalu di penthouse, tepat ia mencicipi bibir Issabelle untuk pertama kalinya.

Saat itu, Skylar menegurnya karena ia tersenyum seperti orang gila ke arah langit-langit.

Navarro mengingat dengan jelas bagaimana rasanya dadanya membuncah oleh kebahagiaan dan antisipasi saat merindukan kenangan malam itu.

Namun sekarang? Posisi itu telah berbalik.

George yang kini tersenyum bahagia karena wanita, sementara Navarro terperosok ke dalam lubang hitam keputusasaan yang tidak berujung.

Tidak tahan dengan rasa frustrasinya, Navarro menoleh ke sisi kanannya, di mana Grey duduk bersandar dengan laptopnya yang bertengger di atas pangkuan.

Jari-jari Grey menari cepat di atas keyboard, baris-baris kode hacking berwarna hijau terpantul pada lensa kacamatanya.

"Grey," panggil Navarro, suaranya terdengar sangat rendah, serak, dan berbahaya. "Apa kau menemukan sesuatu? Sekecil apa pun itu?"

Grey menghentikan ketikannya sejenak, mengembuskan napas panjang sebelum menoleh menatap Temannya.

Ada rasa kasihan yang berusaha ia sembunyikan dari sorot matanya.

"Nihil, Nav. Aku sudah meretas sistem imigrasi Bandara Frankfurt, memindai basis data kamera pengawas di seluruh penjuru kota, bahkan mencoba menyusup ke jalur komunikasi intelijen Interpol di Eropa.

Semuanya bersih.

Tidak ada pergerakan atas nama Issabelle von Reichenbach maupun klan Dark Dubois.

Seolah-olah mereka memutus seluruh jaringan eksternal mereka dan masuk ke dalam bunker bawah tanah."

Jawaban Grey adalah pukulan telak yang kesekian ratus kalinya bagi Navarro. Ia menyandarkan kepalanya kembali ke dinding beton, memejamkan mata rapat-rapat saat rasa putus asa mulai menggerogoti sisa kesabarannya.

Melihat aura gelap dan mencekam yang menguar dari tubuh Navarro, pergulatan kecil antara Skylar dan Claire di sudut rooftop akhirnya berhenti.

Claire menepuk dada Skylar pelan, memberi isyarat pada kekasihnya itu untuk memberinya ruang.

Dengan langkah pelan dan sedikit ragu, Claire berjalan mendekati posisi Navarro.

Bagi Claire, Navarro Von-riccardo dulunya adalah sosok dingin sekolah yang harus dihindari dengan segala cara.

Namun, sejak Issabelle menghilang dan Skylar masuk ke dalam kehidupannya secara resmi, Claire mulai melihat sisi lain dari pria mengerikan ini.

Ia melihat seorang pria yang benar-benar hancur karena cinta.

Claire berdiri tidak jauh dari kaki Navarro, menatap wajah tampan yang kini terlihat begitu lelah dan frustrasi itu.

"Navarro..." panggil Claire lembut, mencoba memberikan suara rasional di tengah badai emosi sang Tuan Muda.

Navarro perlahan membuka sebelah matanya, menatap adik tiri dari wanita yang telah mencuri kewarasannya itu dengan pandangan kosong.

"Berhentilah menyiksa dirimu sendiri dengan pikiran-pikiran buruk," ucap Claire, suaranya mengandung nada keibuan yang sangat mirip dengan Sloane saat sedang menasihati, namun jauh lebih tulus.

"Dia tidak akan melupakan kita. Terutama kau."

Navarro mendengus sinis, sebuah tawa hambar keluar dari kerongkongannya.

"Kau tidak mendengarnya, Claire. Kau tidak ada di sana saat dia berteriak di depan wajahku bahwa dia akan membuangku dari ingatannya tepat saat helikopter itu lepas landas."

"Itu hanya pertahanan dirinya, Navarro. Aku mengenalnya meski hanya sebentar," bantah Claire dengan sabar.

Ia ikut mendudukkan dirinya di atas peti kayu yang sudah usang di dekat Navarro.

"Issabelle adalah seseorang yang membangun dinding tebal di sekeliling hatinya. Tapi jika kau berhasil masuk ke dalamnya, dia bukan tipe orang yang mudah membuang sesuatu."

Claire menjeda kalimatnya, menatap lurus ke arah langit biru Chicago. "Lagipula, pikirkan logikanya. Mungkin situasi di sana selama sebulan ini belum sepenuhnya pulih. Klan mereka baru saja diserang secara brutal, bukan? Membersihkan sisa-sisa pengkhianat dan menstabilkan sebuah kekuasaan di bawah tanah bukanlah hal yang bisa diselesaikan dalam semalam.

Dia mungkin saja sedang dikelilingi oleh musuh, atau komunikasi di sana sedang diawasi ketat sehingga dia tidak bisa menggunakan sembarang sinyal untuk menghubungimu."

Claire menoleh kembali pada Navarro, menatap mata pria itu dengan penuh keyakinan. "Dia mungkin saja sedang mencari waktu yang tepat. Tunggu saja teleponnya, Navarro. Sabarlah sedikit lagi."

Mendengar penjelasan Claire, Skylar dan George yang tadinya sibuk sendiri kini ikut mengangguk setuju.

Mereka merasa argumen Claire sangat masuk akal bagi dunia yang mereka jalani.

Namun, alih-alih merasa tenang, kata-kata penenang dari Claire justru memicu sebuah percikan aneh di dalam kepala Navarro.

Sesuatu yang terasa sangat mengganjal, yang tertimbun oleh kabut gairah dan emosi perpisahan mereka sebulan lalu, kini mendadak muncul ke permukaan.

Tunggu...

Navarro menegakkan posisi duduknya.

Mata gelapnya seketika menajam, memancarkan kilatan predator yang sudah sebulan ini tertidur.

Otaknya yang jenius dan terlatih dalam strategi taktis mulai merangkai ulang dialog terakhirnya dengan Issabelle di ambang pintu penthouse malam itu.

"...situasi di sana selama sebulan ini belum sepenuhnya pulih," ulang Navarro dalam hati atas ucapan Claire tadi.

Kemudian, suara datar dan dingin Issabelle di malam perpisahan itu kembali terngiang dengan kejernihan di telinganya.

"Itu adalah kode, Bajingan... Kepercayaan ayahku baru saja menghubungiku kembali dan menyuruhku untuk pulang. Situasi di Frankfurt sudah sepenuhnya aman dalam kendali klan Dark Dubois. Dan Daddy-ku sendiri yang memintaku untuk kembali malam ini."

DEG.

Jantung Navarro berdetak satu kali dengan sangat keras, seolah menghantam tulang rusuknya.

Firasat buruk yang dulu sempat merayap di dadanya saat menatap helikopter itu terbang, kini kembali meledak dengan kekuatan seribu kali lipat, menghancurkan seluruh saraf ketenangannya.

Benar-benar aneh...batin Navarro, napasnya mulai berhembus sedikit lebih cepat.

Jika apa yang dikatakan Issabelle malam itu adalah kebenaran—bahwa klan Dark Dubois telah mengambil alih kendali penuh, bahwa situasi di Frankfurt sudah seratus persen aman, dan bahwa ayah gadis itu sendiri yang mengirimkan jemputan VVIP—maka seharusnya tidak ada alasan bagi Issabelle untuk terjebak dalam pemulihan yang berlarut-larut.

Seharusnya, dengan kekuatan finansial dan teknologi klan sebesar itu, Issabelle bisa dengan mudah menghubunginya melalui jaringan satelit aman keesokan harinya.

Namun ini sudah sebulan.

Tiga puluh hari tanpa jejak sedikit pun.

Sebuah kesimpulan yang teramat mengerikan mulai terbentuk di kepala Navarro.

Bagaimana jika suruhan ayah Issabelle berbohong malam itu?

Bagaimana jika gadis itu tidak pernah menerima kabar bahwa ayahnya baik-baik saja?

Bagaimana jika keputusannya untuk pulang secara terburu-buru itu bukan karena situasi sudah aman, melainkan karena ia menyadari bahwa klannya sedang berada dalam kehancuran mutlak dan ia harus kembali untuk menyerahkan nyawanya sendiri di medan perang?

Navarro teringat kembali wajah pucat dan isakan Issabelle di dalam mobil saat menerima panggilan pertama dari Martha.

Keputusasaan itu nyata.

Gadis itu benar-benar hancur.

Lalu, dalam hitungan jam, tiba-tiba semuanya membaik secara ajaib dan helikopter datang menjemput?

Dalam dunia mafia, keajaiban instan seperti itu adalah omong kosong belaka.

Seseorang pasti telah memanipulasi informasi, atau lebih buruk lagi, Issabelle sengaja menutupi tingkat bahaya yang sebenarnya agar Navarro tidak ikut terseret.

Firasatnya benar-benar tidak enak.

Udara siang yang tadinya terasa hangat mendadak berubah sedingin es di kulit Navarro.

"Nav? Kau baik-baik saja?" tanya Skylar yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah pemimpinnya.

Wajah Navarro yang tadinya terlihat menyedihkan kini menegang kaku, rahangnya terkatup rapat dengan urat leher yang menonjol keluar.

Navarro mengabaikan pertanyaan Skylar.

Ia langsung menoleh ke arah Grey dengan pergerakan tubuh yang sangat cepat dan dominan, memancarkan aura seorang pewaris klan Riccardo yang siap memulai peperangan.

"Grey," panggil Navarro, suaranya kini terdengar menggelegar, menghilangkan seluruh jejak pria patah hati dan menggantikannya dengan diktator berdarah dingin.

"Berhenti mencari di jalur aman. Akses Deep Web. Buka seluruh pintu belakang jaringan intelijen klan kita di Eropa. Aku tidak peduli berapa juta dolar yang harus kau bakar untuk membeli informasi."

Grey terkejut dengan perintah mendadak itu.

"Nav, jika aku membuka pintu belakang ke Deep Web untuk klan Eropa, radar otoritas pusat pasti akan mendeteksinya.""

Navarro bangkit berdiri dengan satu gerakan mulus. Ia menatap teman-temannya satu per satu dengan sorot mata yang membakar.

Rasa putus asa karena diabaikan telah tergantikan oleh teror dan kemarahan protektif yang meledak-ledak.

"Persetan dengan itu," desis Navarro tajam.

"Issabelle mengatakan bahwa malam itu situasi klannya sudah baik-baik saja. Dia bilang ayahnya aman. Tapi firasatku mengatakan ada yang salah. Sangat salah. Tidak ada klan mafia yang aman jika mereka tiba-tiba menghilang dari radar dunia bawah tanah selama sebulan penuh."

Navarro menendang kursi besi di dekatnya hingga terpental menghantam dinding, menciptakan suara benturan keras yang membuat Claire berjengit mundur ke pelukan Skylar.

"Dia berbohong padaku malam itu," gumam Navarro pada dirinya sendiri, jemarinya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Mata gelapnya menatap lurus ke arah cakrawala yang membentang di luar batas sekolah.

"Dia sengaja membungkamku dengan tubuhnya agar aku tidak menghentikannya kembali ke dalam lubang neraka."

Navarro memutar tubuhnya, menatap Grey dengan tatapan mutlak yang tidak menerima bantahan.

"Lacak pergerakan aset dan perpindahan dana atas nama pemberontak di Frankfurt. Cari tahu apa yang terjadi pada Daddy-nya di malam ia melarikan diri dari sini. Jika dia tidak mau menghubungiku, maka aku yang akan menjemput nya hingga ke benua Eropa untuk menyeretnya kembali ke dalam pelukanku."

1
Game Semut
semoga happy ending issabele dan navvaro serta putri nya Cassandra
Ros 🌷🦋: author suka yang happy ending kak🤭😅
total 1 replies
Game Semut
ini cerita gmna ending nya nih thor kasian bngt kisah percintaan asmara antara issabele dan Navarro...semoga bs bersatu.
Ros 🌷🦋: author buat ending nya happy 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Ros 🌷🦋: masih lanjut ya kak reader🥰😅
total 3 replies
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!