Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIATNYA MAU BERES BERES,EH MALAH NYARI KUNCI YANG HILANG
Sejak hari itu bengkel jadi rame banget sampai antrean panjang, Bang Rian makin sering bilang dia sungkan. Katanya cuma kerja biasa, tapi malah dibantu sedemikian rupa sampai rezekinya nambah. Padahal kami cuma iseng-iseng bantu, eh dia yang merasa berhutang budi.
Sekarang sudah hari ke-28 puasa. Besoknya sudah malam takbiran, lusa langsung lebaran. Warga desa makin sibuk beres-beres rumah, belanja kebutuhan, dan yang paling banyak: bawa kendaraan dicek sebelum pulang kampung.
Di kantor kami juga sudah nggak ada kerjaan yang berarti. Semua berkas rapi, kendaraan sudah dicek semuanya, stiker juga sudah siap. Kalau cuma duduk melamun, rasanya malah bikin ngantuk dan bosan.
Pagi itu, pas kami lagi duduk santai ngobrol ngalor-ngidul, Ojak tiba-tiba menepuk pahanya keras-keras.
“Teman-teman! Hari ini kita main ke bengkel lagi yuk! Kali ini beneran cuma beresin alat-alat aja, nggak usah yang bikin heboh. Kasihan Bang Rian, pasti makin pusing lihat tempatnya berantakan terus.”
Semua langsung setuju. Tapi sebelum jalan, Bima sudah kasih peringatan duluan.
“Dengar ya! Kali ini janji nggak bikin ulah. Nggak usah susun barang sampai setinggi atap, nggak usah bikin suasana sampai orang berdatangan dari mana-mana. Cukup beres-beres, oke?”
“Siap! Kali ini kami janji nggak bikin masalah,” jawab Ojak sambil ketawa-ketiwi, padahal matanya sudah kelihatan siap cari kesibukan.
Sesampainya di depan bengkel, benar saja. Suasananya kelihatan lebih berantakan dari biasanya. Kunci inggris berserakan di meja, kotak perkakas numpuk seenaknya, lantai penuh debu dan bekas tumpahan oli. Bang Rian sendiri sedang jongkok di depan motor, tangannya penuh oli, dan mukanya kelihatan bingung setengah mati.
Begitu lihat kami datang, dia berdiri sambil mengelap tangan di kain lap yang sudah hitam.
“Wah, kalian datang lagi. Ada apa hari ini? Motor kantor rusak lagi ya?”
“Nggak ada apa-apa kok Bang. Kami cuma bantu beresin tempat sebentar aja. Lihatnya agak semrawut, nanti malah kamu sendiri yang bingung cari alatnya,” kata Sari sambil melangkah masuk.
“Wah, makasih banyak deh. Jujur, tadi pagi saya sudah cari kunci pas nomor 12 sampai keringatan, tapi nggak ketemu juga. Padahal itu yang paling sering dipakai buat bongkar baut roda,” keluh Bang Rian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Tenang aja! Kami bantu cari sekalian merapikan. Kali ini aman, nggak akan jatuh atau roboh lagi kayak dulu,” kata Rara dengan percaya diri.
Kami pun mulai bagi tugas, tapi kali ini beneran yang ringan-ringan saja:
* Pak Harun & Pak Joko: Duduk di depan, jaga tamu yang datang, sambil ngobrol santai sambil minum air putih.
* Kak Dedi: Ambil air bersih dan lap, bersihkan bekas oli yang tumpah di lantai.
* Bima & Ojak: Angkat kotak perkakas, susun rapi di rak bawah saja, nggak usah tinggi-tinggi.
*Sari & Rara: Rapikan alat-alat kecil, kelompokkan sesuai ukuran biar gampang dicari.
Awalnya semua berjalan mulus dan damai. Sari dan Rara dengan teliti menata kunci inggris, obeng, tang, dan palu di atas meja. Bima dan Ojak mengangkat kotak satu per satu pelan-pelan, nggak tergesa-gesa sama sekali.
“Nah, begini kan enak dilihat. Kalau butuh apa saja langsung ketemu,” kata Bang Rian sambil menghela napas lega.
Tapi ketenangan itu cuma bertahan sekitar sepuluh menit saja.
Saat Ojak sedang memindahkan satu kotak kayu tua yang agak berat, tiba-tiba ada benda pipih dan panjang meluncur keluar dari celah kotak itu. Karena kaget, Ojak langsung menendang pelan biar nggak menginjaknya, tapi malah benda itu bergeser cepat dan masuk ke sela sempit antara rak alat dan tembok.
“Waduh… apa itu tadi?” gumam Ojak sambil jongkok memicingkan mata mencoba melihat ke dalam celah itu.
Bima ikut mendekat. “Mana? Apa yang jatuh?”
“Nggak tahu, bentuknya panjang dan agak pipih. Tadi keluar dari kotak, terus masuk ke sela ini. Tangan saya nggak cukup panjang buat nyampe ke ujungnya,” jawab Ojak sambil mengulurkan tangan tapi gagal meraihnya.
Melihat itu, Rara jadi penasaran. “Coba saya lihat. Mungkin cuma besi bekas atau penggaruk tanah aja.”
Dia ikut jongkok, lalu cari sepotong kayu kecil buat mengaitnya. Tapi bukannya keluar, malah benda itu terdorong makin masuk ke dalam sampai bunyi berderit keras, seolah masuk ke sudut yang paling dalam.
“Waduh, makin masuk malah! Jangan-jangan nyangkut di sana,” seru Rara sambil menarik tangannya cepat-cepat.
Belum sempat mereka berpikir cara lain, Bang Rian tiba-tiba menepuk dahinya sendiri.
“Eh, jangan-jangan itu tempat kotak kunci cadangan saya? Dulu saya taruh di situ sambil bilang ‘biar aman nggak hilang’, eh sekarang malah jadi susah diambil sendiri.”
Mendengar kata “kunci”, Ojak langsung bersemangat sekaligus panik. “Kunci apa Bang? Yang penting bukan kunci rumah atau kunci uang ya?”
“Yang paling penting justru kunci kotak peralatan utama! Di situ ada semua kunci pas ukuran lengkap yang paling sering dipakai. Kalau nggak bisa dibuka, kerjaan hari ini bisa macet total, nggak bisa bongkar apa-apa lagi,” jawab Bang Rian sambil menggaruk kepalanya makin kencang.
Sekarang suasana berubah total. Yang tadinya tugasnya cuma merapikan tempat, tiba-tiba berubah jadi Tim Pencari Kunci Hilang.
Pak Harun sambil ketawa terbahak-bahak bilang, “Wah, kerjanya berubah drastis ya. Dari tukang beres-beres jadi tukang cari harta karun yang tersembunyi di balik tembok!”
“Kalau begini ceritanya, kita butuh alat bantu yang pas nih,” kata Kak Dedi sambil mulai mencari benda yang panjang dan ramping.
Dia dapat sebatang besi pipih bekas, lalu dicoba dimasukkan ke celah itu. Digeser-geser, dikait-kait, tapi yang terasa malah debu dan kotoran tua. Malah ada laba-laba kecil yang lari keluar, bikin Sari dan Rara terlonjak kaget sambil berteriak kecil.
“Ih, ada laba-laba! Mending cari cara lain aja, nanti malah digigit!” seru Sari sambil mundur selangkah.
Ojak yang merasa bertanggung jawab karena benda itu sampai masuk ke situ, maju lagi. “Biarkan saya coba pakai kawat yang dibengkokkan ujungnya. Mungkin lebih pas buat dikait.”
Dia cari sepotong kawat, dibengkokkan seperti kail, lalu dimasukkan perlahan. Sekali, dua kali, tiga kali dikait… rasanya sudah kena sesuatu, tapi pas ditarik, malah lepas lagi. Sudah setengah jam lebih mereka coba berbagai cara, tapi hasilnya tetap nihil.
Bang Rian malah yang mulai tenang dan malah ketawa melihat kelakuan kami. “Sudah-sudah, nggak usah dipaksakan sampai bikin tangan lecet. Nanti kalau sudah sepi, saya bongkar sedikit bagian raknya pelan-pelan. Daripada kalian yang nanti malah makin memasukkannya ke dalam lagi.”
Tapi nama juga Ojak, kalau belum dapat rasanya nggak tenang. Dia malah punya ide lain. “Tunggu sebentar! Kalau ditarik nggak bisa, coba didorong ke arah sebaliknya! Mungkin nanti jatuh ke sisi yang lebih longgar.”
Tanpa menunggu jawaban, dia dorong pelan pakai besi itu. Benar saja, terdengar bunyi “geser… gedebuk!” seolah benda itu jatuh ke ruang yang lebih luas.
“Nah! Ketemu juga rasanya!” seru Ojak semangat.
Mereka pindah ke sisi samping rak, lalu mengintip dari celah yang agak terbuka. Di situ terlihat kotak kecil berwarna cokelat tergeletak rapi di atas tumpukan kertas dan kain bekas. Tinggal diraih saja dengan mudah.
Begitu diambil dan dibuka, isinya lengkap semua kunci yang dibutuhkan. Bang Rian langsung menghela napas panjang sambil ketawa. “Wah, akhirnya keluar juga! Kalau dibiarkan saja, mungkin baru ketemu lagi pas lebaran tahun depan!”
Semua orang tertawa melihat kejadian konyol itu. Yang tadinya cuma mau beres-beres sebentar, malah menghabiskan waktu hampir satu jam cuma buat cari kunci yang malah tersembunyi karena dianggap “tempat aman”.
Siang harinya, suasana kembali normal. Tempat jadi rapi, alat-alat mudah dicari, dan kunci yang tadi bikin pusing sudah kembali ke tempatnya. Ojak masih saja membanggakan dirinya sendiri.
“Lihat kan? Kalau ada masalah, pasti ada jalan keluarnya. Cuma jalannya saja yang agak berputar-putar dan bikin keringat dingin dulu!”
Bima hanya menggeleng sambil senyum. “Iya, iya. Tapi ingat ya, lain kali kalau memindahkan barang, pastikan nggak ada yang meluncur masuk ke celah sempit lagi. Nanti kita jadi tim pencari harta karun terus, bukan lagi tim pembantu.”
Bang Rian menepuk bahu mereka berdua sambil tertawa. “Sudah nggak apa-apa. Justru jadi cerita lucu yang bisa dikenang. Beres-beres sebentar, eh malah jadi cari kunci yang sudah lama hilang. Nggak rugi juga kan?”
Benar saja, hari itu jadi salah satu hari yang paling konyol tapi paling menyenangkan. Nggak ada nasihat panjang lebar, nggak ada kesedihan, cuma tawa dan cerita yang bisa dibagi-bagi lagi nanti.