NovelToon NovelToon
Archive Zero

Archive Zero

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 — Sisa Bayangan dan Sumpah Setia

Archive Zero

Bab 18 — Sisa Bayangan dan Sumpah Setia

Debu tebal perlahan turun ke tanah, menyelimuti bekas ledakan dahsyat yang kini hanya menyisakan kawah besar berasap di tengah dataran luas. Panas yang luar biasa masih terasa menyengat, namun nyala api yang tadinya menguasai segalanya sudah padam sepenuhnya. Di mana Jenderal Ignis berdiri gagah beberapa saat lalu, kini hanya ada tanah hangus yang bergetar pelan sisa gema kekuatan yang meledak.

Pasukan Kerajaan Utara yang tersisa—ribuan prajurit yang masih berdiri tegak lengkap dengan senjata dan zirah mereka—kini diam membisu. Sorak-sorai perang mereka lenyap sepenuhnya, digantikan oleh kebisuan yang mencekam. Mereka melihat sendiri bagaimana pemimpin terkuat mereka, sosok yang dianggap tak terkalahkan dan sekuat dewa, musnah dalam sekejap mata oleh serangan yang ia ciptakan sendiri.

Ketakutan merayap cepat di antara barisan. Keraguan, kebingungan, dan kepanikan mulai menyebar seperti penyakit menular. Tanpa komando, tanpa kekuatan pimpinan, dan tanpa kepercayaan diri, pasukan besar itu kini tampak seperti kawanan domba yang kehilangan gembalanya.

Di atas bukit, Ren masih berlutut di tanah, napasnya tersengal berat, tubuhnya terasa kosong seolah seluruh isi darah dan tenaganya telah tersedot habis. Darah merah segar menetes dari hidung dan sudut bibirnya, jatuh ke tanah kering dan meresap lenyap. Cahaya ungu yang biasanya menyala terang di sekelilingnya kini redup, berkedip pelan seperti nyala lilin yang hampir mati tertiup angin.

Namun, ia belum jatuh.

Anya segera berlutut di sampingnya, menopang bahu Ren agar tetap tegak. Wajah gadis itu pucat dan penuh keringat dingin, matanya memerah karena kelelahan luar biasa, tapi tangannya yang dingin dan mantap menekan luka di dada Ren.

"Kau gila..." bisik Anya pelan, campuran antara marah dan lega, suaranya bergetar. "Kau benar-benar gila, Ren... memantulkan serangan sebesar itu... kau hampir menyeret kita semua ke kematian."

Ren tersenyum tipis, lemah namun tetap penuh semangat. Ia menoleh menatap Anya, lalu melirik Kai yang sedang berjalan terhuyung-huyung mendekat, wajahnya kotor penuh debu tapi matanya berbinar bangga luar biasa.

"Kalau tidak gila... kita pasti sudah jadi abu bersama kota itu," jawab Ren parau. Ia mengerahkan sisa tenaganya untuk menunjuk ke bawah sana, ke arah pasukan musuh yang kini tampak bimbang dan takut. "Lihatlah... mereka sudah tidak berdaya. Naga mereka sudah mati. Sekarang... saatnya menyelesaikan ini."

Kai berdiri di sisi lain Ren, menepuk bahu temannya itu pelan, lalu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi menatap ribuan musuh di bawah sana. Ia mengambil alat pengeras suara dari pinggangnya—alat sederhana yang ia rakit sendiri—dan suaranya yang jernih dan tegas bergema ke seluruh dataran, terdengar jelas oleh setiap telinga prajurit musuh.

"DENGARKAN KAMI, WARGA KERAJAAN UTARA!" seru Kai lantang, suaranya tidak sedikit pun bergetar meski jumlah mereka hanya bertiga melawan ribuan pasukan. "Pemimpin kalian sudah hancur oleh kekuatannya sendiri! Kekuatan yang kalian puja-puja dan gunakan untuk menindas orang lain, pada akhirnya hanya akan memakan kalian sendiri! Kalian sudah melihatnya sendiri! Kekuatan sejati bukanlah untuk menaklukkan, tapi untuk melindungi!"

Ia memberi jeda sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam hati mereka.

"Kami tidak ingin membunuh kalian! Kami hanya ingin melindungi tanah ini, rumah ini, dan kebebasan yang baru saja kami perjuangkan nyawa dan darah kami! Kalian datang ke sini untuk berperang, tapi perang ini sudah berakhir! Kembalilah ke utara, ke tanah asal kalian, dan bawalah pesan ini... Dataran Selatan ini bebas! Dan kami... kami akan berdiri di sini selamanya, sampai titik darah penghabisan, untuk memastikan tidak ada lagi penindasan yang menginjak bumi ini!"

Hening kembali menyelimuti medan itu. Ribuan pasukan itu saling pandang. Banyak dari mereka adalah prajurit biasa, rakyat jelata yang dipaksa berperang, yang hanya mengikuti perintah atasan tanpa tahu alasan sebenarnya. Mereka melihat kekuatan Ren, melihat keberanian Kai, melihat ketegasan Anya... dan lebih dari itu, mereka melihat kebenaran yang terungkap di depan mata mereka: bahwa kekuasaan yang sombong akan runtuh dengan sendirinya.

Perlahan, satu per satu prajurit itu mulai menurunkan senjata mereka. Pedang, tombak, dan perisai jatuh ke tanah dengan bunyi beruntun yang terdengar seperti nyanyian damai. Kemudian, pemimpin-pemimpin kecil mereka, para kapten dan perwira yang tersisa, turun dari tunggangan mereka, berlutut ke tanah sebagai tanda tunduk dan hormat.

Seorang perwira tua yang tampak bijak namun berwajah sedih melangkah maju sendirian, berjalan mendaki bukit dengan langkah perlahan dan penuh hormat. Saat sampai beberapa langkah di hadapan mereka bertiga, ia membungkuk dalam-dalam, kepalanya menyentuh tanah.

"Kami mengaku kalah, Penguasa Selatan," ucapnya dengan suara tulus dan rendah. "Kami buta oleh janji kekuasaan dan kemenangan mudah. Kami tidak tahu bahwa kekuatan yang kami miliki adalah kutukan, bukan anugerah. Kami telah melihat kebenaran hari ini... dan kami membawa malu yang tak terhapuskan."

Ia mengangkat kepalanya, menatap Ren yang masih berlumuran darah namun matanya tetap lembut dan tidak penuh dendam.

"Kami akan kembali ke utara. Kami akan membawa pesan ini ke seluruh penjuru benua. Bahwa di sini, di tanah Elarion, lahir kekuatan baru yang tak tertaklukkan, kekuatan yang menjaga keseimbangan dunia. Dan sebagai tanda penyesalan dan kesetiaan kami... kami bersumpah tidak akan pernah lagi mengangkat senjata melawan kalian atau tanah ini. Jika kalian butuh bantuan di masa depan, cukup panggil, dan kami akan datang berlutut untuk membela nama baik kalian."

Perwira itu kembali membungkuk dalam, lalu bangkit perlahan dan memberi isyarat pada pasukannya. Ribuan prajurit itu berbalik serentak, lalu berjalan pergi menjauh menembus padang rumput, meninggalkan dataran Elarion untuk selamanya, membawa pelajaran berharga yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.

Saat bayangan pasukan terakhir lenyap di ufuk utara, ketegangan yang menahan napas mereka bertiga akhirnya terlepas sepenuhnya. Ren jatuh terduduk ke tanah, punggungnya bersandar pada batu besar, napasnya panjang dan berat namun kali ini penuh kelegaan yang luar biasa.

Anya duduk di sampingnya, membiarkan kelelahan menguasai tubuhnya, tapi ia tersenyum bahagia. Kai menjatuhkan dirinya ke rumput di sebelah mereka, menatap langit biru yang bersih, tertawa lepas dan panjang.

"Gila..." gumam Kai di antara tawanya. "Benar-benar gila. Siapa yang mengira kita bertiga akan mengusir ribuan pasukan sendirian? Kalau ada yang menulis cerita ini, pasti orang bilang itu dongeng konyol yang tidak masuk akal."

Ren tertawa pelan, meski rasa sakit di sekujur tubuhnya menyengat. Ia menatap kedua sahabatnya itu, orang-orang yang selalu ada di sampingnya sejak awal, yang menemaninya dari lorong-lorong gelap Kawasan Bayang hingga ke puncak bukit pertempuran ini.

"Ini bukan dongeng, Kai," jawab Ren lembut. "Ini kenyataan. Dan ini semua karena kita bertiga bersama-sama. Sendirian, kita tidak ada apa-apanya. Tapi bersama... kita bisa mengubah dunia."

Matahari mulai turun ke barat, menyinari kawah besar di tengah dataran itu dengan cahaya keemasan yang hangat. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma rumput yang tumbuh kembali dan bunga liar yang mulai mekar, seolah alam itu sendiri sedang merayakan kemenangan dan kedamaian yang kembali pulih.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, perhatian Ren tertuju pada sesuatu yang berkilau samar di tepi kawah bekas ledakan itu. Sesuatu yang tidak hancur, sesuatu yang tertinggal dari sosok Jenderal Ignis.

Ren bangkit berdiri perlahan, menahan rasa sakit di kakinya, lalu berjalan mendekati benda itu. Di sana, tertanam di tanah hangus, ada sepotong permata kecil berwarna merah darah, berdenyut pelan dengan sisa energi yang kuat namun kini tenang dan terkendali.

Anya dan Kai mengikuti dari belakang, menatap permata itu dengan rasa ingin tahu.

"Apa itu?" tanya Kai pelan.

Ren mengulurkan tangan, mengambil permata itu. Saat kulitnya menyentuh benda itu, ia langsung mengerti. Ini adalah inti dari kekuatan api Ignis, sisa dari pemahamannya tentang energi itu. Ignis sudah tiada, tapi pengetahuannya, kekuatannya, dan esensi elemen apinya tetap ada, menunggu pemilik baru yang bisa menggunakannya dengan benar.

"Ini... warisan lain," jawab Ren pelan, matanya berbinar mengerti. "Seperti inti yang kami terima dari para Pengamat. Ignis mungkin jahat dan ambisius, tapi dia juga penguasa elemen api terhebat yang pernah ada. Pengetahuannya tentang api, panas, dan pembakaran... semuanya tersimpan di sini."

Ren menatap permata merah itu lekat-lekat, lalu menatap ke arah kota Elarion yang kini terlihat jelas di kejauhan, bangunannya bersih dan indah di bawah cahaya matahari sore.

"Dunia ini penuh dengan kekuatan, penuh dengan pengetahuan, penuh dengan rahasia," ucap Ren pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri tapi terdengar jelas oleh kedua temannya. "Perang hari ini sudah selesai, ancaman utamanya sudah hilang. Tapi aku sadar... perjalanan kita belum selesai sepenuhnya."

Ia memasukkan permata merah itu ke dalam saku jubahnya, lalu berbalik menatap Anya dan Kai dengan senyum yang kembali penuh semangat dan tekad.

"Kita sudah memiliki kekuatan keseimbangan, kekuatan es, kekuatan pengetahuan... dan sekarang, kita juga memiliki kekuatan api. Kita sudah membebaskan Elarion, kita sudah mengalahkan penguasa lama, kita sudah mengusir penyerang asing... tapi masih banyak hal yang harus kita pelajari, banyak hal yang harus kita temukan, dan banyak hal yang harus kita jaga."

Ren menunjuk ke arah timur, ke arah pegunungan tempat kota para Pengamat berada, dan lebih jauh lagi, ke arah cakrawala yang tak berujung.

"Suatu hari nanti, kita akan kembali berkelana. Kita akan menjelajahi seluruh benua ini, bertemu bangsa-bangsa lain, mempelajari setiap elemen dan kekuatan yang ada di dunia ini, dan memastikan bahwa kedamaian yang kita bangun ini akan bertahan selamanya. Kita akan menjadi penjaga keseimbangan yang sesungguhnya, seperti mimpi Aran, seperti harapan para Pengamat."

Anya tersenyum lembut, menggenggam tangan Ren erat. "Ke mana pun kau pergi, kami ikut. Selamanya."

Kai mengangguk mantap, menepuk dada dengan percaya diri. "Dan aku akan mencatat semuanya, membuat peta seluruh dunia, dan memastikan kita selalu punya rencana cadangan. Cerita kita baru saja masuk babak emasnya, kawan-kawan."

Mereka bertiga berjalan beriringan menuruni bukit, kembali menuju kota Elarion yang menyambut kedatangan mereka dengan sorak-sorai panjang yang terdengar sampai ke langit. Penduduk kota berdatangan keluar gerbang, berlari mendekat, memeluk, menangis bahagia, dan mengangkat mereka bertiga ke atas bahu sebagai pahlawan sejati yang telah menyelamatkan masa depan mereka.

Di kejauhan, di balik bayangan pegunungan, sosok Elara berdiri diam mengamati pemandangan itu, senyum puas mengembang di bibirnya. Di sampingnya, para Pengamat lain mengangguk hormat.

"Roda berputar indah," bisik Elara pelan pada dirinya sendiri. "Warisan Aran hidup kembali. Dan kini... dunia memiliki pelindung yang layak dan pantas. Sejarah baru telah dimulai, dan kali ini... ceritanya ditulis oleh tangan manusia yang bebas dan berhati mulia."

Matahari akhirnya terbenam sepenuhnya, digantikan oleh bulan dan bintang yang bersinar terang di langit malam yang jernih. Di bawah sinar remang itu, kota Elarion bersinar indah, damai, dan penuh harapan.

Dan di hati Ren, Anya, dan Kai, tertanam sumpah suci yang tak terucapkan namun abadi: Mereka akan menjaga dunia ini, melindungi kebebasan ini, dan menjaga keseimbangan ini... sampai napas terakhir mereka berhenti berhembus.

1
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
sena himura
siap
sena himura
ok,
Uday
semangat mas, alur ceritanya bagus.

jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!