Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8- Garis yang mulai kabur
Garis yang Mulai Kabur
Pagi itu Mona datang lebih awal dari biasanya. Bukan karena rajin, melainkan karena semalaman ia hampir tidak bisa tidur memikirkan kejadian di parkiran kemarin.
Pelukan itu, tatapan Wira dan cara pria itu menahan pinggangnya seolah Mona adalah sesuatu yang penting untuk dijaga.
“Astaga…”
Mona menjatuhkan kepalanya pelan ke meja kerja.
“Kenapa jadi kepikiran terus sih…”
Ia bahkan sampai beberapa kali memukul bantal sendiri semalam sambil mencoba melupakan wajah Wira yang basah terkena hujan. Sayangnya gagal total.
“Pagi.” Suara berat itu langsung membuat Mona tersentak sampai hampir jatuh dari kursi.
Wira berdiri di depan mejanya dengan jas abu gelap dan ekspresi tenang seperti biasa, namun justru itu yang membuat Mona kesal.
Bagaimana bisa pria ini terlihat normal-normal saja setelah kejadian semalam?
“S-selamat pagi, Pak.”
Wira mengangguk pelan lalu masuk ke ruangannya. Mona mengembuskan napas lega.
Syukurlah normal, artinya mungkin hanya dirinya saja yang terlalu memikirkan semuanya, namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian interkom berbunyi.
“Mona. Masuk.”
“Iya, Pak.”
Mona segera membawa tablet dan masuk ke ruangan CEO. Wira sedang berdiri di dekat jendela sambil membaca beberapa dokumen.
“Ada jadwal tambahan hari ini.”
“Apa, Pak?”
“Malam ini ada acara makan malam bersama partner bisnis.”
“Oh, baik.”
“Kau ikut.”
Mona langsung mengangkat kepala.
“Saya?”
“Kau sekretarisku.”
“Iya sih, tapi biasanya saya cuma menyiapkan dokumen…”
“Kali ini ikut.”
Nada suaranya tidak memberi ruang untuk menolak dan Mona akhirnya mengangguk pelan.
“Baik, Pak.”
“Dan pakai pakaian yang pantas.”
Mona mengernyit.
“Maksudnya?”
Wira menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.
“Tolong jangan pakai sweater kucingmu lagi.”
Mata Mona langsung melebar.
“Bapak masih ingat?!”
“Terlalu mencolok untuk dilupakan.”
Mona spontan manyun. Padahal sweater itu kesayangannya. Wira hampir tersenyum melihat ekspresi Mona sebelum kembali fokus ke dokumennya, namun diam-diam suasana hati pria itu sedikit membaik pagi ini dan itu cukup aneh.
Sepanjang hari Mona dibuat sibuk mempersiapkan kebutuhan meeting malam nanti, namun semakin mendekati jam pulang kantor, ia justru semakin gugup. Karena masalah besar muncul, ia tidak punya baju bagus.
“Gimana ini…”
Mona berdiri di depan kaca toilet kantor sambil memandangi dirinya sendiri.
Gaun formal? Tidak punya.
Tas mahal? Tidak punya.
Sepatu branded? Lebih tidak punya lagi.
Ia menghela napas panjang. Dunia CEO benar-benar merepotkan. Saat ia kembali ke meja kerja, sebuah paper bag besar sudah tergeletak di sana. Mona berkedip bingung.
“Apa ini?”
“Untukmu.”
Mona menoleh cepat. Wira keluar dari ruangannya sambil merapikan jam tangan.
“Pak?”
“Pakai itu malam ini.”
Mona membuka paper bag perlahan dan seketika matanya membulat. Gaun hitam elegan, sangat cantik, sangat mahal.
“Astaga…”
“Itu terlalu mencolok?” tanya Wira.
“Bukan! Ini bagus banget!”
“Kalau begitu pakai.”
Mona langsung panik.
“Pak, saya nggak bisa nerima barang semahal ini!”
“Itu bukan hadiah.”
“Terus?”
“Anggap saja investasi agar sekretarisku tidak mempermalukanku.”
Kalimat itu terdengar dingin, namun Mona tahu pria itu sebenarnya sedang berusaha membantu tanpa terlihat perhatian dan entah kenapa, hal kecil seperti itu justru membuat dadanya hangat.
Malam harinya, Mona hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Gaun hitam itu pas di tubuhnya. Rambut panjangnya dibiarkan terurai lembut, sedikit riasan membuat wajahnya terlihat jauh lebih dewasa dan elegan. Bahkan dirinya sendiri sampai bengong di depan kaca.
“Ini aku?”
Saat keluar dari kamar hotel tempat acara berlangsung, langkah Mona langsung melambat. Wira sedang berdiri di ujung lorong sambil menunggu.
Pria itu mengenakan setelan hitam sempurna yang membuatnya terlihat sangat berkelas, namun begitu melihat Mona. Wira terdiam, benar-benar diam. Tatapan tajamnya menelusuri Mona perlahan dan untuk pertama kalinya sejak mereka kenal, Mona melihat pria itu kehilangan kata-kata.
“Pak!!” panggil Mona, penasaran.
Wira berkedip pelan sebelum berdeham kecil.
“Ayo.”
Hanya itu, namun Mona sempat melihat ujung telinga pria itu sedikit merah dan itu hampir membuatnya tertawa.
Acara makan malam berlangsung mewah, banyak pebisnis penting hadir. Mona berusaha bersikap profesional meski sebenarnya gugup setengah mati, namun beberapa pria mulai meliriknya sejak tadi. Bahkan salah satu direktur muda akhirnya mendekat sambil tersenyum ramah.
“Mbak Mona, ya?”
“Iya.”
“Saya Armand.”
Pria itu mengulurkan tangan.
“Mungkin setelah acara selesai kita bisa makan malam lagi berdua?”
Mona langsung salah tingkah.
“Oh… saya…”
Belum sempat menjawab, sebuah tangan tiba-tiba melingkar di pinggangnya, tubuh Mona langsung menegang. Wira berdiri di sampingnya dengan wajah datar.
“Maaf. Sekretaris saya masih ada pekerjaan.”
Suasana langsung berubah canggung. Armand tertawa kecil.
“Oh, baiklah.”
Setelah pria itu pergi, Mona langsung menoleh cepat.
“Pak!” ujar Mona kesal.
“Apa?” tanya Wira.
“Kenapa pegang pinggang saya?!” lanjut Mona masih kesal.
“Karena dia mengganggu.”
“Itu bukan alasan!”
Wira menatap Mona beberapa detik, lalu tanpa melepaskan tangannya, pria itu berkata pelan,
“Kau milikku malam ini.”
Deg
Kalimat itu menghantam Mona tanpa ampun.
“M-maksud Bapak apa?”
“Sebagai sekretaris.”
“Oh…”
Entah kenapa jawaban itu malah membuat hati Mona sedikit kecewa. Wira memperhatikan perubahan ekspresi kecil di wajah Mona dan anehnya, ia tidak suka melihat gadis itu kecewa.
Acara selesai lebih larut dari perkiraan. Saat mereka keluar hotel, udara malam terasa dingin, Mona memeluk lengannya pelan.
“Dingin?” tanya Wira.
Mona hanya mengangguk kecil. Tanpa banyak bicara, Wira melepas jasnya lalu menyampirkannya ke bahu Mona.
“Pak, nanti Bapak kedinginan.”
“Aku tidak selemah itu.”
Mona tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Mereka berjalan berdampingan menuju parkiran, namun langkah Mona tiba-tiba berhenti saat melihat seorang wanita berdiri di dekat mobil Wira. Cantik, elegan dan jelas bukan orang asing.
Clara, mantan kekasih Wira. Wanita itu tersenyum tipis saat melihat mereka, namun senyum itu perlahan berubah saat matanya menangkap jas Wira yang kini dipakai Mona.
“Jadi rumor di kantor itu benar,” ucap Clara pelan.
Mona mengernyit bingung.
“Rumor?” Mona bingung mendengar ucapan Clara.
Clara menatap Wira lurus.
“Kamu dekat dengan sekretarismu sekarang?”
Wira langsung berdiri di depan Mona sedikit protektif.
“Itu bukan urusanmu.”
Clara tertawa kecil miris.
“Kamu berubah.”
“Tidak.”
“Aku kenal kamu, Wira.”
Tatapan Clara perlahan berpindah ke Mona dan kali ini jelas, ada rasa tidak suka di sana.
“Hati-hati,” katanya pelan pada Mona.
“Pria ini tidak pernah setengah-setengah saat menyakiti seseorang.”
Setelah mengatakan itu, Clara pergi meninggalkan mereka. Suasana mendadak sunyi, Mona menggigit bibir pelan. Entah kenapa ucapan wanita itu membuat dadanya tidak nyaman, namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, suara Wira terdengar rendah di sampingnya.
“Jangan dengarkan dia.”
Mona menoleh perlahan. Untuk pertama kalinya, Wira terlihat takut kehilangan sesuatu dan Mona mulai sadar, garis antara hubungan profesional dan perasaan mereka kini perlahan mulai kabur.