NovelToon NovelToon
My Cold Husband, Rafael

My Cold Husband, Rafael

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Noor.H.y

Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Bermalam bersama

Suara desisan dari wajan yang terkena minyak panas memenuhi dapur, disusul aroma makanan yang perlahan mulai tercium.

Kanaya berkedip beberapa kali. Entah kenapa, pemandangan di depannya terasa asing sekaligus menenangkan.

Ia terbiasa melihat Rafael dengan penampilan rapi dan formal, sibuk dengan pekerjaan serta berbagai urusan perusahaan. Namun malam ini, pria itu berdiri di dapur rumahnya sendiri, memasak untuknya.

Tanpa sadar sudut bibir Kanaya sedikit terangkat.

"Selain tampan, dia juga jago masak.." gumamnya pelan.

Kanaya masih duduk diam di kursinya, dagu bertumpu di atas kedua tangan. Tatapannya tak lepas dari sosok Rafael yang sejak tadi bergerak cekatan di dapur.

Entah kenapa, melihat pria itu memasak membuatnya sedikit terpaku. Rafael yang biasanya terlihat dingin, tegas, dan selalu sibuk dengan urusan pekerjaan, kini berdiri di depan kompor dengan lengan kemeja tergulung sampai siku.

Tanpa sadar, Kanaya terus memperhatikannya.

Sampai ia bahkan tidak menyadari Rafael sudah selesai memasak.

"Kalau terus dilihatin begitu, nasi gorengnya bisa dingin."

Suara bariton itu membuat Kanaya tersentak.

"Hah?"

Kanaya mengangkat kepala cepat.

Ternyata Rafael sudah berdiri tepat di depannya.

Pria itu meletakkan sepiring nasi goreng dengan topping melimpah di atas meja. Ada telur mata sapi setengah matang di atasnya, potongan sosis, bakso, dan taburan daun bawang yang membuat aromanya semakin menggoda.

Kanaya berkedip beberapa kali.

Ia lalu menatap nasi goreng itu, kemudian menatap Rafael lagi.

"Wah... Udah matang aja. Kayaknya enak banget," lirih Kanaya.

Rafael menarik kursi di hadapannya lalu duduk santai.

"Hm.. Enak Kak." ucap Kanaya, setelah menyuapkan nasi goreng buatan Rafael ke dalam mulutnya.

"Ternyata kamu bisa masak juga, dan ini benar-benar enak banget loh." lanjutnya, kembali menyendok nasi dan melahapnya.

Rafael yang sejak tadi memperhatikannya hanya mengangguk pelan. Melihat ekspresi puas di wajah Kanaya, tanpa disadari sudut bibir Rafael terangkat tipis.

"Lain kali kalau tidak bisa memasak jangan di paksakan. Bukan karena saya takut kamu merusak barang-barang dirumah, tapi saya cuma tidak mau kamu terluka dan terjadi apa-apa sama kamu." ucap Rafael pelan, setelah meneguk air putih di gelas yang ia tuang sendiri.

Perkataan Rafael membuat Kanaya menghentikan kunyahannya sejenak, saat mendengar ucapan pria itu yang terdengar seperti mengkhawatirkan dirinya.

Kanaya menatap Rafael sejenak, dadanya tiba-tiba menghangat karena suami dinginnya ini ternyata memang punya sisi perhatian yang memang tak semua orang bisa melihatnya.

Sadar akan tatapan Kanaya, Rafael buru-buru melanjutkan ucapannya. "Jangan salah sangka dulu, saya cuma tidak mau Opa dan orang tuamu menyalahkan saya kalau saja kamu sampai kenapa-kenapa."

Rafael berdiri, mengambil jasnya. Namun sebelum melangkah ia menatap Kanaya sejenak. "Habiskan makannya, setelah itu tidur. Tidak usah di cuci piringnya, saya sudah mencari pengganti Mbok Sum untuk sementara. Besok pagi dia akan datang kerumah ini." katanya, lalu berjalan pergi meninggalkan dapur.

Kanaya hanyanya mengangguk pelan, lalu menghembuskan napasnya kasar. "Ternyata cuma gara-gara takut di marahin Opa sama Daddy." gumamnya, lalu kembali melanjutkan makannya lagi.

* *

Setelah menyelesaikan makannya, Kanaya kembali ke kamar. Ia menutup pintu perlahan lalu berjalan menuju meja belajar di dekat jendela. Duduk di kursinya, ia segera membuka laptop dan melanjutkan tugas kuliah yang sejak tadi tertunda.

Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Sesekali ia menatap layar dengan fokus, membaca kembali materi yang harus ia selesaikan sebelum dikumpulkan besok pagi.

Namun baru beberapa menit berlalu.

Layar laptopnya tiba-tiba meredup. Kanaya mengernyit.

"Hah?"

Menekan beberapa tombol, tetapi layar itu langsung gelap sepenuhnya.

"Baterainya habis?" gumamnya.

Kanaya segera membuka laci meja, mencari charger laptop miliknya. Ia mengobrak-abrik isi laci, lalu beralih ke tas kuliah dan rak kecil di sudut kamar.

Tidak ada.

Matanya membulat.

"Astaga... jangan bilang ketinggalan di kampus."

Ia menepuk dahinya pelan.

Tugas itu belum selesai, sementara besok pagi harus sudah dikumpulkan. Tidak mungkin menunggu sampai pagi.

Kanaya menggigit bibir bawahnya ragu.

Satu-satunya orang yang mungkin memiliki charger laptop dengan tipe yang sama di rumah ini adalah Rafael.

Memikirkan harus mengetuk pintu kamar pria itu saja sudah membuatnya gugup.

Namun demi tugas kuliah, ia akhirnya mengumpulkan keberanian.

Kanaya keluar dari kamar dan berjalan menyusuri koridor yang sepi. Langkahnya melambat saat sampai di depan pintu kamar Rafael.

Tangannya terangkat... Lalu turun lagi... Terangkat lagi.... Turun lagi...

"Aduh, cuma pinjam charger, Kanaya. Kenapa tegang sih..." gumamnya pelan.

Setelah menarik napas panjang, ia akhirnya mengetuk pintu itu.

Tok... tok... tok...

Beberapa detik kemudian pintu terbuka.

Rafael berdiri di sana mengenakan kemeja rumah berwarna gelap dengan lengan yang digulung hingga siku. Di tangannya masih ada sebuah dokumen yang tampaknya sedang ia baca.

"Kenapa?"

Kanaya yang tadinya sudah menyiapkan kalimat malah mendadak gugup.

"Ehm..."

Rafael menaikkan sebelah alis.

Kanaya berdeham pelan.

"Aku... mau pinjam charger laptop. Sepertinya laptop milik kita sama Kak,"

Rafael menatapnya beberapa saat.

"Charger laptop?"

Kanaya mengangguk cepat.

"Laptopku mati. Tugas kuliahku belum selesai dan harus dikumpulkan besok pagi."

Rafael tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang wajah Kanaya yang terlihat cemas.

Lalu tanpa banyak bicara, ia berbalik masuk ke kamar.

Kanaya menunggu di depan pintu dengan gelisah.

Tak lama kemudian Rafael kembali membawa sebuah charger.

"Ini.."

Kanaya menerima charger itu dengan kedua tangan.

"Terima kasih, Kak. Kalau tugasku sudah selesai, langsung aku kembalikan lagi."

Rafael mengangguk singkat. "Hm..."

Kanaya segera kembali ke kamar sambil memeluk charger pinjaman tersebut. Sementara di belakangnya, Rafael masih berdiri di ambang pintu beberapa saat sebelum akhirnya kembali masuk ke kamarnya.

* *

Kanaya merentangkan kedua tangannya setelah berhasil menyelesaikan tugas kuliahnya. Ia menguap lebar sambil melirik jam di layar ponselnya.

Pukul sebelas malam.

Dengan lega, ia mematikan laptopnya. Namun saat hendak merebahkan tubuh ke kasur, ia teringat sesuatu.

Charger laptop milik Rafael.

Kanaya segera mengambil charger yang sedari tadi digunakannya. Tidak enak rasanya jika menunda mengembalikannya sampai besok pagi.

Ia pun keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar Rafael. Sesampainya di depan pintu, Kanaya mengetuk beberapa kali.

Tok... tok... tok...

Tidak ada jawaban.

Kanaya menunggu beberapa detik sebelum mengetuk lagi.

Tok... tok...

Tetap sunyi.

"Mungkin sudah tidur," gumamnya pelan.

Ia berniat meletakkan charger di depan pintu saja, tetapi kemudian mengurungkan niatnya. Dengan ragu, ia mencoba memutar gagang pintu.

Klik.

Pintu itu ternyata tidak terkunci.

Kanaya membuka pintu perlahan lalu mengintip ke dalam.

Lampu kamar hanya menyisakan cahaya redup dari lampu tidur di sudut ruangan. Suasana kamar begitu tenang. Dan ternyata benar, Rafael sudah tidur.

Pria itu berbaring di atas ranjang dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya. Wajahnya tampak jauh lebih tenang dibanding biasanya. Tidak ada tatapan tajam, tidak ada ekspresi dingin yang sering ia tunjukkan sehari-hari.

Kanaya melangkah masuk pelan-pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Ia meletakkan charger laptop di atas nakas dekat ranjang Rafael.

Namun saat Kanaya berbalik hendak melangkah keluar, terdengar gumaman Rafael dalam tidurnya.

Langkahnya terhenti. Kanaya menoleh ke belakang, lalu tanpa sadar berjalan mendekati tempat tidur itu.

Wajah Rafael yang tadinya terlihat tenang kini berubah gelisah. Keningnya berkerut dalam, napasnya terdengar sedikit berat. Beberapa helai rambutnya menempel di dahi yang basah oleh keringat.

"Jangan..." gumam Rafael pelan.

Kanaya mengernyit. Ia berdiri di samping ranjang, memperhatikan pria itu dengan rasa penasaran sekaligus khawatir.

"Kak Rafael?" panggilnya lirih.

Tidak ada jawaban.

Rafael hanya menggeleng pelan dalam tidurnya. Rahangnya mengatup kuat seolah sedang menahan sesuatu.

"Jangan pergi..." gumamnya lagi, kali ini lebih jelas.

Jantung Kanaya berdegup pelan. Entah kenapa, kalimat sederhana itu terdengar begitu menyedihkan.

Ia teringat ucapan Keisya beberapa waktu lalu tentang kecelakaan yang menimpa orang tuanya membuatnya merasa bersalah. Tentang luka dan penyesalan yang pernah dialami Rafael hingga membuatnya menjadi pribadi yang dingin dan sulit membuka hati.

Untuk sesaat, Kanaya merasa iba.

Tanpa berpikir panjang, ia berjalan mendekat dan duduk di ranjang samping Rafael. Kanaya mengusap tangannya pelan.

"Aku disini Kak.. Aku disini, tidak akan pergi." lirih Kanaya.

Sentuhan lembut itu membuat Rafael sedikit tenang. Kerutan di dahinya perlahan mengendur meski matanya masih terpejam.

Kanaya hendak menarik tangannya, namun tiba-tiba—

Bruk.

Tangannya ditangkap oleh Rafael.

Kanaya membelalak.

Rafael masih tertidur, tetapi genggamannya cukup erat seolah takut kehilangan seseorang.

"Jangan tinggalkan aku..." bisiknya serak.

Kanaya terpaku.

Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit dijelaskan. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Rafael yang sama sekali berbeda dari pria tegas, dingin, dan selalu terlihat kuat di hadapan semua orang.

Di hadapannya sekarang hanyalah seseorang yang tampak sangat lelah dan menyimpan banyak luka.

"Dasar..." gumam Kanaya pelan.

Tatapannya melunak.

Ia tidak langsung melepaskan genggaman itu. Hanya duduk perlahan di tepi ranjang, membiarkan Rafael menggenggam tangannya sambil menunggu pria itu kembali tenang dalam tidurnya.

Namun, rasa kantuk yang sedari tadi ditahannya perlahan mulai menyerang.

Kanaya beberapa kali menguap sambil duduk di tepi ranjang. Hari itu benar-benar melelahkan. Sejak pagi ia berkutat dengan kuliah, tugas, dan berbagai hal yang menguras tenaga.

Ia melirik jam di meja nakas.

Sudah lewat tengah malam.

Kanaya berniat bangun dan kembali ke kamarnya. Namun setiap kali mencoba menarik tangannya, Rafael justru menggenggamnya lebih erat dalam tidurnya.

"Aku cuma mau balik ke kamar, tahu..." gumam Kanaya pelan.

Tentu saja Rafael tidak menjawab.

Kanaya menghela napas pasrah. Ia akhirnya menyandarkan tubuh di kepala ranjang, berniat memejamkan mata sebentar sebelum kembali ke kamar.

Hanya sebentar.

Begitu pikirnya.

Namun kelopak matanya terasa semakin berat. Suara pendingin ruangan yang berdengung pelan dan suasana kamar yang tenang membuat rasa kantuk semakin sulit dilawan.

Tanpa sadar, kepalanya mulai terangguk-angguk.

Beberapa menit kemudian, tubuhnya perlahan merosot ke samping.

Kanaya tertidur.

Kepalanya bersandar di dekat bahu Rafael, sementara tangan mereka masih saling terhubung dalam genggaman yang tidak pernah terlepas.

Di tengah tidurnya, Rafael yang masih belum sepenuhnya sadar bergerak pelan. Entah karena refleks atau mencari kenyamanan, ia sedikit mendekat.

Kini jarak mereka hanya beberapa senti.

Napas keduanya terdengar teratur memenuhi kamar yang sunyi.

Malam itu, tidak ada pertengkaran, tidak ada tatapan kesal, dan tidak ada perdebatan seperti biasanya.

Hanya dua orang yang tanpa mereka sadari sedang berbagi kehangatan dalam tidur yang damai.

Sementara di luar jendela, cahaya bulan menerobos tirai tipis kamar, menyinari sosok Rafael dan Kanaya yang tertidur berdampingan hingga larut malam.

* * * *

1
Noey Aprilia
Ya suami kutub lh,apa lg.....🤣🤣🤣....
Noey Aprilia
Mskpn klkas,tp ttp prhtian....
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
Noey Aprilia
Rafael nih tipe2 kulkas,tp aslinya prhtian....dia ga tau msti brskap ky gmna,mkanya kya acuh gt....tp ykin bgt kl bntr lg dia bkln bucin parah....
Noey Aprilia
Kanaya....tau ga kl sbnrnya km yg nyosor dluan?????🤭🤭🤭....
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Noey Aprilia
Enth spa yg bkln bucin dluan....ga sbr aja nunggu mreka mesra,trs bkin sng mntan nangis guling2...
Noey Aprilia
Hai kk...
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣
Noey Aprilia: Sama2....smngttt...😘😘😘
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!