Pernikahan Yang Rumit, Cinta yang Rumit dan Hati yang juga ikut Rumit!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Sore harinya, mendung tipis mulai menggelayuti langit Jakarta Selatan, membawa hawa sejuk yang perlahan merayap masuk ke dalam sela-sela pilar neoklasik Maheswara. Alyssa baru saja selesai memeriksa dokumen inventaris dapur yang dikirimkan oleh Bi Marta ketika ia mendengar deru mesin mobil sport yang menderu nyaring di pelataran depan.
Rasa ingin tahu taktisnya menuntun Alyssa untuk melangkah menuju ruang tamu sekunder yang menghadap langsung ke arah taman samping. Baru saja ia melewati pembatas ruangan, langkah kakinya mendadak terhenti.
Di sana, berdiri seorang pria yang sangat ia kenali dari konfrontasi visual di katedral kemarin.
Arsen Maheswara.
Sepupu kandung Alvaro itu sedang berdiri santai di dekat jendela besar, mengenakan setelan kasual mewah berwarna abu-abu terang tanpa dasi. Tangan kanannya bertumpu pada tongkat jalan berkepala perak berkilau yang selalu menemaninya. Begitu menyadari kehadiran Alyssa, Arsen langsung membalikkan tubuhnya. Sebuah senyuman ramah yang tampak begitu tulus dan hangat seketika merekah di wajahnya yang rupawan.
"Ah, Kakak Ipar," sapa Arsen, suaranya terdengar renyah, bersahabat, dan dipenuhi intonasi yang begitu menyenangkan di telinga. Ia melangkah maju dengan sedikit pincang, namun tetap mempertahankan keanggunan seorang Maheswara. "Selamat sore. Maaf jika kedatanganku yang mendadak ini mengejutkanmu. Aku hanya ingin mengantarkan berkas ucapan selamat dari beberapa kolega bisnis luar negeri yang salah kirim ke divisiku."
"Selamat sore, Arsen," jawab Alyssa, suaranya jernih, tenang, dan terjaga rapi. Ia menerima map kulit yang disodorkan Arsen dengan senyuman formal yang tak kalah manis.
Berbeda dengan Alvaro yang selalu memancarkan aura intimidasi yang pekat dan terang-terangan seperti badai es, Arsen adalah kebalikannya. Pria ini tampak seperti oase yang hangat di dalam keluarga Maheswara yang kaku. Cara bicaranya yang santun dan senyum ramahnya yang konstan seolah didesain untuk membuat siapa pun di dekatnya merasa nyaman dan menurunkan pertahanan mereka.
Namun, Alyssa bukan wanita biasa yang mudah terkecoh oleh kemasan luar.
Sifat cerdas dan analisis tajamnya langsung menyala. Saat mata jeli Alyssa beradu dengan sepasang manik mata Arsen, nalurinya sebagai seorang Pradipta yang terbiasa hidup di dunia bisnis yang kejam mendadak mengirimkan sinyal bahaya yang kuat. Ada sesuatu yang salah di sini. Di balik binar matanya yang tampak ramah dan bersahabat, Alyssa bisa menangkap kilat kepalsuan yang sangat tipis sebuah topeng sempurna yang menyembunyikan ambisi berbahaya dan dingin yang siap menerkam kapan saja.
"Bagaimana malam pertamamu di *mansion* ini, Alyssa?" tanya Arsen, nadanya terdengar seperti seorang adik sepupu yang perhatian, namun matanya bergerak taktis memperhatikan detail penampilan Alyssa, seolah mencari celah keretakan dari pernikahan mendadak ini. "Kuharap Alvaro memperlakukanmu dengan baik. Sepupuku itu... terkadang lupa bagaimana cara bersikap manis pada seorang wanita cantik."
Alyssa menarik sudut bibirnya tipis, menyunggingkan senyuman anggun yang sarat akan kalkulasi. "Tuan Alvaro memperlakukan saya dengan sangat baik dan penuh penghormatan, Arsen. Anda tidak perlu khawatir."
"Benarkah?" Arsen terkekeh pelan, sebuah tawa ringan yang terdengar janggal di telinga Alyssa. Pria itu maju satu langkah lebih dekat, bertumpu pada tongkat jalannya, lalu merendahkan volume suaranya hingga terdengar seperti bisikan rahasia. "Tapi burung-burung kecil di rumah ini berbisik hal yang berbeda pagi ini. Mereka bilang... sang pengantin wanita menghabiskan malam sendirian di sayap kanan."
Insting Alyssa ternyata benar.
Senyum ramah Arsen barusan hanyalah umpan, dan kini sang predator mulai menunjukkan taringnya yang beracun. Pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi, melainkan sebuah serangan taktis untuk menguji seberapa kuat fondasi sandiwara yang ia bangun bersama Alvaro. Arsen sedang mencoba menguliti rahasia pernikahan kontrak mereka demi ambisi pribadinya untuk menggulingkan posisi Alvaro dari takhta Maheswara Group.
Sifat berani Alyssa seketika membakar habis keraguan di dalam dirinya. Ia tidak berkedip sedikit pun, menatap lurus ke dalam sepasang mata Arsen dengan kilat perlawanan yang tajam dan tak gentar. Musuh sejati dalam keluarga ini telah resmi menampakkan dirinya di hadapan Alyssa, dan babak permainan baru yang jauh lebih kotor baru saja dimulai.
...****************...
Alyssa tidak membiarkan senyumnya pudar sedikit pun. Sifat taktisnya justru bekerja lebih cepat di bawah tekanan. Ia melangkah maju satu tapak, memangkas jarak intimasi yang sengaja diciptakan Arsen, lalu menatap lurus ke dalam manik mata pria itu dengan binar jenaka yang meremehkan.
"Burung-burung kecil di rumah ini sepertinya butuh diajari cara menjaga akurasi informasi, Arsen," sahut Alyssa, suaranya terdengar begitu renyah dan penuh percaya diri. "Atau mungkin mereka tidak tahu kalau kamar di sayap kanan itu adalah pribadi yang sengaja disiapkan Alvaro untuk seluruh koleksi gaun saya? Mengingat barang-barang saya baru dipindahkan tadi malam, wajar jika saya menghabiskan waktu di sana sampai subuh untuk merapikannya."
Arsen tertegun selama satu detik. Kilat keterkejutan melintas sangat cepat di matanya sebelum kembali ditutupi oleh senyum ramah palsunya. Ia tidak menyangka wanita di hadapannya ini bisa membalas serangannya dengan begitu tenang dan memiliki jawaban yang sangat masuk akal untuk menutupi keretakan tersebut.
"Ah... begitu rupanya. Sayang sekali burung-burung itu salah lihat," Arsen terkekeh, mengetukkan ujung tongkat jalannya ke lantai marmer dengan irama yang pelan, menciptakan bunyi detak yang konstan. "Aku senang mendengarnya. Alvaro memang pria yang penuh kejutan jika menyangkut aset berharganya."
"Tentu saja. Dan sebagai sepupu yang baik, saya harap Anda fokus pada tugas Anda sendiri di perusahaan, daripada sibuk mengurusi urusan domestik kamar kami," balas Alyssa, memberikan penekanan tajam pada kata 'kamar kami' yang seolah menegaskan batas teritorial yang tidak boleh disentuh Arsen.
Arsen mundur selangkah, menundukkan kepalanya sedikit dengan gestur meminta maaf yang terkesan sangat teatrikal. "Tentu saja, Kakak Ipar. Aku tidak bermaksud lancang. Aku hanya... terlalu peduli pada kebahagiaan sepupuku."
Pria itu kemudian membalikkan badan, melangkah pergi meninggalkan ruang tamu sekunder dengan langkah pincangnya yang khas. Namun, tepat sebelum ia melewati ambang pintu, Arsen sempat menoleh sekilas. Senyum ramahnya telah hilang, digantikan oleh tatapan dingin, tajam, dan penuh ancaman yang mengonfirmasi seluruh kecurigaan Alyssa sejak awal.
Begitu sosok Arsen benar-benar menghilang dari pandangan, Alyssa melepaskan napas tajam yang sejak tadi ditahannya. Jemarinya yang memegang map kulit kiriman Arsen meremas kertas tebal itu hingga sedikit kusut.
Instingnya terbukti seratus persen benar. Arsen Maheswara adalah ular berbisa berwajah malaikat di dalam rumah ini. Pria itu tidak akan berhenti sampai ia menemukan bukti otentik bahwa pernikahan ini adalah sebuah kebohongan. Alyssa menyadari bahwa mulai detik ini, ia tidak hanya harus bertarung menghadapi kebekuan Alvaro, tetapi juga harus memasang perisai ekstra ketat untuk menghalau racun-racun manipulatif yang siap disebarkan oleh Arsen dari dalam selimut keluarga mereka sendiri.