Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin menyantet: 25
Adisty mengedikkan bahu, lalu bersedekap tangan. “Seperti yang kau dengar, dia singgah dulu di restoran. Benar-benar pecundang sejati, tapi sayangnya penampilannya mendukung penuh menyuguhkan sosok berkharisma dengan kata-kata sok bijaksana.”
“Kemana perginya mereka setelah si tak bertanggung jawab itu menjemput Intan?”
“Mana aku tahu. Kau cuma meminta bantuan memantaunya kala dia sampai di rumah sakit kota, setelahnya pikirkan sendiri!” Adisty melenggang pergi, dia tipikal orang yang tidak suka ikut campur urusan orang lain, selagi tidak ada sangkut pautnya dengannya.
Anggara mendengus, menyandarkan kepala pada sandaran kursi kerja. “Apa kujual saja pabrik Pangestu, biar diriku bebas tugas dan bisa lagi mengejar Intan?”
Pikiran liar dan tak masuk di nalar orang normal pun berkeliaran di kepala Anggara Pangestu. Dia mengambil ponsel di atas meja, membuka galeri khusus menyimpan foto, video Intan Rasyid yang diambil secara sembunyi-sembunyi maupun hasil curian dari data puskesmas. “Hai … cintanya abang, rindu sangatlah sampai rasanya ingin nyantet.”
Visual ~ Intan Rasyid
“Cantik sih, tapi bodoh betul. Bisa-bisanya jatuh cinta dengan suami orang. Taknya kau tahu, dan kurasa matamu perlu diperiksakan – jelas-jelas lebih tampan aku daripada Dandang itu.” Angga memandang lekat sebuah potret gadis ayu berpakaian medis, senyum Intan sungguh mempesona.
“Kenapa bukan aku yang kau manfaatkan untuk melupakan dia, mengapa malah pria masih terbelenggu masa lalu itu? Kalian benar-benar pasangan banyak kurangnya,” suaranya berubah kesal.
Hal yang dulu dia coba tahan karena menghargai privasi Intan Rasyid, kini sudah dilanggarnya. Dalam waktu singkat, ia telah mengetahui masa lalu gadis incarannya.
Pria yang dicintai Intan dalam diam, alasan mengapa sampai memilih bertunangan dengan Kamal Nugraha.
Sebenarnya bukan hal sulit mencari informasi, hanya saja Anggara Pangestu masih suka mengulur waktu sembari melakukan pendekatan secara langsung.
***
Keesokan harinya.
“Kakak yakin tak mau kubelikan sarapan lain selain roti yang kita makan tadi?” Sabiya memakai helm, bersiap hendak pergi.
“Nanti kucari sendiri di warung perempatan gang masuk kosan. Biya, hati-hati dijalan.” Tangannya terulur saat diminta sang adik mau disalami.
“Baik ... ya sudah, Biya berangkat dulu ya, Kak. Assalamualaikum.” Sabiya duduk di atas kendaraannya.
“Walaikumsalam.” Intan memperhatikan adiknya yang sudah melajukan motor matic. Ada rasa bangga dalam hati melihat Sabiya sudah sedewasa ini.
Lamunan Intan terganggu ketika ponsel dalam genggamannya berbunyi. Sebuah pesan mengantri untuk dibuka, berbaris rapi dengan belasan lainnya.
Intan membukanya, membaca sekilas. Chat Kamal Nugraha hampir serupa, menanyakan kabar, meminta bertemu.
“Assalamualaikum,” sapanya lebih dahulu.
“Walaikumsalam. Kau baik-baik saja kan, Intan?” suara Kamal terdengar parau.
“Alhamdulillah, iya.”
“Kau dimana? Di tempat Sabiya atau sudah pulang ke puskesmas desa? Bisa kita bertemu?” tanyanya beruntun, penuh harap.
“Satu jam lagi datanglah ke kosannya Sabiya,” Intan tidak mau menghindar, sudah waktunya dia tegas.
Terdengar suara senang tidak dapat ditutupi. Kamal menyanggupi.
Intan Rasyid masuk ke dalam bangunan indekos khusus putri, bersiap-siap seraya menunggu Kamal menjemputnya.
.
.
Satu jam kurang sepuluh menit, sebuah mobil hitam sudah berhenti di pinggir gerbang tinggi. Kali ini Kamal Nugraha tepat waktu.
Pria berkaos polos, celana jeans panjang, tersenyum hangat ketika melihat gadis cantik mengenakan abaya khaki bordir benang hitam.
“Assalamualaikum,” sapanya duduk dibalik kemudi.
“Walaikumsalam.” Intan membuka pintu mobil yang kaca jendelanya diturunkan. Diapun duduk lalu mengenakan sabuk pengaman.
“Mau kemana kita? Atau ada tempat yang ingin kau kunjungi, Intan?” tanyanya hati-hati, dapat dirasakan suasana sedikit canggung.
Intan melirik sebentar pada Kamal, kemudian kembali menatap ke depan. “Cari saja area lebih privasi. Aku yakin ada yang ingin kau sampaikan dan diriku juga masih memiliki beberapa pertanyaan.”
“Baiklah.” Kamal menekan tombol otomatis menutup jendela, lalu melajukan mobilnya.
Mereka asik dengan pikiran masing-masing, seperti orang asing yang sungkan ingin memulai obrolan.
Sewaktu memasuki jalan tol, dan laju mobil jauh lebih kencang – Intan memandang rumah penduduk, langit cerah.
Kamal sendiri fokus pada jalanan, sesekali melirik ke samping kiri – tunangannya sama sekali tidak melihat ke arahnya. Mengajak ngobrol pun enggan.
Dua puluh menit kemudian, mobil mewah itu telah terparkir di area khusus. Sepasang insan keluar, dan berjalan beriringan ke tepian danau buatan. Mereka duduk di kursi taman, di bawah ranting pohon rindang.
“Apa kau ingin makan sesuatu?” Kamal menoleh, sementara Intan memandang burung bangau hinggap di pohon bakau tengah-tengah danau.
“Tidak. Kalau kau lapar, pesan saja. Biar ku temani makan,” jawabnya tanpa menoleh.
Kamal pun enggan beranjak, dia tadi sudah sarapan bersama adiknya.
“Mengapa kita seasing ini?” tanyanya, ikut melihat kilauan air terpapar sinar matahari pagi.
Sebelah bibir Intan tertarik ke atas, menerbitkan senyum miring. “Mungkin perasaanmu saja, atau kau masih menyimpan sesuatu sehingga merasa tak nyaman berdekatan denganku?”
“Aku sudah menyelesaikan masalah mereka,” katanya yakin.
Intan memalingkan wajah, mencari kejujuran pada netra hitam Kamal Nugraha. “Benarkah?”
Anggukan mantap membuat sang wanita menatap lekat.
“Nuha … tak adil rasanya bila aku menuntut cinta kepadamu, sementara diriku sendiri sama sekali tidak menyatakan perasaan apapun,” ucapnya pelan.
“Aku dan dirimu tak jauh berbeda, dan ya … kita salah melabuhkan hati kepada insan telah dimiliki. Meskipun rasa itu hadir jauh sebelum mereka menjadi pasangan seseorang. Nuha, jujur … aku memiliki sejumput lebih dari sekadar rasa suka, sayang kepadamu. Semenjak kita bertunangan, diriku belajar mencintaimu walaupun hasilnya masih mengecewakan,” jujurnya sungguh-sungguh.
Pengakuan gamblang tentang rasa dari wanita yang telah di kenal sedari bayi, membuat Kamal menahan napas. Ia kira Intan menganggapnya tak lebih dari sahabat, calon suami.
“Kau serius?” tanyanya masih belum sepenuhnya mempercayai indera pendengarannya.
“Sangat serius. Kau tahu betul kalau aku memiliki ego tinggi, dan rasa malu pun tak kalah mendominasi. Apa mungkin demi membuatmu terkesan, sampai rela diriku menjatuhkan dua hal kupegang teguh itu?” Ia tersenyum lembut, sorot matanya berbinar.
“Kita telah berjanji, bila berjodoh – ingin mencontoh orang tua kita yang saling menjaga, menghargai, dan mencintai. Dari sana lah aku bertekad menumbuhkan rasa cinta agar tercipta keluarga bahagia,” aku nya mengesampingkan rasa malunya.
Sudut mata Kamal berair sampai pandangannya mengabur. Susunan kata telah sampai di ujung lidah tercerai berai. Entah mengapa rasa bersalah mulai merayapi hati, membuatnya tersenyum dengan bibir bergetar.
“Nuha, kali ini aku memilih percaya kepadamu. Tolong jangan kau kecewakan lagi, sebab takkan ada namanya pemakluman bila sampai kutahu kau berbohong, berbuat hal diluar batas. Bisa kah?”
"Aku usahakan, dan akan pergunakan sebaik mungkin kesempatan ini," jawabnya pelan seraya menatap lembut.
"Kamal Nugraha, boleh tak aku meminta hal serupa seperti yang telah diri ini usahakan? Belajar lah mencintaiku, supaya tidak lagi ada keraguan disaat rencana pernikahan kita semakin dekat? Dan ... mari kita coba menggeser nama mereka, keluar dari bayang-bayang sosok tak pantas kita kagumi. Apa kau bersedia, Nuha?"
.
.
Bersambung.
legaaaaa meskipun belum tuntas kecewaku,,
setidaknya keluarga besar sudah otw ke hunian ayah tua
sikamal suka SMA siapa sich
ingat akn ada balasan... dri setiap prbuatan burukmu...🙄🙄