NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dilemA

Raka menjambak rambutnya frustrasi.

“Iya, Mah. Aku bohong.”

Suaranya terdengar berat.

“Sebenarnya, selama ini Nadia hanya aku beri lima juta setiap bulan.”

“Lalu ke mana sisa uang lima juta itu, Raka?” tanya Yuni.

Ini juga sebenarnya ingin ditanyakan Nadia.

Uang itu aku berikan pada Ratna, ucap Raka dalam hati.

Namun, di permukaan ia berkata, “Uang itu aku tabung, Mah, buat masa depan kita.”

“Kalau kamu tabung, kenapa sekarang kamu tidak punya uang untuk membayar study tour Nanda?” desak Yuni.

Raka melihat ibunya dengan pandangan sendu.

Yuni tahu Raka sedang berbohong, dan ia sudah menebak kalau uang itu pasti untuk Ratna.

“Kamu depositokan?” tanya Yuni, memberi jalan keluar untuk Raka.

“Iya, Bu. Uangnya aku depositokan.”

Suasana mendadak hening. Sebenarnya, baru kali ini rumah ini berdebat masalah uang karena selama ini mereka diam saja, seolah baik-baik saja. Padahal, uang Nadia-lah yang selama ini menambal kekurangan pengeluaran rumah.

Raka menatap ibunya.

“Mah, dulu Mamah yang bilang Nadia boros. Mamah juga yang bilang biar pengeluaran rumah tangga Mamah saja yang kelola.”

Ia menarik napas panjang.

“Semua pengeluaran rumah aku serahkan pada Mamah. Tapi kenapa Mamah tidak bayarkan? Kenapa jadi Nadia yang bayar, Mah?”

Raka menatap ibunya dengan putus asa.

“Mah, Nadia pasti selama ini nombok untuk membayar semua pengeluaran, Mah. Kita sudah sepakat kalau uang Nadia itu hanya untuk dirinya karena dia sudah menjaga Nanda dengan baik, Mah.”

Tatapan Yuni langsung menajam.

“Raka!” bentak Yuni. “Terus sekarang kamu mau menyalahkan Mamah dan mempersoalkan uang yang ada pada Mamah?”

Tatapan Yuni semakin tajam.

“Aku ini Mamah kamu, orang yang melahirkan kamu, Raka.”

Raka terdiam. Dalam hati ia ingin menjawab, Aku juga tidak pernah minta Ibu melahirkan aku.

Yuni menepuk dadanya sendiri.

“Sepuluh juta itu terlalu kecil dibanding setetes darah yang keluar saat saya melahirkanmu.”

Lalu tatapannya beralih kepada Nadia.

“Dan kamu, Nadia.”

Nada suaranya dingin.

“Kamu menumpang di rumah ini. Belum juga memberikan cucu untuk saya. Jadi sudah sewajarnya kamu membantu keuangan Raka, jangan jadi beban di rumah ini.”

Tatapan Yuni menajam pada Nadia.

“Hanya karena kamu tidak diajak liburan, kamu marah lalu berubah sikap dan tidak mau lagi membantu keuangan Raka.”

Yuni mendekat kepada Nadia.

“Kenapa, Nadia? Kenapa?”

Biasanya, menghadapi kemarahan ibu mertuanya, Nadia akan menunduk. Namun, kali ini tidak.

Nadia berkata dengan tenang, “Aku lelah dibohongi terus.”

Raka kembali menjambak rambutnya sendiri.

“Nadia, aku minta maaf. Aku sedang punya cita-cita, Nadia. Aku akan membangun usaha kecil-kecilan, makanya jatah uang belanja kamu aku kurangi. Tolong mengertilah, Nad. Jangan seperti anak kecil begini. Dan aku janji, semua pengeluaran kamu akan aku ganti, akan aku cicil,” ucap Raka.

Nadia mengembuskan napas berat.

“Aku tidak sedang bicara masalah uang, Mas. Kapan aku pernah protes soal uang?”

“Lalu apa, Nad?” tanya Raka.

Nadia menatap Raka dan Yuni bergantian.

“Kemarin kalian pergi ke Bogor untuk apa?”

Raka buru-buru menjawab.

“Nad, aku sudah bilang, ada urusan kantor—”

“Sudah, Raka.”

Yuni mengangkat tangan, menghentikan putranya.

Ia memandang Nadia lekat-lekat.

“Sepertinya kamu sudah mengetahui semuanya.”

Nadia menarik napas panjang.

“Aku hanya ingin mendengar jawaban jujur.”

Raka tampak gelisah.

“Mah…”

Namun, Yuni mengabaikannya.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Raka memang menikah dengan Ratna.”

Kalimat itu meluncur begitu saja.

Datar.

Seolah yang dibicarakan hanyalah hal biasa.

Mata Raka membelalak.

Ia menoleh kepada ibunya dengan wajah tak percaya.

Padahal, beberapa jam sebelumnya, Yuni sendiri yang memintanya menyembunyikan hal itu dari Nadia.

Nadia sebenarnya sudah mengetahui kebenaran itu.

Namun, mendengarnya langsung dari bibir ibu mertuanya tetap terasa menyakitkan.

Seperti ribuan duri menusuk dada secara bersamaan.

Tetapi, di permukaan, Nadia tetap terlihat tenang.

Ia hanya mengembuskan napas panjang.

“Benar, kan?” tanya Yuni. “Kamu sudah tahu.”

“Ya,” jawab Nadia pelan. “Aku sudah tahu.”

Raka dan Yuni sama-sama mengembuskan napas lega.

Seolah beban berat baru saja terangkat dari pundak mereka.

Keheningan menyelimuti ruang tamu.

Yuni kembali angkat bicara.

“Nadia, Ibu harap kamu bersikap dewasa.”

Nada suaranya lembut, tetapi setiap kata terasa seperti pisau.

“Raka satu-satunya anak laki-laki Ibu. Dia harus punya keturunan.”

Nadia mengangkat wajah.

“Dokter mengatakan aku sehat, Bu.”

“Tapi sampai sekarang kamu masih belum punya anak, Nadia,” ucap Yuni.

“Mas Raka yang selama ini belum pernah mengecek kesehatannya,” ucap Nadia.

“Raka sehat, Nadia. Dan dia normal karena….”

Raka buru-buru memotong.

“Karena aku sering cek kesehatan, Nad. Setiap tahun kantor mengadakan medical check-up.”

Yuni menyandarkan tubuhnya ke sofa.

“Pokoknya Raka sehat, Nad,” ucap Yuni. “Usiamu sudah tiga puluh tahun. Tahun depan tiga puluh satu. Itu bukan usia ideal untuk hamil.”

Nadia tersenyum tipis.

“Ratna hanya berbeda dua bulan dariku. Bahkan dia lebih tua.”

Yuni nyaris menjawab.

“Itu karena Ratna—”

Kalimatnya terputus saat Raka menatapnya tajam.

Nadia menangkap perubahan ekspresi itu.

“Karena apa, Bu?”

Tatapannya beralih kepada Raka.

“Atau jangan-jangan Ratna memang sudah kamu hamili duluan, Mas?”

“Astagfirullah, Nadia.” Raka menggeleng cepat. “Aku tidak sejahat itu.”

Namun, Nadia justru memerhatikan Yuni.

Perempuan itu tidak tampak marah.

Tidak tampak terkejut.

Dan itu cukup untuk membuat hati Nadia semakin dingin.

Setahu Nadia, Yuni sangat menjaga nama baik Raka. Siapa pun yang menuduh Raka, Yuni pasti akan marah. Namun, kali ini ekspresinya biasa saja.

Yuni kembali berbicara dengan lembut.

“Nadia, Ibu tahu ini berat. Ibu juga wanita. Tapi Ibu juga seorang ibu yang harus memastikan anak Ibu punya keturunan. Jadi, kamu terimalah bahwa Raka sudah menikah lagi.”

Yuni menatap Nadia dengan tenang.

“Nanda sangat dekat dengan kamu.”

“Nanda membutuhkan kamu.”

“Dan Raka juga membutuhkan kamu.”

Ia menatap Nadia dengan sorot penuh tekanan.

“Poligami tidak dilarang, Nadia. Raka butuh keturunan. Nanda juga butuh kasih sayangmu.”

Yuni menatap Nadia. Kali ini tatapannya tenang.

“Ibu harap kamu bisa menerima keadaan ini.”

Nadia menunduk.

Bagi orang lain, keputusan ini mungkin terlihat sederhana.

Dikhianati.

Maka bercerailah.

Selesai.

Dan membangun kehidupan baru. Lagi pula, Nadia bukan perempuan miskin yang bergantung pada suami. Maka, bercerai adalah pilihan yang paling tepat.

Namun, hidup Nadia tidak sesederhana itu.

Ada Nanda.

Ada gadis kecil yang memanggilnya Bunda.

Ada tangan mungil yang setiap malam memeluk lehernya.

Ada wajah polos yang tak pernah tahu bahwa dunia orang dewasa bisa begitu kejam.

Nadia teringat bagaimana Nanda tertawa dalam pelukan Raka.

Bagaimana gadis kecil itu berseru ingin Papah dan Bundanya selalu bersama.

Sejak tahu Raka berkhianat, rasa cinta Nadia kepada Raka sudah hilang. Rasa hormatnya kepada ibu mertuanya pun lenyap.

Tetapi, pada Nanda…

Ah, itu yang paling berat.

1
Anonim
Lanjut up thor seru
Anonim
Tobat lah sama kebegoan si nadia
Anonim
Yeay emang enak di jadikan pengasuh gretongan,jadi cewe ko oon sih gampang di boongin
Listiyawati Rinda
lanjut kak
Suanti
nadia prgi dri rmh tinggal gugat cerai raka
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭
Anonim
Sumpah nadia bloon nya kebangetan thor,jangan buat perempuan jadi bodoh thor buat pinteran dikit gitu🤭
Suanti
mungkin isi flashdisk tentang ratna melahirkan nanda 🤭 ayok nadia nonton flashdisk nya biar tau apa isi nya 🤣
Inarrr Ulfah
KLO benr percuma kamu mati2an bertahan demi Nanda,,jgn bodoh nadia
Inarrr Ulfah
bukti Nanda anak nya Ratna dan Raka...
Adinda
mungkin bukti kalau nanda anaknya ratna
falea sezi
cepet urus cerai😒 jangan bego klo Nanda anak Ratna g usa di bawa ngapain ngurus anak jalang
Suanti
nadia klu mau prgi dari rmh sendri aja klu bawa nanda pasti di cari sama raka karna bawa ank nya 🤭
lLy trililly
udh nadia bruan pergi
falea sezi
🤣🤣 goblok mau pergi ya pergi cerai dlu ngapain ngajak anak angkat goblok nya🤣
Anonim
Ampun deh gemes banget sama si nadia bloon nya belum ilang,biarin aja nanda sama bapak nya biar si nanda tau beda nya ibu sama bapak kek mana kalau ngurusin anak
Adinda
tes DNA Makanya biar tau
Suanti
nadia mau prgi. prgi aja sendri ngapain bawa nanda yg ada nanti kamu di lapor kan sm keluarga toxin menculik ank 🤭
Machmudah: setuju, toh kl Nanda ditinggal sm mereka aman2 saja, mereka sayang Nanda cm caranya didiknya sj yg gak banget.....udah pergi aja Nadia lepasin aja para toxic itu
total 1 replies
siswati etty
tunggu apa lagi Nadia .....polos apa bodoh sih ....keluar rumah gak akan dianggap kalah klo kamu punya rumah sendiri dah cepet pindah dah gak diinginkan jd gk perlu maksa tinggal meski ada alasan krn Nanda
Suanti
segera keluar dri rmh nadia kalau lama2 di rmh raka yg ada kamu lihat ratna bermesraan sm raka pasti kamu sakit hati 🤭
Anonim
Bloon bloon si nadia ampun dah ,tegas donk sama pelakor ko diem bae sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!