NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji yang Tidak Bisa Ditarik

Pagi datang dengan suara yang berbeda.

Bukan deru mobil, bukan dering telepon. Hanya burung-burung yang saling menyahut dari pepohonan di sekitar vila, seolah dunia sedang mencoba menenangkan diri setelah berhari-hari berlari. Carmela terbangun lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang, menyentuh lantai dingin dengan telapak kakinya, membiarkan pikirannya menyusun ulang malam-malam terakhir.

Semua terasa terlalu cepat. Terlalu padat. Dan anehnya—terlalu jelas.

Matteo masih terlelap. Wajahnya tampak lebih muda saat tidur, garis keras di rahangnya melunak. Carmela menatapnya lama. Ia mencintai lelaki ini, bukan karena kekuasaan atau perlindungan, tetapi karena cara ia memilih bertahan saat segalanya meminta untuk lari.

Carmela berdiri, berjalan ke jendela. Kabut tipis menggantung di halaman. Ia tahu hari ini akan menjadi hari yang sunyi—dan justru karena itu berbahaya. Hari sunyi memberi ruang bagi keputusan yang tak bisa ditunda.

Telepon bergetar pelan di meja samping. Satu pesan masuk.

Lorenzo: Jika kamu ingin mengakhiri lingkaran ini, kita harus bicara hari ini. Sendiri.

Carmela menutup mata sejenak. Lingkaran. Kata itu menempel seperti simpul. Ia menghapus pesan itu dari layar tanpa membalas, lalu menyimpan ponsel ke saku jubahnya. Tidak sekarang. Tidak tanpa Matteo.

Matteo bangun beberapa menit kemudian. Ia menemukan Carmela di dapur, menyiapkan sarapan sederhana. Ia tersenyum kecil—kehangatan yang jarang muncul di tengah perang sunyi mereka.

“Kamu kelihatan seperti seseorang yang sudah membuat keputusan,” katanya.

Carmela menoleh. “Aku sedang menyusunnya.”

Matteo duduk, menatapnya hati-hati. “Keputusan biasanya datang dengan konsekuensi.”

“Aku tahu,” jawab Carmela. “Makanya aku ingin kita membuatnya bersama.”

Matteo terdiam. Ia terbiasa memikul keputusan sendirian. Mendengar kata bersama selalu terasa seperti janji yang terlalu rapuh untuk dipegang—dan terlalu berharga untuk dilepas.

“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Matteo akhirnya.

Carmela meletakkan cangkir, lalu duduk berhadapan dengannya. “Kita terlalu fokus bertahan. Itu membuat kita reaktif. Aku ingin kita mengunci arah.”

Matteo mengangkat alis. “Arah ke mana?”

“Ke depan,” jawab Carmela. “Dengan satu langkah yang membuat semua orang tahu: kita tidak akan dipisahkan oleh rumor, tekanan, atau ancaman yang disamarkan.”

Matteo memutar sendok di cangkirnya. “Langkah seperti itu selalu mengundang serangan.”

“Ya,” kata Carmela. “Tapi juga menghentikan permainan setengah-setengah.”

Keheningan jatuh. Matteo menimbang dengan caranya sendiri—menghitung risiko, memeriksa celah. Lalu ia menatap Carmela, lebih lama dari biasanya.

“Katakan.”

Carmela menarik napas. “Aku ingin kita membuka satu hal yang selama ini kita sembunyikan—bukan untuk publik luas, tapi untuk lingkaran yang tepat. Transparansi terukur. Kita tentukan apa yang diketahui, kapan, dan oleh siapa.”

Matteo menyipitkan mata. “Kamu ingin menguras rawa.”

“Aku ingin mengeringkannya,” koreksi Carmela. “Rawa ada karena rahasia yang dibiarkan tumbuh.”

Matteo tersenyum tipis. “Kamu tahu itu akan menyentuh masa laluku.”

“Aku tahu,” jawab Carmela lembut. “Dan aku tidak meminta kamu sendirian.”

Matteo menutup matanya sejenak. Ketika ia membukanya, ada keputusan di sana. “Baik. Tapi ada satu syarat.”

“Apa?”

“Jika kita melangkah, kita tidak saling menyembunyikan apa pun lagi. Tidak setengah.”

Carmela mengangguk. “Setuju.”

Mereka saling menatap. Janji itu tidak diucapkan keras—tetapi terasa seperti kontrak yang ditandatangani oleh napas.

Langkah pertama dimulai siang hari.

Matteo mengundang dua orang kepercayaannya—bukan penjilat, bukan pengikut lama. Orang-orang yang terbukti setia pada kebenaran yang pahit, bukan kenyamanan. Carmela ikut duduk di ruangan itu. Tidak sebagai hiasan. Sebagai mitra.

Mereka membuka berkas yang selama ini tertutup rapat. Tidak semuanya—cukup untuk mengubah peta. Matteo berbicara tenang, Carmela meluruskan detail, mengajukan pertanyaan yang memaksa semua orang berpikir ulang.

Di tengah pertemuan, satu nama muncul lagi.

“Lorenzo,” kata salah satu dari mereka. “Dia ingin bertemu.”

Matteo menatap Carmela. “Kamu sudah tahu?”

Carmela mengangguk. “Dia menghubungiku pagi ini.”

Hening. Matteo mengetuk meja pelan. “Baik. Kita dengar. Tapi di tempat netral.”

Pertemuan itu berlangsung di sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Tidak ada pengawal yang mencolok. Tidak ada kamera. Hanya tiga kursi dan kopi yang mendingin.

Lorenzo datang lebih dulu. Ia berdiri saat mereka masuk. Wajahnya lelah, tapi matanya jujur—atau setidaknya berusaha jujur.

“Aku tidak punya banyak waktu,” katanya tanpa basa-basi. “Dario sedang mengonsolidasikan dukungan terakhir.”

Matteo duduk, menyilangkan tangan. “Kenapa aku harus percaya?”

“Karena aku tidak minta pengampunan,” jawab Lorenzo. “Aku minta kesempatan untuk menutup kesalahan.”

Carmela memperhatikan, membaca jeda, nada, cara Lorenzo menghindari tatapan saat menyebut nama tertentu. Ia berbicara pelan. “Kesalahan apa yang ingin kamu tutup?”

Lorenzo menelan ludah. “Aku menjadi penghubung. Bukan otak. Aku menyampaikan pesan, menunda informasi. Cukup untuk melemahkan—tidak cukup untuk menjatuhkan.”

Matteo mengangguk dingin. “Dan sekarang?”

“Sekarang aku ingin keluar,” kata Lorenzo. “Dan satu-satunya cara adalah memutus jalur.”

Ia meletakkan flash drive di meja. “Semua yang aku punya. Nama, waktu, rute.”

Carmela menatap Matteo. Tidak meminta izin—meminta kepercayaan. Matteo menatap balik, lalu mengangguk.

Carmela mengambil flash drive itu.

“Kamu tahu,” kata Carmela kepada Lorenzo, “ini tidak membuatmu aman.”

“Aku tidak mencari aman,” jawab Lorenzo. “Aku mencari selesai.”

Malam datang lebih cepat dari yang mereka harapkan.

Data itu nyata. Bersih. Menyakitkan. Rantai yang selama ini samar kini terlihat jelas. Matteo dan Carmela bekerja berdampingan, menyusun ulang langkah. Tidak ada suara tinggi. Tidak ada perintah sepihak.

Di sela pekerjaan, kelelahan merambat. Carmela bersandar di kursi, memijat pelipis. Matteo menghampiri, meletakkan tangan di bahunya—sentuhan ringan yang berkata aku melihatmu.

“Kita bisa berhenti sebentar,” katanya.

“Sebentar,” setuju Carmela.

Mereka keluar ke teras. Udara malam dingin, tapi bersih. Kota berkilau di kejauhan, tak tahu apa-apa tentang perang kecil yang dipertaruhkan di sini.

“Matteo,” kata Carmela, memecah hening. “Jika langkah ini gagal—”

“—kita akan jatuh bersama,” sambung Matteo. “Aku tahu.”

Carmela menatapnya. “Aku tidak takut jatuh. Aku takut menjadi alasan.”

Matteo menggeleng pelan. “Kamu bukan alasan. Kamu kompas.”

Kata itu menancap. Carmela merasakan sesuatu mengendur di dadanya—ketegangan yang ia simpan terlalu lama.

Konsekuensi datang keesokan harinya.

Bukan dalam bentuk serangan, melainkan jarak. Beberapa pintu tertutup. Beberapa panggilan tak terjawab. Dunia bereaksi terhadap transparansi dengan cara yang paling manusiawi: ragu.

Matteo menerima kabar buruk menjelang siang. Satu mitra lama menarik diri. Satu proyek ditunda. Satu janji dibatalkan.

Carmela mendengarkan tanpa menyela. Saat Matteo selesai, ia bertanya satu hal. “Apa yang masih tersisa?”

Matteo menatapnya. “Yang jujur.”

“Cukup,” kata Carmela. “Untuk memulai ulang.”

Matteo tersenyum kecil. “Kamu selalu melihat fondasi saat orang lain menghitung dinding.”

Sore itu, mereka membuat pengumuman terbatas—bukan pembelaan, bukan serangan. Pernyataan singkat tentang arah, nilai, dan batas. Tanpa drama. Tanpa menyebut nama.

Hasilnya tidak instan. Tapi satu hal berubah: narasi berhenti bocor.

Malam turun dengan tenang yang aneh. Vila terasa lebih lapang. Lebih jujur.

Matteo dan Carmela duduk di ruang kerja, lampu redup. Tidak ada berkas. Tidak ada layar. Hanya dua gelas air dan keheningan yang tidak mengancam.

“Ada satu hal lagi,” kata Matteo pelan. “Keputusan ini… mengikat kita di mata banyak orang.”

Carmela mengangguk. “Aku tahu.”

“Jika kamu ingin mundur—”

“—aku tidak akan,” potong Carmela lembut. “Bukan karena berani. Karena jelas.”

Matteo menatapnya lama. Lalu ia berdiri, mengulurkan tangan. Carmela meraihnya. Mereka berdiri berhadapan.

“Ini bukan janji romantis,” kata Matteo. “Ini janji kerja keras.”

Carmela tersenyum kecil. “Janji yang paling aku percaya.”

Matteo menghela napas, lalu berkata pelan—kata-kata yang tidak ia siapkan. “Aku memilihmu. Di depan, di belakang, dan di tengah badai.”

Carmela merasakan matanya panas. “Aku memilihmu. Tanpa cadangan.”

Mereka berpelukan. Tidak erat. Tidak lama. Tapi cukup untuk mengunci keputusan itu ke dalam tubuh.

Di kejauhan, seseorang membaca berita kecil yang lolos dari radar. Dario tersenyum tipis. Permainan belum selesai. Tapi ia tahu—papan telah berubah.

Dan di vila yang sunyi itu, dua orang berdiri di sisi yang sama, menatap hari esok tanpa ilusi. Mereka tidak lagi berharap dunia akan ramah.

Mereka hanya berjanji tidak akan berbohong satu sama lain.

Itu saja.

Dan itu segalanya.

1
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
adinda berlian zahhara: makasih banyak❤️❤️
kalo ada kritik dan saran boleh banget Kaka 🫰
total 1 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!