NovelToon NovelToon
Dendam 172

Dendam 172

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying di Tempat Kerja
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1

“Mas, orang tuaku meminta aku bercerai dengan kamu,” ucap Ratna lirih.

Kalimat itu bukan hal baru bagiku. Sudah terlalu sering ia datang, seperti hujan di musim yang seharusnya kering. Aku hanya menghela napas panjang, lalu menepuk sofa di sampingku, memintanya duduk. Ratna tidak bergerak. Ia justru melangkah ke dapur, meninggalkanku bersama pikiran yang kembali berisik.

Aku tahu, istriku tertekan. Tertekan oleh tuntutan orang tuanya yang tak pernah selesai. Harapan mereka terlalu tinggi, seolah menikahkan anak dengan seorang polisi otomatis berarti hidup bergelimang kemewahan. Padahal sudah tiga belas tahun berlalu, dan dalam pandangan mereka, anaknya tetap hidup tidak layak. Rumah kami masih sederhana. Mobil kami sudah sepuluh tahun, catnya mulai pudar, mesinnya sering batuk. Semua itu dianggap kegagalanku.

Ratna kembali membawa secangkir kopi. Seperti itulah istriku. Cantik, sederhana, dan tetap menjalankan perannya meski hatinya sedang retak. Ia duduk di sampingku, wajahnya murung, matanya menyimpan lelah yang tak sempat ia ceritakan.

“Mas, bisakah kamu seperti orang lain, korupsi atau menerima suap?” katanya pelan.

Kalimat itu menghantam dadaku lebih keras daripada teriakan. Hatiku terasa getir. Aku menatap cangkir kopi di tangannya, asapnya mengepul, lalu berkata pelan, “Kita memang hidup sederhana. Tapi selain kejujuran, apa lagi yang bisa aku banggakan dari diriku?”

Aku mengelus rambut halusnya. Rambut yang selama ini menjadi saksi doa dan kesabarannya.

“Tapi, Mas, orang tuaku selalu menuntut lebih,” suaranya bergetar.

Aku menarik napas, menatap ke depan, ke masa yang belum tentu ramah. “Itu terserah kamu. Tapi yakinlah, aku akan mempertahankan kamu. Aku akan bekerja lebih keras, dengan cara yang tetap bisa membuatku menatap cermin tanpa malu.”

Ratna terdiam. Dan di dalam diam itu, aku berharap ia masih mau bertahan bersamaku.

“Tapi, Mas,” ucap istriku pelan.

Aku menghentikan kata-katanya dengan sebuah ciuman. Dalam dan lama. Bukan karena aku tak mau mendengar, melainkan karena itulah satu-satunya obat bagi lelaki yang sedang kehabisan daya. Kata-kata sudah terlalu lelah untuk menjelaskan segalanya.

Seperti biasa, setelah dua hari kepalaku penuh oleh beban pikiran, aku menunaikan ibadah paling nikmat sebagai suami. Selama satu jam tanpa jeda, aku dan Ratna saling menguatkan dalam diam. Ketika semuanya selesai, dadaku terasa lebih lapang. Beban itu tidak benar-benar pergi, tapi setidaknya ia diam sebentar.

Ratna melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku duduk kembali di sofa, menyalakan televisi, membiarkan berita mengalir tanpa benar-benar kuperhatikan. Hingga tiba-tiba listrik padam. Rumah mendadak sunyi, hanya suara napasku sendiri yang terdengar.

Aku keluar rumah, memeriksa saklar listrik. Tidak turun. Artinya pemadaman serentak. Aku kembali masuk, meraih ponsel, membuka media sosial. Anehnya, semua menayangkan kode yang sama. Angka 172 disertai kalimat balas dendam. Beberapa aplikasi bahkan menampilkan layar serupa.

“Aplikasi judi online lagi,” gumamku. Pikiran itu terasa masuk akal di kepalaku.

Tak lama kemudian, listrik menyala kembali. Televisi hidup sendiri. Layarnya menampilkan tulisan yang sama. Aku memindahkan saluran. Tetap sama. Berita, hiburan, semuanya seragam.

“Benar-benar ulah iklan,” gumamku lagi, kali ini dengan nada kesal.

Beberapa menit berlalu. Jam menunjukkan waktu normal. Layar kembali seperti semula. Media sosial pun dipenuhi pembahasan yang sama. Kesimpulannya satu. Hanya iklan aplikasi judi online yang sedang gencar.

Ratna keluar dari kamar mandi dengan kerudung bersih. Wajahnya tampak lebih segar, lebih cantik. Ada ketenangan di matanya yang sempat hilang.

Aku menatapnya dan tersenyum kecil. Setidaknya malam ini, aku masih mampu memberi energi kehidupan padanya. Dan entah mengapa, dari situlah aku kembali merasa cukup kuat untuk bertahan.

“Mas, aku mau jemput anak-anak,” kata Ratna sambil mencium tanganku.

Aku mengangguk pelan, lalu membalas dengan mencium kepalanya. Ada kebiasaan kecil yang selalu kami jaga, sederhana tapi terasa menenangkan.

“Sudah, Mas. Anak-anak menunggu,” katanya lagi.

Ratna merapikan jilbabnya di depan cermin kecil dekat pintu, lalu melangkah keluar rumah. Pintu tertutup perlahan, meninggalkan rumah yang kembali sunyi. Aku menggulir remote, mencari saluran televisi yang sekadar bisa menemani. Entah sejak kapan, mataku terasa berat. Tanpa sadar, aku tertidur di sofa.

Sebuah kecupan membangunkanku. Bukan satu, tapi berkali-kali. Sampai mataku terasa basah. Aku membuka mata dan mendapati Tiara sudah duduk di dadaku, menciumi wajahku tanpa henti. Anak keduaku itu baru enam tahun. Masih sekolah di TK Mutiara Bangsa. Rambutnya diikat dua, wajahnya cerah, dan tawanya selalu mudah tumpah.

“Tiara, jangan ganggu ayah,” suara Ratna terdengar tegas dari arah dapur.

“Ah, cebell. Tiara kangen sama ayah,” bantahnya dengan logat cadelnya yang khas.

Ratna mendekat. “Ganti baju, bereskan tas, lalu makan,” ucapnya seperti komandan perang memberi perintah.

Tiara mencebik. Bibirnya maju, matanya melirikku seolah minta dibela. Namun akhirnya ia turun juga dari dadaku dan berjalan ke kamar, menuruti ibunya.

Tak lama kemudian, Andika muncul. Anak sulungku. Ia sudah berganti pakaian, tasnya rapi, langkahnya tenang. Kini ia duduk di kelas tujuh SMP. Berbeda dengan adiknya yang ramai, Andika pendiam. Sejak kecil ia lebih akrab dengan buku daripada mainan. Ia menyukai komputer, membaca, dan dunia yang sunyi.

Aku memandangi kedua anakku dengan perasaan yang sulit kuurai. Dalam kehidupan yang tampak sederhana dan nyaris datar, merekalah alasan paling masuk akal mengapa aku tetap memilih kejujuran dan bertahan. Namun justru dari kesederhanaan itulah keganjilan sering muncul tanpa permisi.

“Yah, kode 172 itu bukan kode main-main. Ayah harus menanggapinya dengan serius,” ucap Andika tiba-tiba.

Aku meletakkan ponsel di meja, lalu menatap wajahnya. Terlalu tenang. Terlalu matang bagi anak seusianya. “Jangan terlalu banyak membaca novel detektif, Nak. Fokuslah pada pelajaranmu,” kataku, mencoba menutup percakapan.

Andika tidak tersinggung. Ia duduk di sampingku, sikapnya terkendali, seperti seseorang yang telah menimbang kata-katanya. “Ini serius, Yah,” ujarnya.

Ia menarik napas singkat. “Tulisan itu berwarna merah, disertai kata balas dendam. Itu bukan simbol acak. Itu pernyataan.”

Aku menggeleng. “Hanya iklan aplikasi judi online.”

Andika segera menoleh. “Iklan semacam itu tidak mampu menembus siaran televisi nasional dan papan digital publik. Ini kerja seorang peretas yang memahami sistem dengan sangat baik.”

Aku mengusap kepalanya, lebih sebagai kebiasaan daripada keyakinan. “Lalu menurutmu ini apa?”

“Ancaman pembunuhan,” jawabnya singkat.

Aku tersenyum kecil. “Ancaman tidak diumumkan di depan umum. Orang yang ingin membunuh justru bersembunyi.”

“Ini bukan sekadar pembunuhan, Yah. Ini teror,” katanya tenang.

Nada suaranya tidak berubah, tetapi logikanya mengusikku. “Apa dasar keyakinanmu?”

“Seseorang yang mampu melumpuhkan jaringan listrik dan internet tidak bisa dianggap ancaman kosong, ayah sebagau polisi harus menyikapi dengan serius” jawabnya, seperti menyusun kesimpulan.

Aku menghela napas. “Cukup, Nak. Kembalilah belajar.”

“Dika,” suara Ratna memotong dari dapur.

ku merasa lega karena berhasil terhindar dari perdebatan mendalam dengan anakku. Jika percakapan itu diteruskan, mau tidak mau aku harus menanggapinya dengan lebih serius. Aku sendiri heran mengapa sejak kelas lima SD ia gemar mengkliping berita pembunuhan. Entah aku harus bersyukur atau justru merasa khawatir.

Tak lama kemudian, ponselku berdering. Pak Haris menelepon.

“Andi, kamu harus datang ke SMK Taruna Nusantara. Ada yang meninggal. Gantung diri.”

Dadaku bergetar. Sekilas pikiranku langsung mengaitkannya dengan kode 172, tetapi segera kutepis anggapan itu. Ini hanya kebetulan, kataku dalam hati. Kejadian biasa.

Namun, suara kecil di dalam diriku berkata sebaliknya. Ada sesuatu yang terasa janggal. Seolah-olah peristiwa ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari rangkaian yang saling terhubung.

1
Nurr Tika
makin penasaran
Nurr Tika
sebanarnya meraka maunya pa
Nurr Tika
sebenarnya siapa mereka
Nurr Tika
apakah mereka terlibat akan teror itu
Intan Melani
iya kan si anak y di tolong kakek
Nurr Tika
lanjut,,,,,,
Nurr Tika
diantara mereka ada yg jd mata" siapa ya, lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,,
Nurr Tika
lanjut thor semakin seru
Fitur AI
Semangat ya pak , nanti jangan lupa mampir kenovel aku hehehe...🙏😊
Fitur AI
seharus nya bersukur punya cowo begini
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
benarkah nirmala msh hidup
Nurr Tika
lanjut thor
Intan Melani
aqkya pernah baca thor kayanya y si Nirmala di buang ke jurang sama 2orang cwo. di temuin sama kakek2 terus di obati terus di ajarin bela diri bwt balas dendam.
Nurr Tika
lebih banyak dong thor up nya
Nurr Tika
bikin penasaran thor lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,, apakah ini yg bls dendam pcaranya atau ibunya.
Nurr Tika
lanjut,,,,,
Nurr Tika
makin seru lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!