NovelToon NovelToon
Obsesi Raviel

Obsesi Raviel

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Ibu Mertua Kejam / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Mafia / Iblis
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: his wife jay

Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanpa judul (6)

Wajah Raviel memerah. Rahangnya mengeras, dan buku-buku jarinya memutih saat ia mencengkeram dokumen itu erat-erat.

BRAKK!

Dokumen tersebut dibantingnya ke atas meja rapat dengan keras hingga semua orang terlonjak kaget.

“Aku tanya sekali lagi,” suaranya berat dan dingin, memenuhi seluruh ruangan. “Siapa yang membuat laporan keuangan ini?”

Ruangan langsung sunyi. Beberapa karyawan menunduk, sebagian lainnya menahan napas.

“S-saya, Pak…” seorang karyawan berdiri kaku, suaranya gemetar.

Alis Raviel terangkat. “Bukankah kamu divisi pemasaran? Sejak kapan kamu mengurus keuangan perusahaan?”

Karyawan itu menelan ludah, bingung harus menjawab apa.

Seorang wanita tiba-tiba berdiri gugup. Jemarinya memilin ujung kemejanya sendiri.

“Dia yang… menawarkan diri untuk membantu saya, Pak,” ucap Lily pelan.

Karyawan tadi langsung melotot.

“Tidak, Pak! Justru dia yang memaksa saya mengerjakannya!” bantahnya cepat.

“Hey! Jangan fitnah aku!” Lily membentak, namun suaranya terdengar jelas gugup.

“Tapi itu memang kenyataannya…” lirih si karyawan sambil menunduk takut. Sejujurnya, ia memang dipaksa. Ia sempat menolak, tapi Lily mengancamnya.

BRAKK!

“DIAM!!” Raviel menggebrak meja.

Getarannya terasa sampai ke ujung ruangan. Semua orang reflek menunduk. Bahkan Ethan pun tak berani bersuara.

Tak biasanya Raviel semarah ini. Biasanya ia hanya memberi sanksi… sekarang auranya berbeda—gelap, berat, dan mengancam.

“Jawab dengan jujur,” ucap Raviel dingin. “Kenapa kamu yang membuat laporan keuangan?”

“S-saya benar-benar dipaksa, Pak… Bu Lily bilang… kalau saya menolak, dia akan melakukan sesuatu pada saya…” katanya dengan suara lirih. Lily menatapnya geram.

“Bohong! Jangan percaya dia, Pak!” Lily buru-buru mendekat, ingin memegang tangan Raviel.

Namun Raviel menepisnya kasar hingga Lily terjatuh ke lantai.

Tatapan Raviel tajam menusuk.

“Apa gaji dari saya kurang, sampai kamu mempekerjakan orang lain untuk melakukan tugasmu sendiri?” suaranya rendah, tapi sangat tajam.

“M-maaf, Pak… saya janji tidak akan mengulanginya lagi…”

“Bullshit.”

Udara seketika membeku.

“Aku sudah cukup dengar. Hampir semua orang di divisi keuangan bilang kamu sering bermalas-malasan dan membebankan tugasmu ke orang lain. Untuk apa aku membayarmu kalau kerja saja tidak?”

Wajah Lily pucat.

“Sekarang pilih,” ucap Raviel dingin. “Kamu pergi dengan kaki sendiri… atau kubiarkan satpam yang menarikmu keluar.”

Lily terjatuh berlutut, bersujud tepat di kaki Raviel.

“Pak, saya mohon… jangan pecat saya… ini satu-satunya pekerjaan saya…”

Namun Raviel hanya memijat pelipisnya. Kepalanya terasa penuh. Masalah di kantor menumpuk, belum lagi Nara… semua itu membuat kepalanya hampir pecah.

“Ethan, bawa dia keluar. Urus surat pemberhentian kerjanya.”

“PAAK!! Saya mohon!!”

Teriakan Lily menggema, tapi tetap saja ia ditarik paksa keluar.

Setelah ruangan kembali tenang, Raviel menghela napas panjang.

“Kembali ke ruangan masing-masing. Rapat selesai.”

“Baik, Pak,” jawab para karyawan sebelum meninggalkan ruangan satu per satu. Ethan kembali masuk tak lama kemudian.

Raviel terduduk lelah, satu tangan menekan pelipisnya.

“Apa Tuan sedang sakit?” tanya Ethan hati-hati.

“Tidak. Hanya sedikit pusing.”

“Apa tuan sedang ada masalah?”

“Ya. Sedikit Dan itu membuatku benar-benar pusing.”

"apa ini ada hubungannya dengan nona Nara?”

Raviel membuka mata. Napasnya berat.

“ya, ibunya marah besar. Besok aku harus datang bersama Daddy ke rumah mereka untuk membicarakan semuanya.”

“Itu wajar, Tuan… siapapun akan marah jika tahu anaknya—”

“Sudah.” Raviel memotong, suaranya dingin. “Jangan tambah bebankan kepalaku dengan kata-kata tidak berguna. Siapkan semuanya untuk besok.”

“Baik, Tuan.” Ethan membungkuk lalu keluar.

Raviel menyandarkan tubuhnya. Dadanya terasa sesak.

Masalah pekerjaan.

Masalah Nara.

Dan besok… mungkin akan menentukan segalanya.

★★★

Pukul delapan malam.

Gedung Perusahaan Althaire tampak lengang. Lampu-lampu utama masih menyala, memantulkan kilau dingin di lantai marmer lobi. Sebagian besar karyawan telah pulang, menyisakan keheningan yang terasa berat. Langkah kaki Raviel menggema pelan saat ia berjalan keluar dari lift menuju area parkir bawah tanah.

Tangannya masuk ke saku celana. Ponselnya kembali bergetar—bukan pesan masuk, melainkan layar yang kembali gelap karena tak ada balasan.

Raviel berhenti sejenak.

Alisnya sedikit berkerut. Ia menatap layar itu lebih lama dari yang seharusnya, seolah berharap nama Nara muncul begitu saja. Tidak ada. Hanya ruang kosong yang menekan dadanya tanpa suara.

Ia menghembuskan napas lewat hidung, panjang dan berat.

Bukan pertama kalinya seseorang mengabaikannya. Namun entah kenapa, kali ini rasanya berbeda. Ada sesuatu yang menggesek kesabarannya—bukan amarah, melainkan rasa tidak nyaman yang sulit ia definisikan.

Langkahnya kembali bergerak.

Mobil hitamnya terparkir rapi di sudut. Raviel membuka pintu, lalu duduk di kursi pengemudi. Tangannya bertumpu di setir beberapa detik sebelum kunci diputar. Mesin menyala dengan suara rendah.

Brakk.

Pintu mobil tertutup sempurna.

Cahaya lampu parkiran memantul di kaca depan saat mobil itu melaju perlahan keluar dari area perusahaan. Raviel menatap lurus ke depan, rahangnya kembali mengeras.

Malam ini, ia tidak akan pulang ke mansion-nya

Keputusan itu sudah bulat sejak pagi—bahkan sebelum rapat berakhir. Ia akan pergi ke mansion ayahnya. Menghadapi semuanya secara langsung. Tidak ada lagi penundaan.

Masalah ini harus selesai.

Raviel menggenggam setir lebih erat.

Ia tidak terbiasa kehilangan kendali. Tidak terbiasa dibiarkan menunggu tanpa jawaban. Dan ia sangat tidak menyukai fakta bahwa satu gadis bisa membuat pikirannya kacau sepanjang hari.

Mobil melaju menembus jalanan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu malam berbaris seperti garis tak berujung.

Di kepalanya, satu pikiran berulang tanpa henti:

Ia ingin semuanya cepat selesai dan raviel ingin Nara segera berada disisinya

1
Nurmalia Lia
ditunggu up ny Thor semangat 💪 suka dgn karya mu😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!