Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Duduklah dulu Dam, tunggu kakak turun dari kamarnya baru kita sarapan bersama."pinta Luna pada Adam.
Adam pun duduk dan menunggu Edward turun dari kamarnya, ia melihat makanan yang tersaji di atas meja saat rapi dan menggugah selera dari aroma omellet yang dibuat Luna.
Tak lama kemudian Edward menuruni tangga kebawah dengan pakaian kerja yang sudah rapi terlihat sangat tampan dan gagah postur tubuh tegak dengan kekar ototnya.
"Ayo langsung sarapan saja, setelah itu kakak ada meeting penting pagi ini baru nanti siang kakak akan pulang dan kita akan pergi ke London."ucap Edward sembari memakan omelet.
"Baik kak, jadi aku di rumah saja lanjut tidur lagi."kata Luna dengan santai.
"Lakukan semaumu, jangan pergi dari rumah ini."pinta Edward pada Luna.
Mereka bertiga pun selesai sarapan pagi dengan tenang setelah itu Edward dan Adam berangkat kerja lebih pagi dari biasanya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.
- -
"Rumah jadi sepi tak ada kakak dan Adam, lebih baik aku ke taman belakang rumah ini sepertinya ada hal menarik disana."gumam Luna.
Luna berjalan ke arah taman belakang rumah, terdapat taman lumayan luas dengan berbagai tanaman cantik yang menghias disana.
"Cantik-cantik sekali taman ini penuh dengan bunga-bungan yang indah."gumam Luna.
"Maaf nona, memang taman ini dibuat khusus oleh tuan entah saya juga tak paham mengapa membuat taman seindah ini dirumah yang tuan sendiri jarang berada dirumah."kata salah satu pengurus rumah yang berada didekat Luna berada.
"Jadi ini permintaan khusus kakak yah.."kata Luna dalam hati.
Sepanjang mata memandang tanaman indah banyak menghiasi disana tapi ada salah satu bunga yang menjadi favorit Luna, ada bunga lily arti bunga yang melambangkan kasih sayang Luna sangat menyukai bunga itu bentuk dan warnanya yang cantik dipandang.
"Cantik sekali bunga ini, apa kakak sengaja menanam bunga Lliy disini juga."kata Luna sambil menyentuh bunga Lily.
Drrtt..drrrt..
Getar ponsel berada disaku celana Luna, ia melihat siapa yang menghubunginya.
"Ada apa lagi?"tanya Luna.
"Kamu dimana, mas datang ke apartemenmu tak ada siapapun disana."kata Akbar.
Yah suami Luna yang menghubunginya, Akbar merasa gelisah tak ada kabar tentang istrinya.
"Tak usah mencariku sementara, kita ambil waktu masing-masing dulu."ucap Luna tegas.
"Apa maksudmu Luna?"tanya Akbar.
"Maksudku, lebih baik sekarang kamu urusin wanita itu selesaikan urusanmu dengannya. Kamu menginginkan tak ada perpisahan baik ku turutin tapi jangan ikut campur dengan urusanku kedepannya karena aku tak ingin berurusan denganmu." kata Luna tegas.
"Apa yang kamu katakan Luna, kamu akan tetap menjadi istri mas dan itu selamanya tak ada perpisahan diantara kita berdua!."ucap Akbar.
"Sudah belum? aku matikan tak ada hal yang penting lagi."kata Luna dan lalu mematikan telepon sepihak.
Tut..tut..
"Lun..Lunaa.."teriak Akbar.
Akbar tak lagi mendengar suara istrinya, dan ia mengecek ponsel lagi dan nomor teleponnya sudah diblokir oleh istrinya.
"Aku tau kamu sedang marah denganku sayang, maafkan aku Luna maafkan mas. Mas akan segera menyelesaikan masalah ini."kata Akbar dengan memegang erat ponsel ditangannya.
"Huuuaaaa..."teriak Akbar berada diruangannya.
Sedangkan Luna hanya diam membisu setelah mendapatkan telepon dari suaminya, ia berpikir ini sudah tepat saat ini keputusan ini sudah tepat ia tak ingin mengambil langkah yang salah nantinya dan bisa akan menyesal, lebih baik ia dan suaminya instropeksi masing-masing lebih dulu.
"Biarkan hubungan ini menggantung seperti ini, aku tak ingin menyesal kemudian harinya. Biarkan kata orang aku bodoh tapi pernikahan adalah sebuah ikatan yang suci ada masalah hal wajar ada gangguan pun harus bisa dihadapin ini bumbu dalam hubungan. Akan ku pertahankan pernikahan ini dengan caraku bukan di saat ini waktunya."gumam Luna dalam hati sambil menatap kosong ke depan.
Luna pun masuk kedalam rumah dan kembali ke kamarnya, ia memilih mengistirahatkan tubuhnya yang lelah saat ini. Masalah yang bertubi-tubi menghampirinya akhir-akhir ini.
Ting..
{Kapan kamu pulang nak?}pesan tanpa nama.
Waktu menunjukkan jam makan siang, Luna tertidur cukup lama hingga kembalinya Edward dari kantornya Luna masih tertidur belum bangun.
Derap langkah kaki masuk kedalam rumah yah tentu saja Edward,ia melihat disekitar tak ada suara adik kecilnya berada.
"Mana Luna berada bik?"tanya Edward pada salah satu pengurus rumah.
"Maaf tuan, nona Luna sedari tadi masih berada dikamarnya tuan mungkin nona sedang tidur."jawab pengurus rumah itu.
"Baik, lanjutkan pekerjaamu tolong setelah ini siapkan makan siang jangan banyak-banyak aku dan Luna akan pergi setelah itu."perintah Edward.
"Baik tuan, saya permisi kalau begitu."ucap pengurus rumah.
Pengurus rumah itu meninggalkan Edward sendirian disana, ia pun melangkah menaiki tangga ke lantai dua tempat kamar Luna dan kamanrnya berada. Tepat didepan kamar Luna membuka pintu yang kebetulan tidak terkunci.
Klek..
"Ternyata dia masih tidur sekarang, sungguh imut wajah lelapnya. Kakak akan selalu berada disampingmu meskipun nanti bukan kakak yang akan menjadi pasanganmu adik kecilku."kata Edward menatap Luna dengan tatapan sulit diartikan.
Edward kembali menutupi pintu kamar Luna dan berjalan menuju kamarnya berada. Didalam kamar Edward kembali menarik nafas panjang sungguh lelah dirinya pekerjaan yang tiada henti dan masalah Luna yang membutuhkan dirinya juga.
"Kamu kuat Edward, kamu saat ini menjadi perisai untuk adik kecilmu."Edward menyemangati dirinya sendiri.
Tak lama dari Edward masuk kamar, Luna bangun dari tidurnya ia melihat kearah luar sudah sangat panas terik matahari yang menyinari.
"Ups.. apa aku tidur terlalu nyenyak hingga sampai jam segini. Mungkin kakak sudah kembali dari kantor lebih baik aku bersiap sekarang."kata Luna.
Luna bangun dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya lebih dulu.
Setelah setengah jam Luna berkutat dikamar menyiapkan dirinya untuk pergi ke London, Luna pun turun kebawah.
Luna berjalan santai menuruni tangga, ia melihat kakaknya yang sudah duduk dengan santai di ruang keluarga.
"Kakak sudah lama disini?"tanya Luna.
"Enggak, kakak baru sepuluh menit lalu disini. Sudah siap?"kata Edward
Edward menatap tampilan Luna yang berada didepannya.
"Sudah kak, maafkan Luna kalau lama turun kebawah."kata Luna.
"it's okay, makan siang dulu lalu kita akan pergi ke bandara."ajak Edward yang mulai berdiri dan menuju ke meja makan.
"Baik kak.."ucap balas Luna.
Edward dan Luna menghabiskan makan siang dengan tenang, setelah selesai mereka berdua menuju ke bandara...
se BADAS apa kamu luna
apa mau berbagi lendir dengan mereka lun OMG
biar kamu ga sama Kaya yg lain cuma mewek doang 🤦