NovelToon NovelToon
TRAPPED

TRAPPED

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Single Mom / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Ann Rhea

Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.

Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.

Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BITTERSWEET

Perut Karel udah begah banget. Kepalanya udah kayak mau muter kek kincir angin. Udah capek keliling dan jalan terus. Badannya langsung pada pegel, efek udah di kepala tiga kali ya.

Beda sama Luz, yang masih lahap makan ayam. Heboh sendiri, bahkan pas sore pun dia masih semangat buat ambil pemotretan di alam. Abis dari rumah makan, Karel cuman diem. Bahkan di mobil diem mulu.

Ngomong pun pas Karel di telepon asistennya. “Ada apa?”

“Pak Karel kapan pulang? Banyak yang perlu Bapak tanda tangani saat ini, termasuk berkas penting untuk perizinan proyek baru Pak. Kalau tidak, proyek itu tidak akan berjalan.”

“Gini saya gatau kapan pulang, istri saya masih rewel. Dia gamau pulang terus, nanti saya kabari. Secepatnya saya akan kembali.” Karel mengakhiri panggilan, suaranya lemas, mukanya kecut.

Karel menepuk lututnya. Ia sudah mengganti pakaian dengan yang lebih santai pun rasanya gerah. Sedangkan Luz, dia udah kembali pake baju terbuka.

“Udah ya Luz, gue capek mau istirahat abis ini. Lo bener-bener gak kasih nafas sama sekali sama gue.”

Luz menggeleng. “Nonton pentas seni dulu pasti seru.”

“Gue udah tua energi gue cepet abis. Lu sih masih muda.”

“Ah baru juga 37, ayolah cepet.”

“Iya gimana nanti.” Karel sengaja iyain biar cepet. Sekarang cuman pengen cepet-cepet nyebur ke kolam berenang, berendam mendinginkan pikiran.

Sore-sore di temenin angin enak buat berenang. Cuman apesnya, tuh cewek bunting masih aja ngikutin Karel. Tanpa dia tahu, Luz pengen tahu apakah dia bakalan video call sama James. Ternyata enggak.

Baru aja Karel merasa dunianya gak sumpek, cewek itu datang lagi. “Ck dia lagi, dia lagi. Kapan sih hidup gue bebas dari dia? Berasa punya buntut.”

“Ngapain kesini?”

Luz menurunkan kakinya ke dalam kolam. “Ya mau nemenin suami aku berenang dong,” katanya dengan suara juga ekspresi manja.

Geli anjir dengernya. Karel mending menyelam dari pada liat bibirnya berkomat-kamit, kayak mbak dukun baca mantra. Centilnya dapet, cakep sih emang tapi Karel gak suka, mungkin cowok lain bakalan langsung meluk dan kecup.

Beda lah sama Karel, dia mending menahan nafas lama di air kalo bisa sampe pingsan. Biar Luz diem kagak ngomel atau berisik lagi. Bahkan dia terus-menerus muncul sampe ke bawa mimpi.

Ya jelaslah, orang hampir tiap menit sama dia, liat dia, denger suaranya. Tidur sama dia.

“Kok lama banget, tuh anak metong kali?” Luz celingukan ia pun menceburkan diri dan berenang sebisanya.

Eh malah ketendang kepala Karel sampe dia muncul ke permukaan. Mengibaskan kepalanya. “Anying lo anying. Arghhhh!” Karel mengumpat kesal dan duduk di pinggir kolam.

“Kenapa?” Luz tampak khawatir, dia berdiri di depan lutut Karel memastikan dia baik-baik saja.

Karel membuang pandangan, ia marah cuman gatau lagi mau bereaksi kayak gimana biar Luz ngerti dan gak ngejar lagi. “Kagak. Sampe di Jakarta, kita pindah rumah, ke rumah yang lebih besar.”

“Kok gitu?”

“Gue capek liat lo mulu, bosen. Kalo rumah kita gede, kalo bisa yang lebih dari dua lantai. Lantai pertama punya gue, lantai atas wilayah lo. Biar hidup kita masing-masing.” Karel mendengkus kesal, lalu mengambil handuk dan pergi. Harus pergi kemana lagi biar tenang?

Luz mengikuti langkah Karel dari belakang. “Lebih baik kita masing-masing.” Ia merenggek dengan wajah sedih.

Kini Karel berbalik badan. “Berenti mewek, malu-maluin aja. Kalo gitu, gue mau balik sekarang juga.”

“Ih jangan. Besok pagi gue udah jadwalin pulang kok.” Luz menunjukkan wajah sedihnya. Lalu meminta maaf dan berjalan lebih dahulu.

Kasian sih, dia mungkin pengen dapet pelukan hangat, di cium dan di perhatiin. Cuman ya gimana, Karel malah stres ngadepin dia.

Kok jadi gak enak ya? Luz balik lagi diem. Dia rebahan di kasur nonton film, sambil makan kacang. Mulutnya gak seberisik biasanya.

Harusnya itu bagus, Karel bisa pergi kemanapun tanpa di tanya. Bahkan datang ke kamar pun, dia gak nyapa, asik sendiri cuy.

Sesekali Karel noleh pas beresin dompetnya. Terus keluar pun Karel ngerasa aneh gak di bawelin. Dia udah jalan sampe depan lift. Cuman balik lagi. “Jadi mau nonton pentas seni?”

Luz melempar kacang ke udara sambil mangap di bawahnya. Kepalanya menggeleng dan bicara santai. “Enggak.”

Keknya dia marah deh apa pundung? Karel mengangguk heran di ambang pintu. Lalu menutupnya dan nongol lagi. “Why?”

“Gapapa, kan bisa nonton di TV, gue juga gamau repotin orang terus.”

Anjir kok ngomongnya jadi gitu, nada sedih pula. Karel menggaruk kepalanya merasa bersalah. “Ih serius engga, jangan marah dong.”

“Gue gak marah.” Luz menoleh dia tersenyum simpul. “Sana kalo mau pergi sendiri, kemanapun yang lo suka gue gak akan ikut. Gue cuman kesepian aja sih.”

Emang sih, Karel udah sewa mobil buat jalan. Niatnya emang mau pergi sendiri cari angin. Cuman ngeliat orang yang biasanya heboh jadi pendiem agak aneh.

“Yaudah deh, gue pergi sendiri.” Karel menutup pintu.

Dan sejak itu, air mata Luz berjatuhan. Dia menangis di depan televisi, bukan karna melihat filmnya.

Tapi karna sedih, dirinya hanya di anggap pengacau. Aneh, kalau emang formnya itu solusi dan ketenangan baiklah, ia bakalan diem.

Tangan Luz mengusap matanya, lalu memeluk lutut dan merasakan kesendirian. Ia kian terisak, sesak di dada mulai menyeruak.

Terbayang hal menyedihkan yang kemungkinan terjadi. “Gue malu, gue cuman beban.” Ia menampar pipinya sendiri dan meremas ujung baju. “Gue gak berarti apa-apa, untuk siapapun. Gue di terima karna kasian. Bukan beneran sayang.”

Luz bangkit, ia berjalan merogoh tasnya mengambil sebuah gelang hasil meronce nya sendiri. Ia meremasnya dan di peluk erat. “Gelang ini gue buat beberapa tahun lalu. Gue selalu berharap gelang ini punya pemiliknya, tapi sampai detik ini gak ada yang mau make gelang ini dengan setulus hatinya.”

Tangisnya mulai pecah. Air matanya semakin berurai. “Mama, Luz kangen.” Ia meraba handphone, memandang foto bersama mamanya juga memutar voice note di room chat. Untuk mengobati rasa rindu dan ingin menunjukkan sisi rapuhnya.

--✿✿✿--

Baru saja tiba di parkiran, perasaan Karel tak enak. Langkahnya terasa sangat berat. Kepalanya mendongak, gimana kalau perkataannya nyakitin Luz sampe dia berpikir berlebihan?

Ah bodo amat, Karel memencet alarm mobil dan bergegas pergi. Cuman di jalan tetap kepikiran. “Dia kan lagi hamil tua, kalo kenapa-kenapa gimana?”

Sudah hampir di tengah perjalanan, Karel puter balik. “Gausah nongkrong ke kafe, mending nemenin orang bunting nonton pentas seni aja.” Ia berjalan cepat keluar mobil.

Jantungnya berdebar kencang. Saat tiba di depan pintu, ia mendengar suara isakan samar. Pelan-pelan di buka pintunya, ternyata benar. Di tinggal bentar langsung nangis. Dasar cengeng.

Langkah Karel enggan menyusulnya. Kayak ada rasa bersalah sama puas. Dia dari tadi ketawa happy, masa gara-gara Karel jadi nangis. Ngapain ya kira-kira? Kalau dia sedih sih bagus bisa diem. Cuman kalo happy dia gak bisa diem.

Karel mengatur nafasnya dan suaranya juga biar gak serak. “Kenapa nangis?”

Kepala Luz menunduk di sela lututnya. Tangannya sudah basah. Ia menggeleng dan meredam suara.

“Sorry kalo gue nyakitin lo,” katanya lalu duduk di samping Luz memintanya untuk tidak duduk seperti itu, nanti perutnya ke teken.

Karel bingung cara bujuknya, ia terbiasa di bujuk. “Mau liat yang tari? Ayo gue temenin. Atau mau apa? Jajan? Beli sesuatu yang lain gitu.” Biasanya, mamanya sih ngebujuk dia kayak gini, di beliin sesuatu biar gak sedih.

“Oh mau gue bikinin jus? Atau masak? Mama pernah ngajarin gue banyak menu tau,” kata Karel melembutkan suaranya biar tangis Luz gak makin kenceng ntar pada dateng, di kira di apa-apain.

Cuman kayaknya kurang tepat, tangis Luz makin menjadi-jadi. Perasaan orang hamil emang sensitif begitu ya? Karel harus gimana ngadepin nya.

Karel pun keluar dari ruangan, balik lagi bawa coklat. “Biar gak sedih.”

Luz mengangkat kepalanya. Wajahnya begitu basah dan matanya memerah. Tangannya meremas sesuatu, membuat Karel heran. Lalu tangan Luz naik bergetar menerima coklat itu.

“Itu apa?” tanya Karel, matanya melirik ke arah tangan Luz yang menggenggam sesuatu erat-erat.

Luz mengalihkan pandangannya ke gelang itu lagi, dan tiba-tiba air mata mulai menggenang kembali di matanya. Gelang itu terbuat dari manik-manik warna-warni, dengan sebuah tulisan yang cukup besar: Daddy. Ia pikir akan punya pacar, lalu memberikannya, tapi harapannya pupus yang tinggal cuman sedih ya.

Luz terdiam sejenak, mencoba menahan isaknya. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Karel, tapi perasaan cemas yang begitu mendalam tak bisa ia sembunyikan.

Percuma juga, Karel udah tahu dirinya nangis kek anak kecil. Ia hanya beralasan lain lagi rindu mama.

Keliatannya sih, itu sesuatu bermakna. “Apa itu? Tunjukkin gak.”

Luz hanya diam. Tangannya membuka perlahan, memperlihatkan gelang rajutan warna biru laut dengan hiasan kecil berbentuk bintang. Kainnya sedikit kusut karena dipeluk terlalu keras.

“Gelang,” ucap Luz lirih, hampir tak terdengar. “Gue bikin ini, tapi gue gatau harus kasih ke siapa.”

“Pengen banget?"

“Banget.” Luz mengangguk sambil mengambil nafas.

Karel mengulurkan tangan kirinya. Karel, yang mendengar kebingungannya, merasa iba. Tanpa mengatakan apa-apa, dia mengulurkan tangannya. Itu hanya sebuah gelang manik biasa, tapi bisa membuatnya menangis begini.

Luz menarik ingusnya masuk, ia mendongak, memandang Karel dengan pandangan kosong. “Apa?”

“Pasang di situ. Biar lo gak sedih lagi.”

Luz mendongak, matanya membulat.

“Serius?”

“Iya. Kenapa? Bagus kok. Unik,” Karel berusaha tersenyum, meski kaku.

Bingung apakah dia sedang bermimpi atau tidak. Namun, melihat Karel yang tersenyum ringan dan tampak tulus, akhirnya Luz mengangguk pelan dan meraih gelang itu. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia memasangkan gelang itu di pergelangan tangan Karel.

Karel menertawakan Luz. “Cuman gelang ginian gak ada yang mau pake sampe nangis gitu dasar anak kecil,” ledeknya sambil mengacak rambut Luz.

Luz mendengkus kesal, malu sebenarnya. “Nitip ya, jangan sampe ilang. Tapi boleh gak sih gue minta peluk? Sebentar aja.”

Dari pada mewek lagi, Karel iyain. Luz langsung berdiri dan meluk dia erat, makin lama makin erat seolah gak mau di lepasin.

Awalnya sih diem, eh kedengeran isakan tangis.

Pas di lirik, nangis lagi. Apa sih yang dia tangisin sampe segitunya?

“Kok nangis, Dek?” kata ini spontan keluar. “Maaf ya, kadang gue bego ngadepin lo. Gue gak biasa ada orang lain di deket gue terus,” ucapnya dengan suara kian rendah. “Gue boleh ya anggep lo adek gue. Kebetulan gue tunggal.”

Luz tertawa sambil nangis. “Serah, tapi mana ada adek jadi istri, gila.” Ia pun mengangguk kecil. “Gue juga maaf... udah ganggu terus.”

“Ya kan biar lebih deket.”

Luz tersenyum. “Jujur pelukan gini tuh bikin kangen, ngerasa di sayang. Tapi udah gak bisa gue dapetin lagi.”

Karel mendorong pelan Luz saat pelukannya terlepas. Ia melihat foto tadi sudah tercetak dengan ukuran sedang. Di ambil lah foto itu sambil di lihat-lihat, membuatnya nyengir. “Gila baru sadar gue ganteng bener. Lo juga gak kalah cakep, beuh gacor lagi bunting juga. Oh ya dah berapa bulan nih, Bu?”

“Bu?”

“Ibu Luz, calon mamak-mamak,” ledek Karel. “Ngeri banget liat ni perut, takut meledak.”

Kini Luz kembali tersenyum. “Udah 7 bulan, bentar lagi brojol. Cuman gue belum siapin apa-apa selain mental untuk melawan kerasnya hidup.”

“Cailah, aman. Tanggungan hidup lo udah gue handle, tinggal nafas, asal jangan bertingkah aja. Kalo capek bilang, biar tinggal ketok palu ke pengadilan,” kata Karel lalu meletakkan foto itu di meja. “Lebih menonjol ya.”

“Iya kayak kanjut lo.”

“Buset, gak di saring banget mbak. Ngerinya aku,” balas Karel dengan ekspresi kocak. “Anaknya cowok deh keknya ya Luz? Udah tau kelaminnya belum?”

“Gatau, gak nanya sih, ntar pas check up tanyain, biar sekalian beli perlengkapannya. Mau nemenin gak?” Luz udah berenti nangis, hidungnya masih merah tapi udah ketawa.

Karel berpikir dulu. “Kalo free gas. Sekarang mau nonton tari tradisional gak? Keburu malem nih. Cuci muka dulu biar baikan mood nya.”

“Oke siap, Abang!” Luz mengacungkan jempol dan pergi.

Karel cuman senyum liatin foto itu, seakan beneran mau membangun keluarga cemara.

Andai-andai aja sih, kalau bener kejadian. Ya bisa ngejalanin hidup sesuai porsinya walau cuman sandiwara. Tapi ia janji, bakalan sayang sama anak itu gak peduli ayah kandungnya siapa.

Mereka pun keluar dari kamar, pelan-pelan menuruni lorong hotel. Cahaya lampu menyelimuti dunia luar, seolah memberi harapan kecil di sela-sela luka yang belum sepenuhnya sembuh.

...--To Be Continued--

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!