Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.
Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”
Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Sinar matahari pagi yang cerah kembali menyinari kompleks SMA Pelita, menandai dimulainya hari baru yang tampak normal seperti biasa. Namun, bagi para murid kelas tiga IPS-1, atmosfer di dalam ruangan kelas sejak jam pertama sudah terasa jauh lebih dinamis.
Kabar mengenai pertandingan basket satu lawan satu antara Zayn Dominic dan Christian Narendra kemarin siang masih menjadi topik terhangat yang dibisikkan di setiap sudut koridor. Kemenangan mutlak Zayn telah mempertegas posisinya sebagai penguasa teritorial sekolah, tetapi bagi seorang Christian Narendra, kekalahan fisik di lapangan bukanlah akhir dari segalanya.
Sebagai putra seorang diplomat yang tumbuh di lingkungan internasional penuh intrik politik dan negosiasi kelas atas, Christian tidak mengenal kata menyerah. Di matanya, Elva Ileana adalah teka-teki paling menarik yang pernah dia temui di sekolah ini. Kemurnian wajah Elva, keanggunannya yang polos itu justru menjadi pemantik rasa penasaran yang semakin mendalam di hati Christian.
Dia sadar, untuk mendekati mentari kecil yang dijaga ketat oleh seekor singa posesif seperti Zayn, dia tidak bisa lagi menggunakan cara konfrontasi fisik yang mentah. Dia harus menggunakan strategi yang lebih halus, legal, dan tidak bisa dibantah oleh aturan sekolah.
Saat bel masuk berbunyi nyaring, Bu Widya melangkah masuk ke dalam kelas IPS-1 dengan menenteng seikat silabus tebal. Elva duduk tenang di kursinya dekat jendela, sementara tangan kanannya sibuk menata buku catatan. Di sebelahnya, kursi yang biasanya kosong kini ditempati oleh seorang murid laki-laki lain, namun perhatian seisi kelas mendadak terpusat pada pengumuman yang akan disampaikan oleh sang guru sejarah.
"Anak-anak, hari ini kita akan memulai proyek penelitian kelompok untuk materi sejarah kolonial modern. Tugas ini berbobot tiga puluh persen dari nilai rapor akhir kalian," pengumuman Bu Widya langsung disambut oleh keluhan tertahan dari para murid.
"Dan agar adil, Ibu sudah membagi kelompoknya secara acak berdasarkan nomor absen. Satu kelompok terdiri dari dua orang."
Mendengar kata 'acak', Christian yang duduk di barisan ketiga langsung menyipitkan mata hazel-nya. Sebuah senyuman tipis yang penuh arti terukir di bibirnya yang tampan. Ini adalah celah yang dia cari. Skenario yang sempurna untuk melewati barikade perlindungan Zayn Dominic tanpa melanggar hukum sekolah.
"Kelompok lima... Christian Narendra dan Elva Ileana," sebut Bu Widya dengan lantang.
Jantung Elva seketika melewatkan satu detakan. Dia terbelalak kecil, menatap papan tulis dengan perasaan campur aduk yang mendadak cemas. Dia tidak takut pada Christian, namun dia tahu betul bagaimana tabiat pacar posesifnya jika mengetahui hal ini.
Baru tadi malam Zayn menciumnya dengan begitu dalam dan menuntut di atas konter apartemen, mengunci janji mutlak bahwa tidak boleh ada laki-laki lain yang mendekatinya.
Christian langsung berdiri dari kursinya. Sambil membawa buku catatannya, dia melangkah lebar dengan gaya elegan ala aristokrat Eropa menuju ke meja Elva.
"Hai, Elva. Kayaknya takdir lagi berpihak sama gue buat belajar banyak dari lo," sapa Christian lembut, suara bariton British-nya terdengar begitu bersahabat saat dia mendudukkan diri di kursi kosong sebelah Elva. Lesung pipi samar nya kembali terlihat, memancarkan pesona yang membuat beberapa siswi di barisan belakang menatap iri.
Elva membetulkan letak duduknya, mencoba menjaga jarak aman yang sopan.
"Ah... iya, Christian. Salam kerja sama, ya. Semoga tugas kita bisa selesai dengan baik."
"Gue yakin bakal selesai dengan sangat baik," sahut Christian santai, membuka laptopnya.
"Materi kita cukup padat. Gimana kalau nanti malam kita kerja kelompok di kafe dekat kompleks apartemen lo? Gue denger dari anak-anak, lo tinggal di daerah pusat kota, kan?"
Sebelum Elva sempat mengeluarkan satu kata penolakan untuk menjaga perasaan Zayn, sebuah bayangan tegap yang sangat besar dan intimidatif mendadak runtuh di depan meja mereka, memotong seluruh pasokan cahaya matahari dari jendela.
Atmosfer di dalam kelas IPS-1 seketika anjlok hingga ke titik beku dalam hitungan mili sekon. Zayn Dominic sudah berdiri di sana. Kedua tangannya terbenam di dalam saku jaket kulit hitam andalannya. Rahang tegasnya mengeras sempurna hingga urat-urat di lehernya menegang kuat, menunjukkan bahwa emosinya sudah berada di batas tertinggi.
Zayn baru saja kembali dari ruang OSIS untuk menyerahkan berkas laporan bulanan bersama Leo, dan langkah kakinya langsung bergegas menuju kelas Elva begitu mendengar selentingan kabar tentang pembagian kelompok sejarah dari anak-anak di koridor.
Sepasang mata elang Zayn berkilat memancarkan api cemburu murni yang sangat mengerikan, mengunci lurus manik mata hazel Christian yang duduk terlalu dekat dengan gadisnya.
"Geser tubuh lo dari kursi itu sekarang sebelum gue lempar laptop lo keluar jendela," desis Zayn rendah, suaranya begitu tenang namun sarat akan ancaman membunuh yang sangat berbahaya.
Christian tidak langsung mundur. Dia menegakkan punggungnya, menatap balik mata tajam Zayn dengan ketenangan seorang anak diplomat yang matang.
"Gue cuma lagi menjalankan perintah Bu Widya, Zayn. Ini tugas kelompok resmi sekolah. Lo nggak bisa egois melarang kerja sama akademis yang mempengaruhi nilai rapor, kan?"
Mendengar tantangan logis dari Christian, kepalan tangan Zayn di dalam saku jaket kulitnya mengencang hingga buku jarinya memutih sempurna. Zayn maju satu langkah, menumpu kedua telapak tangan kekarnya di atas meja marmer Elva, mencondongkan tubuh tegapnya tepat di depan wajah Christian hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti.
"Gue nggak peduli sama nilai rapor lo atau aturan kelompok bodoh ini," ucap Zayn, suara beratnya terdengar begitu menekan, menggetarkan keheningan kelas yang kini menahan napas ketakutan.
"Aturan gue di sekolah ini di atas segalanya. Dan gue udah bilang kemarin, jangan pernah ada satu laki-laki pun yang berani duduk di sebelah cewek gue."
Zayn memalingkan wajahnya sekejap ke arah Bu Widya yang tampak berdiri kikuk di depan papan tulis, sadar bahwa dia tidak bisa sembarangan menegur putra dari pemilik yayasan sekolah ini.
"Bu Widya, pindah kelompok Christian sekarang. Biar Kevin atau Arkan yang masuk ke kelompok Elva. Kalau nggak, saya sendiri yang akan minta bokap buat merombak seluruh struktur pengajar sejarah di angkatan ini siang ini juga."
Ancaman otoritas pribadi yang dingin dari Zayn tidak menyisakan ruang untuk perdebatan. Bu Widya buru-buru mengangguk dengan wajah pucat.
"Ah... b-baik, Zayn. Kalau begitu, Christian bisa bertukar kelompok dengan Kevin di kelompok tujuh."
Christian menyipitkan mata hazel-nya sedikit, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan makna terselubung. Dia berdiri dari kursi Elva dengan gerakan yang sangat tenang, merapikan laptopnya tanpa menunjukkan indikasi kekalahan. Dia melirik sedikit ke arah Elva yang berdiri cemas di belakang punggung tegap Zayn, lalu kembali menatap mata elang sang tuan muda.
"Kekuasaan yang mutlak, Zayn. Tapi perlu lo tahu, tembok yang terlalu tinggi dan posesif kadang justru bikin orang di dalamnya merasa terkurung. Sampai ketemu di tugas berikutnya, Elva."
Setelah melayangkan kalimat provokatif yang halus itu, Christian melangkah santai menuju meja Kevin di barisan belakang, meninggalkan atmosfer kelas yang masih pekat oleh sisa ketegangan.
Zayn mendengus muak, lalu memutar tubuh tegapnya seutuhnya menghadap Elva. Sifat cemburu posesifnya yang sangat berbahaya namun menggemaskan kembali keluar seutuhnya. Wajah tampannya ditekuk kesal, bibirnya sedikit maju, dan dia langsung menyambar tas sekolah Elva dari gantungan meja dengan satu sentakan cepat.
Zayn meraih jemari tangan kecil Elva, menggenggamnya dengan sangat erat—memagut sela-sela jari mereka di depan seisi kelas agar semua orang tahu siapa pemilik mutlak dari gadis itu.
"Z-Zayn... kamu jangan galak-galak begitu, ih. Aku kan nggak ada senyum sama sekali ke dia tadi," bisik Elva lirih sambil berjalan mengekor di belakang langkah lebar Zayn yang menariknya keluar dari kelas menuju ruang OSIS pribadi yang lebih sepi.
"Gue nggak suka dia duduk di sebelah lo. Gue nggak suka dia natap mata lo pakai aksen British-nya yang sok keren itu," ketus Zayn lempeng tanpa menoleh, namun cengkeraman tangannya di jemari Elva mendadak melembut, mengusap punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya secara telaten untuk meredakan kekesalannya sendiri.
"Mulai jam pelajaran berikutnya, lo harus duduk di meja paling depan dekat meja guru. Dan setiap jam istirahat, lo harus tetep di sebelah gue. Paham?"
Elva tertegun sejenak menatap punggung tegap cowoknya yang sedang merengut kesal akibat terbakar api cemburu berat. Rasa hangat dan bahagia yang luar biasa kembali membuncah di dalam dadanya. Mengingat bagaimana tadi malam Zayn menuntut hak kepemilikannya lewat ciuman panas yang intim di apartemen, Elva tahu bahwa sifat posesif Zayn ini adalah bentuk perlindungan terbaik yang pernah dia miliki.
Elva mempercepat langkahnya, menyejajarkan posisinya di sebelah Zayn lalu menyandarkan kepalanya sejenak di lengan kekar cowok itu dengan senyuman murni yang sangat manis. "Iya, Tuan Muda Posesif. Aku paham kok. Kan aku cuma punya kamu seutuhnya," goda Elva manis.