NovelToon NovelToon
Ustadzah Pengganti Pengantin

Ustadzah Pengganti Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Di dalam kamar mandi yang berwujud dinding keramik putih itu, uap air hangat mulai memenuhi ruangan.

Adrian berdiri dengan tubuh polos yang dipenuhi lebam akibat hantaman emosinya sendiri, sementara handuk bersih tersampir di gantungan besi.

Bryan berdiri di dekat ambang pintu yang sedikit terbuka, mengawasi setiap gerakan mantan atasannya dengan saksama.

Saat Adrian bersiap mengguyurkan segayung air langsung ke bagian bawah tubuhnya, Bryan tiba-tiba tertawa kecil.

Suara tawa yang pelan namun terdengar begitu renyah di tengah ketegangan yang ada.

"Bukan kaki dulu, Pak," ucap Bryan sambil menggelengkan kepala, menyela gerakan tangan Adrian yang sempat canggung dan membeku di udara.

Adrian menoleh, wajahnya yang lebam tampak memerah sempurna karena menahan malu.

Pria yang biasanya memimpin rapat direksi dengan instruksi yang mutlak itu, kini berdiri kebingungan memegang gayung plastik.

"Lalu, dari mana dulu?" tanya Adrian dengan suara tertahan.

"Seperti ini," Bryan mencontohkan gerakan menyiram dengan tangannya sendiri di udara.

"Setelah membasuh tangan dan membersihkan kotoran, mulailah menyiram dari kepala terlebih dahulu sebanyak tiga kali sampai merata ke sela-sela rambut. Setelah itu lambung sebelah kanan, baru kemudian lambung sebelah kiri. Ratakan ke seluruh tubuh dari atas ke bawah. Nah, bagian kaki itu paling terakhir setelah semuanya bersih."

Adrian menelan ludahnya yang terasa kesat. "Hmm..."

Ia hanya bisa bergumam pendek, menyembunyikan rasa gengsinya yang kini runtuh tak bersisa.

Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Adrian mengikuti setiap arahan yang didektekan oleh Bryan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang bergelimang harta, Adrian merasakan dinginnya air yang mengguyur kepalanya bukan sekadar untuk membersihkan penat duniawi, melainkan sebagai awal dari basuhan air tobat yang harus ia jalani demi membasuh noda-noda dosa di masa lalunya.

Hampir lima kali Bryan harus mengulang-ulang urutan gerakan wudhu dari luar pintu kamar mandi.

Dengan sabar, mantan anak buahnya itu mendiktekan mulai dari membasuh telapak tangan, berkumur, hingga membasuh kedua kaki.

Adrian yang otaknya biasa dipenuhi dengan angka-angka saham dan strategi bisnis, mendadak mendadak bebal saat harus menghafal rukun bersuci yang seharusnya sudah dikuasai anak sekolah dasar.

Setelah yakin gerakan wudhu Adrian tidak lagi keliru, Bryan akhirnya meminta Adrian untuk menyelesaikan mandi besarnya dengan benar.

"Ini pakaiannya ya, Pak," ucap Bryan seraya mengetuk pintu kamar mandi yang sedikit renggang, lalu menyodorkan tumpukan kain bersih yang tadi disiapkan.

Di dalam kamar mandi, Adrian mengeringkan tubuhnya yang penuh lebam dengan handuk.

Begitu ia membuka lipatan pakaian yang diberikan Bryan, dahinya langsung berkerut dalam.

Di tangannya kini terhampar sebuah baju koko putih polos katun rami dan selembar sarung tenun berwarna gelap.

Pria yang biasanya tak pernah lepas dari setelan jas mewah senilai puluhan juta rupiah itu menatap nanar dua potong kain tersebut.

Dengan ragu, ia melongokkan kepalanya dari balik pintu.

"Aku harus memakai ini?" tanya Adrian, suaranya terdengar canggung dan asing di telinganya sendiri.

"Iya, Mas," sahut Fatma dari atas ranjangnya. Suaranya terdengar datar, namun memiliki penekanan yang tak menerima bantahan.

"Kamu mau belajar salat, jadi pakailah pakaian yang pantas untuk menghadap Allah."

Adrian terdiam. Tanpa argumen lagi, ia menutup kembali pintu kamar mandi.

Butuh waktu agak lama baginya di dalam sana, bergelut dengan bagaimana cara melilitkan sarung di pinggangnya agar kencang dan tidak melorot—sebuah keahlian yang belum pernah ia pelajari seumur hidupnya.

Klek.

Pintu kamar mandi perlahan terbuka. Adrian melangkah keluar dengan ragu, membetulkan letak ujung baju kokonya yang terasa tidak biasa menempel di badannya.

Rambutnya yang basah sehabis mandi besar disisir rapi ke belakang dengan jemarinya, memperlihatkan dahi dan garis wajahnya yang tegas, meski masih dihiasi sisa lebam biru akibat bogem mentah Hakam kemarin.

Fatma yang sedang bersandar di ranjang rumah sakit menoleh.

Detik itu juga, Fatma menelan salivanya sendiri secara perlahan.

Ada sengatan aneh yang mendadak menyerang dadanya.

Di hadapannya kini, tidak ada lagi sosok Adrian yang angkuh dengan tatapan mata iblis penuh dendam.

Laki-laki yang mengenakan baju koko putih bersih dan sarung yang terbebat rapi itu tampak... sangat berbeda.

Aura gelap dan mencekam yang biasa melingkupi suaminya seolah luruh bersama air mandi tobatnya, menyisakan gurat ketampanan yang terlihat jauh lebih teduh dan bersih.

Fatma cepat-cepat membuang muka ke arah jendela, meremas jemarinya di balik selimut untuk mengusir debaran aneh di dadanya.

Ia tidak boleh goyah. Ketampanan fisik suaminya tidak akan pernah bisa menghapus dengan instan robeknya punggung dan jiwanya yang telanjur hancur.

"Sekarang ambil sajadah dan lakukan salat tobat," perintah Fatma, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang kembali membubung di dadanya.

Adrian yang berdiri kaku di dekat ranjang menatap hamparan kain sajadah yang terlipat di atas nakas.

Ia menelan ludahnya yang terasa sekeras batu. Bibirnya bergetar, sebelum akhirnya meluncurkan pertanyaan yang kembali menyayat hati istrinya.

"Bagaimana, caranya?" tanya Adrian lirih, nyaris berbisik karena didera rasa malu yang teramat sangat.

"Astaghfirullah, Mas!"

Tangis Fatma pecah detik itu juga. Pertahanan batinnya runtuh.

Segala rasa sakit, penghinaan, dan kenyataan bahwa ia telah menyerahkan hidupnya pada seorang laki-laki yang bahkan tidak tahu cara bersujud kepada Tuhannya membuat Fatma menangis histeris seperti anak kecil.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia meraih bantal di belakang punggungnya dan melemparnya dengan kuat ke arah Adrian.

Bantal itu menghantam dada Adrian, lalu jatuh ke lantai.

"Bagaimana bisa kamu menyiksaku atas nama agama dan moral, tapi kamu sendiri buta aksara di hadapan Allah, Mas?! Bagaimana bisa?!" jerit Fatma di sela tangisnya yang tergugu.

Adrian hanya bisa mematung, menerima kemarahan istrinya dengan air mata yang ikut luruh membasahi pipinya.

Fatma menyeka air matanya dengan kasar. Dengan tubuh yang masih lemas, ia melakukan tayamum di atas permukaan pembatas ranjang rumah sakit, lalu dengan gerakan cepat memakaikan mukena putihnya ke kepala.

Ia tidak bisa lagi membiarkan suaminya hidup dalam kekafiran yang nyata di dalam rumah tangganya.

"Duduk di atas sajadahmu, Mas! Hadap kiblat!" perintah Fatma, suaranya serak namun terdengar bagai titah yang menggelegar.

Adrian dengan patuh menggelar sajadah di samping ranjang, lalu berdiri tegap menghadap kiblat dengan tubuh gemetar.

"Pertama-tama, niat salat tobat. Ikuti kata-kataku di dalam hatimu: Ushalli sunnatat taubati rak'ataini lillahi ta'ala," tuntun Fatma, air matanya masih mengalir membasahi dagu mukenanya.

Adrian memejamkan mata, meresapi setiap suku kata yang diucapkan istrinya ke dalam relung hatinya yang paling dalam.

"Kemudian angkat kedua tanganmu sampai sejajar telinga... Ucapkan takbir."

Adrian perlahan mengangkat kedua tangannya yang penuh lebam.

"Allahu Akbar..." ucap Adrian, suaranya bergetar hebat. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kalimat agung itu keluar dari sepasang bibirnya yang penuh dosa.

"Sedekapkan tanganmu di dada," lanjut Fatma, mencoba mengatur napasnya yang sesak.

"Lalu baca doa Iftitah, dilanjutkan dengan Surat Al-Fatihah. Ikuti tuntunanku, Mas..."

Setelah menyelesaikan gerakan demi gerakan yang didiktekan oleh Fatma dengan kaku, Adrian akhirnya memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri. "Assalamu’alaikum warahmatullah... Assalamu’alaikum warahmatullah."

Dua rakaat salat tobat yang terasa begitu panjang dan menegangkan bagi Adrian akhirnya selesai.

Pria itu masih duduk bersimpuh di atas sajadahnya, menatap kosong ke arah kain beludru di bawahnya dengan napas yang agak memburu.

Tubuhnya terasa lelah, seolah baru saja melakukan pekerjaan fisik yang sangat berat.

Fatma, yang memperhatikannya dari atas ranjang dengan mukena yang masih melekat, menyeka sisa air mata di sudut matanya.

Ia menatap suaminya dengan pandangan yang sarat akan beban batin.

"Sekarang, menangislah, Mas, di hadapan Allah," ucap Fatma, suaranya terdengar parau dan lirih.

"Mintalah ampunan atas semua kebiadaban yang sudah kamu lakukan kepada-Ku dan kepada syariat-Nya."

Adrian menoleh ke arah ranjang. Wajahnya yang tampan namun lebam itu tampak kebingungan, menatap Fatma dengan pandangan polos tanpa dosa yang justru terlihat sangat menyebalkan bagi siapa pun yang melihatnya.

"Menangis bagaimana?" tanya Adrian dengan nada datar, benar-benar tidak tahu bagaimana cara memproduksi air mata secara instan demi sebuah ritual ibadah.

Di dunia bisnisnya, menangis adalah simbol kelemahan yang haram dilakukan.

Mendengar pertanyaan yang begitu tidak masuk akal dari mulut suaminya sendiri, emosi Fatma yang baru saja mereda seketika mendidih kembali.

Dadanya naik turun menahan rasa gemas, sedih, dan marah yang berbaur menjadi satu.

"Astaghfirullah. Ya Allah, Mas Adrian!"

Tanpa memedulikan rasa sakit yang menusuk di punggungnya akibat pergerakan mendadak, Fatma memajukan tubuhnya ke tepi ranjang.

Tangan kanannya yang bebas dari jarum infus langsung menjulur, lalu mencubit lengan kekar Adrian dengan sangat keras.

"Aww! Sakit, Fatma!" ringis Adrian, spontan menarik lengannya menjauh sembari mengusap bekas cubitan istrinya yang terasa begitu panas.

"Sakit, Mas? Kamu bilang itu sakit?!" cecar Fatma dengan suara yang meninggi, matanya kembali berkaca-kaca menahan luapan sesak.

"Cubitan itu tidak ada apa-apanya dibanding cambukan ikat pinggangmu di punggungku, Mas! Tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit saat kamu merenggut kehormatanku secara paksa malam itu!"

Suara Fatma bergetar hebat, membuat Adrian seketika terbungkam dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Menangis itu bukan diatur, Mas! Menangis itu muncul karena hatimu merasa kerdil, merasa berdosa, dan takut akan azab Allah!" jerit Fatma, air matanya kembali meluncur deras membasahi pipi pucatnya.

"Bagaimana bisa hatimu sekeras batu sampai tidak tahu cara menangis di hadapan Penciptamu setelah semua dosa besar yang kamu perbuat?!"

1
falea sezi
mau like kasih hadiah yo males
falea sezi
🤣🤣 uda di aniyaya tp di beri kesempatan 🤣🤣 maaf ya thor. pantes like sepi wong goblok
falea sezi
males MC nya oon skip aja😒 emosi q liat cwek bloon lulusan pesantren tp goblok
falea sezi
goblok klo. uda. ketauan belangnya jangan ampe balikan mending crrai😒
falea sezi
🤣 orang gila cari tau dlu calon istri mu yg gatel nyalahin orang😒
Soviani
lanjut up ny
sri hastuti
huuhh goblok banget sih fatma ini, mau mati ya, sdh bongkar aja kejahatan suamimu, bikin jengkel, jd wanita jangan ngalah terus, km gak salah, ayolah thor kelamaan, cepet dibongkar kejahatan Adrian 😡😡😡
sri hastuti
huuh pengen tak bunuh aja adrian thor, bikin jengkel aja, kelamaan thor ,bisa mati itu fàtma, 😡😡😡😡
sri hastuti
pie to ini,sdh gila si adrian,ah jd males aku, orang kok goblok dan kejam spt itu dibiarkan thor , huuhhh bikin 😡😡😡
keynara
si Adrian emang bener bener udah gila nyiksa Fatma tanpa ampun
Himna Mohamad
lanjut kk
keynara
la kasian Fatma nggak tau apa apa jadi sasaran dendam si Adrian duh ujian Fatma berat banget💪
lanjut thor🙏
sri hastuti
konyol ini adrian thor, huuhhh pengen tak pukul aja ,jd laki2 kok spt itu, gak mau trima kenyataan, dasar pengecut , 😡😡😡
bikin jengkel aja thor 😡😡
my name is pho: sabar kak🤭🙏
total 1 replies
sri hastuti
dasar Adrian konyol, yg selingkuh tunangannya kok gak mau trima, dasarr laki2 bego, malah memaksa orang lain, sdh gila dia 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!