Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke rumah yang penuh kenangan
Waktu berlalu terasa begitu cepat, seolah hanya berkedip mata. Gadis kecil yang dulu dikenal lincah, suka membuat keributan, dan sering dimarahi karena sifatnya yang sedikit nakal, kini telah tumbuh sempurna menjadi seorang wanita dewasa yang memancarkan pesona dan keanggunan luar biasa. Melihat perubahan itu, hati Nyonya Duan dipenuhi rasa haru sekaligus penyesalan yang mendalam. Selama bertahun-tahun terpisah jarak dan waktu, ia tak sempat menyaksikan setiap tahap pertumbuhan putrinya—mulai dari masa remaja hingga menjadi wanita yang matang seperti sekarang. Ia tahu, selama pergi jauh dari rumah, Yanfei tidak hanya kehilangan masa-masa indah itu, tetapi juga memikul beban kesedihan yang sangat berat sendirian.
Selama menjauhkan diri dari ibu kota dan segala hiruk-pikuk keramaian, kabar yang paling menyakitkan akhirnya sampai ke telinga keluarga Duan. Mereka mendengar bahwa cucu yang baru saja lahir itu telah tiada, meninggalkan luka yang tak terlukiskan di hati Yanfei. Mendengar kabar itu, hati kedua orang tuanya terasa remuk redam. Mereka tahu betapa besar harapan dan kasih sayang yang dicurahkan Yanfei pada anaknya, sehingga kehilangan itu pasti terasa seperti kehilangan separuh nyawanya sendiri. Demi menghormati kesedihan putrinya dan tak ingin membuatnya menderita lebih jauh lagi, mereka membiarkannya mengurung diri di tempat yang jauh, membiarkan waktu menjadi satu-satunya obat yang mungkin bisa menenangkan hati yang terluka.
Namun waktu terus berjalan, dan kehidupan tak bisa berhenti hanya karena kesedihan. Kenyataan pahit itu harus diterima: cucu mereka telah tiada, dan tak ada kekuatan apa pun yang bisa mengembalikannya. Penyesalan dan rasa bersalah hanya akan menyiksa diri sendiri tanpa mengubah keadaan. Peristiwa itu telah meninggalkan bekas luka yang sangat dalam di hati Yanfei yang dulu selalu ceria dan penuh semangat. Senyumnya yang tulus perlahan menghilang, digantikan oleh tatapan kosong dan keheningan yang menyelimuti dirinya.
Enam tahun telah berlalu sejak peristiwa itu, peristiwa kematian cucu laki laki mereka, Keluarga Duan merasa waktu itu sudah cukup lama bagi hati Yanfei untuk sedikit lebih kuat. Mereka tak ingin putrinya terus terasing dan terkurung dalam kesedihan selamanya.
“Sudah waktunya dia pulang,” kata Tuan Duan suatu malam dengan nada mantap. “Jika terus dibiarkan menyendiri, lukanya justru akan semakin sulit sembuh.”
“Baiklah, kita akan mengirim utusan,” jawab Nyonya Duan setuju. “Kita gunakan alasan kesehatan ibuku yang mulai menurun, pasti dia tidak akan menolak.”
Dengan alasan itu, akhirnya mereka berhasil membujuk dan membawa Yanfei kembali pulang ke ibu kota, kembali ke kediaman tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
“Baik, Nyonya,” jawab dua orang pelayan yang menyertai mereka dengan nada hormat.
Mereka pun melangkah menuju kamar yang sudah lama disiapkan dan dijaga kebersihannya. Begitu melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan itu, Yanfei berhenti sejenak dan duduk di kursi kayu gaharu yang masih terasa sangat akrab baginya. Ia menatap sekeliling ruangan dengan pandangan yang perlahan berubah dari kaku menjadi lembut.
Suasana di kamar ini masih sama persis seperti yang ia ingat. Selama bertahun-tahun ia pergi meninggalkan rumah ini, ternyata setiap sudut, setiap perabotan, hingga hiasan di dinding tetap dijaga dengan sangat rapi dan terawat. Tidak ada debu yang menumpuk, tidak ada barang yang dipindahkan atau diganti. Selama hampir tujuh tahun ia pergi dari kediaman Duan ini, ia tak pernah menyangka bahwa saat kembali, ia akan menemukan segalanya masih utuh dan terpelihara, seolah-olah kepergiannya baru terjadi kemarin saja.
“Nona, apakah Nona ingin segera membersihkan diri dan beristirahat?” tanya Li Xia dengan suara yang sangat lembut dan penuh perhatian.
Li Xia adalah salah satu pelayan pribadi yang setia sejak masa kanak-kanak Yanfei. Namun, saat Yanfei memutuskan pergi ke daerah Jing An untuk menenangkan diri, Li Xia terpaksa harus tetap tinggal di ibu kota guna membantu menjaga dan melayani Nyonya Tua. Kini, setelah Yanfei kembali menetap di rumah, secara otomatis ia kembali bertugas mendampingi dan melayani nona ketiganya itu.
Di dalam hatinya, kerinduan yang telah terpendam sekian lama sudah tak terbendung lagi. Ia ingin sekali berlari mendekat, memeluk, dan meluapkan rasa gembiranya karena akhirnya bisa bertemu kembali. Namun, ia sadar akan batasan dan perbedaan kedudukan antara majikan dan pelayan. Meski perasaan itu meluap-luap, ia harus menahannya dan menelannya sendiri. Sebelum diperbolehkan melayani kembali, ia bahkan telah mengingatkan dirinya sendiri untuk menjaga sikap, agar tidak melanggar tata krama yang berlaku.
Yanfei hanya menjawab dengan gumaman singkat, “Hm.”
Ia lalu mengangkat tangannya dan mulai melepaskan satu per satu tusuk rambut serta hiasan perhiasan yang menghiasi kepalanya sepanjang perjalanan hari ini. Gerakannya terlihat tenang namun terasa berat, seolah memikul beban yang tak terlihat oleh mata.
Melihat hal itu, Li Xia segera memberi isyarat kepada pelayan yang berdiri berjaga di luar untuk menyiapkan air hangat dan kebutuhan mandi. Setelah memastikan semuanya berjalan lancar, ia kembali masuk ke dalam kamar dan berdiri di samping Yanfei, membantu melepaskan sisa hiasan rambut serta membersihkan sisa riasan di wajah sang nona.
“Nona, apakah Nona ingin menikmati makan malam terlebih dahulu sebelum beristirahat?” tanyanya lagi dengan hati-hati.
Perjalanan dari Desa Hufu menuju ibu kota memang terasa sangat panjang dan melelahkan. Desa Hufu terletak di wilayah terpencil Kabupaten Jing An, daerah yang cukup jauh dan terpisah dari pusat pemerintahan, sehingga perjalanannya memakan waktu hampir satu bulan penuh. Namun bagi Yanfei, rasa lelah itu seketika terbayar lunas begitu melihat ayah dan ibunya dalam keadaan sehat dan masih bisa menyambut kepulangannya.
Namun, alih-alih menjawab pertanyaan soal makanan, Yanfei justru mengucapkan permintaan lain yang membuat Li Xia terdiam sesaat.
“Siapkan dupa dan peralatan untuk berdoa. Setelah aku selesai membersihkan diri, aku ingin bersembahyang dan berdoa dengan tenang.”
Mendengar permintaan itu, wajah Li Xia berubah menjadi sendu. Ia segera mencoba membujuk dengan nada halus, “Nona, hari sudah begitu larut malam. Nona pun sudah sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh ini. Sebaiknya istirahatlah dulu, besok pagi kita bisa melakukannya dengan tenang dan hati yang lebih segar.”
Namun Yanfei hanya menggeleng perlahan, matanya menatap kosong ke arah jendela yang terbuka sedikit, memandang kegelapan malam yang diselimuti kabut tipis. Suaranya terdengar parau dan berat saat menjawab, “Hari ini adalah hari pertamaku kembali ke ibu kota. Dan sebentar lagi musim dingin akan tiba. Jika dia masih ada di sisiku, seharusnya usianya sudah genap enam tahun pada saat itu.”
Selesai mengucapkan kalimat itu, ia menghela napas panjang, seolah berusaha mengeluarkan sesak yang menumpuk di dadanya selama bertahun-tahun. Mendengar itu, Li Xia tak sanggup membantah lagi. Ia hanya bisa mengangguk patuh, lalu melanjutkan pekerjaannya menyusun perhiasan dan pakaian yang telah dilepas sang nona hari ini.
“Baik, hamba akan segera meminta mereka menyiapkannya,” jawab Li Xia pelan.
Ia lalu membantu memapah Yanfei menuju ruang mandi yang air hangatnya sudah siap dan mengeluarkan uap yang menenangkan. Setelah memastikan sang nona aman dan nyaman, ia kembali keluar sebentar untuk mengatur segala kebutuhan sesuai kebiasaan, lalu kembali berdiri di luar tirai untuk melayani jika diperlukan. Semua bergerak tertib dan tenang, mengikuti keinginan sang nona tanpa banyak bertanya.
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian tidur yang lembut dan hangat, Li Xia membantu menata rambut Yanfei agar tidak kusut, lalu menutup rapat pintu kamar dan memeriksa agar tidak ada gangguan dari luar. Sebelum pergi, ia sempat mengingatkan semua pelayan untuk segera beristirahat dan menjauhi area kamar ini agar tidak mengganggu ketenangan sang nona.
Begitu ditinggalkan sendirian, suasana kamar menjadi sangat sunyi. Yanfei berjalan perlahan menuju meja kecil di sudut ruangan, tempat di mana telah terpasang papan roh yang dibuat khusus sejak ia tiba. Di atas papan itu tertulis jelas dan rapi: Duan Muhui, Putra Tercinta Duan Yanfei. Ia lalu duduk bersila di hadapannya, dan perlahan mengulurkan tangannya untuk mengelus permukaan papan itu dengan lembut, seolah sedang menyentuh pipi atau wajah anaknya yang telah lama tiada.
Mulutnya tertutup rapat, seolah berusaha menahan suara apa pun agar tidak keluar. Namun, air mata yang sudah tertahan sejak lama akhirnya jatuh juga, mengalir deras membasahi pipinya yang putih bersih. Suara isak tangis yang pilu dan tertahan terdengar samar, memenuhi ruangan yang sunyi itu. Ia membisikkan kata-kata rindu yang tak pernah sempat diucapkan selama bertahun-tahun, meluapkan segala rasa sakit dan kerinduan yang selama ini ia pendam sendirian, hanya ditemani oleh keheningan malam yang panjang