NovelToon NovelToon
Wasiat Terakhir Ibu

Wasiat Terakhir Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.

Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.

"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."

Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.

Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?


Yuk, cari jawabannya di sini 🍀

°°°°°°°°

Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6. Tanggung jawab Bernama Istri

Adzan subuh berkumandang memecah dinginnya pagi di pedesaan Garut. Suaranya menggema dari masjid tak jauh dari rumah keluarga Rahman, bercampur desir angin yang menyapu pepohonan di halaman.

Sekar perlahan membuka matanya.

Beberapa detik gadis itu hanya diam menatap langit-langit kamar yang masih terasa asing baginya. Bahkan hingga hari ini, ia masih belum benar-benar percaya bahwa dirinya kini tinggal di rumah itu... sebagai istri Galang.

Rumah yang dulunya hanya ia datangi sekali ketika menjenguk Bu Rahman bersama kedua orang tuanya. Kini menjadi tempat tinggalnya.

Sekar menghela napas pelan lalu menoleh ke samping.

Kosong.

Bantal di sisi ranjang sudah rapi, selimutnya terlipat setengah. Pertanda Galang sudah bangun sejak lama. Sekar segera duduk, jemarinya meremas pelan ujung selimut saat matanya menyapu kamar itu sekali lagi.

Kamar ini milik Galang.

Lemari penuh pakaian pria itu. Buku-buku kedokteran tersusun rapi di rak dekat meja kerja. Bahkan aroma samar parfum maskulin masih melekat di udara.

Sementara dirinya...

Masih terasa seperti orang asing yang tiba-tiba hadir di kehidupan lelaki itu. Sekar turun dari ranjang lalu membuka pintu kamar perlahan.

Lampu ruang tengah menyala terang. Begitu pula dapur. Namun suasan rumah tetap sunyi.

"A Galang?" panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Sekar berjalan ke dapur. Gelas bekas minum terletak di dekat termos air panas, menandakan Galang memang sempat berada di sana.

Mungkin ke masjid, pikirnya.

Ia akhirnya kembali ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Air dingin menyentuh kulitnya hingga membuat tubuhnya sedikit menggigil.

Selesai shalat subuh, Sekar masih duduk cukup lama di atas sajadah. Tatapannya kosong ke arah pintu kamar.

.

.

.

Pukul setengah enam pagi, dapur rumah itu mulai dipenuhi aroma masakan.

Sekar sibuk menanak nasi sambil sesekali mengaduk sayur asem di atas kompor. Uap hangat mengepul memenuhi dapur sederhana itu.

Ia mengenakan daster biru muda dengan rambut yang dicepol asal. Wajahnya masih polos tanpa riasan, namun terlihat segar terkena hawa dingin pagi.

Tempe yang digoreng mulai berubah keemasan. Sementara ikan asin di wajan mengeluarkan aroma gurih yang memenuhi ruangan.

Sekar sebenarnya sempat bingung harus memasak apa.

Ia tidak tahu masakan kesukaan Galang. Tidak tahu lelaki itu suka sayur apa. Tidak tahu apakah Galang tipe yang sarapan atau justru terbiasa langsung berangkat bekerja.

Namun tetap saja ia memasak.

Karena entah kenapa ia ingin mencoba menjalankan perannya dengan baik.

Suara pintu depan terbuka membuat Sekar menoleh cepat.

Galang masuk ke dalam rumah sambil membawa tas kerjanya. Lelaki itu sudah rapi mengenakan kemeja putih dengan celana hitam. Rambutnya sedikit basah, kemungkinan baru mandi setelah pulang dari masjid.

Tatapan Galang sempat tertuju pada meja makan yang sudah penuh oleh masakan. Lalu berpindah pada Sekar.

"Kamu masak pagi-pagi begini?" tanyanya datar.

Sekar mengangguk kecil. "Iya."

Galang melirik jam tangan di pergelangannya. "Saya harus berangkat sekarang. Ada operasi pagi."

"Oh...."

Sekar refleks menunduk sebentar. Namun beberapa detik kemudian ia kembali memberanikan diri.

"A...sarapan dulu."

"Nanti saja di rumah sakit."

Jawaban cepat itu membuat tangan Sekar yang sedang memegang spatula sedikit melemah.

"Tapi..." gadis itu menggigit bibir bawahnya pelan. "Aku masaknya kebanyakan."

Galang terdiam.

Sekar berusaha tersenyum kecil meski raut kecewa terlanjur terlihat jelas di wajahnya.

"Aku kira Aa bakal makan di rumah."

Nada suaranya lirih sekali. Tidak memaksa. Justru terdengar seperti seseorang yang takut merepotkan.

Galang memandang wajah gadis itu beberapa saat. Lalu akhirnya menghela napas pendek.

"Ya udah."

Seketika wajah Sekar sedikit berubah cerah.

"Iya? Sebentar ya."

Gadis itu buru-buru mengambil piring sambil menuangkan sayur asem ke mangkuk kecil. Gerakannya terlihat gugup sampai hampir membuat sendok sayur terjatuh.

"Pelan," ucap Galang singkat.

Sekar langsung mengangguk malu.

Tak lama kemudian mereka duduk berhadapan di meja makan.

Suasana kembali dipenuhi keheningan.

Galang makan dengan tenang tanpa banyak bicara. Sementara Sekar diam-diam terus mencuri pandang ke arah lelaki itu.

Ia memperhatikan bagaimana Galang menyendok sayur asemnya. Lalu mencoba tempe goreng dan kemudian ikan asin.

Namun tidak ada komentar apa pun keluar dari mulut lelaki itu. Sekar kembali menunduk pelan.

Apa rasanya tidak enak?

Keasinan?

Atau mungkin terlalu asam?

"A Galang..." panggilnya hati-hati.

Galang mengangkat pandangannya.

"Sayur asemnya...aneh nggak?"

"Nggak."

"Kurang asin?"

"Nggak."

Jawaban Galang tetap pendek.

Namun beberapa menit kemudian Sekar menyadari lelaki itu mengambil lagi tempe goreng untuk kedua kalinya. Bahkan ikan asin di piringnya hampir habis.

Diam-diam senyum kecil muncul di bibir Sekar.

Meski tidak banyak bicara... setidaknya Galang memakannya. Dan itu sudah cukup membuat hati kecilnya senang.

Tak lama kemudian, suara denting sendok terdengar pelan. Galang meletakkan sendoknya lalu menatap Sekar.

"Masakan kamu enak."

Sekar langsung membeku.

Tatapan gadis itu sedikit membulat seolah tidak menyangka akan mendengar kalimat tersebut.

"Sayur asemnya pas," lanjut Galang tenang.

Pipi Sekar langsung memanas.

Ia buru-buru menunduk sambil menyembunyikan senyum kecilnya.

"Syukur kalau A Galang suka."

Galang tidak menjawab lagi. Namun entah kenapa, suasana pagi itu terasa sedikit lebih hangat dibanding hari-hari sebelumnya.

.

.

.

Tepat pukul setengah tujuh pagi, Galang bersiap berangkat ke rumah sakit.

Sekar mengikuti lelaki itu sampai kedepan rumah.

Saat Galang hendak melangkah keluar melewati ambang pintu, tiba-tiba pria itu berhenti. Sekar ikut berhenti di belakangnya.

Galang membuka tas kerjanya lalu mengeluarkan sebuah kartu ATM dari dompet.

"Ini," ucapnya sambil menyerahkan kartu itu.

Sekar tampak bingung. "Apa?"

"Kartu ATM saya."

Sekar langsung menggeleng cepat. "Nggak usah, A."

"Pegang aja."

"Aku masih punya uang."

Galang menatapnya datar namun tegas.

"Buat kebutuhan rumah."

Sekar masih ragu menerima benda itu.

"Aku nggak enak..."

"Sekar," suara Galang sedikit lebih rendah sekarang. "Kamu istri saya."

Gadis itu terdiam.

"Kebutuhan rumah tangga tanggung jawab saya," lanjut Galang. "Kalau ada yang kurang, beli."

Sekar perlahan menerima kartu itu.

Galang kembali berkata. "Sekalian beli beberapa pakaian."

Sekar mengernyitkan kecil. "Bajuku masih ada."

"Yang dari Bandung belum semuanya datang kan?"

Sekar tidak bisa membantah.

Pernikahan mereka terjadi terlalu mendadak. Sebagian besar barang miliknya memang masih tertinggal di Bandung dan baru akan dikirim beberapa hari lagi.

"Beli yang kamu perluin," ujar Galang lagi.

Tidak ada nada lembut atau romantis dalam ucapannya. Galang mengatakan semua itu dengan tenang dan datar. Semata karena rasa tanggung jawab.

Karena kini Sekar tinggal bersamanya. Mengurus rumahnya, menyiapkan makanannya, dan sebagai suami Galang merasa wajib memenuhi kebutuhan istrinya.

Hanya itu.

Namun tetap saja hati Sekar terasa hangat mendengarnya.

"Terima kasih, A. Aku...akan menggunakannya dengan baik." Ucapnya lirih.

Galang mengangguk kecil, saat Galang hendak kembali melangkahkan kakinya, Sekar mengulurkan tangan kearah pria yang kini bergelar suami.

"Sa-salim..." ucap Sekar gugup.

Galang menelan ludahnya lalu mengulurkan tangannya. Sekar meraihnya dan menyalami Galang dengan takzim.

"Sa-saya berangkat..." gumam Galang.

"Ya. Hati-hati."

Pria itu kembali melangkahkan kakinya menuju mobil. Sedangkan Sekar berdiri di ambang pintu memperhatikan mobil itu perlahan menjauh meninggalkan halaman rumah.

.

.

.

Haiiiiiii salam kenal 👋

Bantu Yehppee menaikan performa novel ini ya🙏 dengan komen, like, vote, subscribe dan bintang limanya 🫶

Bersambung....

1
Gemuruh riuh
kiw, mulai ada rasa nih
Gemuruh riuh
awas aja kalo tiba-tiba jadi asing
Gemuruh riuh
cie cie 🤭
Gemuruh riuh
yu Galang Pepet terus istrimu! jangan sampe di ambil mantan nya😭
Gemuruh riuh
cie cie mulai gombal, pasti di ajarin Ardi nih🤣🤭
Gemuruh riuh
ah baru aja mau gosip🤣
Gemuruh riuh
Ardi ini tipe rusuh banget 🤭
Gemuruh riuh
iya sih rata-rata kenapa ya suka padanya kapan hamil, seolah pertanyaan itu tuh udah biasa
Gemuruh riuh
waduh 😲
Gemuruh riuh
Galang berantem yuk🫵
Gemuruh riuh
Bu Dian ini tipe tetangga kalau nurunin kulkas langsung kepanasan
Gemuruh riuh
nih orang blak-blakan banget 😭🤣
Alia Chans
Jleb😯😯
falea sezi
lanjut bkin cerai aja dah laki. bloon bgt dikira istrimu g ada yg suka apa
falea sezi
istrimu di gondol pebinor kapok lu lang😒 jd suami cuek bgt🤣 arif uda siap tuh nrima janda mu🤣
falea sezi
🤣kampret di prank
falea sezi
😍 ganteng amat dokternya aduhh
🍀 YEHPPEE 🍀: silahkan di pilih kak😁
total 1 replies
Gemuruh riuh
ih Galang jahat banget mulutmu! awas aja nanti-nanti nelen ludah sendiri
Gemuruh riuh
wkwkwkw teh Emi lucu nih, jangan sampe Sekar satu circle sama teh emi🤣
Gemuruh riuh
Jangan-jangan Sekar putus sama dokter Arif gara-gara milih nikah sama Galang ya???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!