NovelToon NovelToon
Obsesi Tuan Perdana Menteri

Obsesi Tuan Perdana Menteri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Wanita perkasa
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Amila FM

“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”

Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.

Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Leak

Matahari pagi di ibu kota tidak pernah terasa sepahit ini. Cahaya jingga yang menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di ruang kerja kepresidenan terasa seperti penghinaan bagi Kael Arden. Ia berdiri di depan cermin besar, jemarinya yang panjang bergerak dengan ketangkasan mekanis untuk merapikan dasi sutra abu-abu peraknya. Rambutnya, seperti biasa, tertata klimis sempurna dengan aroma cedarwood yang maskulin. Namun, di balik kerah kemeja putihnya yang kaku, terdapat jejak merah samar, tanda kepemilikan yang ditinggalkan Aurelia Vane di lantai The Gilded Cage semalam.

Setiap kali kain katun mahal itu bergesekan dengan kulit lehernya, Kael merasakan denyut adrenalin yang liar. Ada amarah yang membakar, keinginan primitif untuk membalas dendam, namun di bawah itu semua, ada obsesi gelap yang menuntut untuk kembali menguliti tubuh Aurelia, menjamah setiap jengkal kulit porselen itu hingga wanita itu tidak bisa lagi mengeluarkan tawa sinisnya.

Tapi bukan sekarang. Saat ini, dunia sedang menuntut kepalanya.

Di atas meja kerjanya, sebuah tablet menampilkan berita utama yang sedang membakar bursa saham dunia.

"SKANDAL SATU MILIAR DOLAR: SIAPA PRIA BERTOPENG DI BALIK PELELANGAN THE GILDED CAGE?"

Kael tidak perlu membaca artikelnya untuk tahu bahwa itu adalah awal dari kehancurannya. Namun, bukan itu yang membuatnya sesak. Masalah utamanya ada pada folder merah yang baru saja dikirimkan oleh unit intelijen siber negara.

"Tuan Perdana Menteri," suara sekretaris pribadinya, Marcus, terdengar gemetar melalui interkom. "Pihak oposisi baru saja merilis draf asli Vane Group Acquisition Act. Seseorang membocorkan catatan transaksi pribadi dari akun bayangan yang Anda gunakan semalam. Mereka tahu Anda menggunakan dana jaminan negara untuk menawar di pelelangan itu."

Kael mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. "Berapa banyak yang bocor?"

"Semuanya, Tuan. Termasuk metadata lokasi Anda semalam. Mereka tidak hanya meretas kita, mereka membedah kita hidup-hidup."

Kael mematikan interkom dengan kasar. Ia tahu siapa pelakunya. Tidak ada orang lain yang memiliki keberanian dan akses sedalam itu selain wanita yang semalam merintih di bawah kuasanya namun tetap menolak untuk menyerah. Aurelia Vane tidak hanya menjual "akses" semalam; ia menjual jebakan yang dibungkus dengan sutra dan gairah, dan Kael, sang jenius yang sombong, masuk ke dalamnya dengan mata terbuka.

Sambil melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke gedung Vane Center yang menjulang di kejauhan, Kael mencoba menenangkan otaknya yang biasanya bekerja seperti superkomputer.

Aurelia tidak memberinya ruang untuk bernapas. Pikirannya dipenuhi gambaran bagaimana ia akan menyeret wanita itu ke hadapannya, bukan untuk menciumnya, tapi untuk menghancurkan setiap lapisan kesombongannya. Ia ingin melihat Aurelia hancur di bawah kakinya, telanjang dari segala intrik dan kekuasaannya.

Tiba-tiba, ponsel pribadinya bergetar. Sebuah pesan video masuk dari nomor yang tidak terdaftar.

Kael membukanya. Layar ponselnya menampilkan Aurelia. Ia sedang duduk di balkon penthouse-nya, mengenakan jubah tidur sutra hitam yang longgar, membiarkan bahu pucatnya terekspos cahaya pagi. Ia menyesap kopi hitamnya sambil menatap kamera dengan tatapan yang seolah-olah bisa menembus jiwa Kael. Wajahnya tampak segar, cantik, dan sangat puas. Pemandangan yang sangat kontras dengan kekacauan yang sedang dihadapi Kael.

Selamat pagi, Sayang," suara Aurelia mengalun, serak-serak basah yang memicu ingatan sensorik Kael pada malam sebelumnya. "Bagaimana rasanya bangun sebagai pria yang paling dibenci di negeri ini? Aku harap satu miliar dolar itu sepadan dengan... hiburan yang aku berikan padamu semalam."

Aurelia terkekeh, suara tawa yang rendah dan mengejek. "Kau pikir kau yang memegang rantainya semalam, Kael? Aku membiarkanmu merobek gaunku agar kau lupa memeriksa sakumu. Terima kasih atas tanda tangan digitalmu pada protokol akses server saat kau 'sibuk' mengeksplorasi kulitku. Itu sangat... membantu."

Video itu berakhir dengan Aurelia meniupkan kecupan ke kamera.

Kael melempar ponselnya ke atas meja marmer. Kemarahan meledak di dadanya, namun di bawah kemarahan itu, ada sebuah rasa lapar yang semakin liar. Ia merasa telanjang. Ia merasa dipermainkan. Tapi ia juga merasa lebih hidup daripada sebelumnya. Obsesinya kini telah berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, ia tidak hanya ingin memiliki Aurelia, ia ingin menaklukkannya hingga tak ada lagi yang tersisa dari harga diri wanita itu.

"Panggil unit taktis," perintah Kael saat ia menekan tombol interkom lagi. Wajahnya kembali menjadi topeng pualam yang dingin. "Kita akan melakukan penggeledahan di Vane Center. Alasan, Ancaman Keamanan Nasional."

"Tuan, tanpa surat perintah resmi, itu adalah tindakan ilegal..."

"Aku adalah hukum di negara ini, Marcus! Lakukan sekarang!"

Kael menyambar jasnya, memakainya dengan gerakan yang menunjukkan dominasi mutlak. Ia keluar dari kantornya dengan langkah lebar, pengawalnya kesulitan menyamai kecepatannya. Ia tidak peduli jika seluruh dunia melihatnya jatuh. Jika ia harus hancur, maka Aurelia Vane harus hancur bersamanya dalam api yang sama.

Pukul sepuluh pagi. Vane Center dikepung oleh pasukan elite bersenjata lengkap. Sirene polisi membelah keheningan distrik bisnis. Kael Arden keluar dari mobil kepresidenannya, wajahnya adalah topeng pualam yang dingin, rambutnya tetap rapi meski angin kencang menerjang.

Ia melangkah masuk ke lobi kristal gedung itu, mengabaikan protes dari staf hukum Vane Group. Ia langsung menuju lift pribadi menuju lantai teratas.

Pintu lift terbuka di lantai penthouse. Suasananya sangat kontras dengan keributan di bawah. Ruangan itu tenang, beraroma black rose dan kemenyan mahal. Aurelia sedang berdiri di tengah ruangan, mengenakan gaun bodycon berwarna merah darah yang sangat ketat, memegang sebuah map hitam di tangannya.

"Kau datang lebih cepat dari yang aku kira, Kael," ujar Aurelia tanpa berbalik. Ia menatap pantulan Kael di dinding kaca. "Apakah kau ke sini untuk menangkapku, atau untuk memohon agar aku menghentikan kebocoran data ini?"

Kael mendekat, langkah kakinya berat dan penuh ancaman. Ia berhenti tepat di belakang Aurelia, bisa merasakan panas tubuh wanita itu. Hasrat untuk membalikkan tubuh itu dan merobek gaun merahnya sangat kuat, namun ia menahannya dengan kekuatan kehendak yang menyiksa.

"Kau membocorkan dokumen itu. Kau menghancurkan karierku hanya untuk sebuah permainan ego?" desis Kael di dekat telinga Aurelia.

Aurelia berbalik, menyandarkan tubuhnya pada meja obsidian. Ia mendongak, menatap Kael dengan senyum sinis yang provokatif. "Aku tidak menghancurkanmu, Kael. Aku hanya sedang menunjukkan siapa kau sebenarnya di depan rakyatmu. Kau bukan pelayan publik. Kau adalah seorang pria yang terobsesi, seorang predator yang bersembunyi di balik jas mahal."

Kael mencengkeram rahang Aurelia dengan satu tangan, memaksa wanita itu menatap matanya yang gelap karena hasrat dan amarah yang bercampur aduk. Ia ingin menguliti setiap inci kulit porselen itu sekarang juga, membuat Aurelia berteriak bukan karena tawa, tapi karena menyerah pada kekuasaannya. Namun, ini belum saatnya. Ia harus memenangkan permainan ini terlebih dahulu.

"Kau pikir kau menang?" Kael bertanya dengan suara yang sangat rendah dan berbahaya. "Aku bisa meratakan gedung ini dalam satu perintah. Aku bisa menghapus namamu dari sejarah."

"Maka lakukanlah," bisik Aurelia, tangannya merayap naik ke dada Kael, meraba tekstur kain jasnya. "Hancurkan aku. Tapi kau tahu, saat kau melakukannya, kau tidak akan pernah bisa merasakan kulitku lagi. Kau tidak akan pernah mendengar suara yang kau cari semalam keluar dari tenggorokanku lagi."

Aurelia melepaskan tangan Kael dari rahangnya dan justru memberikan map hitam di tangannya ke dada Kael. "Di dalam sini ada data tentang siapa yang sebenarnya mengkhianatimu di kabinet. Aku tidak meretasmu sendirian, Kael. Orang-orangmu sendiri yang membukakan pintu untukku karena mereka takut padamu. Mereka ingin kau jatuh."

Kael tertegun sejenak, namun kemarahan di matanya tidak memudar. Ia menatap map itu, lalu kembali ke mata Aurelia. Rasa ingin memiliki wanita ini secara mutlak semakin mencekiknya.

"Kenapa kau memberitahuku ini?"

"Karena aku ingin kau menang, Kael," bisik Aurelia tepat di depan bibirnya, aromanya yang memabukkan memenuhi indra Kael. "Aku ingin kau menghancurkan mereka semua. Aku ingin kau menjadi iblis yang sebenarnya, sehingga saat kau berdiri di puncak tumpukan mayat musuhmu, hanya aku satu-satunya orang yang bisa kau percayai."

Aurelia tersenyum kemenangan, melihat bagaimana Kael berjuang menahan diri untuk tidak menerjangnya. Ia menikmati rasa takut dan hasrat yang terpancar dari wajah sang Perdana Menteri. Bagi Aurelia, ini adalah puncak kegembiraan, melihat pria paling berkuasa di negeri ini menjadi budak dari obsesinya sendiri.

Kael merasakan sesak yang luar biasa. Ia membenci betapa benarnya kata-kata wanita ini. Ia membenci bagaimana setiap saraf di tubuhnya berteriak untuk menjatuhkan wanita ini ke meja obsidian dan memuaskan rasa laparnya, namun ia menarik diri. Ia merapikan jasnya, memastikan penampilannya kembali sempurna meski jiwanya telah hancur.

"Kau adalah racun, Aurelia," desis Kael, suaranya parau.

"Dan kau adalah pecandunya," balas Aurelia sambil tersenyum puas.

Kael menyambar map hitam itu dan berbalik menuju lift tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak akan memberinya kepuasan fisik hari ini. Ia akan kembali, tapi bukan sebagai mangsa. Ia akan kembali sebagai orang yang akan memastikan Aurelia Vane tidak memiliki tempat untuk lari.

Di luar, suara sirene semakin keras, namun di dalam penthouse itu, Aurelia Vane menyesap kopinya dengan tenang, menikmati kehancuran yang ia ciptakan dengan sangat indah. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, Kael Arden tidak hanya bertaruh dengan negaranya, tapi dengan kewarasannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!