NovelToon NovelToon
Cinta Diusia Senja

Cinta Diusia Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cintapertama
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: riena

"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 21. Teka teki yang terjawab

Malamnya, atmosfer di dalam rumah kontrakan kembali terasa berat dan sunyi. Jam digital di dinding ruang tengah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Di atas meja makan, cangkir-cangkir teh hangat yang baru diseduh masih mengepulkan uap tipis, namun tak ada satupun dari keempat orang di rumah itu yang memulai obrolan hangat.

Sejak pulang kantor tadi, Rayhan dan Ameera sudah saling melemparkan kode lewat tatapan mata. Sesuai kesepakatan terselubung di dalam mobil pagi tadi, mereka berdua kini duduk berdampingan di sofa ruang tamu dengan laptop yang terbuka di pangkuan Ameera berpura-pura sibuk memeriksa rundown acara pernikahan.

Padahal, fokus sepasang mata mereka sepenuhnya tertuju pada dua sosok paruh baya yang duduk di area meja makan.

Di seberang ruangan, Imam sedang duduk membaca sebuah buku biografi tebal. Namun, jika diperhatikan lebih jeli, sejak sepuluh menit yang lalu halaman buku itu sama sekali tidak dibalik. Pandangan mata Imam lurus menatap barisan teks, namun rahangnya tampak mengeras, menahan ketegangan yang luar biasa.

Sementara itu, Habibah duduk agak menyerong, sibuk dengan rajutan syal wol di tangannya. Jemarinya bergerak lambat, memasukkan jarum rajut dengan gerakan yang dipaksakan.

"Pa," panggil Ameera memecah keheningan, suaranya sengaja dibuat seringan mungkin. "Ini vendor dekorasi nanya, untuk pelaminan nanti Papa mau ada nuansa ukiran kayu klasik atau yang minimalis modern saja?"

Imam tersentak kecil, lalu buru-buru menutup bukunya. "Eh... terserah kamu dan Rayhan saja, Meer. Papa ikut apa yang terbaik menurut kalian."

"Kalau menurut Ibu, bagaimana?" tanya Rayhan tiba-tiba, melayangkan pandangan lurus ke arah ibunya.

Habibah yang namanya disebut mendadak salah tingkah. Jarum rajutnya sempat slip, merusak satu simpul benang yang baru saja ia buat. "I-ibu... Ibu juga ikut saja, Ray. Yang penting kalian berdua suka dan nyaman."

Dari sudut sofa, Rayhan menyenggol pelan lutut Ameera di bawah meja, memberi kode agar calon istrinya memperhatikan apa yang sedang terjadi.

Seketika itu juga, Ameera melihatnya. Saat Habibah hendak meraih cangkir tehnya, Imam secara refleks menggeser sedikit tubuhnya mundur, seolah takut jika lengan kemeja atau kulit mereka tidak sengaja bersentuhan. Jarak di antara kedua kursi mereka yang biasanya terasa dekat, kini sengaja dibuat renggang sejauh satu meter.

Tidak ada satupun kontak mata yang terjadi di antara Imam dan Habibah. Setiap kali Imam mendongak untuk meminum air, Habibah akan langsung menundukkan kepala dalam-dalam menatap rajutannya. Dan setiap kali Habibah bergerak hendak ke dapur, Imam akan pura-buru membalik halaman bukunya dengan tergesa-gesa.

Mereka bertingkah terlalu sopan, terlalu kaku, dan terlalu berjarak. Kehati-hatian yang berlebihan itu justru mempertegas bahwa ada sesuatu yang sedang mereka tutupi dengan sangat rapat.

Ameera menelan ludah, dadanya mulai terasa sesak. Kecurigaan Rayhan pagi tadi kini terbukti di depan matanya sendiri. Ini bukan sekadar rasa sungkan antar-calon besan. Ini adalah bahasa tubuh dari dua orang yang memiliki sebuah rahasia besar.

"Yang..." bisik Ameera sangat lirih ke telinga Rayhan, jemarinya di atas keyboard laptop mendadak terasa dingin. "Kamu benar. Ada yang nggak beres sama Papa dan Tante Bibah."

Rayhan tidak menjawab, namun rahangnya mengetat. Matanya terus mengunci gerak-gerik ibunya yang kini mulai merapikan benang rajutannya dengan tangan yang kembali sedikit bergetar, bersiap untuk melarikan diri ke dalam kamar lebih awal seperti malam sebelumnya. Kecurigaan di kepala Rayhan kini mulai berubah menjadi sebuah teka-teki besar yang harus segera ia temukan jawabannya.

*

*

Malam kian larut, namun udara di dalam rumah itu terasa semakin mencekik. Rayhan menutup laptopnya, lalu bangkit berdiri. Ia tidak bisa lagi hanya diam menonton "sandiwara" yang melelahkan ini.

"Bu," panggil Rayhan, suaranya tenang namun memiliki wibawa yang membuat Habibah mendongak. "Ibu bosan tidak di rumah terus? Rayhan tiba-tiba pengen martabak manis di depan komplek. Ibu temani Rayhan yuk, cari angin sebentar. Tadi Ibu belum banyak gerak kan?"

Habibah sempat ragu. Ia melirik ke arah Imam yang masih berpura-pura membaca buku. "Tapi ini sudah malam, Ray..."

"Sebentar saja, Bu. Pakai jaket ya," potong Rayhan lembut namun tak terbantahkan.

Ameera yang mengerti kode tersebut segera menyambar kunci mobil miliknya sendiri. "Nah, bener tuh. Biar Ameera di rumah saja ya temani Papa, mumpung Papa lagi baca buku tenang begitu. Rayhan, bawa Ibu jalan-jalan sebentar ya."

Beberapa menit kemudian Rayhan mengemudikan mobilnya dengan perlahan, membiarkan jendela sedikit terbuka agar udara malam yang dingin masuk. Habibah duduk di sampingnya, menatap keluar jendela, memperhatikan deretan rumah dan pohon-pohon yang berlalu.

Setelah beberapa menit keheningan yang nyaman, Rayhan membelokkan mobilnya ke sebuah taman kecil yang sepi di dekat area ruko komplek. Ia mematikan mesin, namun tidak turun.

"Ibu," panggil Rayhan pelan.

Habibah menoleh, "Iya, Ray? Jadi beli martabaknya?"

Rayhan memutar tubuhnya menghadap sang ibu, menatap mata wanita yang telah membesarkannya sendirian itu dengan tatapan yang sangat dalam. "Rayhan mau tanya sesuatu, dan Ibu harus jujur sama Rayhan."

Habibah mulai merasa tidak enak. Ia meremas tali tas kecilnya. "Tanya apa, Ray? Kok serius sekali kelihatannya?"

"Bu... apa Ibu merasa tidak nyaman tinggal satu atap begini?" tanya Rayhan langsung pada intinya. "Apa kehadiran Om Imam... atau kehadiran keluarga Ameera di rumah itu membuat Ibu merasa tertekan?"

Habibah tertegun. Ia sempat kehilangan kata-kata. "Kenapa kamu tanya begitu? Ibu baik-baik saja, Ameera anak yang baik, Om Imam juga sangat sopan..."

"Ibu jangan bohong sama Rayhan," potong Rayhan lagi, kali ini nadanya lebih rendah, hampir seperti berbisik. "Rayhan perhatikan sejak kemarin, Ibu seperti orang yang ketakutan di rumah sendiri. Ibu selalu menghindar kalau ada Om Imam. Bahkan tadi pagi, Ibu gemetar waktu Om Imam minta sambal. Om Imam juga sama, dia kaku sekali, panggil Ibu 'Bu Habibah' seolah-olah kalian ini musuh atau orang asing yang terpaksa satu ruangan."

Rayhan meraih tangan ibunya yang dingin. "Kalau Ibu merasa tidak nyaman, kalau Ibu merasa privasi Ibu terganggu, atau... kalau ada perlakuan Om Imam yang membuat Ibu tersinggung, bilang sama Rayhan, Bu. Kita bisa cari kontrakan lain buat Ibu. Rayhan tidak mau kebahagiaan pernikahan Rayhan harus dibayar dengan batin Ibu yang tersiksa setiap hari."

Habibah merasakan tenggorokannya tercekat. Mendengar perhatian tulus dari putranya justru membuat rasa bersalah itu kembali membanjir. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ketidaknyamanannya bukan karena ia membenci Imam, melainkan karena ia terlalu mencintai pria itu. Sebuah cinta lama yang nyaris membuat mereka berbuat khilaf.

"Bukan begitu, Ray..." suara Habibah mulai bergetar. Ia menunduk, tidak berani menatap mata tajam putranya. "Om Imam... dia orang baik. Sangat baik. Tidak ada satupun perlakuannya yang jahat pada Ibu."

"Lalu kenapa, Bu?" desak Rayhan lembut. "Kenapa Ibu seperti sedang memikul beban berat setiap kali Om Imam lewat di depan Ibu? Apa ada sesuatu di masa lalu yang Rayhan tidak tahu?"

Pertanyaan terakhir Rayhan membuat jantung Habibah seolah berhenti berdetak sesaat. Ia langsung teringat tatapan Imam pagi kemarin, dan hampir saja ia terisak di sana. Di bawah temaram lampu jalan, rahasia besar itu seolah tinggal selapis tipis lagi untuk terkuak, namun Habibah masih mati-matian menahannya demi masa depan Rayhan dan Ameera.

“Apa Ibu pernah mengenal om Imam sebelumnya?”

Pertanyaan Rayhan yang meluncur begitu saja bagaikan petir di malam yang sepi. Kalimat itu menghantam pertahanan Habibah hingga berkeping-keping.

Di dalam mobil yang sunyi itu, Habibah seketika membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Genggaman tangannya pada tali tas semakin mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu Rayhan adalah anak yang cerdas dan peka, tapi ia tidak pernah menyangka kalau insting putranya akan setajam ini, langsung menusuk ke akar rahasia yang selama puluhan tahun ini ia kubur dalam-dalam.

"Bu...?" desak Rayhan lagi, suaranya melembut namun penuh tuntutan. Mata elangnya tidak lepas dari raut wajah ibunya yang kini tampak luar biasa syok. "Ibu pernah mengenal Om Imam sebelum kita pindah ke kota ini, kan?"

Habibah buru-buru memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap kegelapan malam demi menyembunyikan setetes air mata yang mendadak lolos dari sudut matanya. Dadanya bergemuruh hebat. Haruskah ia jujur? Tapi jika ia jujur bahwa pria yang dipuja Ameera itu adalah cinta pertamanya, bagaimana nasib pernikahan Rayhan nanti?

"Kenapa... kenapa kamu bertanya sejauh itu, Ray?" suara Habibah bergetar hebat, tak mampu lagi menyembunyikan guncangan batinnya.

"Karena bahasa tubuh kalian tidak bisa bohong, Bu," jawab Rayhan, kini kedua tangannya menggenggam jemari ibunya yang terasa sedingin es. "Orang yang baru kenal karena urusan anak, canggungnya tidak akan sekaku ini. Kalian bukan seperti dua orang asing, tapi seperti dua orang yang punya banyak cerita di masa lalu, tapi terpaksa harus bersandiwara di depan aku dan Ameera."

Rayhan menarik napas dalam, mencoba menata emosinya sendiri yang mulai campur aduk. "Tolong jujur sama Rayhan, Bu. Apa Om Imam itu... orang dari masa lalu Ibu?"

Habibah memejamkan matanya erat-erat. Air matanya kini mengalir semakin deras, membasahi pipinya yang mulai berkerut. Kenangan tiga puluh tahun lalu berputar seperti kaset rusak di kepalanya, bagaimana kerasnya almarhum ayahnya menolak Imam, bagaimana mereka terpaksa berpisah karena tembok prinsip yang tak bisa runtuh, hingga takdir yang dengan kejamnya mempertemukan mereka kembali sebagai calon besan.

"Ray..." Habibah akhirnya menoleh, menatap putranya dengan mata yang sembap dan merah. "Ada beberapa hal di dunia ini yang... yang lebih baik tetap tersimpan di masa lalu. Ibu mohon, jangan tanya lebih jauh lagi."

Ratapan lirih Habibah justru menjadi jawaban paling mutlak bagi Rayhan. Tanpa perlu ibunya mengiyakan secara lisan, tangisan dan ketakutan Habibah malam ini sudah menjadi bukti konkret: Ibunya dan ayah Ameera memang punya cerita di masa lalu.

Rayhan tertegun, separuh hatinya merasa dunianya mendadak bergeser. Teka-teki itu terjawab, namun menyisakan kenyataan baru yang jauh lebih rumit dan membingungkan tepat di ambang hari pernikahannya dengan Ameera.

****

1
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Safitri Agus
terimakasih kak Riena updatenya 🙏🥰🥰🥰
Afternoon Honey
tetap menyimak dan membaca cerita bersambung ini..m
Indriyani_ Indry
Alhamdulillah novel ini ada update nya ... terimakasih kk😍😍😍
Safitri Agus
TRIms kak Riena updatenya 🙏🥰
Safitri Agus
rumit ya,🤦
Safitri Agus
😭😭😭
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
ujian sebelum pernikahan, mereka pasti dilema....
Safitri Agus
terimakasih kak Riena sudah update 🙏🥰
Fitria Rastanti
gx lanjut kak riee ceritanya
Safitri Agus: lanjut dong kak biar tau endingnya 😊
total 3 replies
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
dari kmrn blm ada bab yg br ka ... libur yah ka?
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
sy sukaaa semua novel karya author ini ... novelnya kereeennn dan berkls ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!