Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Lamunan Yurika terputus ketika ponselnya kembali bergetar, ia mendapati pesan dari Jia.
[Kenapa tidak membalas? Apa kamu sudah tidur?]
Yurika langsung mengetik balasan.
[Hampir tidur. Aku tadi mau meneleponmu, tapi salah pencet nomor.]
Balasan datang dalam hitungan detik.
[Siapa yang kau telepon?]
Yurika menatap layar beberapa saat sebelum menjawab.
[Orang yang barusan kita bicarakan.]
Tak lama kemudian, Jia mengirim sederet emoji tertawa.
Bahkan tanpa melihatnya, Yurika bisa membayangkan temannya itu sedang tertawa terbahak-bahak. Ia menghela napas pasrah, meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur, lalu mematikan lampu.
Malam itu akhirnya berlalu dengan tenang.
***
Keesokan paginya, Yurika terbangun karena suara notifikasi pesan.
Ternyata ibunya mengirim pesan dan memintanya pulang untuk makan malam bersama keluarga.
Yurika segera membalas bahwa ia akan datang.
Setelah itu ia bangun, mandi, dan bersiap berangkat kerja.
Rutinitas paginya berjalan cepat seperti biasa. Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, ia sudah siap keluar rumah.
Ketika tiba di perusahaan, waktu masih menunjukkan beberapa menit sebelum jam masuk kerja.
Saat berjalan menuju departemennya, ia bertemu seseorang di depan lift.
"Selamat pagi."
Pria itu tersenyum ramah. Yurika mengenalinya sebagai Leo dari departemen pemasaran.
Mereka masuk perusahaan hampir dalam waktu yang bersamaan sehingga beberapa kali bertemu saat bekerja, meski tidak pernah benar-benar dekat.
"Pagi."
Leo menekan tombol lift sambil bertanya santai, "Bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini?"
"Cukup baik. Bagaimana denganmu?"
Pria itu langsung menghela napas panjang.
"Jangan ditanya. Aku hampir setiap hari harus menemani klien. Beberapa hari lalu minum terlalu banyak dan sampai sekarang masih belum pulih."
Yurika tersenyum sopan. "Kalau begitu Anda harus lebih menjaga kesehatan."
Mata Leo langsung berbinar. Ia mengeluarkan sekotak susu stroberi dari tasnya dan menyodorkannya.
"Adikku memberikannya pagi ini. Aku tidak terlalu suka rasa manis."
Ia berhenti sejenak lalu tersenyum.
"Kurasa kau akan menyukainya."
Yurika sedikit terkejut, sebenarnya ia berniat menolak. Namun sebelum sempat membuka mulut, lift terbuka dan beberapa senior masuk.
Percakapan mereka langsung terputus. Pada akhirnya, susu itu tetap berada di tangan Yurika.
Setelah tiba di meja kerja, ia meletakkannya di sudut meja dan kembali fokus bekerja.
Sayangnya, dua rekan dalam departemen mereka sedang cuti mendadak.
Akibatnya, sebagian pekerjaan dialihkan kepada anggota tim yang tersisa.
Selama dua hari terakhir, Yurika hampir selalu pulang lebih lambat dari biasanya.
Menjelang sore, ia mengirim pesan kepada keluarganya.
[Aku mungkin terlambat sekitar satu jam. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.]
Setelah mengirim pesan itu, ia meletakkan ponselnya. Namun ketika mengangkat kepala, ia mendapati seseorang berdiri di depan mejanya.
Sosok tinggi dan ramping itu memegang sebuah mantel di lengannya.
Yurika terkejut sesaat. Karena orang yang berdiri di sana adalah Austin.
Austin berdiri di samping meja kerja Yurika dengan satu tangan bertumpu santai pada sandaran kursi. Mantelnya tergantung di lengannya, sementara sorot matanya yang tenang menyapu layar komputer yang masih menyala.
"Kau masih bekerja lembur?" tanyanya pelan.
Yurika segera berdiri dari kursinya. Meskipun Austin pernah mengatakan agar ia tidak terlalu tegang saat berada di luar jam kerja, kebiasaan itu tampaknya belum bisa hilang begitu saja.
"Ya," jawabnya sambil mengangguk. "Tapi tidak lama lagi. Tinggal sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan."
Austin tidak langsung menanggapi. Tatapannya justru bergeser ke sudut meja.
Di sana tergeletak sekotak susu stroberi yang masih utuh. Pandangannya berhenti beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Kemudian ia berkata dengan nada datar, "Itu hadiah dari seseorang?"
Yurika berkedip heran. "Bagaimana Anda tahu?"
Austin tidak segera menjawab.
Pertanyaan itu justru membawanya kembali pada kenangan bertahun-tahun lalu, saat mereka masih menjadi mahasiswa.
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁
🤭
terlalu kaku🙏