NovelToon NovelToon
Suami Yang Tak Di Inginkan

Suami Yang Tak Di Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31 : Ketemu Nathan

Sore hari...

Jam kuliah akhirnya selesai. Namun sejak siang tadi, pikiran Queen tidak pernah benar-benar fokus pada materi dosen. Ucapan Anggi terus terngiang di kepalanya.

Lo harus jujur sama Nathan.

Dan pada akhirnya, Queen memutuskan untuk bertemu Nathan.n Bukan untuk memulai sesuatu, justru untuk mengakhirinya dengan benar.

Di depan gerbang kampus. Anggi berdiri di samping Queen sambil melipat kedua tangan. "Masih bisa dibatalin loh."

Queen langsung meliriknya. "Ngomong apaan sih."

"Takutnya lo pingsan di tengah jalan."

"Gue nggak selemah itu."

"Lima puluh persen yakin."

"Anggi!"

Anggi langsung tertawa.

Tak lama kemudian mereka naik taksi menuju sebuah kafe yang sudah disepakati Nathan. Sepanjang perjalanan, Queen terlihat diam. Tangannya terus memainkan ujung tas. Sedangkan Anggi yang biasanya cerewet kali ini hanya sesekali melirik sahabatnya.

"Nervous ya?"

"Dikit."

"Yakin cuma dikit."

Queen menghela napas panjang. "Gue nggak tahu harus ngomong apa."

"Udah jujur aja."

"Gampang ngomongnya."

"Memang gampang."

Queen mendelik. Anggi malah tertawa.

Empat puluh menit kemudian.

Mereka tiba di sebuah kafe yang cukup tenang. Nathan sudah duduk di salah satu meja dekat jendela. Begitu melihat Queen masuk, pria itu langsung berdiri.

Untuk sesaat, ekspresi wajah Nathan berubah lega. Sepertinya ia sudah lama menunggu momen ini.

"Queen."

Queen mengangguk pelan. "Hai."

Nathan tersenyum. "Makasih ya kamu udah datang."

Queen duduk perlahan. Sedangkan Anggi mengambil kursi di sampingnya. Awalnya suasana terasa canggung. Nathan beberapa kali mencoba membuka percakapan. Menanyakan kabar, kuliah. Namun semua jawaban yang diberikan Queen terdengar pendek.

Sampai akhirnya...

Ponsel Anggi bergetar. Anggi melihat layar lalu langsung meringis. "Aduh."

Queen menoleh. "Kenapa?"

"Mama gue."

Nathan dan Queen sama-sama menatapnya.

Anggi menerima panggilan sebentar. "Hah?"

"Iya Ma."

"Sekarang?"

"Oke."

Beberapa detik kemudian telepon ditutup.

Anggi menghela napas panjang. "Ya ampun."

"Kenapa?" tanya Queen.

"Mama nyuruh gue pulang sekarang."

"Hah?"

"Katanya ada acara keluarga mendadak."

Queen langsung panik. "Loh?"

Nathan yang sejak tadi diam ikut berkata. "Kalau gitu lo pulang aja."

Anggi menatap Queen. Queen langsung membalas tatapan itu. Jelas terlihat pesan tanpa suara di antara mereka.

Anggi hampir tertawa. Namun pada akhirnya ia tetap berdiri. "Bisa mati gue kalau nggak pulang."

"Anggi..."

"Tenang," ucap Nathan santai.

"Tapi..."

Anggi menepuk bahu Queen pelan. "Lo bisa."

"Gue nggak bisa."

"Bisa."

Nathan sampai menahan senyum melihat mereka. Akhirnya Anggi membungkuk sedikit ke arah Queen lalu berbisik. "Udah selesaiin semuanya."

Queen terdiam.

"Lagian lo nggak mungkin sembunyi terus."

Deg.

Kalimat itu langsung mengenai sasaran. Beberapa detik kemudian Queen mengangguk kecil.

Anggi tersenyum. "Nah gitu dong." Lalu ia menoleh ke Nathan. "Gue cabut dulu."

Nathan mengangguk. "Hati-hati."

"Siap."

Tak lama kemudian Anggi benar-benar pergi. Dan sekarang, tinggallah Queen dan Nathan berdua. Suasana mendadak terasa jauh lebih sunyi. Queen langsung merasa gugup. Sedangkan Nathan memperhatikannya beberapa saat.

Kemudian tersenyum kecil. "Kamu masih sama."

Queen berkedip. "Maksudnya?"

"Kalau gugup suka mainin sedotan."

Queen langsung melihat tangannya. Dan benar saja. Sejak tadi ia memutar-mutarkan sedotan minumannya. Nathan tertawa kecil. Sedangkan Queen justru semakin canggung. Beberapa detik berlalu.

Sampai akhirnya Nathan menghela napas pelan. "Aku kangen kamu, Queen."

DEG.

Queen langsung membeku. Tangannya berhenti bergerak.

Nathan tersenyum pahit. "Aku mungkin salah waktu itu udah ajak kamu ke club, tapi aku nggak ada maksud..."

"Udah lah nggak usah di bahas, aku nggak marah sama kamu," jawab Queen cepat.

Nathan menatap Queen cukup lama. Tatapannya tidak lagi santai seperti beberapa menit yang lalu. "Jadi kamu nggak marah sama aku?"

Queen mengangguk pelan.."Iya."

"Terus kalau memang nggak marah..." Nathan tersenyum pahit. "Kenapa satu minggu ini kamu menghilang?"

Queen langsung terdiam.

Nathan melanjutkan. "Kenapa kamu nggak pernah balas chat? Kenapa telepon aku nggak diangkat? Dan kenapa setiap kali aku nyari kamu, kamu selalu menghindar?"

Satu per satu pertanyaan itu membuat Queen semakin sulit bernapas. Karena Nathan tidak salah, dia memang menghindar. Dan dia tahu alasannya. Hanya saja... ia belum berani mengatakannya.

"Nathan..."

"Aku cuma pengen tahu alasannya Queen." Suara Nathan terdengar jauh lebih pelan sekarang. "Aku nggak minta apa-apa. Kalau memang aku salah, bilang aja. Tapi jangan tiba-tiba menjauh kayak gini."

Queen menggenggam gelas minumannya erat. Jantungnya berdegup semakin cepat. "Aku..."

Belum sempat kalimat itu selesai.

Drrttt...

Ponselnya bergetar. Queen refleks menoleh. Layar ponselnya menyala. Dan nama yang muncul membuatnya membeku.

Mas Revan

Deg.

Nathan ikut melihat perubahan ekspresinya. "Siapa?"

Queen tidak langsung menjawab. Matanya tertuju pada pesan yang baru masuk.

Mas Revan: "Queen, kamu di mana?"

Pesan berikutnya masuk beberapa detik kemudian.

Mas Revan: "Jadi pergi sama Anggi?"

Lalu...

Mas Revan: "Pulang jam berapa?"

Dan beberapa detik setelah itu...

Mas Revan: "Mau saya jemput?"

DEG.

Untuk sesaat dunia seolah berhenti. Nathan masih duduk di depannya. Pria yang dulu selalu menjadi orang pertama yang menghubunginya. Namun sekarang, ada orang lain yang menggantikan semua itu. Dan itu yang membuat dadanya semakin sesak...

Revan bahkan tidak bertanya dengan siapa ia pergi. Karena ia percaya padanya. Sedangkan dirinya? Masih duduk di sini. Menyembunyikan kenyataan yang seharusnya sudah ia katakan sejak awal.

"Queen?" Suara Nathan membuatnya tersadar.

Queen perlahan mengangkat kepala.

Nathan memperhatikannya. "Itu siapa?"

Queen menunduk lagi ke layar ponselnya. Jarinya gemetar kecil. Lalu tanpa sadar sudut bibirnya membentuk senyum tipis. Senyum yang bahkan tidak ia sadari muncul.

Nathan langsung menangkapnya. Dan entah kenapa... Perasaan tidak enak mulai muncul di dadanya.

"Queen..." Kali ini suara Nathan terdengar lebih hati-hati. "Siapa yang ngirim pesan?"

Queen terdiam, beberapa detik. Sampai akhirnya ia menarik napas panjang. "Nathan."

"Hm?"

"Aku minta maaf."

Nathan terlihat bingung. "Kenapa?"

Queen menunduk sebentar sebelum akhirnya mengangkat kepala lagi. "Aku rasa aku harus pulang."

Nathan tampak terkejut. "Sekarang?"

Queen mengangguk pelan. "Iya."

"Tapi kita baru ngobrol sebentar."

Queen menggigit bibir bawahnya. "Aku tahu."

"Terus?"

"Aku cuma..." Queen menghela napas pelan. "Aku nggak bisa lama-lama di sini."

Kalimat itu membuat Nathan terdiam. Bukan karena marah, melainkan karena ia mulai memahami sesuatu.

Perlahan Nathan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Karena aku?"

Queen langsung menggeleng. "Bukan."

"Terus?"

Queen terdiam. Ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Karena semakin lama berada di hadapan Nathan, semakin besar rasa bersalah yang muncul di dalam dirinya.

Nathan menatapnya cukup lama. Kemudian tersenyum tipis. "Ya udah, aku anter ya?"

Queen berkedip. "Hah? Nggak usah, aku bisa pulang sendiri," ucapnya sedikit panik.

1
Amoera
Queen jangan khianatin pak Revan. kasian dia. lagian mau aja sama sih mokondo🤣
Arditya
cie... akhirnya nikah juga🤭
It's me Sky: hhheeee🤣
total 1 replies
Arditya
sejauh ini keren banget thoor👍
Siska Amelia
good
It's me Sky: terimakasih kaka🙏
total 1 replies
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉






Saling support sabi kali ya😉
It's me Sky: wihh makasih kakak/Smile/
total 1 replies
Reichan Muhammad
ya ampun torrr keren bgttt kmu punya 4 novel yg on going semua
It's me Sky: iya kakak, selama lagi ada ide jalan terus🤭
total 1 replies
Arditya
jadi inget inggit dan mas Arya, tapi ini kemasannya beda top lah thoor👍
It's me Sky: wkwkwkwkwk🤭
total 1 replies
Arditya
wajah di baca ini cerita menarik banget, remajanya dapet kisahnya fresh. suka sma Revan dan Queen. sukses thoor/Smile/
It's me Sky: makasih bnyk/Hey/
total 1 replies
Arditya
seru banget thoor😍
It's me Sky: wihhh makasihhh/Tongue/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!