Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Aku menatapnya lurus-lurus, menahan kuat-kuat gejolak aneh di dadaku dan mengembalikan topeng datarku seperti semula.
"Kenapa kamu sering sekali melamun hari ini, Aruna?" tanyaku dengan suara berat yang sengaja diredam, menatapnya intens dari jarak sedekat ini. "Mikirin apaan kamu dari tadi sampai tidak fokus begini? Berjalan di koridor saja sampai menabrak saya."
"M-maaf, Pak Adrian... S-saya beneran nggak sengaja," cicitnya gelagapan, wajahnya yang memerah padam terlihat semakin menggemaskan.
Aku perlahan melepaskan cengkeramanku di bahunya setelah memastikan posisinya sudah seimbang. Aku berdeham pelan, memundurkan langkah satu sentimeter demi memberi ruang bernapas untuk diriku sendiri.
"Soal alasan kamu di ruang rapat tadi..." ucapku sengaja menggantung kalimat, membuat tubuhnya kembali menegang kaku. "Kalau kamu memang masih bingung memikirkan besok mau bawa makanan apa untuk saya... bawa saja masakanmu sendiri. Apapun itu."
Aruna tersentak. Matanya berkedip beberapa kali seolah tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Kebohongan yang dia karang dengan asal-asalan tadi justru berbalik menjadi bumerang, dan melihat dia mati kutu seperti itu membuat sudut hatiku bersorak puas.
"E-eh? Masakan saya, Pak?" tanyanya memastikan dengan wajah linglung.
"Ya. Masakanmu. Saya tidak menerima alasan bengong lagi besok," sahutku mutlak. "Sekarang masuk."
"B-baik, Pak," jawabnya pasrah sambil mengangguk pelan.
Aku mendorong pintu kayu ruanganku dan melangkah masuk duluan, disusul oleh Aruna di belakang. Begitu masuk, aku melihat Aruna justru berjalan cepat ke arah sofa menyambar tumpukan dokumen yang belum beres tadi, lalu memeluknya erat-erat di dada seolah bersiap kabur.
"Mau ke mana kamu?" tanyaku dingin, menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan.
Aruna menoleh dengan raut canggung. "Saya... mau melanjutkan pengerjaan ini di meja saya yang di luar, Pak Adrian.”
"Kerjakan di situ," potongku tegas tanpa memberikan celah untuk bantahan. Aku berjalan santai menuju kursiku di balik meja besar. "Sengaja saya suruh kamu tetap di dalam, supaya saya bisa langsung menegur kamu kalau kamu ketahuan melamun lagi."
Mendengar perintah diktatorku, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana kedua bahunya langsung merosot pasrah. Bibir tipisnya mengerucut sebal, dan dari gerak bibirnya yang berkomat-kamit samar, aku tahu dia sedang menggerutu habis-habisan memaki kelakuanku di dalam hatinya.
"Baik, Pak..." gumamnya dengan nada yang sengaja dilemas-lemaskan.
Dia berbalik dengan langkah menghentak pelan, lalu mendudukkan dirinya kembali di atas sofa kulit. Lembaran-lembaran kontrak itu diletakkannya lagi di atas meja dengan sedikit penekanan, bentuk protes kecil yang menurutku sama sekali tidak ada seram-seramnya.
Aku duduk di kursiku, membuka kembali layar laptop, dan berpura-pura mulai fokus pada sisa pekerjaan sore ini. Namun, pandanganku tidak benar-benar tertuju pada deretan angka di layar. Ekor mataku justru bergerak, diam-diam memperhatikan sosok yang duduk di sofa sana.
Satu hal yang mulai kusadari hari ini, aku sangat suka melihat berbagai macam ekspresi wajah Aruna.
Tanpa perlu dia mengeluarkan suara untuk mengeluh, semua isi hatinya langsung tergambar jelas di wajahnya saat dia bekerja. Mulai dari alisnya yang bertaut serius saat membaca klausul hukum yang rumit, bibirnya yang maju beberapa senti karena kesal, hingga binar matanya yang tampak lega saat berhasil menyelesaikan satu halaman berkas.
Melihatnya mengekspresikan diri secara jujur seperti itu, entah kenapa, membuat ruang kerja yang biasanya terasa dingin dan membosankan ini mendadak jauh lebih hidup. Dan aku sama sekali tidak berniat mengizinkannya keluar dari sini dalam waktu dekat.
Jarum jam di dinding sudah bergeser ke angka empat sore ketika suara derit sofa kulit terdengar dari sudut ruangan. Aku melirik dari balik layar laptop, melihat Aruna sedang merapikan lembaran kertas hasil notulen rapat operasional tadi dengan rapi, lalu memasukannya ke dalam map biru.
"Pak Adrian, laporan hasil rapat operasional tadi sudah selesai saya rangkum," ujarnya sambil berdiri sopan. "Saya izin keluar sebentar untuk mengantarkan dokumen ini ke ruangan Pak Gavin."
Aku hanya mengangguk sekali tanpa ekspresi, memberikan izin formal. "Ya."
Aruna melempar senyum tipis lalu melangkah keluar ruangan. Aku kembali fokus pada layar monitor, mengira dia hanya akan memakan waktu maksimal lima menit mengingat ruangan divisi operasional Gavin hanya berjarak beberapa belas meter di koridor yang sama.
Namun, tebakanku salah besar.
Sepuluh menit berlalu. Lima belas menit. Pintu ruanganku masih bergeming rapat. Keberadaan Aruna yang belum juga kembali mendadak membuat nggak bisa fokus. Alisku bertaut heran. Ada urusan apa dia sampai menghabiskan waktu lima belas menit di ruangan Gavin? Apa pria itu sedang menjahilinya lagi, atau jangan-jangan mereka malah asyik mengobrol berdua di sana? Dadaku mendadak terasa sedikit tidak nyaman memikirkan kemungkinan itu.
Tepat pada menit ketujuh belas, pintu akhirnya terbuka. Aruna melangkah masuk dengan napas yang agak sedikit terengah, seolah dia baru saja buru-buru setengah berlari di koridor. Aku menatapnya tajam saat dia berjalan mendekati sofa, memancingnya agar bersuara atau menjelaskan alasannya terlambat. Namun, dasar sekretaris aneh, dia malah langsung mendudukkan diri di sofa tanpa merasa berdosa dan tidak mengatakan apa-apa.
Aku sengaja tidak menanyakan alasan dia lama sekali di luar, aku tidak mau menurunkan harga diriku dan kelihatan seperti bos yang kelewat posesif di depannya.
"Aruna," panggilku datar, memecah keheningan ruangan.
Dia mendongak, menatapku lurus. "Iya, Pak Adrian?"
"Besok kamu masuk pagi seperti biasa. Jam delapan sudah harus ada di kantor," ujarku menyampaikan instruksi dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.
"Hah?" Aruna seketika melongo. Wajahnya langsung berkerut protes, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Tapi, Pak... besok kan hari Sabtu? Bukannya besok kantor libur, ya?"
"Ya, memang libur untuk divisi lain," sahutku tenang, bersandar pada kursi eksekutifku sambil melipat tangan. "Tapi karena kontrak Singapura dan dokumen operasional kita banyak yang tertunda, mau tidak mau kamu harus masuk untuk menyelesaikannya. Dokumen-dokumen ini sangat penting dan harus siap hari Senin."
Begitu mendengar penjelasanku, ekspresi wajah Aruna langsung berubah total. Wajahnya seketika menekuk, terlihat sangat muram dan merana. Bibirnya mengerucut sebal, matanya menatap lesu ke arah tumpukan map di meja seolah hari libur impiannya baru saja dirampok paksa oleh monster kejam sepertiku.
Melihat wajah menggemaskannya yang sedang merajuk karena urusan kerjaan, sudut hatiku kembali terusik. Aku tidak mau dia menganggapku sebagai bos yang semena-mena, apalagi sampai terbebani bekerja denganku.
Aku berdehem pelan, mencoba melunakkan intonasi suaraku untuk menghiburnya. "Kamu tidak perlu memasang wajah seolah sedang dihukum seperti itu. Hari Sabtu besok hitungannya lembur. Saya akan pastikan uang lemburan kamu cair dengan nominal yang setimpal. Jadi, kamu tidak akan rugi sama sekali bekerja di hari libur."
Mendengar kata uang lemburan, sepasang mata bulatnya sempat berkedip beberapa kali, raut kesalnya sedikit berkurang meski bibirnya masih agak cemberut.
Aku melirik jam tangan yang kini sudah menunjukkan pukul setengah lima lewat. "Pekerjaan hari ini sudah cukup. Sekarang, kamu boleh pulang."
Namun, bukannya langsung bersorak gembira dan membereskan tas, ekspresi wajah Aruna malah berubah lagi. Dia menatapku ragu, melirik ke arah tumpukan berkas di mejaku, lalu menatapku lagi dengan kikuk. Dia pasti merasa sungkan dan tidak enak hati karena atasannya masih duduk manis di balik meja kerja, sementara dia yang berstatus sekertaris malah pulang duluan.
Melihat keragu-raguannya yang polos itu, jiwa jahilku mendadak meronta.
Aku menopang dagu dengan kedua tangan, menatapnya dengan senyum tipis yang sengaja kubuat misterius. "Kenapa masih diam di sana? Karena besok kamu harus masuk pagi, lebih baik kamu pulang sekarang untuk istirahat. Atau..." aku sengaja menjeda kalimatku, memajukan tubuhku sedikit ke depan meja, "...kamu sengaja mengulur waktu karena mau saya antar pulang?"
Skakmat.
Pertanyaan isengku sukses membuat Aruna membelalak sempurna. Wajahnya dalam sekejap langsung memerah padam sampai ke leher karena salah tingkah.
"E-eh?! N-nggak usah, Pak! Nggak usah repot-repot!" jawabnya panik setengah mati, suaranya bahkan sempat memekik kecil. Dengan gerakan super cepat seperti dikejar setan, dia langsung menyambar tasnya, berdiri, dan membungkuk kilat. "Kalau begitu... saya permisi pulang duluan, Pak Adrian! Selamat sore!"
Tanpa menunggu jawabanku lagi, Aruna langsung berbalik dan melesat keluar ruangan dengan langkah seribu, menutup pintu jati itu dengan cepat.
Aku tertegun selama beberapa detik menatap pintu yang kosong, sebelum akhirnya tawa yang sejak tadi kutahan pecah begitu saja di dalam ruangan sepi ini. Menjahili Aruna ternyata jauh lebih candu daripada memenangkan tender puluhan miliar. Aku benar-benar tidak sabar menunggu hari Sabtu esok datang.