NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

...~Panas Dalam Arka~...

Arka baru saja melangkah masuk ke dalam kamarnya. Kemeja batik yang telah disetrikanya hingga melipit rapi itu masih melekat pas di tubuhnya, menampakkan dengan jelas siluet tubuh tegap nan atletis sang perwira muda.

Pria itu memilih duduk di sudut dipannya, sementara pikirannya terus-menerus memutar ulang omongan Naira tentang mantan kekasihnya di teras tadi.

Merasa gerah karena hal itu, Arka buru-buru menanggalkan kemeja batiknya dengan gerakan kasar, menyisakan singlet putih yang membungkus ketat dada bidangnya. Di bawah temaram lampu, beberapa bekas luka lama terpampang samar di kulitnya, kontras dengan bagian lengan yang tampak belang akibat sering terbakar matahari saat latihan lapangan.

Tangan kekar pria itu terangkat, mengipas lehernya pelan. Entah karena hawa malam yang terlalu panas, atau karena omongan Naira yang kelewat pedas di telinganya. Arka menghela napas berat, lalu mengacak rambutnya dengan kasar.

Ia melirik ke arah meja di sisi pojok kamar. Di sana, hanya ada buku agenda militer dan sebuah pulpen yang setia menemaninya berhari-hari. Kesunyian malam kian terasa saat suara jangkrik di luar rumah terdengar saling beriringan dengan detak konstan jam dinding.

Akhirnya, Arka memilih merebahkan dirinya di atas kasur. Ia menatap lurus langit-langit kamarnya yang berwarna putih polos, lalu menyilangkan kedua belah tangan di bawah kepala sebagai bantalan tambahan. Gerakan itu membuat otot-otot lengannya yang alot dan terlatih kian menyembul tegas.

Selama hidupnya, Arka hanya dilatih untuk mengenal ilmu taktis, strategi perang, dan membaca pergerakan musuh di lapangan. Ia sama sekali tidak pernah diajari bagaimana cara memahami isi kepala seorang perempuan sepenuhnya. Bagaimana bisa gadis yang beberapa menit lalu berkata "tidak apa-apa" saat tersedak teh panas, tiba-tiba bisa membahas kembali topik pembicaraan mereka kemarin sore dengan nada sedingin es?

Ingatannya seketika terlempar kembali pada rentetan kejadian hari ini. Mulai dari percakapan rumit kemarin sore, insiden kejar-kejaran mobil Kijang tadi pagi, hingga prosesi lamaran beberapa jam lalu yang sempat menyisakan rasa kagum luar biasa di dadanya saat melihat Naira yang menjelma begitu ranum. Semua itu berputar acak, membuat kepalanya terasa semakin pening.

Arka mendadak bangkit berdiri dari rebahannya. Ia melangkah cepat meraih handuk yang tersampir di kursi meja pojok. Rasa panas di tubuhnya sudah tidak bisa ditoleransi lagi.

Arka butuh mandi. Sekarang juga.

...----------------...

Pagi masih terlalu gelap—bahkan semburat fajar belum sepenuhnya muncul—ketika Arka memutuskan untuk keluar rumah dan lari pagi. Ayah dan kakak perempuannya bahkan masih tertidur lelap di dalam kamar mereka masing-masing, menikmati sisa kantuk pasca-acara semalam.

Bermodalkan sepatu lari warna putih yang sudah agak usang, celana pendek olahraga, serta kaos ketat yang mencetak jelas lekuk tubuhnya, pria itu berlari membelah jalanan desa yang masih berkabut. Napasnya terengah-engah, sengaja memacu kecepatan demi membuang sisa-sisa frustrasi yang menyiksanya semalaman.

Hingga pada putaran terakhir, Arka sengaja membelokkan rute untuk melewati depan rumah Naira. Netranya seketika menangkap pintu utama rumah kayu itu sudah terbuka lebar. Pelatarannya pun tampak jauh lebih bersih daripada kemarin sore.

Di samping rumah, Arka menangkap sosok yang dicarinya. Naira ada di sana, sedang sibuk dengan setelan rumahannya yang khas—celana panjang bermotif batik longgar dan kaos oblong lengan pendek. Rambutnya dicepol asal, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai lehernya.

Gerakan tangan gadis itu tampak sangat cekatan setiap kali mengibaskan pakaian basah sebelum menyampirkannya ke tali jemuran.

Langkah lari Arka perlahan melambat, berubah menjadi jalan santai tepat di depan pagar pekarangan Naira. Jantungnya kembali berdegup kaku, dan kali ini bukan karena efek kelelahan berlari.

Sesaat ia menumpukan kedua tangannya di lutut. Napasnya sedikit tersengal, entah karena olahraganya atau karena kehadiran Naira yang kini berdiri dengan wajah polos tanpa riasan di hadapannya.

Arka melangkah masuk mendekat ke halaman rumah. "Nai."

Gadis itu menoleh ke arah sumber suara. Arka dapat melihat bagaimana Naira sempat melirik sekilas ke arah pakaian olahraga ketat yang ia kenakan, sebelum akhirnya mendongak menatap wajahnya.

"Dari mana, Mas?"

"Lari pagi."

Kernyitan halus samar terlihat di dahi Naira. "Pagi banget."

"I-iya." Arka tampak tertegun sesaat, merasa salah tingkah sendiri. "Nanti... berangkat kerja seperti biasa, kan?"

Gadis itu mengangguk samar. Bibir merah mudanya yang tampak halus terangkat sempurna. "Iya."

Arka mengulum bibirnya pelan. Ia memperhatikan jemari Naira yang kecil, di mana sebuah cincin emas putih yang ia beli tempo hari kini tersemat manis di sana.

"Nai."

"Kenapa, Mas?"

"Soal mantanku..." Pria itu menatap cemas perubahan wajah Naira yang seketika berubah agak sinis. Nyalinya menciut seketika. "Jangan dibahas lagi, ya? Aku sudah milih kamu," rengek pria itu pelan dengan raut memohon.

Naira seketika memutar bola matanya malas. Tangan kanannya terangkat, mengibas-ibas udara di depan wajahnya dengan gerakan centil yang menggemaskan. "Iya-iya deh, Mas."

...----------------...

1
NonaAns
🤭 tiba2 pengen batuk. uhuuuk uhuuukk
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!