NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Keinginan gelap Arkana

"Aku tidak bisa mengabaikannya lagi."

Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti bara api.

Thalia membeku. Jarak wajah mereka nyaris tidak tersisa. Napas Arkana menyentuh bibirnya, hangat, pelan, dan terlalu berbahaya untuk disebut ketidaksengajaan. Jemari pria itu masih menahan dagunya. Tidak kasar, tetapi cukup tegas untuk membuat Thalia tidak bisa lagi menunduk dan bersembunyi dari tatapan itu.

"Arkana..." bisik Thalia, nyaris tanpa suara.

Panggilan itu membuat sesuatu di mata Arkana semakin gelap. Panggilan tanpa jarak yang sudah ia nantikan.

Arkana menunduk semakin dekat. "Jangan panggil aku seperti itu kalau kau masih ingin aku berhenti."

Thalia menahan napas. Bibirnya bergerak, namun tidak ada kata yang keluar.

"Kau tahu apa yang membuatku marah?" tanya Arkana rendah.

Thalia tidak menjawab.

"Dia memegang pinggangmu di depan semua orang seolah kau miliknya. Tapi dia bahkan tidak tahu cara membuatmu merasa aman."

"Dia justru berulang kali membawamu ke hadapanku untuk membuka pintu ambisinya," lanjut Arkana, suaranya semakin rendah, semakin dekat. "Padahal pria bodoh itu tidak sadar, setiap kali dia menyeretmu mendekat, dia sedang membuatku ingin mengambilmu dari sisinya."

Dada Thalia naik turun.

"Dan saat aku sudah memutuskan untuk melakukannya..." tatapan Arkana turun ke bibir Thalia lagi. "Aku tidak akan maju setengah hati."

Thalia memejamkan mata sesaat, lalu membukanya kembali. "Arkana..."

"Termasuk kalau aku mencium kamu malam ini," lanjut Arkana, bibirnya nyaris menyentuh bibir Thalia, "Aku tidak akan berpura-pura itu adalah kesalahan."

Tanpa menunggu jawaban, Arkana menempelkan bibirnya di bibir Thalia. Ciuman itu datang seperti keputusan, bukan keraguan atau kelembutan yang meminta ijin.

Arkana mencium bibir Thalia dengan kendali yang retak, hasrat yang selama ini ditahan di balik tatapan dingin dan kalimat formal. Tangannya meraih pinggang Thalia, menarik tubuh wanita itu mendekat sampai tidak ada lagi ruang di antara mereka.

Thalia terkesiap. Tubuhnya membeku sepersekian detik. Dan semua pertahanan yang tersisa dalam dirinya akhirnya runtuh.

Jemarinya mencengkeram kemeja Arkana. Lututnya mendadak lemah di tengah ciuman lembut yang tidak pernah lagi ia rasakan dari suaminya selain paksaan menjadi boneka sempurna, pikirannya kosong dari semua kalimat yang seharusnya ia ucapkan.

Ini salah.

Namun ciuman Arkana terasa lebih jujur daripada genggaman Rendra sepanjang malam di acara pesta.

Arkana menekan tubuh Thalia ke pagar balkon, satu tangannya menahan pinggang wanita itu, tangan lainnya naik ke belakang leher Thalia. Gaun merah itu berdesir diterpa angin, jas hitamnya hampir melorot dari bahu Thalia, namun Arkana tidak peduli.

Ia mencium Thalia seperti pria yang akhirnya berhenti menipu dirinya sendiri.

Dan Thalia membalas ciuman itu seperti wanita yang terlalu lama dilupakan caranya diinginkan.

Ketika Arkana melepaskan bibirnya, napas keduanya sama-sama berat. Ia menempelkan dahinya di dahi Thalia.

"Dengar aku," ucap Arkana serak.

Thalia membuka mata perlahan yang entah sejak kapan terpejam.

"Aku menginginkanmu."

Tubuh Thalia bergetar.

Arkana menatap Thalia dalam.

"Bukan karena gaun ini, bukan karena Rendra membawamu kepadaku, bukan juga karena kau tampak rapuh malam ini." Ibu jarinya menyentuh bibir Thalia yang basah karena ciumannya. "Aku menginginkanmu karena setiap kali kau berdiri di sampingnya, aku melihat wanita yang seharusnya dipilih dengan benar."

"Dan kamu pikir kamu bisa memilihku dengan benar?" tanya Thalia lirih. "Saat aku masih istrinya?"

Arkana diam sesaat, lalu menunduk, bibirnya menyentuh sudut bibir Thalia.

"Tidak," jawab Arkana jujur. "Malam ini tidak benar."

Thalia memejamkan mata, sakit oleh kejujuran itu.

"Tapi aku tidak menyesal menginginkanmu," lanjut Arkana.

Ciuman berikutnya jatuh di rahang Thalia.

"Dan aku tidak akan meminta maaf karena melihat apa yang suamimu abaikan."

Ciuman Arkana semakin turun ke leher Thalia.

Thalia menggigit bibir, menahan suara yang hampir lolos. Arkana..."

"Dia terlalu sibuk menjaga nama besarnya," bisik Arkana di kulit leher Thalia. "Sampai lupa menjaga wanita yang membuat nama itu terlihat pantas."

Thalia mencengkeram bahu Arkana.

Cahaya kota berkilau di belakang mereka. Musik jazz dari dalam lounge terdengar samar, seperti datang dari dunia lain. Dunia tempat Rendra masih berbicara dengan investor, dunia tempat Thalia masih menjadi istri seseorang, dan dunia tempat semua ini seharusnya tidak terjadi.

Namun di balkon itu, dunia hanya menyisakan Arkana. Tatapan pria itu, kata-katanya, sentuhannya dan hasrat terlarang yang justru membuat Thalia semakin sulit mengingat alasan untuk menolak.

Arkana mengangkat wajah, menatap manik mata Thalia dalam-dalam.

"Kalau kau memintaku berhenti sekarang, aku akan berhenti."

Bibir Thalia kembali bergerak, itu adalah kesempatan terakhir untuk menolak, mendorong Arkana menjauh. Namun bibir Thalia justru gemetar oleh kalimat lain.

"Aku takut."

Arkana menyentuh pipi Thalia lembut. "Padaku?"

Thalia menggeleng pelan. "Pada diriku sendiri. Karena aku tidak ingin kamu berhenti."

Mata Arkana menggelap. Tangannya di pinggang Thalia mengerat. "Kalau begitu jangan bohongi dirimu malam ini."

Arkana mencium bibir Thalia lagi. Lebih dalam dan lama. Jas hitam itu akhirnya jatuh dari bahu Thalia ke lantai balkon. Angin malam menyapu kulitnya, tetapi tubuh Arkana segera menggantikannya dengan panas yang membuat Thalia lupa pada dingin.

Thalia merasa dirinya ditarik keluar dari seluruh peran yang selama ini melekat padanya. Istri penurut, boneka, hiasan.

Di tangan Arkana, ia menjadi wanita yang diinginkan.

"Lia?"

Suara itu datang samar, namun Arkana tidak berhenti.

"Thalia?"

Suara itu kembali terdengar lebih jelas. Kali ini, seperti merobek udara.

Arkana berkedip. Ciuman itu lenyap. Panas tubuh Thalia tidak lagi di tangannya. Napas saling memburu itu tidak lagi terdengar.

Ia masih berdiri di balkon.

Tangan kanannya baru saja turun setelah selesai menyampirkan jas hitamnya ke bahu wanita itu.

Tidak ada ciuman. Tidak ada tubuh yang terperangkap di antara pagar dan dada Arkana.

Semua yang tadi terjadi hanya berada di kepala Arkana. Fantasi yang bergerak terlalu cepat dan liar tanpa kendali. Keinginan yang melampaui tubuhnya sebelum ia benar-benar melangkah.

"Istriku."

Suara Rendra terdengar dari balik pintu kaca.

Arkana menoleh.

Rendra berdiri di ambang pintu balkon, senyum tipis terpasang di bibirnya. Tatapannya turun ke jas hitam di bahu Thalia, lalu beralih ke arah Arkana.

"Pak Arkana," ucap Rendra ramah. "Terima kasih sudah menemani istri saya."

Kata 'istri saya' ditekan cukup halus untuk terdengar sopan, namun cukup jelas untuk dimengerti.

"Saya hanya melihat Nyonya Thalia kedinginan," jawab Arkana datar.

Rendra tersenyum dan melangkah masuk ke balkon. "Thalia memang agak mudah kedinginan."

Thalia menoleh ke arah Rendra.

"Ayo kembali ke dalam," ucap Rendra lagi sebelum Thalia membuka suara. "Di luar terlalu dingin."

Rendra menurunkan jas Arkana dan mengembalikan jas itu kepada pemiliknya. "Terima kasih, pak Arkana."

Arkana mengangguk pelan, menerima jas itu dan menyampirkannya ke satu tangannya.

Sementara Rendra kembali ke dalam bersama Thalia.

Pintu kaca tertutup, meninggalkan keheningan bersama Arkana yang masih berdiri di balkon dengan jas tersampir di tangan membawa sisa aroma parfum Thalia. Ia memasukkan satu tangan ke saku celananya, netranya menatap langit malam, tetapi pandangannya menerawang jauh.

"Suamimu terlalu percaya diri, Thalia," gumam Arkana pelan. "Dia tidak sadar, permainan yang dia mainkan bisa keluar dari kendalinya kapan saja."

Tatapan Arkana menggelap.

Malam ini, ia belum melewati batas, namun dalam pikirannya, batas itu sudah tidak lagi terlihat mustahil.

. . . .

. .. .

To be continued...

1
Dewi Payang
Langsung tersindir😄
Dewi Payang
Mulai gombal🤭🤭
Dewi Payang
Sama Arkana bisa ngomong gitu, tapi sama Rendra kalah terus🤭
Zenun
juga ada obat penenang nya, yaitu Arkana
Zenun
daku kejar kak
Zenun
jan lupa kasih obat mencret
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
〈⎳ FT. Zira: 🙈🙈 kebanyakan karya hiatus yak🤭
total 1 replies
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
〈⎳ FT. Zira: hayoo siapa🤭
total 1 replies
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
〈⎳ FT. Zira: terima kasih banyak kaka🥰
total 1 replies
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!