NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 17. Keluarga kakek

“… Di balik semua kondisi yang kau dan Dea emban saat itu, itu bukan kehendak kalian. Menurut Dea, kondisinya saat ini semua itu bukan atas kesalahannya. Menurut kau, kondisi kau saat ini adalah bukan kesalahan kau. Kau yang rusak, kau yang bertato bertindik pun, orang tua kau yang kau salahkan. Padahal nasib kau sendiri ya ada di tangan kau sendiri. Masa lalu kek mana buruknya, tergantung kek mana kau ambil jalan kehidupan kau sendiri…”

Kata-kata itu terus terngiang-ngiang sepanjang aku melangkah ke arah penginapan. Kalimat tersebut memiliki dua arti. Kesimpulan yang pertama, kondisiku sekarang bukan inginku. Bisa dibilang, ini takdirku.

Lalu kesimpulan yang kedua seperti mengatakan bahwa, takdir yang aku jalani saat ini, adalah karena pilihanku sendiri. Aku sendiri yang membuat nasibku seperti ini.

Aku bingung dengan maknanya, tapi bisa menyimpulkan dua kesimpulan dari satu kalimat itu. Jika memang takdirku harus menjadi janda, lalu apa kesalahanku sampai aku jadi janda berulang kali? Apa penyebabnya aku menjadi janda berulang kali seperti ini? Benarkah atas kelakuanku sendiri?

Seperti halnya mas Barraq yang memilih bertato dan bertindik? Padahal jika ia tidak melakukan itu, ia tidak akan dicap buruk di mata semua orang dan keluarganya juga. Itu adalah konsekuensi yang harus itu terima. Termasuk aku, jadi janda adalah konsekuensi karena aku melakukan?

Aku melakukan apa memangnya? Aku tidak melakukan kesalahan kok. Masa iya sudah lelah bekerja begini, masih saja disalahkan. Sampai-sampai aku memberi jaminan perbulan pada suamiku pun, masa iya masih saja dianggap salah?

Ah, mungkin hanya beda konsepnya. Aku menjanda ya karena takdirku menjanda, karena tidak ada laki-laki yang bisa membimbingku dan mencukupi kebutuhanku. Bukan karena kesalahanku sendiri.

Buktinya, selama aku merantau dan selama aku menjadi istri. Aku tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain, aku tidak menduakan suamiku dan aku tidak memiliki pria idaman lain.

Sudah, sudah. Nasihat itu bukan untukku, aku tidak boleh membuat diriku pusing sendiri.

Pagi harinya, aku mengunyah makanan kiriman dari mas Barraq. Ia tengah merokok di ambang pintu penginapanku, dengan aku yang lanjut menikmati sarapan buatan keluarganya.

“Hari ini mau ke mana aja? Keputusan apa yang bakal kau ambil untuk rapat ini?" tanyanya dengan membelakangiku.

Jika jadi orang kaya, makan daging sapi boleh di hari-hari biasa ya? Karena sebelum aku menjadi karyawan Putra Tunggal Berintan ini, aku makan daging sapi hanya saat hari raya saja. Jika orang kaya bebas ya? Sarapan nasi goreng pun, ada potongan daging sapinya dan tidak alot sama sekali.

Ya memang aku sering makan daging sapi di restoran juga, tapi baru kali ini aku sarapan pagi dengan adanya daging sapi yang ikut serta mana tidak sedikit lagi. Jika aku kaya, pasti keturunanku terpenuhi nutrisinya.

Di perantauan ini, aku harus memiliki usaha jangka panjang. Agar keturunanku nanti menikmati hasilnya juga.

Membahas keturunan, aku teringat kata-kata mas Nadim tentang generasi penerus itu. Saat melihat contoh di rumahnya seperti itu, sangat tidak mungkin jika keturunan itu akan lebih baik. Apalagi jika tidak diarahkan dan tidak dituntun.

Anak melihat orang tuanya bangun siang terus, anak itu pun akhirnya terbiasa bangun siang juga. Mungkin itu yang dirasakan mas Barraq, ia melihat kakeknya bertato, mungkin ia memiliki keinginan bertato juga dari situ.

“Dea…” panggil mas Barraq dengan menoleh ke arahku.

"Aku mau hadiri rapat itu, Mas. Aku mau asah kemampuan aku sendiri, aku pun mau lihat orang-orang di sana mempresentasikan hasil laporannya,” ungkapku setelah menelan makananku.

"Kau yakin, Dea? Mereka fasih berbahasa Inggris. Kebanyakan dari mereka kuliah di luar negeri,” jelas mas Barraq yang sedikit membuat hatiku goyah.

"Memang pertanyaannya pakai bahasa Inggris kah?” Aku fasih berbahasa Jawa soalnya.

"Ya nggak juga, pakai bahasa bisnis aja. Ada beberapa yang disebut pakai bahasa Inggris. Cuma apa kau nggak minder?”

Lah, dia yang sepertinya minder karena punya tangan kanan sepertiku?

“Nggak, aku cantik, aku montok," celetukku asal bunyi.

Lagian kan rapat itu bersifat wajib. Aku kan karyawan dan memang akulah yang memegang cabang di Pulau Jawa, jadi sudah menjadi kewajibanku untuk melaporkan hasil kerjaku selama setahun ini.

“Nggak ada hubungannya," ucapnya dengan tertawa geli.

“Biar karyawan cabang lain juga pada kenal sama aku loh, Mas. Ohh jadi ini orangnya yang buat coffee shop Pulau Jawa di atas awan?" Aku berpura-pura menjadi orang lain yang terkesima dengan hasil kerjaku.

"Sekalian promosi ya, janda baru nih barangkali laku di kalangan pebisnis,” tukasnya yang membuat kunyahanku berhenti.

Kenapa ia suka sekali memancing keributan denganku?

"Jangan mulai deh, Mas!” Aku memberinya lirikan sinis.

"Ya, oke-oke. Cepatlah makan, terus katanya mau beli baju. Ada hal-hal yang harus dibicarakan juga sama ayah, ngurus dokumen juga sama makcik aku,” tuturnya dengan masuk ke dalam penginapanku dan duduk di tepian ranjang.

"Mas Nadim maksudnya?” Aku bingung dengan sebutan ayah yang ia maksud.

"Bukan, ayah Wiya. Kakek tuh,” jelasnya ringkas.

Oh, iya aku mengerti.

"Nama panjangnya siapa sih, Mas? Terus punya anak berapa aslinya?” tanyaku kemudian.

"Nama panjangnya… Adiwiyata Zuhair Akbar. Anaknya ada enam.” Ia seperti tengah berpikir keras. "Eh, tujuh kalau dihitung aku sih. Anaknya ada yang lain ibu juga, tapi dia bukan anak pertama malahan. Makanya aku tak terima dan tak percaya kalau ada yang bilang kalau ibu aku, nenek maksudnya, dibilang pelakor,” jelasnya dengan meluruskan kakinya di tepian ranjang, sedangkan dirinya bersandar dengan satu tangannya ditekuk ke belakang sebagai sandaran kepalanya. Hal itu menonjolkan otot lengannya yang benar-benar terpelihara dengan baik.

“Memang siapa aja anaknya? Apa ada yang pernah aku temui selain mas Nadim?" Aku masih bingung dalam penyebutan ayah kandungnya mas Barraq.

“Yang pertama, uwak aku namanya Nadia. Yang sekilas diceritakan semalam itu loh. Beliau menetap di Singapore, tapi sekarang lagi perjalanan ke sini, suaminya harus hadirin rapat tahunan juga soalnya. Terus yang kedua, bang Nadim itu. Nah, anaknya istri lain dari ayah ini lahir berbarengan dengan uwak aku juga. Yang lain ibu namanya uwak Naila, nah yang satu ibu namanya pakcik Nabil. Lahir di tahun yang sama, mungkin beda bulan aja. Terus satu lagi, uwak Natasha. Jadi meskipun udah lahir anak dari istri lain juga, kakek sama nenek itu tetep berkembang biak. Terus ada lagi yang lahirannya di tahun yang sama dengan aku, malahan lebih tua aku. Namanya Naura, yang aku mintain uang waktu kau beli siomay itu. Tapi biarpun mereka bude, bibi, dan paman aku, aku harus memanggil mereka dengan sebutan abang dan kakak,” jelasnya perlahan dengan memandang kosong ke depan.

Akhirnya aku kenyang, sarapanku habis tak tersisa. Rasa nasi goreng itu bukan lagi seperti nasi goreng rumahan, tapi rasanya seperti nasi goreng pinggir jalan dengan topping elitnya.

“Apa panggilan itu jadi beban buat Mas?" tanyaku dengan memasukkan wadah sekali pakai itu ke tong sampah kamar.

“Nggak, nggak sama sekali." Ia tersenyum manis saat aku menoleh ke arahnya.

“Ayo keluar, antar dulu ke ATM ya?" Aku mengambil tasku satu-satunya yang aku bawa ke sini.

Aku harus tetap bergerak setelah makan, karena aku gampang ketiduran setelah kenyang. Masalahnya satu, hal itu bisa membuat perutku buncit. Aku menjaga badanku agar tetap indah, karena bisa dibilang dari badanku lah penarik rezekiku.

"Ck, macam pernah keluar uang aja kalau lagi keluar sama Mas,” gerutunya dengan berjalan mendahuluiku.

Laki-laki ini memang sangat terlihat mapan sekali dalam pergaulan, di mana ada dia, di situ kami kenyang tanpa keluar uang sedikitpun. Entah memang ekonominya mampu, entah karena ia diberi uang jajan oleh ayahnya.

1
Fitri Ristina
rer the best pokoknya...ga pernah bosan dengan cerita keluarga mamah dinda
Batriani
tak sanggup ku berkata kata ingin mencela takut kualat pula aku ... jaga diri aja kau ya de' . dr awal udah kata urus cerai kau..... ya sudah lah ikutin aja kisah kau ama siberraq itu......
Rini qi: jgn anggap remeh dea...
total 1 replies
Christine
hahahaha itu jagung Afika dea....
Christine
astaga....rasanya gmna itu goyang sambil tlpn ora konsen ak mas
Miss F
urs de ceraimu
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠
Miss F
jgn SMP de kamu cm dicicipi barrack tok tp g dtanggung jwbi...
Batriani
pak suami mana pak suami.... permainan apa ini, geli2 basah.....🤭
Miss F
KLO BNR garis 2 nangis loe de dipojokan🤣🤣🤣
Christine: 🤭🤭🤭🤭👍👍👍
total 3 replies
Christine
aku kok ikut menegang de
Christine
jangan.....ihhh ak mlh berdoa jgn ada yg dtng takut ihh tetiba digrebek ...
Rini qi
🫣
Fitri Ristina
suami mana suami...
Miss F
abis baca sidea koq JD cenat cenut🤣🤣🤣
Christine: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kesetrum say
total 1 replies
Miss F
de,,kamu dminta baik2 dksh status gakk mau malah milih yg haram😞
Christine
hahahaha serang balik de dibilangin kelamaan klu nungguin dia
Miss F
yg minum mas barrack ehhh authornya yg kena pngaruh alkohol jg JD mabok🤣🤣
Miss F
tak ingat kau de pesan ayah wiya n ayah bara😞
Batriani
wah...😟. jebol pertahanan nya...
Christine
wahhh besar uhhh aku kok ikut nahan de..ya ampun de bagi2 atuh de
Christine
hahahahaha....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!