Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.
Sampai suatu malam…
orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.
Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.
Namun di malam yang sama—
dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.
Lorenzo Moretti.
Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.
Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.
Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—
dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.
Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.
Dia salah.
Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.
Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Hati yang Mulai Tidak Tenang
Bab 24 — Hati yang Mulai Tidak Tenang
Angin sore berhembus pelan di taman mansion Moretti. Bunga-bunga putih di sekitar air mancur bergerak pelan tertiup angin, tapi Amelia sama sekali tidak fokus melihat itu.
Pikirannya masih kacau gara-gara ucapan Lorenzo tadi.
“Karena aku tidak suka melihatmu menjauhiku.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya dari tadi.
Jantungnya bahkan belum kembali normal.
Sementara Lorenzo masih berdiri di depannya dengan tatapan tenang khasnya, seolah dia tidak sadar kalau kata-katanya bisa membuat Amelia hampir mati malu.
“Aku…” Amelia langsung salah tingkah sendiri. “Aku cuma tidak enak tadi.”
Tatapan Lorenzo masih tertuju padanya.
“Karena Sofia?”
Amelia langsung menunduk cepat.
Dan itu sudah cukup jadi jawaban.
Entah kenapa Lorenzo malah merasa sedikit puas melihat reaksinya.
Berarti Amelia peduli.
Walaupun gadis itu mungkin belum sadar sepenuhnya.
“Aku dan Sofia cuma kenal lama,” ucap Lorenzo lagi. “Tidak lebih.”
Amelia menggigit bibir pelan.
“Dia cantik…”
Lorenzo sedikit mengernyit.
“Lalu?”
“Dia cocok denganmu.”
Kalimat itu keluar begitu saja sampai Amelia sendiri kaget. Mukanya langsung merah karena malu.
Astaga.
Kenapa dia ngomong begitu sih?
Tapi Lorenzo justru terus menatap Amelia diam-diam.
“Menurutmu begitu?”
Amelia buru-buru mengangguk kecil.
“Dia dari dunia yang sama denganmu. Dia tahu soal mafia, bisnis, semua hal itu…”
Sedangkan dirinya?
Cuma gadis desa biasa yang bahkan dulu kesulitan makan.
Perbedaan mereka terlalu jauh.
Lorenzo berjalan mendekat perlahan sampai jarak mereka jadi sangat dekat.
“Amelia.”
Jantung gadis itu langsung deg-degan lagi.
“A-apa?”
“Aku tidak pernah peduli soal cocok atau tidak.”
Tatapan abu-abu Lorenzo begitu dalam sampai Amelia sulit mengalihkan mata.
Dan itu berbahaya.
Karena makin lama…
makin susah bagi Amelia untuk menjaga hatinya tetap aman.
Untungnya suara Marco tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
“Bos.”
Amelia langsung mundur cepat seperti orang ketahuan melakukan sesuatu.
Marco yang melihat itu langsung menahan senyum.
“Maaf ganggu suasana.”
Tatapan Lorenzo langsung dingin.
“Apa?”
“Orang Bellini datang.”
Ekspresi Lorenzo langsung berubah sedikit serius.
Sementara Amelia bingung.
Bellini?
Bukannya itu nama keluarga Sofia?
Benar saja, beberapa menit kemudian mereka masuk ke ruang tamu mansion dan melihat seorang pria tua berpakaian elegan duduk bersama Sofia.
Wajah pria itu tegas dan penuh wibawa.
Begitu melihat Lorenzo masuk, dia langsung tersenyum tipis.
“Lama tidak bertemu, Lorenzo.”
Lorenzo mengangguk kecil.
“Tuan Bellini.”
Amelia berdiri agak canggung di belakang.
Tatapan pria tua itu lalu berpindah padanya.
Dan Amelia langsung merasa gugup.
“Ini gadis yang tinggal di mansionmu?”
Sofia langsung melirik Amelia juga.
Entah kenapa suasananya jadi aneh.
“Namanya Amelia,” jawab Lorenzo datar.
Pria tua itu mengangguk pelan.
“Cantik.”
Amelia makin salah tingkah.
Lorenzo justru terlihat tidak suka tatapan pria itu terlalu lama pada Amelia.
“Kenapa Anda datang?” tanyanya langsung ke inti.
Tuan Bellini tertawa kecil.
“Kau tetap dingin seperti biasa.”
Lalu ekspresinya berubah lebih serius.
“Keluarga Romano mulai mencari bantuan luar.”
Tatapan Lorenzo langsung tajam.
“Aku sudah menduganya.”
“Mereka ingin menyerang bisnis pelabuhanmu minggu depan.”
Marco langsung mengumpat pelan.
Kalau pelabuhan diserang, perang antar keluarga mafia bisa makin besar.
Sofia menyandarkan tubuhnya santai.
“Ayah datang untuk menawarkan kerja sama.”
Sunyi beberapa detik.
Lorenzo terlihat berpikir.
Sementara Amelia hanya diam mendengarkan. Semakin lama dia berada di mansion ini, semakin dia sadar betapa besar dan berbahayanya dunia Lorenzo.
Bisnis.
Senjata.
Perang mafia.
Semua itu benar-benar nyata.
Dan Lorenzo hidup di tengah semua itu sejak kecil.
“Aku tidak butuh bantuan,” ucap Lorenzo akhirnya.
Tuan Bellini tersenyum tipis.
“Keras kepala.”
“Aku bisa menangani Romano.”
“Masalahnya bukan Romano saja.”
Suasana mendadak lebih serius.
Marco dan Lorenzo langsung saling pandang sebentar.
“Ada keluarga lain yang mulai bergerak,” lanjut Tuan Bellini pelan. “Mereka melihat situasi Palermo mulai tidak stabil.”
Tatapan Lorenzo perlahan menggelap.
Ini buruk.
Kalau keluarga mafia lain ikut masuk, perang bisa jadi lebih besar dari sebelumnya.
Amelia yang melihat perubahan wajah Lorenzo langsung ikut cemas.
Dia masih belum terlalu mengerti soal dunia mafia, tapi dia tahu satu hal.
Kalau Lorenzo terlihat setegang ini…
berarti situasinya benar-benar serius.
“Dan satu lagi,” ucap Tuan Bellini sambil melirik Amelia sekilas.
Tatapan Lorenzo langsung dingin.
“Apa?”
“Mereka juga mendengar soal gadis desa itu.”
Ruangan langsung hening.
Jantung Amelia langsung turun.
“Apa maksudnya?”
Marco menghela napas pelan.
“Berita soal bos yang melindungi seorang wanita mulai menyebar.”
Amelia langsung pucat.
Sofia diam-diam memperhatikan reaksi Lorenzo.
Dan seperti dugaan mereka…
wajah pria itu langsung berubah sangat dingin.
“Aku akan mengurusnya.”
“Lorenzo,” ucap Tuan Bellini serius, “musuhmu akan memakai gadis itu untuk menyerangmu.”
Tangan Amelia perlahan mengepal kecil.
Dia mulai merasa bersalah lagi.
Semua masalah ini muncul karena dirinya.
Kalau dia tidak datang ke hidup Lorenzo…
mungkin semua tidak akan serumit sekarang.
“Aku rasa lebih aman kalau Amelia dipindahkan sementara,” lanjut pria tua itu.
Amelia langsung menoleh kaget.
Dipindahkan?
Tatapan Lorenzo langsung tajam.
“Tidak.”
Jawabannya cepat.
Dan tegas.
“Dia tetap di sini.”
Sofia sedikit terdiam melihat itu.
Karena biasanya Lorenzo tidak pernah seprotektif ini pada siapa pun.
Tuan Bellini menghela napas kecil.
“Kau terlalu emosional sekarang.”
“Aku tahu apa yang kulakukan.”
Suasana ruangan mulai menegang.
Amelia bisa merasakan itu.
Dan semakin dia melihat Lorenzo melindunginya seperti ini…
semakin hatinya terasa aneh.
Tak lama kemudian pembicaraan selesai. Tuan Bellini dan Sofia akhirnya pergi sementara Lorenzo kembali ke ruang kerjanya bersama Marco.
Amelia berdiri sendirian di dekat jendela ruang tamu.
Pikirannya benar-benar penuh.
Sampai dia bahkan tidak sadar Clara datang mendekat.
“Nona Amelia?”
Amelia menoleh pelan.
“Hmm?”
“Kenapa melamun?”
Amelia menunduk sebentar sebelum akhirnya berkata pelan,
“Semua orang jadi dalam bahaya karena aku ya?”
Clara langsung menggeleng cepat.
“Jangan berpikir begitu.”
“Tapi tadi mereka bilang—”
“Musuh Tuan Lorenzo memang selalu ada,” potong Clara lembut. “Bukan salah Nona.”
Amelia menggigit bibir kecil.
“Tapi aku cuma jadi beban…”
“Nona Amelia.”
Clara memegang tangan gadis itu pelan.
“Sudah lama saya bekerja di mansion ini.”
Amelia perlahan menatapnya.
“Dan saya belum pernah lihat Tuan Lorenzo hidup seperti sekarang.”
“Maksud Clara?”
“Beliau lebih hidup sejak ada Anda.”
Kalimat itu membuat Amelia diam.
Jantungnya kembali berdebar aneh.
Malam mulai datang perlahan.
Mansion terlihat lebih tenang dibanding siang tadi, tapi suasana hati Lorenzo justru makin buruk.
Di ruang kerja, Marco berdiri sambil melihat bosnya menuang whiskey.
“Kau terlalu keras tadi.”
“Aku tidak peduli.”
“Kau benar-benar tidak mau menjauhkan Amelia?”
Tatapan Lorenzo tetap lurus ke depan.
“Tidak.”
Marco menghela napas kecil.
“Kau sadar ini berbahaya?”
Lorenzo diam beberapa detik sebelum akhirnya bicara pelan.
“Sejak awal aku sudah tahu.”
“Tapi kau tetap mempertahankannya.”
Lorenzo meminum whiskey-nya perlahan.
Lalu untuk pertama kalinya malam itu, dia mengaku dengan suara rendah,
“…aku tidak bisa membiarkannya pergi.”
Dan di saat yang sama…
tanpa Lorenzo sadari, Amelia berdiri diam di depan pintu ruang kerja.
Mendengar semuanya.