Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: SIDANG ALAM DAN NAGA HITAM
Api suci menyala tegak lurus ke atas, memancarkan cahaya biru yang tenang namun memancarkan wibawa yang luar biasa. Cahaya itu menembus kegelapan malam, menjadi titik terang satu-satunya di tengah hutan yang mencekam itu.
Nyi Blorong berdiri mematung di sana. Tubuhnya bergetar hebat, bukan karena dingin, tapi karena menahan amarah yang meluap-luap. Ia menatap api biru itu dengan tatapan benci, seolah benda itu adalah musuh terbesarnya.
"Bagus... sangat bagus..." desisnya pelan, suaranya terdengar seperti gesekan besi berkarat. "Kalian benar-benar nekat membuka sidang adat di wilayahku. Kalian tidak takut mati?"
Eyang Sastro berdiri tegap di sisi altar, wajahnya tenang namun serius.
"Kami datang dengan niat bersih dan bukti kuat, Nyi Blorong. Jika kau memang penguasa yang bijaksana, kau harus mau mendengar keputusan alam. Bukan hanya mengandalkan kekuatan dan kekuasaan."
"BIJAKSANA?!" Nyi Blorong tertawa keras, tawanya menggema di antara pepohonan. "Aku ini ratu di sini! Hukumku adalah hukum alam! Tapi... baiklah... karena kau sudah memaksa... aku akan mainkan permainan ini sampai habis!"
Wanita itu melambaikan tangannya ke atas.
"DENGARKAN KALIAN SEMUA! PARA LELUHUR, PARA PENJAGA, DAN PENGUASA ANGIN! MULAILAH SIDANG AGUNG! SIAPAKAH YANG BERHAK DAN SIAPAKAH YANG SALAH!"
Seketika, angin berhenti bertiup. Suara gemuruh hilang. Seluruh makhluk halus yang tadinya mengerumuni mereka kini mundur ke pinggir area, membentuk lingkaran besar menjadi penonton. Mereka berdiri diam seribu bahasa, menghormati prosesi sakral yang lebih tinggi dari sekadar pertarungan.
Suasana menjadi hening total. Hening yang membuat bulu kuduk merinding.
Eyang Sastro memberi isyarat mata kepada Raga. "Waktunya, Raga. Bacalah dengan lantang dan percaya diri. Jangan ada satu huruf pun yang salah atau tergagap."
Raga mengangguk. Ia melangkah maju mendekati api suci. Tangannya mengambil gulungan kulit kambing hitam yang berisi mantra pembatalan. Tangannya masih sedikit gemetar, tapi saat matanya bertemu dengan tatapan Eyang Sastro yang penuh keyakinan, rasa takut itu perlahan hilang digantikan oleh keberanian.
Ia membuka gulungan itu. Tulisan-tulisan aksara Jawa Kuno dan Arab-Melayu tampak mengkilap basah oleh campuran tinta dan darah, seakan hidup dan berdenyut pelan.
Raga menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara malam, lalu mulai membaca.
"Bismillahirrahmanirrahim...
Dewata Nawung Ingkang Sinuwun...
Para leluhur yang mengasuh bumi...
Saksi langit dan saksi bumi...
Hadirlah sekalian... menyaksikan janji yang ingin diputuskan..."
Suara Raga terdengar jelas, lantang, dan memiliki getaran aneh. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat api suci di depannya berkobar semakin besar dan berwarna semakin terang.
Nyi Blorong yang berdiri di atas singgasana akar pohon mulai terlihat tidak nyaman. Ia memegang dadanya, wajahnya tampak pucat dan kesakitan.
"Aduh...!" erangannya pelan.
"...Ikatan ini dibuat oleh Eyang Noto pada zaman dahulu...
Dibuat demi menyelamatkan nyawa banyak orang...
Dibuat atas dasar darurat dan paksaan keadaan...
Bukan dibuat atas dasar suka sama suka...
Bukan atas dasar restu hati..."
Raga terus membaca. Ia tidak peduli lagi pada rasa takut. Ia fokus sepenuhnya pada tulisan di depannya.
"...Maka dengan ini...
Atas nama darah dan keturunan...
Saya Raga... memohon kepada yang Maha Kuasa...
Untuk MEMBATALKAN... MENGHAPUSKAN... DAN MEMUTUSKAN...
Segala janji, sumpah, dan ikatan batin...
Antara diri saya... dengan Nyi Blorong...
Putus... kendel... pegat... tidak bersambung lagi...
Seperti air yang sudah tumpah... tidak bisa kembali ke bejana...
Seperti jalan yang bercabang... tidak akan bersatu lagi..."
Setiap kali kata "PUTUS" dan "PEGAT" diucapkan, tanah di bawah mereka bergetar pelan. Api suci mengeluarkan suara mendesis keras seperti ular besar.
Nyi Blorong menjerit panjang!
"ARRGGHHH!!! CUKUP!!! BERHENTI!!!"
Ia mencoba menerjang maju untuk merampas kulit kambing itu dari tangan Raga, namun tiba-tiba...
TRANG!!!
Sebuah dinding cahaya tak terlihat menahan tubuhnya! Ia terpental mundur kembali ke singgasananya!
"Jangan melanggar hukum sidang, Nyi Blorong!" tegur Eyang Sastro tegas. "Siapa yang melawan saat prosesi berlangsung, berarti dia mengakui kekalahan dan siap menerima hukuman alam!"
Nyi Blorong marah besar. Ia menepuk-nepuk singgasana akar itu hingga retak.
"KALIAN CURANG!!! KALIAN MEMAKSA!!! DIA MILIKKU!!! DARAHNYA DARAHKU JUGA!!!"
"...Maka jika perjanjian ini tetap dipaksakan...
Maka akan timbul bencana...
Maka akan timbul pertumpahan darah...
Dan kedamaian akan hilang selamanya...
Oleh karena itu... kami memilih kedamaian...
Kami memilih memutus ikatan ini...
Agar semua pihak bahagia...
Agar desa aman... dan alam pun tenteram..."
Raga sampai pada baris terakhir. Ia mengangkat kulit kambing itu tinggi-tinggi ke udara.
"SEKIAN DAN TERIMA KASIH. DISAHKAN!!!"
JLEB!!!
Raga melemparkan gulungan kulit itu tepat ke tengah api suci!
Kulit itu terbakar seketika! Tidak ada abu yang tersisa, hanya asap putih berwarna keemasan yang mengepul naik tinggi-tinggi membentuk huruf-huruf samar di langit malam, lalu menghilang ditelan angin malam.
Seketika itu juga...
DRRRRRRR!!!
Gempa bumi hebat terjadi! Langit di atas mereka terbuka memancarkan cahaya putih terang benderang! Dan sebuah suara guntur yang sangat besar namun terdengar agung bergema:
"D...I...S...A...H...K...A...N!!!"
Suara itu bukan suara manusia, bukan suara makhluk, itu adalah suara alam semesta sendiri yang mengesahkan keputusan itu.
Nyi Blorong menjerit histeris. Jeritan yang penuh keputusasaan, kesakitan, dan kemarahan. Tubuhnya bersinar merah menyala, seakan terbakar dari dalam.
"TERLALU SAKIT!!! RAGA!!! KAU MEMUTUSKAN HUBUNGAN KITA DENGAN SANGAT KEJAM!!!" teriaknya sambil memegang kepalanya kuat-kuat. "TAHANANNYA HILANG!!! IKATANNYA PUTUS!!! ARGHH!!!"
Raga berdiri terpaku. Ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya. Sesuatu yang berat dan hangat yang selama ini menempel di jiwanya... tiba-tiba lepas dan hilang begitu saja. Rasanya... sangat ringan. Sangat bebas. Seperti burung yang baru saja keluar dari sangkarnya setelah ratusan tahun.
"Aku... bebas..." bisik Raga pelan, air matanya menetes. "Aku benar-benar bebas..."
Nyi Blorong menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada amarah, ada kebencian, tapi juga ada kesedihan yang mendalam dan rasa kehilangan yang luar biasa.
"Kau pikir selesai begitu saja, Raga?!" serunya dengan suara parau. "Kau pikir dengan selembar kertas terbakar kau bisa lepas begitu saja?!"
Eyang Sastro melangkah maju. "Sudah selesai, Nyi Blorong. Alam sudah bicara. Kau tidak punya hak lagi. Pergilah. Kembalilah ke wilayahmu dan biarkan anak ini hidup."
Nyi Blorong tertawa miris. Tawa yang terdengar sangat menyedihkan.
"Aku tahu... aku tahu ikatan itu sudah putus... Aku tidak bisa memaksanya lagi... Tapi ingat ini, Eyang Sastro... Ingat ini Raga..."
Wanita itu menatap tajam.
"Aku tidak masalah jika ditolak oleh manusia... Tapi aib ini tidak bisa dibiarkan begitu saja! Aku punya suami! Aku punya tuan! Berita kekalahan dan penolakan ini pasti sampai ke telinganya!"
Mata Eyang Sastro dan Mbah Joyo seketika membelalak.
"Suamimu?!" seru Eyang Sastro kaget. "Kau bilang Kanjeng Raden?!"
"Benar!" Nyi Blorong tersenyum menyeramkan, wajahnya kembali berubah menjadi setengah manusia setengah naga. "Dia adalah penguasa mutlak! Dia tidak akan terima istrinya dipermalukan dan ditolak oleh manusia biasa! Kalian sudah membangunkan raksasa yang tidur! Kalian sudah memancing amarah Naga Hitam!"
"Naga Hitam?" Raga bingung.
"Ya! Kanjeng Raden Tumenggung! Suamiku! Pemimpin seluruh pasukan genderuwo dan makhluk buas di gunung ini!" Nyi Blorong semakin histeris. "Dia sangat pencemburu! Dia sangat kejam! Kalian pikir aku yang jahat? Lihat saja nanti! Kalian baru merasakan sedikit saja kekuatanku! Dibandingkan dia, aku hanyalah air hangat!"
Mbah Joyo sampai terduduk lemas di tanah. "Ya Allah... kenapa sampai menyeret Kanjeng Raden... Ini bencana besar..."
"HAHAHAHAHAAA!!!" Nyi Blorong tertawa gila. "Biarlah dia yang menghukummu! Biarlah dia yang mencabik-cabik nyali kalian! Aku tidak mau peduli lagi! Pergi! Keluar dari wilayahku sebelum dia datang!"
Tiba-tiba, angin berubah arah. Aroma bunga kamboja yang wangi perlahan berganti menjadi bau belerang dan darah yang sangat menyengat. Suhu di sekitar mereka tiba-tiba menjadi sangat panas, padahal sebelumnya sangat dingin.
Dari arah dalam hutan yang paling gelap, terdengar suara auman panjang yang sangat keras dan mengerikan!
"AUUUUUUUUMMMMMM!!!!"
Suara itu bukan suara harimau, bukan suara guntur, tapi suara auman makhluk raksasa yang sangat berwibawa dan menakutkan.
Seluruh makhluk halus yang menjadi penonton seketika itu juga berlutut ketakutan, menundukkan kepala mereka ke tanah seakan menghadap tuan mereka yang sebenarnya.
"DIA DATANG!" teriak Nyi Blorong. "LARI KALIAN! SELAMATKAN DIRIMU SEBELUM DIA SAMPAI SINI! KALAU DIA LIHAT KALIAN MASIH DI SINI... MATI KALIAN!!!"
Nyi Blorong sendiri pun tampak panik. Tubuhnya perlahan menghilang menjadi kabut hitam.
"Ingat pesanku!!! Itu bukan lawan biasa kalian!!! Itu RAJA NERAKA!!!"
WUSSS!!!
Sosok Nyi Blorong lenyap seketika, meninggalkan Raga, Mbah Joyo, dan Eyang Sastro yang kini berdiri terpaku di tengah altar yang api birunya mulai meredup.
Auman itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat dan lebih jelas.
"AUUUUUUMMMM!!!"
Eyang Sastro pucat pasi. Keringat dingin bercucuran membasahi jubahnya. Ia segera memegang lengan Raga kuat-kuat.
"Raga! Joyo! Kita harus pergi SEKARANG JUGA! Jangan lihat ke belakang! Lari sekuat tenaga kalian!!!"
"Kenapa Eyang? Siapa dia sebenarnya?" tanya Raga gemetar.
"Dia bukan sekadar makhluk halus, Nak..." jawab Eyang Sastro dengan suara bergetar. "Dia adalah Jenderal Perang yang ditakuti bahkan oleh para dewa sekalipun. Kita baru saja menang melawan istrinya... tapi sekarang... kita harus berhadapan dengan rajanya sendiri..."
Mereka bertiga berlari meninggalkan Punden Berdiri di tengah kegelapan dan teror auman yang semakin mendekat.
Malam ini... baru saja menjadi malam paling panjang dan paling mengerikan dalam hidup mereka.