Tak pernah mendapatkan cinta dari siapapun termasuk ibu kandungnya, Cinderella Anesya seorang gadis yang biasa di sapa Ella itu berharap ada setitik cinta dari tunangannya.
Sayangnya pria yang menjadi tunangannya itu tak pernah menganggapnya ada dan lebih cenderung pada adik tirinya yang selama ini selalu di sayang oleh keluarganya.
Merasa ketulusannya di khianati, Ella akhirnya menerima pinangan pria yang selama ini diam-diam mencintainya..
Akankah hidupnya berubah setelah bersama pria itu? Atau justru sebaliknya??
•••••
"Berjanjilah untuk selalu mencintaiku.." Cinderella Anesya
"Aku akan selalu mencintaimu, Baik sekarang, Nanti dan selamanya.." Davin Anggara Sanjaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamat Malam
Ella keluar dari rumah yang selama ini menjadi naungannya sekaligus menjadi neraka baginya. Jika di dalam tadi Ella menahan air matanya dan berusaha kuat di hadapan orang-orang itu termasuk Mamanya. Begitu sampai di luar, Air mata Ella mengalir deras membasahi pipinya yang mulus.
Drrttt... Ddrrttt...
Ella menghapus air matanya, Meraih benda pipih yang berada di dalam tas nya.
"Halo Lan..
"Kamu dimana?
"Lan.. Bisa gak kamu jemput aku.. Aku gak ada kendaraan ini buat ketemu kamu.." Ella sebenarnya ingin pergi menggunakan motor miliknya, Tapi berhubung kunci motornya ketinggalan di kamarnya, Ella tak jadi memakai kendaraan roda dua itu.
Dia enggan jika harus bertemu orang yang berada di rumahnya.
" Ya Ampun.. Ell.. Kamu nangis?
"Enggak.. Aku gapapa kok.. Tolong ya, Jemput aku sekarang kalo gak ngerepotin..
"Iya ya.. Aku jemput bentar ya.." Wulan sebenarnya sudah berada di cafe tempat mereka membuat janji. Karena Wulan memang belum pulang ke rumahnya sama sekali setelah jam kerjanya selesai.
Akan tetapi berhubung mereka berteman sejak dulu, Wulan mana tega pada Ella ysng sejak kecil memang kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya terutama ibunya.
"Iya Lan.. Tolong ya, Aku..
Tiiiin.... Tiiiin.....
Suara klakson yang mendadak itu membuat Ella terkejut. Wanita itu belum sempat menghindar dari kendaraan roda empat yang melaju ke arahnya.
"Aaaaa...
Ciiiittt!!
Saking kagetnya, Ella reflek jatuh terduduk di aspal. Namun masih beruntung karena supir mobil tersebut segera menginjak rem membuat Ella selamat meski jarak mobil dan tubuh Ella hampir tak berjarak.
Ella memejamkan matanya, Ia mengatur nafas seraya memegang dadanya.
"Halo! Ell.. Ell kamu gapapa kan..
Tuuuuutttt!
Seorang pria turun dari mobilnya. Pria itu tampaknya begitu panik melihat seorang wanita yang hampir di tabrak tadi duduk bersimpuh di tengah jalan.
"Nona.. Nona baik-baik saja.." Perlahan kepala itu medongak, Pria itu sontak terkejut melihat bahwa Ella lah wanita itu.
"Cinderella?
"Tuan Davin.."
"Kamu??" Tanpa bertanya apapun lagi, Davin mengangkat tubuh tersebut ke dalam gendongannya.
"Tolong buka pintunya.." Titah Davin pada supir pribadinya.
"Baik Tuan.." Supir itupun segera membukakan pintu untuk sang Tuan. Davin membawa masuk Ella yang sebenarnya tidak terluka namun masih syok itu.
"Jalan Pak.." Sang supir mengangguk, Mobil mewah itupun mulai melaju.
Di dalam kendaraan roda empat itu. Davin menelisik tubuh Ella takut ada yang terluka.
"Kamu gapapa? Apanya yang luka?" Ella menggelengkan kepalanya. " Kamu ngapain di jalan sendirian petang-petang gini? Jalan kaki pula.." Tanya Davin pada wanita yang di cintainya itu.
"Saya.. Saya..
" Tunggu? Kamu abis nangis.. " Meski Ella mengelak, Tetap saja Davin tahu.
"Apa lagi yang mereka lakuin ke kamu? Mereka apain kamu?" Ella lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Walaupun Davin sudah tahu tentang kehidupan yang ia jalani selama ini, Ella tetap tidak akan pernah bercerita apapun pada pria itu.
"Udah, Gapapa kalau kami gak mau cerita.." Ucap Davin dengan lemah lembut. Siapa yang menyangka kalau kakak kembaran Davina itu akan memeluk Ella. Mengusap punggung wanita itu agar lebih tenang..
Ella yang mendapatkan pelukan tersebut jelas kembali menangis. Wanita itu tergugu menenggelamkan wajahnya di dada seorang Davin. Tangannya juga meremas jas yang pria itu kenakan.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Dan malam ini, Ella tak ingin apapun selain pemenang. Dan Davin, Pria itulah yang menjadi penenang sekaligus penyelamat malamnya.
"Hiks.. Kenapa hidup saya seperti ini Tuan hiks.." Davin tak mengatakan apapun. Dia tetap mengusap lembut punggung Ella agar perasaannya tenang dan mulai nyaman.
Bahkan dengan lancangnya Davin mengecup pucuk kepala Ella berulang kali. Tak ada penolakan dari Ella sendiri, Sepertinya wanita itu terlanjur nyaman..
Setelah puas menangis, Ella mulai mengurai pelukannya. Dia menghapus air matanya.
"Pakai ini.. " Di tataplah sapu tangan berwarna Pink itu. Sebuah senyum kecil terbit dari bibirnya, Pria cool rupanya suka warna Pink juga, Pikirnya.
"Itu punya adikku, Kemarin tanganku terluka jadi aku di kasih sapu tangan ini.." Ella meraih kain segi empat tersebut untuk menghapus cairan bening yang mengalir dari pelupuk matanya.
"Terima kasih Tuan..
"Sama-sama.. Jangan menangis lagi ya.." Davin juga membantu menghapus sisa air mata Ella. Hal tersebut membuat Ella terpaku. Mata keduanya bertemu dengan perasaan yang mungkin akan sulit di jelaskan..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kak.. Kak Araka.. Ayo masuk, Papa sama Mama udah nungguin kita buat makan malam.." Lentera menarik lengan pria tunangan kakaknya itu agar kembali masuk.
Sejak kepergian Ella, Araka keluar begitu saja tanpa pamit. Entah kenapa Araka merasa tersentuh akan isi hati Ella yang wanita itu curahkan.
Araka pun berniat mengejar Ella. Namun sayangnya wanita itu telah hilang tak tahu kemana. Kepala Araka menoleh ke kanan dan kiri melihat setiap jalan, Akan tetapi sepi dan tak ada siapapun.
"Kak.. " Rengek Lentera yang mendadak kesal.
"Lentera.." Lentera tersenyum, Sebenarnya gadis itu kesal namun tak ia tunjukan pada pria itu.
"Bilang ke Om dan Tante ya.. Aku minta maaf gak bisa ikut makan malam bersama. Aku harus pulang sekarang.."
"Kak.. Tapi kena..
Tanpa menunggu Lentera menyelesaikan ucapannya, Pria itu sudah pergi masuk ke dalam mobilnya.
Tangan Lentera mengepal dengan erat. Dadanya naik turun dengan mata yang memerah.
"Ini semua gara-gara Kak Ella. Lihat saja, Setelah dia nikah sama Kak Araka aku pastikan dia akan menderita..
...****************...
Davin sedang menunggu Ella yang saat ini berada di salah satu tempat bersama temennya yang bernama Wulan.
Setelah melihat kesedihannya, Davin mulai bertanya mau kemana dia. Wanita cantik itupun mengatakan kalau dia ingin ke cafe ini karena sudah terlanjur membuat janji.
Namun sebelum itu, Ella mengirim pesan kalau Wulan tidak perlu menjemputnya, Dia mengatakan kalau saat ini sedang berada di perjalanan.
Tak ingin terlalu ikut campur, Davin lebih memilih untuk menunggu di tempat yang lain yang sedikit berjarak agar tak mengganggu dua wanita itu.
Sementara itu, Di tempat dua orang wanita yang tengah berbincang tersebut. Wulan mulai menceritakan tentang Hendra yang telah datang ke kantor keuangan tadi. Wulan juga menceritakan apa yang pria itu lakukan. Semuanya, Dan tak ada satupun yang tersisa.
"Nomor rekening itu.. Namanya Amran Syahid. Nama itu bukannya nama Papa kamu?" Ella terdiam cukup lama, Yang dia tahu kartu rekening milik Mamanya di pegang oleh Ayah tirinya. Dan katanya kartu tersebut sudah mati karena sudah tak kepakai karena tak ada transaksi apapun.
"Ayah datang ke kantor buat ngecek?
"Iya.. Pas di tanya apakah udah di cek apk apa belum? Katanya udah cuma takut eror gitu.. Makanya dia datang ke kantor buat bener-bener mastiin. Aneh gak sih? Kenapa harus di cek lagi gitu loh.." Wulan menatap temannya itu.
",Ell.. Kamu mikir apa yang aku pikirin gak?" Ella mengangguk. Dia raih tangan wulan kemudian menggenggamnya.
"Lan.. Boleh aku minta tolong?
"Iya..
"Tolong cari tahu Lan.. Tolong cari tahu lebih dalam lagi tentang nomor rekening itu.." Wulan membalas genggaman tangan itu.
"Itu sih pasti Ell, Kamu gak perlu khawatir.." Ella tersenyum, Untung dia punya Wulan yang selalu ada untuknya.
"Jika memang Ayah main curang selama ini.. Demi Allah dunia akhirat aku gak ridho..
•
•
•
TBC