Arlan Pramudya adalah seorang arsitek sukses yang hidupnya terukur seperti penggaris siku. Baginya, ketidakteraturan adalah musuh. Sejak kehilangan istrinya tiga tahun lalu, Arlan mengunci diri dalam rutinitas kerja yang kaku dan peran sebagai ayah tunggal yang terlalu protektif bagi putrinya, Mika (6 tahun). Rumah mereka megah, namun terasa dingin dan sunyi—sebuah monumen kesedihan yang tak kunjung usai.
Masalah muncul ketika Mika, yang mewarisi sifat keras kepala ayahnya, menolak semua guru privat yang didatangkan Arlan. Hingga akhirnya, muncul Ghea Anindita, mahasiswi pendidikan yang datang dengan tawa renyah, sepatu kets kotor, dan metode belajar yang jauh dari kata "formal".
Awalnya, Arlan skeptis. Ghea terlalu berisik dan sering melanggar batas-batas "profesional" yang ia tetapkan. Namun, Ghea adalah satu-satunya orang yang berhasil meruntuhkan tembok pertahanan Mika. Perlahan, kehadiran Ghea tidak hanya mengisi kekosongan di meja belajar Mika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cetak Biru Yang Berbeda
Arlan Pramudya bukanlah tipe pria yang suka berbicara banyak. Ia percaya bahwa setiap kata adalah investasi, dan segala tindakan harus sangat efisien. Sebagai seorang arsitek dan pemilik sebuah bisnis konstruksi, ia mengamati dunia dengan garis yang jelas, sudut yang tepat, dan bahan yang tangguh.
Setelah satu jam, matahari mulai terbenam, meninggalkan cahaya oranye di jendela besar ruang tamu. Ghea sedang merapikan botol-botol cat saat Arlan muncul lagi. Kali ini, ia sudah melepas kemeja hitamnya dan mengenakan kaus abu-abu polos yang membuatnya terlihat lebih muda dan... lebih manusiawi.
"Mika sudah mandi?" tanya Arlan singkat, suaranya kini lebih lembut, tidak lagi menakutkan.
"Sudah, Pak. Dia langsung tidur sambil memeluk 'denah kerajaan laut' tadi," jawab Ghea sambil menyampirkan tas ranselnya yang sedikit pudar.
Arlan melangkah ke meja bar di dapur dan mengambil dua botol air mineral. Ia menyerahkan satu botol kepada Ghea. "Kenapa kamu tidak menggunakan buku teks tadi?"
Ghea menerima botol itu, jemarinya sempat bersentuhan dengan tangan Arlan yang dingin. "Mika tidak perlu buku teks, Pak. Dia butuh medium untuk berkomunikasi. Dia bosan diajari menghafal, sementara dalam pikirannya terdapat dunia yang ingin dia bangun sendiri. Bukankah Bapak juga melakukan hal yang sama saat mendesain bangunan?"
Arlan terdiam. Pertanyaan itu mengenai inti permasalahan. Ia meneguk airnya dan fokus menatap Ghea.
"Saya merancang bangunan dengan logika, Ghea. Bukan dengan imajinasi liar tentang lumba-lumba di dalam kamar tidur."
Ghea terkekeh, keberaniannya mulai muncul kembali. "Tapi Bapak membangunnya untuk manusia, kan? Manusia memiliki perasaan. Jika bangunan hanya soal logika, itu akan menjadi tumpukan semen yang dingin, sama seperti rumah ini."
Suasana tiba-tiba menjadi hening. Ucapan Ghea cukup tajam untuk membuat siapapun yang bekerja di rumah bisa dipecat seketika. Namun, Arlan justru meletakkan botolnya perlahan. Ia melangkah lebih dekat, aroma sandalwood dari parfum yang digunakannya campur dengan bau sabun mandi Mika.
"Kamu baru sepuluh menit di sini dan sudah berani menilai cara saya mengatur rumah?" tanya Arlan, suaranya tidak menggambarkan kemarahan. Melainkan... sebuah pengakuan.
"Saya hanya mengamati 'proyek konstruksi' yang sedang saya kerjakan, Pak," jawab Ghea dengan tenang.
Arlan menarik napas panjang. Ia mengambil ponselnya, mengetik sesuatu, lalu menatap Ghea lagi. "Mulai besok, kamu datang jam empat sore. Gajimu tiga kali lipat dari tawaran yang tertera di iklan."
Ghea terperanjat. "Tiga kali lipat? Pak, saya hanya seorang mahasiswi, bukan profesor."
Arlan memutar jam tangannya, sebuah isyarat yang biasa dilakukan saat ia mengambil keputusan akhir. "Saya tidak membayar gelarmu. Saya membayar senyum Mika yang hilang selama tiga tahun. Dan satu hal lagi..."
Arlan mengambil kunci mobilnya dari meja. "Jangan gunakan motormu di sini. Saya akan antarkan kamu pulang. Saya tidak ingin guru privat anak saya mengalami kecelakaan di jalan karena ban bocor lagi. Itu tidak efisien untuk jadwal belajar Mika."
"Tapi Pak—"
"Jangan membantah, Ghea. Ini adalah bagian dari kontrak," potong Arlan dengan tegas, meski ada senyum tipis—hampir tidak terlihat—di sudut bibirnya.
Saat mereka melangkah menuju garasi, Arlan membuka pintu mobil SUV hitam berkilau untuk Ghea. Untuk kali ini, Arlan tidak memikirkan proyek stadion yang dikerjakan di kantornya. Ia justru berfokus pada: Warna cat apa yang sebaiknya aku beli esok supaya Mika dan Ghea bisa menciptakan 'jembatan pelangi' itu dengan baik?
Arlan Pramudya, arsitek beton, baru saja menyadari bahwa dasar paling penting dalam kehidupannya ternyata bukanlah dari besi, melainkan dari tawa seorang anak dan keberanian seorang gadis asing yang datang terlambat.
Arlan masih berdiri di samping pintu mobil yang terbuka, menanti Ghea masuk. Namun, gadis tersebut tidak langsung bergerak. Ia malah berhenti di depan kap SUV Arlan yang sangat tinggi, lalu memandang motor matiknya yang tua yang terparkir di sudut garasi dengan tatapan sedih.
"Tapi Pak Arlan, motorku nanti merasa kesepian jika ditinggal sendirian di sini," ujar Ghea pelan. Ia kemudian menoleh ke Arlan dan meruncingkan bibirnya—sebuah bentuk kecil yang tiba-tiba—karena merasa berat untuk berpisah dari kendaraan setianya yang baru saja mengalami kebocoran ban.
Arlan, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai atasan dingin yang jarang menunjukkan perasaan di depan bawahannya, terdiam sejenak. Ia memperhatikan bagaimana wajah Ghea yang penuh dengan coretan cat air kini terlihat sangat ekspresif. Sifat kekanak-kanakan Ghea yang tulus itu entah bagaimana terasa sangat berbeda dengan kemewahan dingin di sekeliling mereka.
Sudut bibir Arlan bergerak. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, senyum kecil muncul di wajahnya. Ini bukan senyuman resmi saat berjabat tangan dengan klien, melainkan senyuman yang tulus yang membuat garis wajahnya terlihat lebih lembut.
"Motormu aman, Ghea. Satpamku akan menjaganya sebaik mungkin," kata Arlan, suaranya kini terdengar lebih ramah.
Ghea masih mempertahankan sikapnya dengan bibir maju, ia memandang Arlan dengan mata menyipit penuh curiga. "Bapak tidak akan menjual motorku untuk membangun jembatan, kan?"
Arlan tertawa kecil—suara ini hampir ia lupakan begitu lama. "Harga satu ban mobil ini lebih tinggi dibandingkan semua motormu. Jadi, masuklah. Atau saya akan merubah keputusan saya tentang kopi tadi."
Mendengar kata 'kopi', pertahanan Ghea runtuh. Ia segera merapikan tasnya dan dengan cepat masuk ke dalam mobil. Arlan menutup pintu untuknya lalu berjalan mengelilingi untuk duduk di kursi pengemudi.
Selama perjalanan, Arlan beberapa kali melirik ke kaca spion tengah. Ia melihat Ghea yang mulai antusias membahas berbagai jenis kuas, kadang-kadang gadis itu kembali memajukan bibirnya saat menceritakan betapa sulitnya menemukan warna kuning yang tepat untuk hidung Mika.
Setiap kali Ghea melakukan itu, Arlan harus menoleh ke jalanan supaya gadis itu tidak melihat betapa ia berusaha keras untuk tidak terus-menerus tersenyum. Bagi Arlan, Ghea Anindita bukan hanya seorang pengajar privat; dia adalah kejutan yang mulai meruntuhkan dinding kaku yang telah ia bangun selama tiga tahun terakhir.
Gadis ini manis, pikir Arlan singkat, sambil memutar kemudi dengan satu tangan. Sangat manis.
Mobil SUV mewah milik Arlan melewati kemacetan Jakarta yang mulai berkurang, sampai akhirnya memasuki sebuah gang yang cukup ramai namun tetap asri di daerah pinggiran. Arlan harus sangat berhati-hati saat mengemudikan mobilnya yang besar agar tidak menabrak pagar rumah warga.
"Di depan itu, Pak! Yang pagarnya hijau dan ada tanaman gantungnya," Ghea menunjuk dengan penuh semangat.
Arlan menghentikan mobilnya tepat di depan rumah sederhana. Sangat kontras dengan rumahnya yang dingin dan minimalis; rumah Ghea terlihat hangat dengan lampu kuning yang menyala di teras dan suara tawa yang samar-samar terdengar dari tetangga sebelah.
Ghea segera membuka sabuk pengamannya, lalu berpaling ke arah Arlan. Ia menyadari pria itu sedang melihat sekitar dengan nada yang sulit dipahami—mungkin merasa asing atau mengagumi suasana yang berbeda dari dunianya yang dipenuhi beton.
"Terima kasih atas tumpangannya, Pak Arlan. Dan... terima kasih sudah tidak memecatku dalam lima menit pertama tadi," kata Ghea dengan senyum lebar.
Arlan menoleh, melihat Ghea yang masih ada sisa cat biru di dekat telinganya. "Besok, pastikan ban motormu sudah siap. Atau aku benar-benar akan mengirim sopir untuk menjemputmu."
Ghea kembali memajukan bibirnya, pura-pura kesal dengan nada memerintah. "Baiklah, Pak Bos Arsitek yang Terhormat. Kamu lebih cerewet daripada dosen pembimbingku," bisiknya pelan, tetapi masih terdengar oleh Arlan.
Arlan kembali mengukir senyum tipis—senyum yang mulai terasa akrab baginya malam itu. "Masuklah. Sudah larut malam."
Ghea turun dari mobil, melambaikan tangan dengan semangat hingga mobil Arlan menghilang di ujung gang.
Di dalam kendaraan, Arlan tidak segera memutar lagu klasik yang menjadi favoritnya. Ia malah membiarkan keheningan mengisi ruangan, sambil menghirup sisa wangi parfum Ghea yang masih ada di dalam mobil—wangi vanila yang lembut dan menenangkan. Ia baru menyadari, mengantar seorang wanita muda ke rumahnya yang sederhana di jalan sempit ternyata jauh lebih membahagiakan daripada meraih sebuah proyek yang bernilai triliunan rupiah.
Arlan menyentuh setirnya, kemudian berkata pelan pada dirinya, "Sampai jumpa besok, Ghea."