NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Uang Ibu, Jembatan Malam.

Aku tidak punya pilihan lain.

Sudah aku putar otak dari segala arah. Sudah aku hitung ulang berkali-kali. Dua juta untuk sekolah Wida, ditambah kebutuhan rumah minggu ini, ditambah modal jualan yang masih seret sejak pandemi. Angkanya tidak pernah ketemu dari uang yang ada.

Jadi aku pergi ke rumah Ibu.

Ibu membukakan pintu dengan wajah yang langsung tahu ada sesuatu sebelum aku bilang apa-apa. Beliau memang selalu begitu.

Aku duduk di kursi kayu itu. Kursi yang sama dari dulu. Meja yang sama. Toples kue yang sama, masih kosong.

"Ma, aku butuh pinjaman."

Ibu tidak langsung menjawab. Duduk di sebelahku.

"Berapa?"

"Empat juta. Aku akan kembalikan cicil dari jualan. Aku janji."

Ibu diam cukup lama. Tangannya di atas meja, jemari yang keriput itu digenggam sendiri. Lalu beliau berdiri, masuk ke kamar.

Aku menunggu.

Beliau keluar dengan amplop cokelat.

"Ini empat juta, Tri." Suaranya pelan. "Dari jual kebun singkong warisan Bapakmu dan bagian mu udah ibu kasih biaya pernikahan mu,ini sisa nya tadinya mau ibu pake biaya berobat ibu"

Aku terdiam.

Kebun singkong itu. Yang di pinggir desa, yang Bapak beli dua puluh tahun lalu dengan cara menyisihkan sedikit-sedikit, yang kata Ibu tidak pernah mau dijual karena itu yang terakhir dari Bapak.

"Ma, ini buat berobat Ibu. Aku tahu kondisi Ibu sekarang, dokter bilang harus—"

"Ambil dulu, Nak." Ibu meletakkan amplop itu di tanganku. "Ibu masih bisa tahan."

"Tapi gulanya sudah tahap kronis, tekanan darahnya, asam urat, lambungnya juga—"

"Ambil."

Satu kata. Dengan cara yang tidak bisa dibantah karena nada itu bukan keras, tapi sangat yakin.

Aku memegang amplop itu. Tebal. Empat juta dari kebun singkong warisan Bapak, dari tubuh yang sakitnya ditahan supaya anaknya bisa bayar kebutuhan rumah tangga orang lain.

Tenggorokanku sesak.

"Makasih, Ma." Suaraku keluar tidak sempurna.

Ibu menepuk punggung tanganku. Satu kali. Pelan.

Aku pulang dengan amplop di saku dan sesuatu yang berat sekali di dada.

Sesampainya di rumah, aku simpan amplop itu di bawah bantal. Aman di sana dulu sebelum aku sempat buka rekening atau cari cara penyimpanan yang lebih baik.

Nirmala melihat.

"Itu uang apa?"

"Pinjaman dari Ibu. Untuk kebutuhan rumah dan sekolah Wida."

"Kenapa disimpen di situ?"

"Sementara dulu, nanti aku—"

"Lo mau ngabisin itu sendiri kan."

Aku menatapnya. "Apa?"

"Disimpen di bawah bantal, gak bilang-bilang, terus nanti bilang hilang. Gue udah tau cara lo."

Sesuatu di dadaku bergerak keras. Aku tahan.

"Nirmala, ini uang Ibu aku. Untuk berobat dan untuk kebutuhan kita. Aku tidak akan—"

"Sini." Dia meraih amplop itu.

"Nir—"

"Gue yang simpan. Di e-walet gue. Lebih aman."

Aku menatapnya. Ada sesuatu yang tidak nyaman di dadaku tapi dia sudah buka e-waletnya dan mulai memasukkan angka dan aku tidak punya tenaga untuk bertengkar lagi malam itu.

Aku diam.

Bodohnya aku, aku diam.

Dua hari kemudian Nirmala menerima telepon.

Aku tidak dengar semuanya. Cuma sepotong-sepotong dari kamar sebelah. Suara Nirmala yang antusias, kata-kata seperti hadiah dan konfirmasi dan transfer dulu.

Aku keluar dari kamar.

"Nirmala, telepon apa itu?"

"Bentar." Tangannya terangkat ke arahku. Masih di telepon.

Aku tunggu.

Lima menit. Sepuluh.

Nirmala menutup telepon dengan wajah yang sudah berubah. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang tidak mau aku baca karena kalau kubaca berarti apa yang aku khawatirkan nyata.

"Nir. Uangnya masih ada?"

Dia tidak menjawab langsung.

"Nirmala."

"Tadi ada yang telepon. Katanya gue menang undian. Harus transfer dulu buat pajak hadiahnya."

Aku berdiri.

"Berapa yang kamu transfer?"

Diam.

"BERAPA?"

"Semua." Suaranya kecil. "Katanya hadiahnya sepuluh juta. Gue pikir—"

Dunia ini terasa seperti berputar satu kali penuh lalu berhenti di tempat yang salah.

Empat juta.

Dari kebun singkong Bapak.

Dari Ibu yang sakit gulanya sudah kronis, tekanan darahnya sudah tidak stabil, asam uratnya sudah mengganggu jalan, lambungnya sudah minta rawat inap tapi ditahan karena tidak ada biaya dan karena anaknya butuh.

Ludes.

Kena tipu.

Dalam satu hari.

Sesuatu di dalam dadaku yang sudah berbulan-bulan aku tahan, yang sudah bertahun-tahun aku tekan ke bawah, yang sudah aku kunci rapat-rapat karena ada Aini, karena ada besok, karena ada alasan untuk tetap diam mulai bergerak dengan cara yang tidak bisa lagi aku kendalikan.

"ITU UANG IBU AKU, NIR."

Suaraku keluar bukan seperti teriakan biasa. Lebih dalam dari itu. Lebih dari perut. Dari tempat yang tidak pernah aku izinkan bersuara sekeras ini.

"TABUNGAN DARI JUAL KEBUN. WARISAN BAPAKKU. DAN ITU UNTUK BEROBAT IBU YANG SAKIT."

Air mata keluar sendiri. Tidak aku minta. Tidak aku rencanakan.

"Kamu... sampai kapan mau anggap aku..." Suaraku pecah di tengah kalimat. "Tiap hari selalu... selalu..."

Aku tidak bisa selesaikan kalimatnya.

Tidak ada kata yang cukup. Tidak ada kalimat yang bisa mewadahi semua yang sudah terlalu lama disimpan dan baru sekarang minta keluar.

"AAAAAAKHHH."

Aku keluar.

Pintu tidak aku tutup. Tidak sempat. Tidak peduli.

Di belakangku, suara Nirmala.

"Tapi Wida baru kelas lima, mau naik kelas enam masih ada waktu kok buat—"

Aku berhenti.

Berbalik.

Menatapnya.

Dia masih membahas sekolah Wida. Uang berobat Ibu baru saja ludes karena kebodohan yang tidak bisa ditarik kembali dan dia masih membahas sekolah Wida.

"Cukup." Suaraku habis. Tidak ada tenaga lagi. "Aku mau tenangin diri. Jangan bahas sekolah. Masih lama juga."

Nirmala menangis.

Air matanya keluar. Aku melihatnya. Tapi ada sesuatu yang aneh dari tangisan itu, sesuatu yang tidak sampai ke dalam, sesuatu yang terasa seperti diproduksi untuk situasi ini dan bukan lahir dari sesuatu yang benar-benar sakit.

Aku pergi.

Jalan kaki. Tidak tahu ke mana. Kaki bergerak sendiri dan kepala tidak ikut memilih arahnya.

Sampai di jembatan.

Jembatan lama di tepi sungai kecil, jarang dilewati malam hari, lampunya satu dan sudah redup. Di bawahnya air hitam yang tidak kelihatan dasarnya dari atas.

Aku naik ke pilar.

Tidak tahu kapan aku memutuskan itu. Tahu-tahu kakiku sudah di atas, tangan di besi pilar, dan aku berdiri di sana dengan angin malam yang dingin menghantam dari semua arah.

Di bawah, gelap.

Di dalam dadaku, lebih gelap lagi.

"Bu..." Bisikanku keluar sendiri ke udara yang tidak ada yang mendengar. "Maafin Satria. Maafin Satria ya Bu. Uang Ibu... uang yang buat berobat Ibu... Satria yang salah. Satria yang harusnya jaga. Harusnya tidak kasih ke dia. Harusnya Satria yang pegang."

Tanganku mengencang di besi pilar.

"Ibu sakit dan Satria malah bikin susah terus. Dari dulu. Terus bikin susah. Lebih baik mati aja dari pada hidup tapi tidak ada yang menghargai sama sekali."

Aku melepas satu tangan.

Satu kaki bergeser ke tepi.

Gelap di bawah. Dingin di atas.

Dan melompat

Dan kemudian ada tangan yang menarik lenganku dari belakang. Keras. Satu tarikan yang kuat dan tidak minta izin, gak logis juga sih, karena orang itu datang seperti angin , datang secara tiba tiba, mungkin orang normal yang jarak satu atau dua meter aja gak bakalan bisa tarik tangan ku.

Dan mungkin aku sudah mati di bawah jembatan ini

Aku hampir terjatuh ke arah yang salah tapi tarikan itu lebih kuat.

Aku terseret mundur. Kaki mendarat kembali di atas jembatan. Lutut hampir tidak kuat menopang badan yang tiba-tiba terasa sangat berat.

Ada seseorang di belakangku.

Aku tidak bisa melihat wajahnya jelas dalam gelap. Hanya siluet laki-laki, paruh baya kira-kira, dengan suara yang berat dan tidak kenal.

"Apa yang kau lakukan, Nak."

Bukan pertanyaan.

"Jangan bertingkah bodoh. Ingat Allah."

Aku tidak bisa menjawab.

Berlutut di atas jembatan dengan napas yang tidak karuan dan seluruh tubuh yang gemetar dan air mata yang tidak berhenti dan malam yang terlalu gelap untuk melihat wajah orang yang baru saja menarik tanganku kembali ke sisi yang benar.

Siapa dia.

Aku tidak tahu.

Tapi tanpa tarikan tangan itu, malam ini adalah malam terakhirku.

Dan aku akan meninggalkan Aini.

Aini yang tidur di rumah itu sekarang dengan leher yang masih ada bekasnya dan yang pagi-pagi akan bangun dan mencari wajahku dan tidak menemukannya.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

Dan menangis dengan cara yang belum pernah aku lakukan sebelumnya.

1
ASASTA
😄😄
tria123
ruqiyah aja tad si nirmala setan nya banyak
tria123
kasih aku waktu... demi si toxic.. pertahankan aja si toxic
tria123
udah mending cerai, nikahi sonia dan lo nanti bisa nyanyi "kubuat pagar besi yang mengelilingi dirimu... "
tria123
saya mencium perselingkuhan nih
tria123
bang bang kalima-lima gobang bang
tria123
paling gak suka sama perilaku seperti itu, emangnya esok nya masalah selesai ketika lo mati bundir, enggaklah..
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
tria123
kebiasaan warga Konoha nih, ekonomi sulit gaya elit akhirnya hutang melangit
tria123
bemo oh bemo... 🤣
tria123
peran pelawak nih si bemo
tria123
haji udin aja baik, masa istri sendiri pelit, udah lah ceraikan nirmala nikahi haji udin ehh... 🤣
tria123
dan kedepan nya lo gak dapat lagi rezeki, karena rezeki yang lo dapat gak di Terima secara ikhlas, liat aja hukum karma nya
tria123
dasar anak daj**, masih kecil udah bicara kayak gitu ampun generasi anak Konoha
tria123
istri macam apa kamu 🤭🤣
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!