Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.
Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.
Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Refleks Nova
“T-tidak mungkin!” ucap pemuda itu, ia langsung membalikan arah dan berlari ke arah berlawanan.
Sementara itu siswa-siswi yang melihat Nova sangat terkejut, terlebih mereka mendengar kabar bahwa Nova hilang tanpa jejak setelah pulang dari sekolah. Dan setelah kedatangannya itu, satu sekolah menjadi heboh terlebih Dion dan teman-temannya.
Nova di panggil menuju ruang guru untuk di mintai penjelasan, tentang dirinya yang di kabarkan hilang selama tiga hari itu. Nova hanya bersikap santai dan menjawab semuanya dengan tenang, wali kelas Nova akhirnya bernapas lega sosok murid yang di banggakannya akhirnya kembali.
“Syukurlah, jika kamu baik-baik saja, Nova,” ucap Bu Riska sang wali kelas sekaligus mengakhiri percakapan Nova dan pihak sekolah.
Dari sudut lain sekolah, Dion dan teman-temannya terlihat kesal. Terlebih saat melihat Nova keluar dari ruang guru, kepalanya lebih tegak dan sesaat matanya melihat ke arah Dion lalu kembali berjalan meninggalkan ruang guru.
“Sial! Gimana bisa dia selamat?” umpat Dion sambil menatap ke arah Nova yang sudah menjauh.
Agus yang berada di sampingnya, langsung membisikan sesuatu hingga Dion tersenyum miring penuh kepuasan.
“Oke, kita lakuin itu.”
***
Saat Nova di kelas, fokusnya lebih tajam. Pendengarannya, penglihatannya semuanya membuat Nova merasa dirinya menjadi aneh. Bahkan ia bisa mengetahui isi pikiran teman-temannya yang berada di kelas.
Namun, Nova tak mempedulikan itu. Ia hanya fokus dengan buku yang sedang ia baca.
“Sepertinya aku hanya berhalusinasi,” gumamnya.
Kemudian saat Nova fokus membaca, ia teringat sosok wanita di alam bawah sadarnya. Ia mengingat semua detail kejadian itu, dan membuatnya tak sadar wali kelasnya sudah berada di hadapannya.
“B-bu Riska, maaf. Aku tidak fokus,” ucap Nova sambil kembali menunduk.
Riska hanya tersenyum melihat sikap Nova, kemudian ia menepuk pundak Nova pelan sambil berkata.
“Tidak apa-apa, saya tahu kondisimu belum sepenuhnya stabil.”
Nova pun tersenyum, dan pelajaran pun di mulai seperti biasanya. Tak ada yang aneh, hingga Riska memberikan soal yang paling sulit dan ia yakin Nova sekalipun belum tentu bisa menjawabnya.
Dan saat Riska memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjawab. Tak ada yang berani maju, hanya Nova yang berdiri dan tanpa berbasa-basi lagi ia langsung maju dan meraih spidol di tangan gurunya itu.
Riska tampak kagum dengan keberanian Nova itu, begitupun Aruna dan yang lainnya. Tak sedikit yang mencemooh Nova dan mengejeknya karena mereka yakin jika Nova tidak akan bisa menjawabnya dengan benar.
Karena soal fisika yang di berikan wali kelas mereka belum di pelajari sama sekali sebelumnya.
Tapi Nova, dengan percaya dirinya ia menulis jawaban dengan lancar dan bahkan jelas dan lengkap menuliskan rumus-rumus yang belum di pelajarinya sama sekali.
“Selesai, Bu,” ucap Nova setelah selesai mengerjakan soal sulit di papan tulis itu, ia mengerjakannya tak lebih dari tiga menit, membuat semua temannya terkejut.
“B-bagaimana bisa?” gumam Riska sambil memperhatikan papan tulis di hadapannya itu.
Sementara Nova hanya bisa heran, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Menurut nya ia hanya mengerjakan soal biasa, tapi kenapa respon semua orang begitu terkejut saat ia selesai mengerjakannya.
“Kenapa, Bu?” tanya Nova.
Riska langsung terkesiap karena ia masih terpaku dan kagum dengan jawaban dari Nova di papan tulis itu. Ia refleks menepuk tangannya sebagai apresiasi kepada Nova.
“Luar biasa! Bagus, Nova. Kamu memang murid yang sangat pintar!” ujar Riska sambil menepuk pundaknya itu.
Seketika suasana kelas menjadi riuh, teman-teman Nova yang sempat meremehkan hanya bisa terdiam tanpa berkata apapun lagi. Mereka dibungkam oleh kejeniusan seorang Nova.
Aruna pun semakin mengagumi sosok Nova, terlebih kini penampilan Nova sangat berbeda jauh dari biasanya.
***
Kabar tentang kembalinya Nova ke sekolah itu, sampai ke telinga Vanesha. Ia yang sedang menambal pipinya dengan bedak tebal tiga puluh centi langsung menghentikan aktifitasnya.
“Apa lo bilang Fan! si culun berubah? Berubah apanya? Bukannya dia hilang ya?” ucap Vanesha kepada teman di sebelahnya.
Fany mengangguk dengan yakin sebagai jawabannya. Vanesha yang penasaran lantas berdiri dan berjalan keluar kelas, di ikuti oleh gengnya Fany dan Putri.
Vanesha pun melangkah di koridor menuju kelas Nova, dan tepat saat Vanesha akan sampai, Nova keluar kelas di ikuti oleh Aruna dan Kinan.
“Heh! Nova,” panggil Vanesha. Ia terkejut saat Nova menoleh, penampilannya jauh berbeda, bahkan Fany dan Putri sempat terkesima oleh sosok Nova.
Saat melihat ekspresi kedua temannya Vanesha menjadi kesal dan langsung menyadarkan keduanya dengan teriakan khasnya.
Nova masih berdiri dan menunggu apa yang akan di katakan oleh, Vanesha kepadanya. Namun, kali ini tatapannya lebih dingin, tak ada sedikitpun ekspresi yang di tunjukan kepada gadis sombong itu.
Vanesha yang menyadari itu, menjadi sedikit kesal.
“Dia kok jadi aneh ya?”
Kemudian ia membenarkan sikapnya dan maju satu langkah, namun sebelum sempat ia berbicara. Nova melangkah pergi karena tak ingin membuang waktunya lebih lama lagi.
Melihat itu, Vanesha jelas kesal kedua tangannya mengerat dan ia menghentakkan kaki saat Nova tak memberinya muka.
“Sial! Sebenarnya dia kenapa?” protes Vanesha.
Fany dan Putri hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban.
“Awas aja lo Nova, berani-beraninya lo cuekin gue!”
Sementara itu Nova berjalan dengan santai menuju kantin, Aruna berjalan di sampingnya dan Kinan mengikutinya dari belakang.
Sepanjang jalan menuju kantin, Aruna terus memperhatikan wajah Nova yang terlihat lebih cerah.
Nova menyadari itu, namun ia hanya berpura-pura tidak tahu, dan fokus mempercepat langkahnya hingga Aruna dan Kinan tertinggal jauh.
“Nova! Tunggu,” teriak Aruna sambil berlari kecil.
Begitu memasuki area kantin, udara di penuhi dengan aroma masakan dan suara percakapan semua orang, tapi, saat melihat Nova melangkah masuk. Suasana seketika hening, berbeda dengan meja di sudut kantin itu dimana Dion dan teman-temannya memperhatikan sosok Nova yang terlihat cuek saat melihat mereka.
Nova yang biasanya berjalan menunduk, kini terlihat lebih berbeda. Tak ada sosok culun tak ada sosok lemah, bahkan auranya sempat membuat Dion menciut, namun tentu saja Dion menyembunyikan kecemasan itu dari teman-temannya agar ia tak terlihat takut dan tetap terlihat lebih dominan.
“Kamu mau pesan apa, Nova?” tanya Aruna sambil menarik kursi di samping Nova, sementara Kinan duduk di sebrangnya tanpa ekspresi apapun.
Nova menoleh sesaat lalu menjawab dengan tenang.
“Es teh manis saja,” ucapnya.
Aruna mengerutkan keningnya sambil menghela napas pelan.
“Hanya itu saja? Baiklah.”
Saat Nova sedang mengobrol sambil menunggu pesanannya, sebuah bola basket melayang dengan cepat ke arahnya. Dengan refleks Nova mengangkat satu tangannya dan tepat bola basket itu berhenti di tangannya.
Hal itu membuat semua orang, terkejut.
“APA!”