Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.
Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.
Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.
Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.
Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Pitaloka masih berdiri di ambang pintu ketika ia akhirnya menyadari sepenuhnya siapa sosok di hadapannya.
"A Safwan ..." bisiknya bergetar.
"Pita ..." Safwan menatapnya dari ujung kepala hingga kaki, alisnya berkerut dalam. Handuk yang melilit tubuh Pitaloka basah, rambutnya acak-acakan, mata gadis itu merah dan tampak kosong. "Kamu kenapa berantakan sekali? Kamu sakit?" Nada suaranya bukan marah, melainkan cemas. Kekhawatiran yang tulus.
Pitaloka tersenyum kecil, senyum yang dipaksakan. Ia menggeleng pelan. "Nggak, Aa. Aku cuma ... sedikit nggak enak badan."
Safwan melangkah lebih dekat tanpa ragu. Tangannya terangkat, hampir menyentuh dahi Pitaloka, lalu berhenti sejenak, seolah meminta izin. "Apakah badan kamu panas? Kalau iya, ayo kita ke dokter."
Kata dokter membuat dada Pitaloka sesak. Kepalanya langsung menolak. Bayangan pertanyaan, obat lain, penilaian ... semuanya membuatnya ingin lari. "Nggak," ucapnya cepat. Terlalu cepat. "Aku nggak mau, Aa."
Safwan terdiam. Ia menatap Pitaloka lama, mencoba membaca sesuatu di balik sorot mata yang gelisah itu. "Pita, kamu nggak kayak gini biasanya. Sebenarnya apa yang terjadi?"
Kalimat itu seperti memicu sesuatu. Sebelum Safwan sempat melanjutkan, Pitaloka bergerak lebih dulu. Ia menarik kerah kaus Safwan dengan tenaga yang entah datang dari mana, mendekatkan wajah mereka, lalu ... melahap rakus bibir Safwan.
Bukan ciuman lembut yang biasa mereka bagi. Bukan pula ciuman penuh tawa. Ini liar, mendesak, seolah Pitaloka sedang berusaha menenggelamkan pikirannya sendiri lewat kedekatan itu.
Safwan membeku sesaat. "Pita-"
Namun Pitaloka tak memberi ruang. Tangannya mencengkeram bahu Safwan, tubuhnya gemetar, napasnya memburu. Ada sesuatu yang tak biasa dalam caranya menempelkan diri, sesuatu yang lebih mirip permohonan daripada gairah.
Safwan seharusnya mendorongnya menjauh.
Logikanya tahu itu. Tapi detik demi detik berlalu, dan tubuhnya merespons lebih cepat daripada pikirannya.
Tangannya terangkat, menyentuh punggung Pitaloka ... sekadar menahan agar gadis itu agar tak terjatuh. Sentuhan sederhana itu justru membuat segalanya semakin rumit.
Ciuman itu berbalas.
Dan tanpa benar-benar ia sadari, Safwan sudah melangkah masuk ke dalam apartemen. Pintu tertutup di belakang mereka dengan bunyi pelan, nyaris tak terdengar, namun terasa seperti keputusan besar yang baru saja diambil.
Langkah mereka beberapa kali tersandung menuju kamar. Pitaloka seperti berjalan dalam kabut, setengah sadar, setengah terbawa arus.
Safwan mengikutinya tanpa melepas tautan bibir mereka, jantungnya berdegup keras, pikirannya berteriak agar ia berhenti.
Di kamar itu, dunia seakan menyempit.
Safwan menyadari posisi mereka dan tersentak. Ia menahan tubuhnya, menumpu dengan tangan, napasnya berat.
Saat itulah ia melihat dengan jelas tubuh polos Pitaloka untuk pertama kalinya. Ia tercekat. "Pita," suaranya serak, tertahan. "Kita nggak bisa begini." Ia berniat menjauh, menarik diri, memberi jarak yang seharusnya ada sejak awal.
Tapi Pitaloka bergerak cepat, tangannya menahan lengan Safwan. Sentuhan itu lemah, namun penuh desakan. "Jangan pergi, A," katanya lirih. "Lanjutkan, Aa."
Safwan membelalak. "Sentuh aku," lanjut Pitaloka, suaranya bergetar. "Aku ingin ... aku ingin kita saling menyatu." Kata-kata itu bukan terdengar seperti ajakan penuh keyakinan. Lebih seperti jeritan seseorang yang kehilangan pegangan.
Safwan terdiam lama. Di dalam kepalanya, dua suara bertabrakan hebat. Satu berkata ini salah. Bahwa Pitaloka tidak dalam kondisi baik. Bahwa ia sedang rapuh, mungkin bahkan tidak sepenuhnya sadar dengan apa yang ia minta.
Namun suara lainnya, lebih gelap, lebih jujur ... menggoda, membujuk, menjerat. Nafsu yang dibangkitkan oleh kedekatan, oleh perasaan memiliki, oleh kenyataan bahwa mereka saling mencintai.
Ia menutup mata sesaat.
Saat membukanya kembali, Safwan sadar ia berdiri di persimpangan yang berbahaya. Satu langkah ke depan berarti melanggar batas yang seharusnya ia jaga.
Satu langkah ke belakang berarti meninggalkan Pitaloka dalam kondisi yang mungkin lebih buruk dari sebelumnya.
Pergi ... atau tinggal.
Melakukan ... atau menyelamatkan.
Dan pagi itu, di kamar apartemen yang sunyi, Safwan belum tahu pilihan mana yang akan ia ambil.
Namun dilema itu buyar ketika Pitaloka dengan cepat menarik tengkuk Safwan dan mencumbu bibir lelaki itu lagi.
Safwan berusaha menolak, tapi kedua kaki gadis itu sengaja dikaitkan ke pinggangnya.
Tubuh mereka otomatis saling menempel.
Dan dibalik celana jeans-nya ... pusaka Safwan menegang.
Dia lelaki normal, dan itu sangat wajar. Apalagi Pitaloka terus melakukan sentuhan seduktif.
Safwan blingsatan, tak bisa lagi mengendalikan gairahnya. Otaknya mulai tak bisa berpikir, kini dipenuhi kabut nafsu yang menggila. Menghalangi kewarasannya.
Tangan Safwan mulai berselancar, menyentuh dada Pitaloka.
Sementara bibirnya makin beradu dengan Pitaloka.
Dengan sendirinya, tangan kanannya mulai turun, menyentuh lembah tersembunyi yang sudah sangat basah.
"Aa ..." Di sela pagutannya, Pitaloka melirih rendah, sensual. "Buka baju Aa. Semuanya ..."
Safwan menarik bibirnya menjauh, lalu melakukan apa yang Pitaloka katakan.
Satu per satu, kain di tubuhnya luruh. Kini dia dan Pitaloka sudah sama-sama tanpa helai benang.
"Kemari ... peluk aku." Pitaloka merentangkan kedua tangannya.
Dan Safwan langsung masuk ke pelukan itu.
Hangat, kenyal dan membuat tubuhnya meremang ketika kulit tanpa penghalang itu saling bersentuhan.
Di bawah sana, pusakanya yang sudah mengeras pun bertemu dengan sarungnya.
"Lakukan, Aa. Aku ... ingin menyatu denganmu," bisik Pitaloka sambil menjilati daun telinga Safwan.
Safwan tak membalas dengan perkataan, ia membalasnya dengan perbuatan.
Menyapa wajah Pitaloka dengan bibir dan lidahnya, lalu turun ke leher, dada dan di lanjutkan ke bawah.
Mereka mulai bergumul panas, hingga kamar itu dalam sekejap mata langsung dipenuhi suara-suara syahdu yang menggila.
"Cepetan, Aa. Masuki aku."
"Iya, Pita. Aku akan melakukannya sekarang," desis Safwan sambil memposisikan pusakanya, lalu dengan satu dorongan ... pusaka itu langsung melesak masuk ke dalam bagian terdalam dari tubuh Pitaloka.
Desahan mengudara dari bibir kekasihnya, diiringi dengan cengkeraman di pundak Safwan.
Tak perlu belajar, Safwan bergerak sesuai insting kelaki-lakiannya meski ia baru pertama kali melakukan.
Suara mereka saling bersahutan, menyemarakan suasana pagi yang tenang.
"Terus Aa. Jangan berhenti ..." Pitaloka meracau. Dan Safwan bergerak makin menggila di atas tubuh kekasihnya.
Keringat makin bercucuran dan saling bercampur.
Detik demi detik berlalu, hingga akhirnya berubah menjadi menit.
Mereka masih beradu, makin rapat dan makin gila ... hingga akhirnya gelombang surga dunia itu datang, menghantam keduanya.
Safwan mengerang panjang, disusul Pitaloka yang langsung menggelinjang.
Sedetik kemudian ... tubuh Safwan ambruk menimpa tubuh Pitaloka yang mengkilap oleh keringat. "Pita ... m-maafkan aku ... maaf ..." Setitik cairan bening jatuh dari matanya. Penyesalan itu selalu datang belakangan. "Jika ... kamu hamil ... aku akan bertanggung jawab."
Pitaloka tak menjawab, ia hanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar.
Lima menit berlalu, dan Safwan mulai menarik diri dari atas tubuh Pitaloka. Ia duduk di tepi ranjang. "Pita ... aku ikut ke kamar mandi ya?"
"Iya, A." Setelah sekian lama diam, suara Pitaloka pun terdengar.
Safwan bangkit berdiri, memunguti pakaiannya yang berserakan. Ia memakai celananya, lalu berjalan tertatih masuk ke kamar mandi.
"A Safwan ... kau tak perlu bertanggung jawab. Aku tak mungkin hamil. Kau bukanlah lelaki pertama yang menyentuhku. Sudah terlalu banyak yang menjamah tubuhku, A. Aku ... bukanlah Pitaloka yang dulu." Di tengah gumaman perih itu, ponselnya berdering. Buru-buru Pitaloka mengambil ponselnya. "Sherly ..." Bibirnya melengkung. Ia segera mengangkat panggilan itu.
"Pit ... aku udah di depan, buka!"
"Oke. Aku ke sana sekarang." Pitaloka meraih handuk, bergegas keluar dari kamar.
Ia berjalan setengah berlari menuju pintu depan. Langsung membuka pintu.
"Anjir ... kamu habis tidur sama siapa, Pit, itu kissmark di mana-mana?" Sherly menodongkan pertanyaan sambil tertawa pelan.
"Sama pacarku. Siniin obatnya. Aku udah nggak kuat, Sher. Aku udah kayak mau mati."
"Oke. Oke." Sherly merogoh tasnya dan memberikan dua botol obat itu, dengan cepat ... Pitaloka mengambilnya.
"Makasih. Uangnya aku transfer nanti. Nggak usah masuk dulu. Ada pacarku di dalam."
Sherly tertawa lagi sambil mengangguk. "Have fun, bestie." Ia pun pergi.
Pintu ditutup cepat oleh Pitaloka, dan gadis itu langsung berlari ke dapur. Mengambil segelas air dan meminum dua butir obat ke dalam mulutnya. "Leganya ..." Ia menyandarkan tubuh di dekat wastafel.
______
Enam bulan kemudian.
Mesin politik Zainal Buana akhirnya dinyalakan penuh. Bukan lagi sekadar bisik-bisik di warung kopi atau dukungan diam-diam para tokoh desa.
Kali ini, semuanya bergerak, serentak-terencana dan masif.
Dana kampanye mulai digelontorkan. Spanduk dan baliho berdiri di setiap persimpangan strategis. Posko relawan bermunculan dari desa pesisir hingga kaki perbukitan. Kaos seragam dicetak ribuan, lengkap dengan slogan yang terus diulang di setiap pertemuan warga.
Zainal tidak ragu mengeluarkan biaya besar. Ia tahu, momentum ini tidak datang dua kali.
Di atas panggung kampanye, Zainal tampil percaya diri. Suaranya tegas, gesturnya terukur. Ia bicara tentang pembangunan, keberlanjutan, dan lapangan kerja-bukan janji kosong, melainkan lanjutan dari apa yang sudah mulai terlihat wujudnya.
Kali ini, ia tidak sendirian. Lingga berdiri di sisinya, mengenakan kemeja sederhana tanpa atribut berlebihan.
Wajahnya yang tampan dan masih muda, serta profesinya yang seorang pengacara langsung menjadi daya tarik warga, terutama anak-anak muda dan kamu hawa.
"Ayah saya bukan tipe yang banyak bicara," ucap Lingga saat mikrofon diserahkan kepadanya. "Tapi beliau bekerja. Resort dan agrowisata itu bukti. Saya ikut turun langsung melihat bagaimana petani, pekerja, dan warga sekitar mulai merasakan manfaatnya."
Sorak sorai terdengar. Nama Lingga mulai dikenal bukan sekadar sebagai anak Zainal Buana, melainkan representasi generasi penerus yang berani turun ke lapangan.
Ia aktif berkampanye, mendampingi ayahnya dari satu kecamatan ke kecamatan lain, dari kabupaten ke kabupaten lain. Ke kota-kota juga menyapa warga, mendengarkan keluhan, dan sesekali ikut blusukan tanpa pengawalan berlebihan.
Sementara itu, Freya berdiri di balkon utama resort, memandang cahaya lampu yang mulai menyala di antara pepohonan. Ia tahu, di luar sana Zainal dan Lingga sedang berjuang dengan hiruk-pikuk politik dan di tempat indah ini ... ia sedang menyusun rencana untuk menjatuhkan usaha mereka berdua. "Kehancuranmu akan segera tiba, Zainal dan Lingga Buana. Bahkan Pitaloka, dan Lastri pun harus ikut hancur!"