Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Tuduhan.pada Ivan
"Apa hubungan hilangnya kakek sama Ivan!" Teriak Bibi Cindy sesaat tubuh Edgar menghilang di balik pintu. Kepala Bibi Cindy tengadah ke atas. Pandangannya mengikuti tubuh Edgar. Beberapa menit kemudian Edgar keluar lagi dari kamarnya.
T-Shirt warna navy dan jins senada membalut tubuh jangkungnya. Aura, wajahnya yang nampak dingin makin menonjol meskipun pakaian yang dia kenakan pakaian casual. Aroma parfum menguar seiring Edgar keluar dari kamarnya.
Begitu melihat Edgar turun lagi, Bibi Cindy kembali menghadang Edgar.
"Jadi benar kakek hilang?" cecar Bibi Cindy.
Edgar menyipitkan netranya lalu menatap bibinya dengan pandangan tajam. Sejenak langkahnya terhenti detik berikutnya dia berjalan ke ruang keluarga dan berhenti di meja makan. Bi Asih, segera mendekat untuk meladeni tuannya.
"Tolong buatkan kopi saja, Bi." sebut Edgar karena Bi Asih mengira dirinya mau makan.
"Baik Tuan."
Bibi Cindy yang mengekor terus makin kesal karena kehadirannya tidak dianggap keponakannya. Pertanyaannya belum juga dijawab. Sikap acuh tak acuh Edgar memicu emosinya. Edgar tau kalau sikapnya tidak sopan pada bibinya. Tapi dia punya rencana lain untuk menjebak bibinya dengan memacu emosi.
"Kata siapa kakek hilang, Bi?" ucapnya seraya mengaduk kopi dihadapannya dengan santai. Bibi Cindy seketika gelagapan namun tetap berusaha bersikap tenang. Edgar tersenyum melihat gelagat bibinya yang begitu mudah terbaca.
"Samaku juga Bi, kopinya." Bibi Cindy mengalihkan topik.
"Iya, Nyonya." Bi Asih kembali ke ruang dapur untuk menyeduh kopi. Bi Asih punya firasat akan terjadi badai sebentar lagi. Sikap Tuannya yang misterius menyiratkan hal itu.
"Bibi tidak menemukan kakek di rumah ini."
"Apakah kalau kakek tidak di rumah berarti beliau hilang? Praduga macam apa itu. Kecuali satu hal, Bibi tau persis kejadiannya." Edgar menyesap kopinya yang masih mengepul panas.
"Bibi hanya menduga saja." kelit Bibi Cindy.
"Sekaligus memastikan," delik Edgar. Tatap matanya makin tajam dan dingin. Aura Edgar yang menahan amarah makin kentara.
"Tergantung." sahut Bibi Cindy malah menantang.
"Tergantung apa. Jelas kakek tidak ada di rumah ini berarti dugaan bibi sudah valid kalau kakek hilang, begitu?" dengus Edgar.
"Jadi benar ayah Bibi hilang dan kamu tenang-tenang saja. Tidak memberitahukan Bibi, bahkan kamu juga tidak mencarinya. Kamu jahat sekali, Edgar!" teriak Bibi Cindy kalap.
"Seharusnya Bibi senang mendengar berita itu." Edgar menuntaskan menyeruput kopinya, mendorong kursinya kebelakang lantas berdiri dan meninggalkan bibinya.
"Mau kemana kamu, Gar!" seru Bibi Cindy marah karena keponakannya itu mengabaikannya lagi.
"Mencari Ivan, Bi." Edgar menghentikan langkahnya.
"Ada urusan apa dengan Ivan. Jangan buat masalah dengan dia," kejar Bibi Cindy menghadang langkah Edgar.
"Soal kakek." sahutnya datar. Bibi Cindy merasa aneh dengan sikap keponakannya. Sepertinya dia tau sesuatu dibalik hilangnya kakek. Ataukah dia hanya curiga saja tanpa alasan.
Setiap ucapan Edgar terdengar dingin dan acuh. Tatapannya tajam. Tatapan mata memb*n*h itu pernah dia perlihatkan saat membela kakeknya ketika Ivan putranya berulah. Keduanya berujung masuk rumah sakit. Ayahnya masuk rumah sakit karena serangan stroke dan putranya Ivan karena dihajar habis-habisan oleh Edgar.
Kini dia melihat sorot mata itu lagi!
Bahaya!
Kalau sampai Edgar tau sesuatu soal hilangnya ayahnya ada kaitannya dengan Ivan. Cukup sekali itu saja dia menyaksikan putranya terbaring tidak berdaya di rumah sakit. Tiga bulan terkapar akibat pukulan maut keponakannya sendiri.
"Edgar, berhentilah berbuat masalah. Bibi sudah menjauh dari keluarga ini karena kamu. Kekacauan apalagi yang hendak kau perbuat." Ungkap Bibi Cindy tajam.
"Bibi tuduh aku yang buat kekacauan? Gak usah banyak drama lah, Bi. Semua orang bisa menilai Ivan itu seperti apa selama ini. Aku sudah pernah peringatkan keluarga Bibi untuk tidak macam-macam sama kakek. Jika menyangkut soal nyawa kakek, maaf Bi. Siapapun dia aku akan buat perhitungan!" teriak Edgar lantang.
"Lantas apa hubungan Ivan dengan hilangnya kakek."
"Dengar ya, Bi. Aku sudah muak dengan gaya dan akting keluarga Bibi selama ini. Bibi pun pasti sudah tau kalau Ivan lah yang membawa kakek dari rumah ini. Kedatangan Bibi kemari hanya untuk menghakimiku. Aku sudah tau semuanya, Bi." Edgar menyambar kunci mobilnya dan bergegas keluar dari rumah menuju mobilnya. Tadi dia sudah dapat info kalau Ivan sudah diamankan anak buahnya dan sudah disekap dalam gudang
Kali ini dia akan menghajar habis lelaki ugal-ugalan itu.
"Edgar, tunggu!" kejar Bi Cindy tapi terlambat mobil Edgar sudah keluar dari halaman dan melaju di jalan.
Bibi Cindy panik dan masuk kedalam mobilnya, berusaha mengejar mobil Edgar. Kedua netra Bibi Cindy fokus ke mobil didepannya. Mencari keberadaan mobil Edgar. Tapi sepertinya dia telah kehilangan jejak. Bibi Cindy mendengus kesal. Dia mencoba menghubungi Ivan untuk memperingatkannya kalau Edgar tengah mencarinya. Namun, nomor yang dihubungi tidak aktif.
Mobil didepannya berjalan lambat dan pada akhirnya berhenti. Bibi Cindy membunyikan klakson, ternyata jalanan macet. Bibi Cindy makin kesal. Setelah macet mengurai Bibi Cindy berusaha menyalip kendraan di depannya dan berhasil.
Kembali Bibi Cindy celingukan memperhatikan mobil mencari mobil Edgar. Akhirnya Bibi Cindy melihat dan mengejarnya. Setelah agak dekat, Bibi Cindy menjaga jarak agar Edgar tidak curiga bahwa sedang diikuti.
Sementara itu Edgar tau kalau dirinya tengah diikuti oleh mobil bibinya. Namun, dia berusaha bersikap tenang. Bibi bukanlah tandingannnya di jalanan. Urusannya dengan Ivan karena telah tega mencelakai kakeknya sendiri.
Setelah beberapa saat berhasil mengikuti mobil, Edgar, Bibi Cindy merasa berhasil membuntutinya. Dia menyiapkan kameranya untuk meliput apa yang akan dilakukan Edgar pada anaknya. Dia akan menjadikan vidio itu nanti sebagai bukti untuk menuntut Edgar ke ranah hukum apa bila melukai Ivan.
Sementara itu Edgar telah bosan bermain-main dengan bibinya di jalanan. Sudah waktunya menghilangkan jejak. Saat Bibi Cindy lengah Edgar berbelok ke kiri.
Beberapa saat Bibi Cindy belum sadar kalau targetnya sudah menghilang. Beliau baru tersadar saat tidak ada lagi mobil yang melaju didepannya. Bibi Cindy tiba-tiba panik dan berhenti. Hampir saja kenderaan yang dibelakangnya menabrak mobilnya. Untunglah sang sopir itu mampu menguasai mobilnya dan berhenti tanpa terjadi tabrakan.
Seandainya mobil itu melaju dengan kencang tabrakan beruntun dan mengerikan pasti tidak bisa terhindari.
"Ibu mau cari mati ya. Sana sendiri jangan ngajak orang lain!" maki seorang pengendara sepeda motor saat melintas disisi kiri Bibi Cindy. Bibi Cindy menoleh kebelakang ternyata dia telah menyebabkan kemacetan di jalan.
Bibi Cindy menghidupkan kembali mobilnya dan melanjutkan perjalanannya. Sangat jelas terlukis raut kesal di wajahnya karena gagal membuntuti, Edgar.
Dengan santai Edgar kembali melanjutkan perjalanannya. Dia kembali memutar dan masuk ke jalan utama semula dan berbelok ke kanan menuju luar kota.***