NovelToon NovelToon
Cadar Sang Pendosa

Cadar Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Cintamanis / Balas Dendam / PSK / Konflik etika
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadiaa Azarine

Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.

“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”

“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”

“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”

“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”

“Namanya juga pelacur!”

Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.

Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.

Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.

“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang Tak Layak

Hari demi hari berlalu begitu saja dan perlahan orang-orang disekitarnya melupakan Ayah, Ibu dan Kakeknya. Tak ada lagi yang berduka, bahkan saat Junia berduka pun mereka akan mengatakan Junia terlalu lemah.

Karena itu Junia pun memilih untuk tidak lagi berduka di hadapan orang lain. Dia fokus menjalani aktifitasnya sebagai siswi SMA yang akan naik ke kelas 12.

Namun setiap kali ia kembali ke kamarnya dan mengingat bahwa ia seorang putri yang kehilangan dunia berharganya, ia kembali berduka.

Semakin hari ia juga mulai merasakan perubahan dari keluarga pamannya. Mereka terlihat memandang Junia sebagai orang lain di rumah itu.

Rumah paman nyaris selalu gaduh. Suara bentakan, gesekan perabotan, dan pintu yang sering dibanting keras, selalu terdengar di telinga Junia. Di rumah itulah Junia menjalani hari-hari setelah kecelakaan dan setelah rumah peninggalan ayahnya disita.

Awalnya, Junia berusaha mengerti dengan kondisi itu, mungkin mereka lelah setelah seharian beraktifitas. Usianya yang baru menginjak tujuh belas tahun belum mampu sepenuhnya memaknai kejamnya dunia orang dewasa. Yang ia tahu, ia hanya harus bertahan. Namun seiring hari berganti, rumah itu semakin menunjukkan sifat aslinya.

Sepupu kembarnya, Frans dan Friska yang berusia dua puluh tahun, nyaris setiap hari mencari alasan untuk memulai keributan. Mereka menatap Junia bukan sebagai keluarga, tetapi sebagai beban yang menguras sumber daya rumah.

“Beban lo! Numpang doang!” adalah kalimat yang muncul paling sering dari mulut mereka. Kadang disampaikan sambil terkekeh, kadang sambil mendorong bahu Junia hingga tubuh ringkihnya oleng. Kadang pula diselipkan umpatan yang tidak pantas untuk diucapkan kepada keluarga sendiri.

Junia tidak membalas. Ia tak ingin menghabiskan energinya untuk melakukan hal yang tidak penting. Ia memilih diam, sebab diam adalah satu-satunya bentuk perlawanan yang tidak memancing amarah tambahan.

Namun semua semakin memanas saat bibinya ikut memperlakukan Junia layaknya pelayan tanpa bayaran. Setiap pagi ia akan menggertak Junia untuk menyapu, mengepel, mencuci tumpukan baju untuk semua keluarga, hingga memasak makanan.

“Kalau kamu numpang, kamu harus tahu diri,” ucap Risma sambil menyerahkan keranjang cucian. “Jangan karena suami saya memanjakan kamu, kamu jadi bersikap seolah tuan putri di rumah ini.”

Nada suaranya menusuk, seolah-olah Junia adalah parasit. Junia tidak bisa protes ataupun membantah. Ia juga tidak punya waktu untuk menangis—meski seringkali matanya terasa panas.

Pernah saat ia telat merapikan ruang tengah karena harus menyelesaikan cucian, bibinya menarik rambut Junia hingga kepalanya tertarik ke belakang.

“Dasar pemalas! Kamu mau makan gratis tapi kerja aja nggak becus!” bentaknya. “Saya akan meminta suami saya untuk segera mengusir kamu dari rumah kami!”

Junia hanya menahan napas, menahan air matanya agar tidak jatuh. Junia hanya meminta maaf lalu bergegas menyelesaikan pekerjaannya agar bibinya tidak semakin mengamuk.

Setelah kejadian itu, benjolan kecil muncul di belakang kepalanya, tapi ia memilih diam. Ia merasa tidak pantas mengeluh, sebab semua orang di rumah itu telah sepakat bahwa ia adalah masalah.

Waktu berjalan. Bulan demi bulan lewat tanpa ada tanda bahwa kehidupan akan berubah. Tubuh Junia semakin kurus karena tekanan yang menyiksanya ditambah jatah makannya yang juga selalu dibatasi. Sepupu kembarnya sering sengaja menghabiskan makanan lebih dulu agar Junia tidak kebagian. Kadang mereka membuang makanan di depannya hanya untuk melihat reaksinya. Junia hanya menunduk, lalu mengambil segelas air untuk meringkan lapar di perutnya.

Hingga suatu hari, paman memanggilnya ke ruang belakang. Junia sempat mengira sepupu atau bibinya mengadukan sesuatu hingga membuat pamannya marah, meski selama di rumah ini hanya pamannya yang tidak pernah marah sama sekali.

“Duduk sini,” Johan menunjuk kursi tua di sudut ruangan.

Junia duduk dengan gugup, takut jika pamannya itu marah padanya. Johan menarik napas panjang sebelum memulai pembicaraan.

“Om minta maaf atas perlakuan kasar bibi dan kakak-kakakmu, ya. Om jo sudah tau semuanya dan udah menasehati bibimh, tapi bibimu malah meminta om untuk mengusir kamu,” lirihnya.

“Jun nggak apa-apa kok, Om. Jun memang harus bermanfaat kalau mau numpang di rumah ini,” jelas Junia.

“Om punya solusi untuk kamu, Jun.” Johan menatap Junia.

“Solusi apa, Om?” Junia menatap Johan dengan wajah penasaran.

“Om ini bukan orang jahat,” lanjut Johan sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Om cuma lagi butuh bantuan. Dan kamu juga butuh bantuan, kan?”

Junia tidak mengerti arah pembicaraan itu, tetapi ia tetap diam.

“Kamu anak pintar,” kata paman. “Kamu pasti paham maksud Om.”

Junia hanya memandang lantai, ia masih tidak mengerti maksud ucapan pamannya itu. Johan mendekat, lalu menyentuh lembut pundak Junia, mengelusnya.

“Begini. Kalau kamu mau… Om akan belikan kamu rumah. Kamu nggak perlu tinggal di sini lagi. Kamu bisa hidup sendiri.”

Mata Junia tampak berbinar mendengar ucapan pamannya. Rumah. Kata itu menggema dalam kepalanya seperti sebuah keajaiban dalam dongeng.

“Tapi, ada syaratnya,” lanjutnya pelan.

“Apa syaratnya, Om? Kalau Junia harus dapat juara satu, jun akan lakukan!” ujar Junia penuh semangat.

Johan menggeleng cepat. “Bukan itu maksud Om…” lirihnya. “Om mau kamu memberikan sesuatu yang enak untuk om.”

Johan menatap Junia dengan tatapan lapar.

Junia menggeser tubuhnya dari sentuhan Johan di bahunya. “Maksudnya?”

“Kamu sudah dewasa dan pasti mengerti maksud, Om. Sesuatu yang enak dari gadis secantik kamu…” ucapnya sambil menatap tubuh bagian bawah Junia.

Suara itu menggema di telinga Junia. Pamannya memang tidak mengatakan hal itu dengan suara keras ataupun paksaan fisik. Namun justru karena itulah kata-kata itu terasa lebih mengerikan. Yang paman tawarkan bukan rumah, melainkan barter harga diri seorang anak yang tidak memiliki siapapun lagi.

Tubuh Junia menegang. Tangannya yang mengepal di atas pangkuan gemetar. Dunia di sekelilingnya terasa menyempit. Dadanya terasa sesak, seolah-olah ruangan itu tiba-tiba kehilangan udara.

“Jadi gimana?” tanya paman akhirnya. “Om kasih rumah. Tapi kamu harus… mengerti kebutuhan Om.”

Junia tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeleng pelan. Paman menatapnya dengan tatapan kecewa.

“Jun… ini ngggak menakutkan, kok. Om janji akan menjaga kamu dan menguliahkan kamu sampai lulus kalau kamu menuruti permintaan Om. Kamu juga akan bebas dari rumah ini dan Tante Risma.” Johan berusaha meyakinkan Junia.

“Karena aku udah dewasa, aku tau kalau itu nggak benar, Om. Aku keponakan Om! Sudah seperti putri Om sendiri, seperti Friska. Om jangan gila!” ucap Junia.

Johan berdecak kesal. “Jangan bodoh. Kamu mau sampai kapan makan dari belas kasihan orang? Kamu pikir kamu punya masa depan kalau terus jadi babu di sini?”

“Aku nggak mau! Kalau Om ngomong kayak gitu lagi akan aku laporkan ke Tante!” ujar Junia lalu meninggalkan Johan sendiri di ruangan itu.

Malam itu Junia hanya duduk diam dalam gelap, mendengarkan suara tawa sepupu kembarnya dari ruang tamu. Dunia berjalan seperti biasa, seolah-olah tidak ada yang berubah.

“Jahat… dunia jahat banget, ya…”

***

Bersambung…

1
Suratmi
sepertinya ada musuh dalam selimut,, seperti nya rasa iri si Jun bakal buat Dara kena Fitnah,,semangat ya kak author..di tunggu upnya💪💪
@Resh@: sepertinya dia yg fitnah dara dia nyamar klo pake cadar dan jadi pelakor tapi dara yg dituduh awal mula kehancuran dara ini
total 1 replies
Suratmi
karya Author sangat bagus.. menginspirasi kita perempuan agar lebih berhati-hati dalam kehidupan
Lovita BM
ayok up lagi kakak ✊🏼
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Sweet Girl
Bisa jadi ... mesti diselidiki.
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
Sweet Girl
Ijin baca Tor...
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.
Sweet Girl
Kamu salah... Makai Cadar kok karena Adara...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!