NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Malaikat

Perjalanan Sang Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Spiritual / Reinkarnasi / Sistem / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Arkara Novel

Dunia memiliki sistem mutlak yang ditetapkan jutaan tahun lamanya. Sistem rimba, yang terkuat dialah yang berkuasa dan yang lemah akan tersingkir. Sistem itulah awal terlahir kasta antara mahkluk hidup, sebuah hukum yang tidak dapat diubah dan akan terus berjalan. Tahun berganti, hukum mulai goyah. Keadilan tidak diberikan pada yang hak. Namun pada yang berkuasa. Jutaan tahun berlalu. Langit menciptakan hukum baru yang berpusat pada keseimbangan. Malaikat penyelamat bagi mereka yang tersingkir, memiliki tujuan menghancurkan sistem yang telah goyah. Dewa agung menjadi dakwa yang berdosa telah menciptakan iblis berwujud cahaya. Mereka yang berkuasa melawan mereka yang dibuang, terus bertahan hidup untuk melanjutkan perang tiada akhir demi jawaban kebenaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkara Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 018 —Kota Caelundra

     Sore tiba dengan cepat, cahaya oranye yang bersinar dibarat menambah pesona yang dimiliki kota ini. Dimata nya terlihat Kilauan cahaya, dinding biru itu berkilauan megah. Memiliki tinggi belasan meter, pondasi yang begitu kokoh serta halus.

      "Wahh..." Tanpa sadar Zabarin terperangah dengan kemegahan nya, ini hanya digerbang. Tapi berhasil membuat nya kagum, kira-kira bagaimana isi kota nya?.

      "Zabarin... Jangan jauh-jauh dariku, kota ini cukup luas dan padat. Takutnya kau tersesat lagi!" Seru Enki, memanggil Zabarin dari jauh. Zabarin pun memandang ke sekeliling nya, dan berlari kearah Enki.

      "Hehe... Aku baru kali ini melihat kota semegah ini!" Ucap nya sembari tertawa. Enki menggeleng namun juga maklum, ia kemudian mengajak mereka bertiga untuk ke ujung kota. Dimana ada sebuah wahana hiburan laut yang bisa mereka nikmati sepuasnya dengan bayaran murah.

      Sepanjang perjalanan, kota begitu ramai. Tawar-menawar harga, bujukan untuk membeli. Serta tawa dan juga berbagai emosi hadir, memeriahkan suasana yang tidak akan pernah pudar ini.

      Zabarin tidak berhenti melihat sekeliling, ini begitu luar biasa. Apalagi dengan hiasan setiap bangunan, apa yang mereka jual. Semuanya berasal dari sumber daya laut. Yang membuat kota ini berbeda, namun perbedaan itulah yang membuat nya semakin megah dan menarik perhatian tunawisma atau perantau untuk datang.

      "Enki... Kira-kira Shi Jian berada dimana?" Tanya nya tidak sabar, ingin bertemu dengan pemuda itu. Walaupun tidak diperbolehkan untuk ke pesta, tidak masalah untuk nya. Karena tempat ini lebih menarik daripada pesta kecil itu.

      "Hah... Malam nanti saja ku beritahu, saat ini kita cari dulu tempat untuk menginap. Kau tidak ingin kan, tidur dijalan... Sementara disekeliling kita adalah bangunan mewah?" Ucap Enki, mencoba mengalihkan pembicaraan itu. Dan Zabarin dengan tanpa curiga menyetujuinya, ia juga sedikit lelah dengan perjalanan jauh itu. Apalagi tidur di papan yang kasar itu.

       Sepanjang perjalanan mencari penginapan, Enki mengajak Zabarin untuk membeli makanan yang beberapa dijual, Zabarin pun dengan senang hati menerima. Ia juga sedari tadi sangat penasaran dengan rasa makanan yang bentuk nya beragam ini.

      Dimulai menghampiri kios dengan gambar cumi-cumi di spanduk atas kios, "Permisi... Berikan kami tiga cumi bakar!" Seru Enki sembari meletakkan beberapa koin berwarna perak, penjual itu mengambil dengan ramah dan mempersilahkan mereka untuk duduk sembari menunggu.

      "Kelihatan nya lezat... Aku tidak sabar mencoba nya!" Gumam Zabarin tidak sabar, sembari melihat bagaimana cara pedangan paruh baya itu membakar cumi diatas bara api. Memberikan bumbu dan rempah-rempah, beberapa menit kemudian aroma cumi yang menyengat menggugah selera.

      Tidak lama kemudian pesanan mereka telah siap, dengan tiga tusuk cumi berukuran telapat orang dewasa itu. "Silahkan cumi nya anak muda... Datang lah kemari lain kali!" Ucap pria paruh baya itu memberikan tiga tusuk cumi sembari tersenyum ramah.

      "Terimakasih tuan!" Balas Enki dan mengambil tiga tusuk cumi itu, sebelum mengajak Zabarin untuk pergi dari tempat itu. Zabarin yang tidak sabar merasakan kenikmatan makanan itu, mengambil salah satu cumi yang ada ditangan Enki.

      "Pelan-pelan lah... Cumi itu masih panas, lidah mu bisa terbakar tau!" Ucap Enki sembari geleng kepala, melihat tingkah Zabarin yang seperti anak kecil itu.

      Glek! Ia menghiraukan ucapan Enki, dan menggigit daging cumi itu dan menelan nya. Rasa sedikit Amis dan segar masuk kemulut nya, dengan rasa pedas dan sedikit panas. Matanya berbinar merasakan kelezatan itu.

      "Ya ampun kau ini..." Seru Enki menepuk jidat nya, dan kemudian memberikan satu tusuk pada Azrealon. Mereka bertiga lanjut perjalanan lagi sembari memakan cumi yang begitu lezat.

      Masih begitu banyak makanan lezat yang terjual, namun... Uang mereka tidak cukup untuk membeli setiap satu dari jualan itu, Dan kemudian. Mereka akhirnya menemukan sebuah gedung tinggi yang menjadi tempat penginapan.

      Enki meminta mereka untuk masuk, setelah masuk. Kesejukan langsung terasa, seperti ada angin buatan yang menerpa mereka dari segala arah. Enki kemudian pergi kearah meja pemesanan, dimana seorang pria menjadi penjaga nya.

      "Selamat datang di penginapan kami tuan... Silahkan pilih kamar yang tuan-tuan inginkan!" Ucap penjaga itu, yang biasa disebut resepsionis. Sembari memberikan kertas catatan, yang berisikan kamar disetiap level. Bawah, menengah, atas, VIP. Keempat nya dibedakan dengan furniture dan pelayanan yang berbeda.

      "Saya memesan dua kamar menengah, dan pastikan kedia kamar itu bersebelahan!" Seru Enki kemudian, tidak bingung memilih. Baginya, pelayanan standar dan furniture secukupnya sudah cukup.

      "Baiklah tuan... Anda akan memesan paket yang berapa?" Tanya penjaga itu lagi, "Keduanya... Saya pesan paket lima hari, hitung total nya. Dan pastikan tidak ada kesalahan!" Jawab Enki lagi, yang tidak dimengerti Zabarin bagaimana sistem penginapan ini bekerja.

      Setelah menghitung semuanya, penjaga itu memberikan dua kunci sembari mempersilahkan mereka untuk naik ke lantai dua. Meninggalkan penjaga itu yang masih tersenyum ramah.

      "Bagaimana caramu tau penginapan ini bekerja?" Tanya Zabarin penasaran, pasal nya yang ia tahu. Enki tidak berasal dari kota ini.

      "Itu sangat mudah... Lagian setiap sistem bisnis diseluruh kota sama saja, tidak ada yang berbeda. Mungkin, Hanya aturan dan kebijakan... Selain itu, tidak ada lagi!" Jawab Enki santai.

      Zabarin mengangguk Paham, dan berpikir. Seperti nya ia perlu lebih banyak belajar, agar tidak terlihat seperti orang dungu di masyarakat. Dengan semua yang kota ini miliki, dan seseorang yang memiliki pengalaman banyak seperti Enki. Ia memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar.

      Mereka kemudian berjalan dilorong lantai dua, setelah melewati tangga. Mereka naik ke lantai yang lebih tinggi, dan melewati lorong yang sama pula. Tidak ada yang berbeda, namun kali ini lebih banyak orang yang lewat.

      Zabarin hanya memandang lurus kedepan, sembari melihat kunci ditangan nya dengan angka empat belas dilogo nya. Dan mencari pintu dengan angka yang sama.

      "Itu... Disana kamar kita, nomor empat belas dan enam belas!" Gumam Enki sambil memberikan isyarat kepasa Zabarin melalui gerakan wajah nya.

      Zabarin pun menoleh dan melihat kamar itu, yang hanya terpisah oleh satu kamar ditengah mereka. Namun tidak masalah, mereka kemudian berjalan kearah kamar itu. Dan melewati lorong panjang lain, disamping kanan mereka.

       Saat akan melewati lorong itu, dari arah kanan. Dua orang wanita muncul Dari dalam nya, langkah mereka pelan seperti angin laut yang masuk, melewati mereka dengan anggun. salah satu dari mereka sekilas memandang kearah nya walau hanya beberapa detik. Namun ia tidak terlalu peduli, dikota ini ia banyak menemukan wanita cantik seperti mereka berlalu lalang.

      Segera setelah itu, orang lain pun keluar dari dalam lorong. Dan menyusul kedua wanita itu, ia hanya sedikit memperhatikan sebelum akhirnya tiba dikamar miliknya sendiri.

      Ia melihat ukiran elegan di pintu coklat itu, memasukan kunci ke lubang nya. Dan membuka, sampai pemandangan dalam kamar itu sedikit membuat nya kagum. Ini lebih besar dan juga bagus daripada milik Shi Jian.

      "Hei... Aku tinggal dulu, jangan mengacaukan apapun!" Seru Enki dari samping, dan berjalan kekamar nya sendiri. Zabarin mengangguk dan kemudian masuk, sebelum menutup pintu itu. Ia kemudian berbaring diatas kasur yang begitu lembut. Jendela yang tertutup itu sedikit terpapar oleh cahaya matahari sore.

      Sebuah lemari besar berada didepan nya, dengan setiap sudut dihiasi tanaman hias di vas yang indah. Serta, sebuah ruangan lain untuk membersihkan diri.

      "Hah... Ditempat seperti inilah seharusnya aku berada!" Ucap nya sembari memejamkan mata, merasakan kehangatan dan ketenangan itu. Dan sedikit tertawa kecil, mengingat hidup Yang ia bayangkan akhirnya terwujud, walaupun harus menjadi pemuda pencari kayu bakar selama beberapa waktu. Namun tidak masalah, saat ini ia sudah merasakan rasa nya tidur dikasur yang empuk.

      Ia kemudian bangkit dari tidur nya sembari menatap jendela kecil dikiri kasur. Bangkit dan membuka nya, angin laut masuk dari celah jendela. Menghadirkan cahaya emas yang menyilaukan mata nya. Dibalik ketenangan ini, ada sesuatu Yang mengganggu pikirannya —Tentang Shi Jian.

      "Seharusnya ia menunggu kami di gerbang kota sesuai yang dia katakan... Tapi, kenapa Enki tidak curiga?. Dan... Enki seperti menyembunyikan sesuatu dariku!" Gumam nya, menopang badan nya di dinding pembatas jendela.

      "Apakah... Kenyataan yang ia maksud itu... Tentang Shi Jian?" Ucap nya lagi, mencoba menebak semua yang kedua orang itu sembunyikan dari nya. Semakin lama, mereka semakin sering menyembunyikan sesuatu. Tapi... Untuk apa?.

      Saat ini ada begitu banyak keanehan, jika sampai malam Shi Jian tidak muncul, sebelum Enki ingin memberitahukan sesuatu untuk nya. Nyata sudah, mereka telah membawa nya jauh. Dari tujuan asli yang telah direncanakan.

      Tok. Tok. Tok! Tiba-tiba saja, saat berbagai macam spekulasi yang muncul dibenak nya. Pintu diketuk sebanyak tiga kali, membuat ia yakin. Bahwa itu adalah Enki.

      Ia kemudian berjalan pelan dan membuka pintu itu, diluar. Berdirilah Enki tanpa Azrealon disisi nya. "Bisakah kita berbicara?. Sesuai dengan yang kukatakan... Aku akan memberitahumu tentang Shi Jian!" Seru Enki, membuat hati Zabarin dipenuhi ledakan. "Ini hanya kebetulan... Atau sudah direncanakan?" Ucap nya membatin, setelah ia berpikir tentang Shi Jian. Enki datang dengan sendirinya, ingin mengatakan semua.

      Ia harus mempersiapkan hati nya, dengan kebenaran yang sedari tadi menghantui kepala nya. Saat ini begitu ia tunggu-tunggu, namun juga saat-saat dimana kepercayaannya sedikit demi sedikit mulai retak. Tentang ikatan yang telah mereka rajut selama ini. Setiap kata yang terucap dari Enki seterusnya akan menjadi kebenaran, yang diselimuti luka tanpa darah yang menetes.

1
Anggi
😍
Beliau
mampir kak
Assai Saga
Ceritanya cukup asiik...
HNP_FansSNSD/Army
Yuk baca, like, komen dan follow nya saling 💪. bab baru sdh up, yang suka cerita alur time traveling. soal kaper nanti di perbaiki, baca aja dulu isinya.

judul : Professor & Student: Love Through Time.

ikuti setiap langkah bab barunya sampai tamat enggak setengah², terima kasih ☺️🙏🏻💪.
HNP_FansSNSD/Army
Yuk follback balik.
elica
aku udah like nih kak, jangan lupa like back cerita aku ya kak🙏🥺
🖤⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘƳ𝐀Ў𝔞
aku mampir, ceritanya keren 🫶
🖤⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘƳ𝐀Ў𝔞: siap 😊
total 2 replies
Drezzlle
di tunggu kelanjutannya
Arkara Novel: siap bg, awal rilis 3 bab... baru konsisten seminggu 3x —selasa,kamis, sabtu/Smile/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!